Beranda > Keheningan > DEWA Di DEWEKE ~ Dewa Di Dalam Diri

DEWA Di DEWEKE ~ Dewa Di Dalam Diri

Pada saat tertentu, bagi orang-orang tertentu, ketika bingung melaksanakan ketentuan-ketentuan yang telah ditentukan maka nyeploslah ungkapan tentang “dewa dideweke”, nah pang mento, sing je ulian-to ………. dan seterusnya. Tindakan orang yang dalam kebingungan, jelas tidak mempunyai nilai.

Orang-orang tertentu yang dicap negatif, seperti pemalas, pemabuk, paling sering menyebutkan ungkapan ini yaitu “dewa di deweke”(dewa didalam diri). Ungkapan yang diucapkan nyeplos (tanpa-pikir) secara dangkal ini, hanyalah untuk pembelaan atau pembenaran diri semata, tanpa ada maksud yang lainnya.

Bagi orang yang telah banyak membaca atau percaya bahwa atman (roh) yang bersemayan dalam diri setiap orang adalah percikan dari paramatman yang memenuhi semesta; atau filosofi tentang microcosm dan macrocosm (dalam buana alit terkandung unsur buana agung), maka barangkali ungkapan “dewa didewke” (dewa didalam diri) menjadi relevan, tidak bertentangan. Namun masyarakat tidaklah pernah memperdulikan atau berminat untuk melakukan suatu penggalian lebih dalam pada ungkapan yang dangkal, sekedarnya.

Sebelum orang sempat melakukan penggalian pada ungkapan dangkal sekedarnya itu, muncullah imbauan, tuntunan atau dorongan dari para pemuka agama, pendeta lewat media TV, media cetak dan sebagainya. Bahwa pada jaman kaliyuga (zaman besi) ini, setiap orang harus mendekatkan diri lebih dekat kepada Tuhan, yaitu dengan jalan memperbanyak melakukan yadnya, berdoa, sembahyang, melakukan puja trisandya dan sebagainya. Sebagaian besar masyarakat tentu telah mematuhi, karena masyarakat kita kebanyakan adalah orang-orang pematuh. Trend orang untuk mendekatkan diri pada tuhan, telah melanda seluruh lapisan masyarakat. Dari seragam yang dikenakan, dapat diketahui mereka semua sedang dalam rangka mendekatkan diri pada tuhan….?

Ada seorang teman dalam kebingungan?…….ada banyak pertanyaan dibenaknya, dan olehnya menjadi bingung,….. yang mana harus ditanyakan? Namun walaupun teman ini dalam kebingungan, adalah bersyukur dia masih ada pertanyaan dalam dirinya, karena ini pertanda dia masih sedang pada kondisi belajar. Tidaklah banyak orang yang belajar, yaitu bertanya-tanya dalam hatinya. Kebanyakan orang begitu pasti, yakin dan percaya, sehingga mereka patuh dan penurut.

Ungkapan tentang “dewa dideweke” (dewa di-dalam diri) menjadi kontra dengan anjuran bahwa orang “harus mendekatkan diri lebih dekat pada tuhan”. Hal ini tentulah membingungkan bagi orang-orang yang belajar, namun orang yang tertidur dalam kepercayaannya tak’an peduli, karena mereka tak pernah ada perhatian. Bagaimanakah mungkin ada perhatian jika mereka sedang lelap, yang kemungkinan ada, barangkali sebuah mimpi akan mendapat lotre, tembus togel empat angka, rejeki nomplok yang selalu diharapkan!

Jika atman (roh) adalah percikan paramatman yang agung, jika “dewa dideweke”, jadi, bukankah sesungguhnya mereka selalu bersamaNya? Jikalau demikian, kenapalah lagi orang mesti mendekatkan diri kepada Tuhan? Inilah salah satu pertanyaan yang membuat seorang teman bingung. Dan dari kebingungan, ketakutan serta harapannya, orangpun telah melakukan yadnya (persembahan) lebih banyak. Sebagian orang tentulah mengetahuinya secara nyata; yaitu jika dibandingkan dengan lima puluh tahun yang lalu, yadnya yang dilakukan dahulu tidaklah semeriah, sebanyak, semegah saat ini. Namun dari kenyataan yang ada, …… Apa? Senyatanya memang ada tradisi yang megah meriah. Karena inilah yang memang telah dilakukan. Karena mungkin memang ini yang dikehendaki………… ataukah ada yang lainnya? Dan apakah hasilnya?.…… ………Jika dibandingkan dengan lima puluh tahun yang lalu, adakah manusia saat ini telah menjadi lebih berbudi? Telah menjadi lebih mulya? Telah memiliki rasa cinta kasih yang lebih besar dan berhati lebih luhur? Jika orang jujur dalam melihat fakta, tidakkah peradaban manusia justru bertambah mundur?

Tak dipungkiri, secara phisik memang manusia mengalami banyak kemajuan. Kemajuan dibidang tehnologi, ilmu pengetahuan, pengobatan, kedokteran, penemuan ilmiah dan sebagainya yang telah memberi kesejahteraan pada kehidupan. Namun secara spikologi, secara batiniah, moral dan metal, bukankah terjadi kemerosotan yang signifikan? Sehingga terjadi demikian banyak kesengsaraan, keserakahan, kekerasan, konflik, pertengkaran, permusuhan, kebencian, kecemasan dan sebagainya.

Jika orang melihat fakta ini sejujurnya!…. Tidakkah timbul dalam benaknya pertanyaan-pertanyaan? Kenapa orang mesti lebih mendekatkan diri pada Tuhan? Tuhan yang mana? Kenapa pendekatan diri pada tuhan ini harus dengan melakukan lebih banyak yadnya? Apakah adanya yadnya itu? Dan setelah demikian banyak yadnya, tradisi yang dilakukan…… sudahkah dia melihat bahwa dirinya berada lebih dekat dengan tuhan? Dan bagaimana dia tahu atau menyadari bahwa dia sekarang telah berada lebih dekat dengan Tuhan? Tahukah mereka? Sadarkah mereka? Jika Ya!….kenapa masih; bahkan semakin banyak kesengsaraan, kesedihan, kebingungan dan kecemasan pada kehidupannya.

Pertanyaan-pertanyaan diatas sangatlah berharga bagi orang yang mau belajar. Orang mesti belajar untuk dapat memahami. Bagaimana orang dapat mendekatkan dirinya kepada tuhan, jika orang tak mengetahui tuhan berada dimana? Jika orang tidak memiliki pengertian tentang apa tuhan itu? Hal ini bukanlah masalah yang gampang dan sepele. Tidaklah cukup dengan hanya mempercayai, dengan mengikuti instruksi para pendeta, para pemuka, para sulinggih, karena mereka semua senyatanya hanyalah manusia semata?

Maka dari itu orang mestilah belajar, yaitu mempertanyakan, menyelidiki bukan mempercayai. Seperti seorang yang tidak tahu apapun tentang sebuah mutiara, namun dia harus menemukan mutiara itu. Apa yang mesti dia lakukan? Dia mesti mencari informasi tentang mutiara itu. Setelah dia mendapat informasi yang jelas maka dia mesti nyemplung dan menyelam, menyelam lebih dalam dan dalam, sehingga dia sampai kedasar samudera. Setelah itu, diapun harus memilih diantara kerang-kerang, yang mana berisi mutiara. Tidaklah cukup orang hanya mempercayai bahwa mutiara itu berada dilaut dan pergi berlayar mengayuh sampan ditepian sambil membawa persembahan dan berdoa agar menemukan mutiara. Hal inilah yang telah dilakukan oleh kebanyakan orang.

Dan celakanya lagi, ketika mereka berlayar dengan perahu, sampan, getek atau speedboat masing-masing; mereka saling bertemu satu sama lain di samudera kehidupan itu. Yang terjadi mereka saling mengejek akan perahu, getek atau sampan kepunyaan masing-masing. Akhirnya mereka masing-masing bersaing dan sibuk menghias parahu kebanggaannya dengan segala assessories, seperti bendera, umbul-umbul, patung-patung, simbol-simbol, dan sebagainya, dan melupakan tujuan utama mereka yaitu untuk menemukan MUTIARA. Dalam persaingan ini telah timbul konflik horisontal dan vertikal dimana-mana dibelahan bumi ini. Konflik horisontal yaitu pertengkaran diantara manusia atau diantara etnis atau diantara sekte. Konflik vertikal yaitu konflik yang terjadi didalam diri manusia itu, yaitu konflik dengan dirinya sendiri, dimana pikiran yang telah mencemari batinnya membuat friksi pada percikkan sang paramatman.

Jika orang dapat melihat ini, tentunya dia tak’an ambil bagian dalam kesia-siaan itu. Apabila orang melihat bahwa semua daya upaya itu, hanyalah memperkuat sangdiri (siEgo), dan yang hanya akan menimbulkan noda pada sang atman…..? Tidakkah orang semestinya melihat hal ini dengan jelas? Dan jika orang sungguh-sungguh melihat, tentulah akan ada kejernihan persepsi bukan?

Hanya dalam kejernihan ada keheningan. Hanya dalam keheningan orang dapat melihat mutiara kasih yang selalu disitu, dikedalaman telaga hati manusia. Jika hati manusia jernih, mutiara kasih itu akan bersinar terang memberi kesejukan, kehangatan, keindahan, kedamaian, kegembiraan yang murni. Yang tak termotivasi oleh apapun. Inilah berkah yang tak dapat diraih.

Inilah “dewa dideweke” (DEWA DIDALAM DIRI) yaitu ungkapan yang dangkal dan sekedarnya, menjadi kesunyataan jika orang berkesungguhan hati untuk melakukan explorasi mendalam, menyelam ke-kedalaman samudera dirinya!

Categories: Keheningan
  1. 14 Agustus 2009 pada 10:58 am | #1

    OSA ….Bli Yan Windra …
    Niki Blog baru nggih?
    Tulisan yang dicantumkan bagus2 tuh. Kenapa tidak dipostingkan juga ke BeCeKa?

    Tiyang tunggu nggih ….

    Semetonmu,
    NA.

    • wayanwindra
      14 Agustus 2009 pada 6:16 pm | #2

      OSA….. ya silahkan Pak Agung. Mana yang kira2 bagus
      Pak Agung bisa copy dari blog saya and posting ke BeCeKa.
      Kita hanya berbagi, mudah2an dapat menggugah hati pembaca.

  2. Page Paradev
    9 Juni 2011 pada 6:46 pm | #3

    Jika seseorang sudah memahami konsep Brahman – Paramatman – Bhagavan, maka ungkapan Dewa ada di deweke itu sangat mudah dipahami. Bukan cuma Dewa, bahkan ungkapan Tuhan ada di deweke lebih benar. Dalam badan kita bersemayam bukan cuma sang Roh, tetapi juga sumber Roh itu, yakni Paramaatman. Nah Paramatman ini seperti induk burung yang sedang memperhatikan anak burung (atman) sedang bermain. Sang anak lupa akan jati dirinya. Dan ketika dia lelah bermain, dia rindu dekapan sayap ibunya. Diapun menoleh ke ibunya dan berusaha untuk mendekati si ibu. Begitu si ibu melihat anaknya ingin mendekat si ibu ini menyongsong anaknya dan mendekapnya dengan kasih sayang.

  3. windra
    9 Juni 2011 pada 9:24 pm | #4

    Terima kasih sdr Page…., perumpamaan anda bagus. Klo anda sdh memahami hal ini, knp juga anda men-cari2 tuhan ke-mana2, knp juga anda masih mempercayai…? Klo anda sungguh paham artinya anda telah berada didalam tuhan, perlukah anda percaya…? Klo anda masih percaya artinya anda belum paham bukan…? seperti anda paham 2×2 = 2+2…., untuk apa anda meyakini lagi….?

  4. Page Paradev
    9 Juni 2011 pada 10:35 pm | #5

    Kami tidak menginsyafi Paramatman, tetapi Bhagavan. Veda menjelaskan tentang Tuhan sbb. “Vadanti tat tattva vidas tattvam jnanam advayam brahmeti paramatmeti bhagavan iti sabdyate, para rohaniawan mulia yang telah menginsyafi/mengerti tentang Tuhan menyebutNya sebagai Brahman, Paramatma dan Bhagavan” (Bhag.1.2.11). Brahman adalah aspek impersonal Tuhan.Ia adalah cahaya (energi) yang memancar dari diri pribadi Tuhan (Bhagavan), berhakekat serba meliput, berada dimana-mana, tak terbagi-bagi, tanpa wujud, sifat & ciri apapun. Paramatma adalah aspek setempat Tuhan yang bersemayan didalam hati badan jasmani setiap makhluk (Bg.15.15) dan inti atom (paramanu) seti-ap unsur materi alam fana (BS.5.35). Bhagavan adalah aspek personal / individual Tuhan yang selamanya berhakekat spiritual.
    Ketiga aspek Tuhan (Brahman -Paramatman -Bhagavan) ini disebutkan pula oleh Tuhan Krishna dalam Bhagavad-gita secara implisit sebagai berikut, “Maya tatam idam sarvam jagad avyakta murtina, olehKu dalam aspekKu yang tak berwujud nyata (sebagai Brahman) seluruh alam semesta ini terliput. Matsthani sarva bhutani, segala makhluk ada padaKu (dalam aspekKu sebagai Brahman). Na caham tesu avasthitah, tetapi Aku (sebagai Bhagavan) tidak ada pada diri semua makhluk itu. Na ca mat sthani bhutani, juga semua ciptaan ini tidak bersandar padaKu (dalam aspekKu sebagai Bhagavan). Pasya me yogam aisvayam, lihat lah kekuatan yoga-mistikKku. Bhuta-bhrn na ca bhuta-stho mamatma bhuta bhavanah, meskipun Aku (sebagai Paramatma) memelihara semua makhluk hidup dan meskipun Aku (sebagai Brahman) berada dimana-mana, namun Aku sendiri (sebagai Bhagavan) adalah sumber sejati segala ciptaan material ini” (Bg.9.4-5).

  5. windra
    9 Juni 2011 pada 11:26 pm | #6

    Kawan sebanyak apa-pun anda menghafal kitab2 dan mengulanginya, anda tak lebih hanyalah bagai si burung beo. Dan celakanya lagi ketika anda memuja, mempercayai, tanpa sadar anda telah menjerat diri anda dalam konsep2, ceritra2 yg kesemua itu hanyalah kata2, hanyalah produk pikiran. Pernahkah anda bertanya pd diri sendiri, knp anda melakukan semua ini. Knp anda mempercayai dan memuja….? Tanyakanlah diri anda, mungkin ini dpt menuntun anda untuk menyadari dan belajar tentang diri anda yg terjerat. Sadarkah anda sedang terjerat, berpegang erat2….? ketika anda terjerat anda tak’an pernah bebas (moksa). http://wayanwindra.wordpress.com/2010/08/25/si-burung-beo/

  6. Page Paradev
    11 Juni 2011 pada 10:06 pm | #7

    Anda selalu mengatakan produk pikiran… tampaknya ini menjadi argumentasi fundamental bagi anda. He he he bisakah hal yang rohani lahir dari hal yang material. Bumi, api, air, pikiran, kecerdasan, dan ego palsu (ahamkara) adalah adalah tenaga material…

    • windra
      17 Juni 2011 pada 9:09 pm | #8

      Saya tidak sedang berargumentasi kawan. Saya hanya mengungkap fakta. Tidakkah anda melihat bahwa semua kata2 ini adalah pikiran….? Maaf apakah anda seorang yang rabun atau buta, shg saya akan sia2 saja menunjuk sekuntum bunga pada anda, klo toh anda tak’an melihatnya…..hehe…he…, salam…

  1. Belum ada trackback.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.