BILL GATES

14 November 2012 Tinggalkan komentar

Diantara yang sudah biasa menggunakan komputer tentu nama Bill Gates tidak asing. Dia adalah penemu perangkat Mikrosoft yang dipakai dalam menjalankan computer umumnya. Dan secara umum mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana ada seorang manusia dengan kecerdasan seperti Bill Gates. Apabila pertanyaan ini datang dari sebuah kejujuran hati, ini akan menjadi suatu pembelajaran yang sangat berharga. Namun kalau pertanyaan ini merupakan sebuah motif dari pembandingan-diri, ini bisa berkembang menjadi hal yang merusak.

Apabila aku hanyalah seorang staf Kantor Kecamatan, atau seorang pedagang kaki-lima, atau seorang guru, saat aku membandingkan diri dengan seorang Bill Gates, maka akan muncul banyak motif-motif berikutnya sebagai alasan-alasan berupa pertanyaan-pertanyaan, keluhan, angan-angan atau harapan dan lain-lain. “Kenapa aku tidak diberkahi otak cerdas seperti Bill Gates? Seandainya aku atau anaku secerdas dia…, waw, betapa bangganya Aku. Tentu saat ini aku sudah kaya-raya. Aku akan dapat menikmati hidup lebih indah, nikmat dan bahagia….” Demikianlah secara umum kita tanpa sadar suka membanding.

Jika aku seorang pengusaha sukses atau seorang pejabat yang dapat mengumpulkan uang dengan korup, aku selalu merasa bangga-diri saat membanding dengan orang yang kuanggap kurang dari diri-Ku. Perasaan bangga ini memberi rasa nikmat tertentu dan terekam dalam otaku; dari sini aku selalu berusaha memupuknya dengan mengejar kebanggaan-kebanggaan sebanyak mungkin. Namun saat seorang tetangga membeli mobil mewah terbaru dengan harga 10 milyard, aku langsung merasa rendah-diri karena mobilku hanya seharga 100 juta. Demikianlah pembandingan membuat diri melambung tinggi atau terperosok kedalam perasaan minder.

Walau Bill Gates seorang yang cerdas dan kaya-raya, apabila dia memanfaatkan semua fasilitas dirinya untuk membanding guna mengejar kebanggaan-kebanggaan, tiadalah jauh berbeda dengan seorang staf Kantor Kecamatan. Atau seorang Abang Becak yang dengan bangga dapat memberi LIMA RIBU rupiah kepada tetangganya, dari rata-rata penghasilannya yang hanya DUA PULUH RIBU rupiah sehari. Jika dihitung secara persentase apa yang dilakukan oleh si Abang Becak mungkin lebih berharga dibandingkan dengan Bill Gates. Adakah Bill Gates berani menyumbangkan dua puluh lima persen dari kekayaannya seperti si Abang Becak…?

Saat ini katanya Bill Gates adalah orang ke-dua terkaya di-dunia. Seandainya dia membanding dirinya dalam bidang kekayaan dia hanya kalah dari orang nomor satu terkaya yaitu Carlos Slim Helu, dari Meksiko. Dan dalam bidang kepintaran intelektual, sangatlah banyak orang-orang pintar, sehingga ini menjadi relatif. Suatu hal yang perlu kita pertanyakan, adakah kecerdasan, saat kita mengejar kebanggaan dengan membanding…? Saat seseorang menggunakan kekayaannya, kepintarannya, kepopulerannya, atau jabatannya yang merupakan identitas-diri untuk membanding, untuk memperoleh kebanggaan, memupuk kepuasan-diri; maka pengejaran ini telah menjadikan dirinya seorang budak.

Tetapi bagaimana-pun juga Bill Gates telah banyak menyumbangkan kekayaannya untuk masalah-masalah kemanusiaan, lewat Bill &
Melinda Gates Foundation. Ini adalah keluhuran sebuah hati, yang bukan hanya harus ada didalam hati keluarga Bill Gates, namun mesti ada didalam diri setiap orang. Tahun 2007, Bill & Melinda Gates Foundation mendapat gelar filantropi, paling dermawan nomor dua di Amerika. Dan mendapat berbagai penghargaan dari mana-mana, karena kegiatan yang dilakukan yayasannya sungguh-sungguh menyentuh kemanusiaan. Ini adalah pekerjaan mulya dari Bill & Melinda Gates Foundation. Dan hal ini dapat dilakukan oleh siapa-pun. Bukan semata diukur dari besarnya materi yang disumbangkan, namun nilai ketulusan dan kesungguhan yang datang dari sebuah hati yang penuh kasih.

Pernahkah kita bertanya-tanya, kenapa kita suka membanding? Hal ini mungkin tidak pernah teramati karena tidak menarik hati. Bila kita diam sejenak dan mengamati, kita tentu melihatnya…, yaitu karena kita menginginkan “perasaan lebih.” Kenapa kita ingin “merasa lebih?” Selama membanding kita akan melihat Bill Gates lebih pintar dan lebih kaya. Atau sebaliknya si Gembel lebih bodoh dan lebih miskin. Apabila kita berada disini maka mau tak mau kita kadang merasa melambung kadang merasa terperosok. Disini kita tidak dapat belajar mengamati secara bebas apa-apa yang ada disekitar maupun yang ada didalam diri. Dengan demikian kecerdasan dalam diri tidak memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Dan tanpa kecerdasan, kita tidak akan dapat melihat hakekat kehidupan apa adanya.

Adakah sesuatu yang lebih atau yang kurang dalam kehidupan ini? Pikiranlah yang menilai demikian. Faktanya semua berjalan harmonis, sewajarnya. Aneka kehidupan bertumbuh-kembang sesuai dengan kodrat masing-masing. Evolusi semesta adalah kuasa Adi-kodrati, yang terus bergerak, merupakan misteri kehidupan. Hanyalah sebagian kecil dapat dimengerti oleh otak manusia yang terbatas. Otak Bill Gates yang cerdas-pun tidak mampu memahami misteri semesta. Memahami keterbatasan diri menempatkan kita sebagai agnostik. Realita ini tak dapat disangkal. Melihat hal ini dengan jernih, setidaknya dapat membebaskan kita dari argumentasi ilusi pikiran, dari pembandingan-diri. Dan ini barangkali dapat me-maksimal-kan fungsi otak, logika untuk meningkatkan kecerdasan, sehingga kita semua bisa secerdas Bill Gates.

Kategori:Keheningan

KATA-KATA ANDA

Semua note-note yang saya tulis adalah kata-kata ANDA yang merupakan bagian dari kata-kata semesta. Dapatkah anda melihat bahwa kata-kata ini ada didalam benak anda…? Jadi…, apakah saya sedang meng-copy kata-kata anda…? Ya…, bisa dikatakan demikian. Apa-pun itu…, apabila kita bersedia menyimak dan mempertanyakan…, adakah kata-kata ini milik anda? Kata-kata ini hanyalah kata-kata semata, yang bertebaran dimana-mana. Bila kata-kata ini dirangkai sedemikian rupa, maka jadilah dia kalimat, paragraph yang menimbulkan pengertian. Sebelum kata-kata ini di-posting diperuntukan kepada anda, kata-kata ini-pun telah ditujukan kepada si penulis sendiri. Kata-kata ini adalah pikiran yang berguna sebagai serana komunikasi.

Kata BUNGA, adalah sebuah kata yang menunjuk pada sesuatu yang kita sepakati bersama, disebut sebagai bunga..; inilah fungsi kata-kata. Namun tak jarang kita menjadi ribut, bertengkar karena masalah kata-kata. Di dalam dunia maya ini tak jarang orang berselisih dalam mempertahankan kata-kata yang dianggap sebagai kebenaran. Adakah kata-kata ini kebenaran…? Apakah Kebenaran itu kata-kata, pikiran…?

Sepanjang kata-kata ANDA adalah bagian dari kata-kata semesta, maka kata-kata ini masih bersifat original. Bila anda menggunakan kata-kata yang bersifat original ini, maka dia hanya akan menjadi serana komunikasi yang baik. Bisa jadi kata-kata anda persis dengan yang diucapkan oleh Sang Buddha, J.Krinhnamurti, Yesus, Mohammad, Vivekananda atau para Guru2 spiritual yang lainnya; namun ini bukan berarti anda mengutip kata-kata beliau, karena faktanya anda tak pernah membaca buku yang ditulis oleh mereka. Kenapa bisa sama…? Ini terjadi karena mereka, para Guru itu juga mengutip kata-kata anda yang bersifat original yaitu kata-kata semesta YANG TERBENTANG luas memenuhi kehidupan dari masa ke masa. Jadi siapa mengutip siapa…? Dengan melihat, memahami hal ini sedalam dalamnya, semestinya kita akan berhenti berdebat mempertahankan kata-kata. Kita mesti melampaui kata-kata/pikiran barulah kemungkinan ada sesuatu yang diluar pikiran.

Kenapa kita berpegang pada kata-kata dan sering berselisih, mempertahankan kata-kata…? Tahukah anda…; karena kata-kata anda bukan lagi merupakan kata-kata semesta. Kata-kata semesta yang original ini telah anda rangkai menjadi konsep, prinsip, simbol-simbol atau dogtrin, dan anda jadikan sebagai hak milik, sebagai kepunyaan atau pegangan yang anda yakini. Inilah yang menimbulkan perselisihan, karena kebenaran yang dipegang adalah sebatas kata-kata. Kebenaran menurut pikiran ini menjadi berbeda-beda, sehingga ada banyak kebenaran. Coba amati dan simak secara seksama dan perlahan…, bukankah ini yang terjadi didalam maupun disekitar anda….?

Hampir sebagian besar dari kita terlanjur pintar merangkai kata-kata semesta yang original ini menjadi prinsip, dogtrin, kebenaran, kesimpulan-kesimpulan, konsep-konsep, dan sebagainya…; dan menjadikan sebagai hak milik, yang diyakini, dibanggakan, yang seolah-olah perlu dibela, dipertahan. Dan ketika kita membaca sebuah posting, artikel yang tidak sesuai dengan konsep, prinsip atau dogtrin yang kita pegang, maka tanpa sadar kita barangkali akan mencibir, dongkol atau bahkan membencinya. Demikianlah sebuah konflik vertikal maupun horizontal terjadi berawal dari diri sendiri, dari kata-kata anda yang tercemar oleh rangkaian yang anda buat sendiri.

Seandainya kata-kata anda masih bersifat original, maka sebanyak apa-pun anda membaca atau berdiskusi, maka tak’an menimbulkan rasa dongkol, perselisihan apalagi kebencian. Karena kata-kata yang sedang anda baca ini adalah kata-kata anda sendiri yang adalah bagian dari kata-kata semesta. Dapatkah kita bersama-sama meng-insyafi hal ini?

“Bila saya berpegang maka saya sulit menerima kata-kata anda yang seolah mendorong saya dari pegangan. Sesungguhnya kata-kata anda hanyalah mengalir, demikianlah adanya sifat kata-kata semesta, namun karena saya berpegang, maka saya merasakan seolah-olah kata-kata anda mendorong saya. Untuk mempertahankan diri dalam pegangan, maka saya berusaha mendebat kata-kata anda dengan prinsip-prinsip, kesimpulan, konsep-konsep, dogtrin dan sebagainya yang membangkitkan rasa panas, dongkol atau bahkan kebencian dalam diri-ku.” Hal inilah yang terjadi dalam diriku. Dan apabila saya tak mampu melihat, meng-insyafi hal ini maka selamanya kata-kata anda akan selalu mengusik diriku.

Kategori:Keheningan

CINTA KASIH

22 Februari 2012 Tinggalkan komentar

Kucing tetangga si Belang mengintai mangsanya dengan sikap hati-hati. Dia bergerak perlahan…, namun tiba-tiba perhatiannya di-alihkan oleh gerakan burung Crukcuk yang terbang rendah mendekat dengan sengaja untuk memancing si Belang agar tidak menerkam anaknya yang sedang belajar terbang. Si Belang melompat mencoba menerkam induk burung Crukcuk…, namun usahanya gagal karena induk Crukcuk sudah siap untuk mengindar. Si Belang menerkam lagi…, dan gagal lagi, dia semakin penasaran. Induk burung Crukcuk tidak terbang jauh-jauh dan si Belang terus mengikutinya sehingga dia semakin jauh dari anak burung yang masih terengah-engah dibawah kembang kaca-piring. Demikianlah usaha Ibu-Bapa (induk) burung Crukcuk untuk menyelamatkan anaknya dari terkaman si Belang kucing tetangga kami. Sementara induk yang satunya terus berkicau sambil mengepak-ngepak sayap mengitari anaknya…., seperti melindungi atau memperingati anak-anaknya akan bahaya agar segera terbang. Namun anak-anak yang baru meninggalkan sarang ini kelihatan sangat lemah, jangankan terbang untuk berdiri-pun belum bisa. Setelah agak lama induk yang memancing si Belang sampai jauh, tiba-tiba kembali dengan se-ekor ulat di paruhnya. Dia melepas ulat itu disamping anaknya sambil mematuk-matuk dan si-anak-pun mematuk ulat itu…, walau dengan susah payah akhirnya ulat itu-pun tertelan. Sementara itu induk yang satunya-pun datang membawa se-ekor cengcorang muda dan memberikan kepada anaknya yang mendekam dipinggir pager. Setelah menelan ulat dan cengcorang, istirahat sekitar lima menit, dan hangatnya tanah memberi tenaga kepada anak-anak burung Crukcuk dan mereka mulai melompat berusaha untuk terbang…; namun tetap saja anak-anak Crukcuk ini jatuh kembali disekitar halaman rumah kami. Hampir setengah harian anak-anak burung ini latihan terbang dari ranting kaca-piring ke ranting kembang soka, kembang kenanga dan kemudian ke pohon sawo. Akhirnya keluarga burung Crukcuk ini menginap di-ranting pohon sawo dibawah daunnya yang rimbun. Kami dapat mengamati dengan sangat baik karena burung ini tidur pada ranting yang tingginya hanya sekitar tiga meter. Kami melihat kasih-sayang induk burung ini kepada anak-anaknya. Ke-esokan harinya latihan terbang terus berlanjut. Anak-anak burung sudah semakin kuat; induknya selalu menemani dan membantu mencarikan makanan. Pagi tadi adalah hari ke-empat, mereka masih berada disekitar rumah kami di ranting pohon mangga dan mengkudu yang tinggi. Empat hari terakhir ini setiap pagi kami selalu dibangunkan oleh suara kicau Crukcuk yang lembut dan merdu berbeda dengan suara Cieklaar yang melengking nyaring…..

Bila kita mengamati kerukunan keluarga burung Crukcuk ini…., melihat bagaimana si-induk merawat, menjaga, mencarikan makan, mengeloni anak-anaknya tidur…… oh, betapa indahnya hidup ini. Pernahkah kita menemukan keindahan ini di dalam kehidupan diri kita…? Keindahan sebuah kasih yang tulus apa adanya. Disekitar kita ada begitu banyak kehidupan yang penuh dengan cinta-kasih apa adanya….., namun mungkin sangatlah sedikit diantara kita yang memperhatikan. Jika kita melihat kehidupan diri kita, orang-orang disekitar…., tiadalah banyak yang merasakan indahnya cinta-kasih. Kita barangkali sangat sering mendengar atau mengucapkan kata-kata kasih, sayang, cinta, welas-asih dan yang sejenisnya. Kita merayakan hari Valentin, dan kita banyak mengarang lagu atau menyanyikan lagu yang berceritra tentang kasih, cinta, sayang….; namun adakah kita sungguh menghayati hal ini….? Kata cinta-kasih ini sedemikian mubazir sehingga maknanya menjadi kabur. Kita menulis demikian banyak konsep-konsep, bahwa cinta-kasih mesti iklas, kasih ibu itu mesti tulus bagai matahari yang hanya memberi dan tak mengharap balasan. Kita sepakat dengan pandangan atau penggambaran umum bahwa cinta-kasih sejati itu mulya, indah, luhur, tulus dan akan mengasilkan kebahagiaan, kemesraan, kerukunan, kedamaian…; demikianlah konsep dan rumusan kita tentang cinta-kasih. Mungkin hal ini baik bila ini sungguh terjadi dalam kehidupan kita. Namun fakta yang terjadi tidak sedikit yang tidak sesuai dengan konsep, penggambaran atau rumusan kita tentang cinta-kasih, bukan…? Kenapa…? Pernahkah kita bertanya-tanya dan menyelidiki….? Kenapa fakta yang ada tidak sesuai dengan rumusan itu…? Dimana letak salahnya…? Atau barangkali rumusan, penggambaran itu yang salah…, ataukah kita yang menjalani yang salah….? Apakah sesungguhnya cinta kasih itu…?

Coba amati disekitar…, sedemikian banyaknya kasus cinta-kasih yang berakhir fatal. Cinta-kasih diantara remaja banyak yang mengalami masalah, bahkan hampir semua kisah cinta tidak ada yang berjalan mulus. Masalah dan rintangan datang dari mana-mana…; baik dari diri masing-masing orang yang menjalankan, maupun dari orang-orang disekitar mereka, dari status sosial, dari kasta, pendidikan, ekonomi, martabat, beda agama dan sebagainya. Seorang remaja putri ningrat mengalami stress karena hubungan cintanya ditentang oleh orang tua mereka, ini karena kasta. Ada lagi yang tidak direstui oleh orang tua mereka karena status sosial atau karena perbedaan kepercayaan. Betapa banyaknya kisah kasih yang berujung derita.

Aku sering bertanya-tanya dalam hati, adakah itu sungguh-sungguh cinta-kasih….? Katakan cinta kasih orang tua kepada anak-anak mereka, yang diharapkan lebih mulya…; seperti kata-kata dalam lagu bahwa kasih ibu bagaikan sang surya yang selalu memberi dengan tulus. Namun dari fakta tidak sedikit orang tua yang merasa kecewa manakala anaknya tidak patuh pada kehendak atau perintahnya. Dan tak sedikit orang tua yang kecewa jika anaknya tidak berhasil dalam hidupnya. Adakah hal ini cinta-kasih…? Kenapa cinta-kasih yang luhur, indah ini bisa berbuah kecewa atau bahkan kemarahan atau penderitaan? Demikian juga, adakah cinta-kasih diantara manusia, rasa kemanusiaan, persaudaraan umat manusia….? Tidakah kita saling membenci…? Ketika kita meng-kelompokan diri dalam partai, dalam agama, dalam sekte, dalam organisasi, dalam suku…., apa yang terjadi…? Lihatlah kebencian ada dimana-mana; peperangan, permusuhan, persaingan, pertikaian antara bangsa, antara kelompok, partai, antara suku, dan konflik didalam diri kita sendiri.

Demikian juga halnya akan cinta-kasih dan bakti manusia pada tuhan. Kita sedemikian rupa membuat pernyataan bahwa kita sangat amat sungguh-sungguh mencinta dan meng-imani tuhan berikut sabdanya yang berupa kitab suci. Bila ada yang mempertanyakan hal ini, kita tak’an mau memikir jawabannya, kita tak bergeming pada ke-imanan kita, dan kadang kita merasa berhak untuk tersinggung, membenci, curiga bahkan membunuh dengan dalih cinta-kasih. Cobalah kita perlahan….; untuk mencinta sesuatu yang nyata saja, seperti mencinta anak-anak, saudara, teman, kerabat, pohon-pohon, alam-lingkungan dan lain-lainnya sangatlah sulit dilakukan apalagi mencinta sesuatu yang abstrak…? Adakah ke-imanan kita yang solid merupakan bukti cinta-kasih kita kepada tuhan yang abstrak….? Dan dari ke-imanan yang solid ini kita menjadi keras dan fanatik…, siap untuk membenci…? Adakah ini cinta-kasih…? Jika kita mau perlahan menyimak…, alam disekitar kita banyak berceritra tentang kasih yang indah dan luhur. Kita tentu dapat belajar banyak dari alam, dari si burung Crukcuk…., bila kita bersedia menyimak.

Lain lagi halnya cinta antara seorang pria dan wanita yang pada umumnya selalu melibatkan unsur sexual dan rasa cemburu. Apakah cinta kasih identik dengan sexual dan rasa cemburu? Cinta-kasih bukanlah hal demikian. Cinta-kasih tidak akan berbuah, rasa cemburu, kekecewaan, kebencian, penderitaan, permusuhan dan lain-lainnya itu. Bila dia berbuah demikian, kita mesti mempertanyakan, meragukan bahwa apa yang kita anggap sebagai cinta-kasih tentu keliru, ada yang salah, bukan…? Hal ini tidaklah muda…., kita tak dapat begitu saja menarik kesimpulan, krn setiap kesimpulan akan menghalangi kita menyimak. Pada-hal menyimak, menyelidik ke-dalam tindakan diri sendiri adalah hal yang mutlak dilakukan, karena hanya dengan demikian kita akan melihat dan memahami.

Apabila kita mau diam menyimak, tiada-lah sulit untuk melihat tindakan diri-sendiri bukan….? Namun kita tak mampu menyimak, melihat dengan kejujuran apa adanya diri kita. Reaksi kita terlalu cepat membenarkan diri sendiri dan menyalahkan orang lain.

Kenapa saya kecewa, marah manakala anak-anak saya membantah; bila anak-anak saya gagal jadi orang…? Kenapa saya kecewa, marah….? Bila saya jujur menyimak, tentu saya melihat penyebab dari kekecewaan, kemarahan saya. “Saya ingin berkuasa, berwibawa, maka itu semua orang…, anak-anak, istri, adik-adik dan yang lainnya harus tunduk pada perintah, pada kata-kataku. Aku ingin anak-anaku berhasil, karena dari keberhasilan mereka, martabatku bertambah, popularitasku naik, aku dianggap berhasil mendidik anak-anak-ku, disamping itu aku berharap jaminan hidup di-hari tuaku, berlimpah, uenak, dan nyaman.” Kekecewaan dan kemarahan-ku adalah rasa-takut-ku yang tersamar. Aku takut kehilangan wibawa, takut kehilangan martabat, takut miskin, sengsara di hari tua nanti…, takut pada masa yang akan datang, takut kepada ketidak-pastian…, maka itu aku menginginkan kepastian, kenyamanan hari esok. Demikian juga hal-nya dengan yang lainnya, kenapa aku membenci, tersinggung, cemburu, berperang, curiga, bersaing…., ini semua berawal dari rasa takut-ku yang terselubung, yang berada jauh dilubuk hatiku. Hal ini tak teramati. Rasa-takut ini tertutup dan menyatu dalam ke-IMANanku, hal ini memang sangat sulit untuk dilihat, dipahami. Dari sinilah sumber semua reaksi tindakan diri-ku. Boleh jadi aku adalah orang yang sangat patuh beragama dan mengganggap tindakanku dilandasi cinta-kasih, namun SENYATAnya tindakanku hanyalah reaksi dari rasa-takut…., dan ini bukanlah cinta-kasih. Untuk menguji hal ini sangat mudah, asal aku jujur kepada diri sendiri. Apabila sebuah tindakan mengasilkan, kekecewaan, kebencian, kesedihan, kebanggaan, cemburu, konflik, penderitaan dan lain-lain, maka ini dapat dipastikan bukan bersumber dari cinta-kasih. Si burung Crukcuk tidak kecewa, tidak benci, tidak sedih manakala anak-anak belum bisa terbang, namun dia terus melindungi dan menyemangati agar anak-anak belajar dan berusaha. Demikian juga dia tidak berbangga manakala anak-anaknya telah mampu terbang tinggi. Jadi cinta-kasih bukanlah kebanggaan, bukan kekecewaan, kesedihan atau-pun kebencian. Cinta kasih bukanlah rasa-takut, bukan kepercayaan, doa, harapan maupun cemas. Apakah cinta kasih itu…? Pahami dan buang rasa-takut, harapan, kebanggaan, kekecewaan, kesedihan, kebencian, cemburu, keserakahan, dan yang lainnya, maka sisanya ada di dalam situ…. Kata-kata tak memadai untuk mengurai…, termasuk kata cinta-kasih ini bukanlah faktanya.

 

Kategori:Keheningan

BELAJAR

20 Oktober 2011 2 komentar

Secara umum belajar adalah mengumpulkan pengetahuan, lewat buku-buku atau praktek langsung. Belajar ini berkaitan dengan hal-hal yang bersifat tehnik atau ketrampilan, seperti belajar bahasa, seni lukis, seni suara, seni tari; belajar ilmu kedokteran, hukum, tehnik mesin, komputer, arsitek, pertanian, bangunan dan lain-lain. Sementara itu ada sejenis belajar yang lainnya, yang tidak bersifat mengumpulkan; belajar disini adalah semata mengamati, semata menyimak segala sesuatu yang terjadi disekitar maupun yang terjadi didalam diri kita.

Dalam suatu dialog atau diskusi langsung, lebih-lebih yang tidak langsung seperti dalam dunia maya, kita dapat menyimak banyak. Suatu contoh, ketika kita mengajukan pertanyaan….; jawaban atau tanggapannya bukannya bersifat objektif, namun cendrung bersifat subjektif yang merupakan praduga atau asumsi atau tak jarang merupakan dalih sebagai pembelaan diri, sebagai pertahanan atau penolakan. Dapatkah kita secara perlahan mengamati hal ini; reaksi-reaksi kita, kecendrungan kita yang selalu berusaha bertahan atau menolak…? Saya kira ini sangat penting, karena sumber segala masalah dalam hidup ini berawal dari hal yang paling mendasar didalam diri kita masing-masing.

Hal ini barangkali tanpa di sadari, kita selalu ingin bertahan atau ada sesuatu yang kita pertahankan, sehingga tanpa sadar juga tentu ada penolakan, bukan? Dan hal ini dapat menimbulkan konflik baik yang bersifat langsung atau tak langsung. Bagi yang berlapang dada barangkali dapat menghindari debat kusir, namun tak jarang konflik yang terpendam didalam hati berakibat buruk dan hal ini tentu tidak sehat. Nah, semata menyimak, semata mengamati apa yang terjadi pada batin kita adalah belajar tanpa mengumpulkan apa-apa. Belajar seperti ini adalah belajar dalam kebebasan, mengalir terus, tanpa beban dan hambatan, karena kita tak berpegang kepada apa-pun. Hal ini tidak mudah dilakukan, karena kita telah terkondisi, kita terbiasa pada kecendrungan untuk berpegang.

Ini satu ilustrasi…; “Eh yan…, kamu itu sudah sakit, kenapa masih merokok dan minum alkohol?”….; saya merasa terusik oleh penunjukan dan pertanyaan ini. Dari keter-usikan ini saya balik bertanya atau membuat pernyataan pembanding…; “kamu punya hak apa ngurus orang lain…? Lihat too, semua orang juga merokok, minum alkohol…, sana suruh tutup saja pabrik rokok, bir, wisky…!” Coba kita amati…! Kenapa saya begitu gampang terusik…? Apa/siapakah yang merasa terusik ini? Bila anda menunjuk bahwa baju saya kotor atau robek.., tidakah semestinya saya melihat, memeriksa pada penunjukan itu? Demikian juga walau penunjukan itu mengarah kepada hal yang substansi, seperti keyakinan, kepercayaan, dogma, doa’, kaidah, konsep, ideology dan lain-lain. Ketika anda mempertanyakan keyakinanKu..; kenapa AKU merasa terusik…? Inilah hal mendasar yang mesti saya pahami. Tetapi saya tak’an mampu memahami apa-pun karena saya tak bersedia belajar..; saya keburu terusik dan membanding untuk pembelaan diri, untuk menutupi keburukan diri dengan balik berasumsi, menyebut keburukan anda. Demikianlah reaksi pikiranKU (si-Diri) yang selalu bercokol, menopoli batinku sehingga aku tak mungkin BELAJAR.

Bila aku tak mampu menanggulangi pada akarnya, maka tak’an pernah ada kemungkinan perubahan total dalam hidupku. Kebaikan, kebahagiaan, kedamaian yang kuharap hanyalah harapan belaka. Maka timbullah pertanyaan, “apa yang mesti aku lakukan…?” Dapatkah saya semata mengamati, semata menyimak, menyelidik dan mempertanyakan; tanpa menyimpulkan? Ini adalah belajar tanpa mengumpulkan, belajar seperti ini tak membuat kita pintar, namun membebaskan batin dari dogma, otoritas, fanatisme, kepicikan. Disini ada keindahan dari kesederhanaan batin, ada riang-gembira dari batin yang ringan, ada vitalitas dari batin yang waspada.

Kategori:Keheningan

KEPALA ADALAH EKORNYA

23 September 2011 2 komentar

PERUBAHAN….

*KEPALA jadi EKOR…, dan EKOR jadi KEPALA…., apakah itu?

Setelah jadi penganggur kelas kakap, aku punya banyak waktu…., seharian hanya bengong…, eeh ahkir2 ini aku melihat tanpa sengaja terjadinya proses ulat menjadi kepompong. Dan aku lanjut mengamati kepompong yang netas jadi kupu2…. Nah, perubahan ulat menjadi kupu-kupu inilah dia…., ternyata KEPALA ULAT berubah jadi EKOR/BUNTUTnya KUPU-KUPU. Coba aja amati….!

Dari sini aku berpikir-pikir, apa yg terjadi dgn KEPALA/mulut ULAT yg sangat rakus selama dia masih bewujud ULAT. Hanya kurang lebih seminggu dari ulat kecil dia tahu-tahu sudah gendoot jadi ULAT DEWASA. Dan kedewasaanNya menuntun dia pada KESADARAN-DIRI untuk sebuah PERUBAHAN. Dia memutuskan untuk berhenti rakus/makan dan BERSEMADHI dengan cara “ngalong” spt ‘Sang Subali’ si raja kera dari Gua Kiskenda. Buntutnya melekat pada bagian tengah dari urat selembar daun kembang Medori dan kepalanya terayun-ayun kebawah. Hanya kurang lebih dua hari bersemadhi ngalong, si-ULAT telah sampai pada langkah awal dari PERUBAHAN itu. Dari bagian belakang batook kepalanya keluar sejenis cairan-kulit yang berwarna hijau. Cairan-kulit ini tumbuh dan bergerak melapisi sekaligus mengupas kulit luar ULAT. Cairan-kulit ini bergerak dari bawah keatas hanya dalam hitungan kurang-lebih sepuluh detik dan tubuh ULAT itu telah berubah menjadi KEPOMPONG hijau. Menjelang akhir dari proses pembungkusan, kepompong ini bergerak dan berputar-putar untuk melepas kulit ulat yg telah terkumpul dibagian buntut yg melekat pada urat-daun. Dan kulit ulat berikut cangkang kepalanya yg agak keras menjadi satu dan terlepas yang akhirnya jatuh ke tanah. Aku sempat memungut dan mengamati kulit ulat dan cangkang kepalanya yang se-olah2 telah mongering dan lapuk.

Waw… aku terkesima tanpa kata menyaksikan proses dan ke-indahan mahluk KEPOMPONG kecil itu hanya sekitar satu sentimeter panjangnya sangat berbeda dari tubuh ulatnya yang gendoot sepanjang tiga sentimeter. Setiap hari aku sempatkan diri menengok dua buah KEPOMPONG yang bergantung berdekatan pada bagian atas dari daun-daun kembang Medori. Untuk menuju langkah terakhir dari PERUBAHANnya, ulat yang sekarang telah berwujud KEPOMPONG ini membutuhkan waktu agak lama. Pada hari kedelapan kepompong yang berwarna hijau itu berubah menjadi coklat tua kehitam-hitaman. Titik-titik kuning atau putih terang pada kulit kepompong itu kelihatan berkilauan. Dan…. preiss…, kulit punggung kepompong itu pecah…, menjelma menjadi kupu-kupu kecil berwarna coklat muda dengan lukisan ornament yang sangat mempesona. Waw… kupu-kupu yang mungil dan cantik.  Sayapnya masih kuncup, namun secara perlahan oksigen dan angin memberi nutrisi kehidupan dan sayap-sayap itu bertambah panjang dan lebar. Pada saat itu aku baru sadar…, lha KEPALA kupu-kupu berada diatas…, bukankah yang melekat pada urat daun itu adalah buntutnya ULAT…?

Kalau diamati siklus kehidupan ulat hingga jadi kupu-kupu mungkin fifty fifty…..; yaitu masa makan/rakus setengah umurnya. Berubah menjadi ‘pertapa’ kepompong…., meninggalkan kemewahan (‘wanaprasta’) dan akhirnya menjadi kupu-kupu terbang bebas (‘moksa’) juga separoh umurnya. Mungkin melihat fakta kehidupan kupu-kupu ini ada ungkapan yang berkata life begin at forty. Ini diambil rata-rata kehidupan manusia adalah delapan puluh tahun. Empat puluh tahun pertama manusia bolehlah berpoya-poya, makan dengan rakus seperti ulat. Untuk ini dia mesti bekerja keras agar memperoleh segala materi. Namun setelah empat puluh tahun dia mestilah menjadi DEWASA sehingga ada KESADARAN-DIRI untuk berubah, dan meninggalkan kemewahan hidup. Kalau dalam konsep Hindu disebut sebagai ‘wanaprasta’ (pergi kehutan) meninggalkan kemewahan, iruk-pikuknya kehidupan. Namun dari fakta kehidupan manusia sangatlah berbeda. Manusia sampai tua tetap, malahan bertambah serakah/rakus. Coba lihat para koruptor itu…., mereka tiada bosan-bosannya serakah, demikian juga kehidupan masyarakat secara umum, walau mereka telah sangat berumur. Dimana-mana terjadi pertengkaran, persaingan, yang berlanjut dengan kebencian dan permusuhan…., baik yang bersifat vulgar ataupun yang samar, tersembunyi hanya didalam hati masing-masing.

Kalau kita melihat fakta ini…., walau manusia telah menghabisan separoh dari umurnya, tetapi mereka tidak segera menjadi DEWASA seperti si-ulat…, ada apakah gerangan…? Jadi saat ini ada sedemikian banyaknya manusia-manusia tua secara umur, namun tidak pernah DEWASA. Kalau kita mau mengamati disekitar…, dan yang paling jelas tersorot tentulah kehidupan para politikus kita saat ini. Dari usia mereka rata-rata sudah berumur, dari segi pendidikan mereka rata-rata manusia jebolan sekolah tinggi. Namun kalau dilihat dari tingkah laku, mereka seperti anak-anak. Mereka suka bertengkar, berebut, bersaing, main umpet-umpetan; mereka bagaikan bermain dagelan…, lucu, menggemasan dan menyedihkan.

Dan sesuatu yang misteri bagiku kenapa buntut/ekor si-ulat menjadi kepala kupu-kupu. Ketika terjadi perubahan si-ulat menjadi kepompong disini sudah kelihatan yang melekat/tergantung itu adalah kepala kepompong yang tadinya adalah buntut/ekor si-ulat. Bila diamati proses perubahan yang radikal ini terjadi manakala si-ulat menjadi DEWASA. Dan kedesawaan ini menumbuhkan KESADARAN-DIRI untuk berubah. Ini terjadi apabila kepala menjadi ekor atau ekor menjadi kepala. Idea dari sistem demokrasi mungkin terinspirasi dari perubahan ulat menjadi kepompong…, yaitu ekor (rakyat) sebagai pemimpin. Semestinya memang kedautan tertinggi itu berada ditangan rakyat ini teorinya, namun prakteknya melenceng jauh. Tetap saja pemimpin (kepala ulat) rakus/serakah…, inilah yang terjadi khususnya di Negara kita. Ini mungkin akan berakhir jika para ULAT (koruptors) menjadi DEWASA, sadar sehingga mereka berubah menjadi kupu-kupu (kepala/pemimpin) yang berasal dari ekor yang mengerti tentang si-ekor/rakyatnya. Hanya pemimpin seperti kupu-kupu (berasal dari ekor) yang dapat memberi keindahan dan kedamaian bagi kehidupan kita berbangsa. Tapi sampai saat ini para ULAT itu tidak pernah menjadi DEWASA…., mereka tetap rakus dan gembool walau secara umur mereka telah lewat dari forty….., kapankah EKOR JADI KEPALA….?

By si Khakool Puyung.

Kategori:Keheningan

HARTA EKSLUSIF

13 Juli 2011 4 komentar

Kepekaan-diri hanya hadir dalam kesederhanaan batin yang bebas dari timbunan berkas-berkas ingatan masa-lalu, sehingga dalam dirinya ada kematian dan kelahiran.

Apakah yang dimasud dengan pernyataan diatas…? Sudah menjadi hukum alam (sanatana-dharma) bahwa setiap kematian akan membawa kelahiran baru. Dalam artikel KEMATIAN…, diceritrakan bagaimana proses terjadinya senyawa baru yang ditimbulkan oleh sebuah kematian yang disana hadir suatu kelahiran. Demikian juga halnya bila didalam batin ada kematian dari berkas-berkas kenangan masa-silam, maka disitu akan hadir suatu kelahiran yang membawa pembaharuan bagi dirinya; batin seperti ini dinamis, kreatif, penuh vitalitas, selalu segar dan ceria. Sedangkan batin yang selalu mengumpulkan akan menjadi penuh sesak oleh segala macam hal; dan apa yang dikumpulkannya menjadi basi dan membusuk. Baca selengkapnya…

Kategori:Keheningan

SiAKU ADALAH PUSAT

Dalam tulisan terdahulu kita telah menemukan bahwa semua tindakan kita bersumber dari si-AKU/pikiran yang memenuhi ruang-batin; demikian juga semua masalah diri kita bermula dari si-AKU. Dapatkah kita melihat hal ini senyatanya bagi diri kita masing-masing…? Kita tak butuh jawaban verbal, namun hanyalah sebuah fakta bahwa kita sungguh melihat, sungguh memahami, bagaimana proses terbentuknya ‘DIRI-KU’ yang merasa memiliki.

Baca selengkapnya…

Kategori:Keheningan
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.