NYEPI – TAHUN BARU SAKA

13 Maret 2010 wayanwindra 1 comment

Puluhan tahun yang silam, anak kelas empat SD sekolah minggu (sekolah agama hindu) di Pondok Karya, Jaksel menanyakan tentang Hari Raya Nyepi. “Kenapa Tahun Baru Saka dirayakan sebagai Hari Raya Nyepi?” Dengan kaedah-kaedah yang mesti ditaati (berata penyepian): dilarang menyalakan api, dilarang bekerja, dilarang bepergian dan dilarang nonton atau melakukan hiburan/menghibur diri?” “Kenapa tahun Saka ini dirayakan seperti ini, tidak seperti tahun-tahun baru yang lainnya, berpesta-ria?” Pertanyaan ini tak bisa dijawab oleh Guru pembimbing agama hindu. Hal ini diceritrakan oleh salah satu orang tua murid kepada siPHT (Praktisi HealingTouch) yang hadir di sekolah untuk menjemput anaknya yang ikut sekolah minggu.

Kebanyakan dari kita, walau kita kebetulan beragama Hindu tentu tak’an dapat menjawab pertanyaan itu bukan? Tahukah anda? Umat umumnya hanyalah mengikut. Apapun yang diperintahkan dari pemuka agama, “sulinggih” mereka tinggal melaksanakan, dan tak paham maknanya. Namun untuk melaksanakan kaedah-kaedah (berata penyepian) ini, hampir kebanyakan umat tak ada yang melakukan sepenuhnya. Dilarang menyalakan api, ini jelas tak dapat dilakukan. Karena hampir sebagian besar umat tak ada yang berpuasa, mereka pasti menyalakan api untuk memasak, bahkan tak jarang yang berpesta-pora. Dilarang bepergian dan bekerja ini barangkali dapat ditaati, namun dilarang mencari hiburan/menghibur diri, inipun tak banyak yang dapat mentaati, karena kebanyakan mereka pasti nonton TV, dan tak sedikit yang memanfaatkan Hari Raya Nyepi untuk menghibur diri dengan melakukan judi Ceki atau spirit.

Untuk melakukan kaedah-kaedah yang telah ditentukan saja mereka tak taat, apalagi untuk menyelami, menghayati makna yang terkandung dalam Hari Raya Nyepi itu. Intisari dari Hari Raya Nyepi ini adalah untuk menjadikan diri hening, sadar, eling “mulat sarira”. Sebelum hari Nyepi, ada beberapa perayaan yang hanyalah simbol-simbol. Seperti “melasti” (mandi kelaut), ini hanyalah simbol perbersihan phisik. Hal ini tidaklah cukup hanya dengan mandi pakai sabun-wangi, namun mesti membuat organisme, tubuh ini menjadi ringan dan peka. Untuk ini orang mesti berpuasa, diet yang tepat; namun umat umumnya hobi makan-enak, minum alkohol dan merokok yang membuat tubuhnya berat dan bebal. Ada juga upacara “bhuta-yadnya/hari pengrupuk” dengan pawai ogoh-ogoh sebagai simbol bhuta, kala, sifat-sifat buruk dalam diri manusia yang mesti dibakar habis dengan “api kesadaran” oleh diri masing-masing umat. Untuk menyalakan “api kesadaran” inilah kita perlu melakukan “berata penyepian.” Intisari “berata penyepian” adalah meditasi, menyelam kedalam diri.

Dahulu suku bangsa Saka sangat terkenal dengan ilmu astronominya. Tepat setiap “bulan mati” pada bulan Maret posisi Bumi, Bulan dan Matahari berada dalam satu garis lurus. Posisi ini memberi pengaruh pada semua kehidupan di Bumi. Pengaruh ini akan terasa manakala manusia telah mempersiapkan dirinya, dalam kepekaan, dalam hening dan eling. Upaya persiapan dan penyelarasan kejadian alam (macrocosm) ini dengan diri kita (microcosm), maka kita mesti melaksanakan kaedah-kaedah “berata penyepian” (meditasi). Bumi dalam diri adalah Nurani, Bulan adalah Perasaan, Matahari adalah Inteligen/pikiran. Nurani, Perasaan dan Pikiran mestilah berada dalam satu garis lurus. Hanya apabila Nurani, Perasaan dan Pikiran berada dalam satu garis lurus, dalam meditasi, dalam hening; barulah orang akan dapat menerima dan menjadi selaras dengan macrocosm (bumi, bulan dan matahari). Penerimaan pengaruh macrocosm dalam hening akan meningkatkan kekuatan “api kesadaran” yang dapat berfungsi membakar habis semua avidya, dosa-dosa manusia. Inilah manfaat terbesar dari pelaksanaan “berata penyepian” (meditasi) yang dilakukan pada Tahun Baru Saka/Hari Raya Nyepi.

Namun umat secara umum sangatlah jarang yang melakukan “berata penyepian” ini. Kalau-pun mereka taat, ketaatan mereka hanyalah patuh tanpa ada kesadaran, pemahaman tentang apa yang ditaati. Dan ketaatan seperti ini menjadi siksaan sepanjang hidup, sehingga mereka tak’an pernah menjadi hening. Hal ini justru memberi efek buruk bagi diri mereka, karena pada saat Hari Nyepi ini terjadi ketidak-selarasan berlipat dari partikel-partikel dasar antara macrocosm dan microcom. Ketidak-selarasan ini nampak dari tingkah laku manusia yang semakin hari semakin serakah. Jangankan manusia biasa para imam, pendeta-pun terjerat pada kesenangan-kesenangan, sehingga “upacara dan upakara” menjadi lahan bisnis. Seorang umat bertanya kepada “sulinggih”, “mengapa tirta (air suci/air yang telah diberi mantra) untuk upacara Ngaben harganya ada yang mahal dan ada yang murah?” Apa jawabnya……, “tirta ini akan mengantar roh siMati ke sorga; tergantung dari mantranya; mau yang kilat, express atau yang biasa; ibarat kalau mau pergi ke Jakarta; kalau ingin cepat… ya naik pesawat-mahal, naik bus atau kereta lebih lambat-murahan.

Hal-hal irasional seperti ini ada banyak sekali dalam kepercayaan. Disinilah manusia terjerat, dan Hari Raya Nyepi-pun dijadikan semata kepercayaan. Dengan cara apapun orang menjerat dirinya dalam kepercayaan, sudahlah pasti disini tak ada kebebasan (moksha). Dan Nyepi itu selamanya hanyalah perayaan simbol-simbol yang tak mengantar orang pada keselarasan antara Nurani, Perasaan dan Pikiran/Inteligensi. Jadi intisari Nyepi adalah sepi, hening, berakhirnya semua kata (vedanta), berakhirnya pikiran dalam “buana alit” (diri). Ini adalah meditasi!

Categories: Keheningan

KREMASI (NGABEN)

Praktek pembakaran mayat manusia ini telah dilakukan dari dahulu kala. Sejak tahun 1400 sebelum masehi kremasi ini telah dilakukan luas pada masyarakat Eropa, pada kalangan keluarga ningrat di Roma. Demikian juga kremasi ini dilakukan di India secara luas, khususnya dalam tradisi Hindu dan Buddha. Namun belakangan sekitar abad ke-tiga kremasi ini mulai ditolak, dilarang dikalangan kaum Yahudi, Kristen dan Islam karena kremasi ini dianggap telah menistakan karya Tuhan. Dan dipercaya bahwa kremasi ini tak dapat menghidupkan kembali tubuh yang telah hangus-binasa. Seperti inilah munculnya sebuah kepercayaan yang kemudian menjadi tradisi.

Namun belakangan tradisi ini-pun mulai bergeser. Orang mulai mempertimbangkan dari segi kebersihan/kesehatan dan juga dari segi ekonomi. Pertumbuhan manusia yang terus berkembang menimbulkan kesulitan lahan kuburan yang semakin luas dibutuhkan. Inilah pertimbangan-pertimbangan yang rasional dan logis. Pada tahun 1874-an sekelompok besar masyarakat di Inggris mendukung pelaksanaan kremasi ini. Dan krematorium pertama di-dirikan di Amerika Serikat, di Pennsylvania pada tahun 1876. Demikianlah tradisi kremasi ini mengalami perubahan. Lain lagi halnya dengan kremasi (ngaben) pada kalangan umat Hindu di Bali. Tradisi ngaben (kremasi) disini sangat erat dengan kepercayaan agama Hindu Bali, sehingga mesti ada segala macam perlengkapan (upakara) yang dipercaya akan dapat mengantar roh sang-mati ke-sorga. Setiap umat berharap dapat melakukan upacara Ngaben-“nglanus” apabila ada salah satu anggota keluarganya meninggal. Filosofi mendasar dari Ngaben ini adalah untuk pengembalian unsur-unsur “panca mahabhuta” (tanah, air, api, udara dan nectar) kembali ke-asalnya dengan cepat. Dari pemaknaan dasar yang sederhana dan logis ini berkembang menjadi tradisi dan kepercayaan yang luar-biasa. Bagi yang mempunyai dana, mereka tak segan-segan menghabiskan uangnya untuk membuat upacara Ngaben yang paling utama. Tentu masih segar dalam ingatan ketika bangsawan Puri Mengwi, Puri Ubud, Puri Gianyar atau puri-puri yang lainnya melaksanakan upacara Ngaben ini. Dana yang dihabiskan ratus-an juta bahkan milyard-an. Tradisi, kepercayaan ini telah sedemikian kuat mengkondisi batin umat, sehingga tak sedikit yang percaya bahwa sanak-keluarganya yang di-upacarakan Ngaben, apalagi telah di“tirta”kan (air suci/air yang telah diberi mantra) dengan “tirta-super” yaitu tirta dengan mantra komplit pasti dengan cepat masuk sorga.

Pada saat ini bagi umat umumnya, barangkali dana minimal yang dibutuhkan sekitar 50 juta-an untuk dapat melaksanakan Ngaben-“nglanus” (kremasi ditambah “mukur”) sampai sang-mati menjadi “pitara” (bersatu dengan tuhan di-sorga). Disamping kepercayaan mereka sifat manusia yang gengsi gede-gdean, tak’an segan meminjam dana ke LPD atau Bank setempat untuk dapat melaksanakan upacara Ngaben ini. Demikianlah tradisi, kepercayaan ini mempengaruhi kehidupan masyarakat Bali yang berbuntut hal-hal lainnya. Suatu peristiwa, seorang anggota keluarga mengalami sakit lever karena kebiasaan minum-minum alkohol berlebihan; namun karena kepercayaan mereka kuat, mereka bertanya pada “orang pintar” dan jawabannya adalah karena sang “pitara” masih terendam di-laut. Untuk ini mereka mesti membuat “upakara ngangkid” (upacara mengangkat “pitara” dari laut). Ini sungguh lucu, irasional bukan? Pada saat di-upacarakan Ngaben-“nglanus” roh sang-mati telah jadi “pitara” masuk sorga; namun tiba-tiba kini malah masih berendam di laut…? Apa di-sorga roh ini kepanasan…? dan kini ketika cemplung di-laut, roh ini tak bisa keluar dari air, mesti dibuatkan “upakara”.  Dan ironisnya jika tak dibuatkan “upakara”, roh ini akan terus mengganggu/membuat sakit anggota keluarganya yang masih hidup. Akhirnya mau tak mau “upakara” dibuat dan dibawa ke-laut; namun hal-hasil, ketika si-sakit mengalami cirrhosis, levernya membatu….maka mati jua dia…..! Kejadian-kejadian seperti ini tak sekali, dua kali terjadi dalam kehidupan mereka; namun demikian pengalaman ini tak cukup untuk membuka mata guna melihat dan belajar tentang kepercayaan yang mereka anut. Ini pertanda tradisi, kepercayaan mereka telah amat sangat membatu.

Adakah orang yang sungguh paham, tahu bahwa upacara Ngaben ini dapat mengantar roh si-mati masuk sorga? Mereka para pendeta, “sulinggih” sering berkata untuk menyakinkan umat, bahwa upacara Ngaben yang utama dapat mengirim roh si-mati ke-sorga dalam sekejap. Sungguh suatu pernyataan spekulatif. Disisi lain ada ajaran yang mengatakan bahwa hidup manusia tak terlepas dari karmanya. Perjalanan manusia setelah mati akan diantar sepenuhnya oleh karmanya. Ada cerita tentang seorang Pendeta yang jujur. Ketika seorang umat datang memohon dibuatkan upacara untuk ayahnya yang meninggal agar masuk sorga. Si Pendeta meminta si-umat mengambil sebaskom air, dan menuangkan mentega dan kerikil kedalamnya. “Nah, sekarang aduklah, sampai semua menteganya tenggelam dan semua kerikilnya mengapung”. Hukum alam (sanatana dharma) bekerja dengan pasti tak ada dalam kepercayaan. Kepercayaan selamanya adalah ketidak-tahuan.

Bila orang terjerat dalam kepercayaan yaitu rasa takut yang tersembunyi, dia-pun selalu dalam kebingungan. Hal inilah yang penting dipahami yaitu rasa takut masuk neraka dan keinginan masuk sorga. Rasa takut ini ada didalam diri Anda…., amatilah…! Bila Anda sungguh melihat, paham, maka Anda akan bebas dari rasa takut ini.

Categories: Keheningan