Beranda > Keheningan > NYEPI – TAHUN BARU SAKA

NYEPI – TAHUN BARU SAKA

Puluhan tahun yang silam, anak kelas empat SD sekolah minggu (sekolah agama hindu) di Pondok Karya, Jaksel menanyakan tentang Hari Raya Nyepi. “Kenapa Tahun Baru Saka dirayakan sebagai Hari Raya Nyepi?” Dengan kaedah-kaedah yang mesti ditaati (berata penyepian): dilarang menyalakan api, dilarang bekerja, dilarang bepergian dan dilarang nonton atau melakukan hiburan/menghibur diri?” “Kenapa tahun Saka ini dirayakan seperti ini, tidak seperti tahun-tahun baru yang lainnya, berpesta-ria?” Pertanyaan ini tak bisa dijawab oleh Guru pembimbing agama hindu. Hal ini diceritrakan oleh salah satu orang tua murid kepada siPHT (Praktisi HealingTouch) yang hadir di sekolah untuk menjemput anaknya yang ikut sekolah minggu.

Kebanyakan dari kita, walau kita kebetulan beragama Hindu tentu tak’an dapat menjawab pertanyaan itu bukan? Tahukah anda? Umat umumnya hanyalah mengikut. Apapun yang diperintahkan dari pemuka agama, “sulinggih” mereka tinggal melaksanakan, dan tak paham maknanya. Namun untuk melaksanakan kaedah-kaedah (berata penyepian) ini, hampir kebanyakan umat tak ada yang melakukan sepenuhnya. Dilarang menyalakan api, ini jelas tak dapat dilakukan. Karena hampir sebagian besar umat tak ada yang berpuasa, mereka pasti menyalakan api untuk memasak, bahkan tak jarang yang berpesta-pora. Dilarang bepergian dan bekerja ini barangkali dapat ditaati, namun dilarang mencari hiburan/menghibur diri, inipun tak banyak yang dapat mentaati, karena kebanyakan mereka pasti nonton TV, dan tak sedikit yang memanfaatkan Hari Raya Nyepi untuk menghibur diri dengan melakukan judi Ceki atau spirit, dan judi yang lainnya.

Untuk melakukan kaedah-kaedah yang telah ditentukan saja mereka tak taat, apalagi untuk menyelami, menghayati makna yang terkandung dalam Hari Raya Nyepi itu. Intisari dari Hari Raya Nyepi ini adalah untuk menjadikan diri hening, sadar, eling “mulat sarira”. Sebelum hari Nyepi, ada beberapa perayaan yang hanyalah simbol-simbol. Seperti “melasti” (mandi kelaut), ini hanyalah simbol perbersihan phisik. Hal ini tidaklah cukup hanya dengan mandi pakai sabun-wangi, namun mesti membuat organisme, tubuh ini menjadi ringan dan peka. Untuk ini orang mesti berpuasa, diet yang tepat; namun umat umumnya hobi makan-enak, minum alkohol dan merokok yang membuat tubuhnya berat dan bebal. Ada juga upacara “bhuta-yadnya/hari pengrupuk” dengan pawai ogoh-ogoh sebagai simbol bhuta-kala, sifat-sifat buruk dalam diri manusia yang mesti dibakar habis, dimusnakan dengan “api kesadaran” oleh diri masing-masing umat. Untuk menyalakan “api kesadaran” inilah kita perlu melakukan “berata penyepian.” Intisari “berata penyepian” adalah meditasi, menyelam kedalam diri.

Dahulu suku bangsa Saka sangat terkenal dengan ilmu astronominya. Tepat setiap “bulan mati” pada bulan Maret posisi Bumi, Bulan dan Matahari berada dalam satu garis lurus. Posisi ini memberi pengaruh pada semua kehidupan di Bumi. Pengaruh ini akan terasa manakala manusia telah mempersiapkan dirinya, dalam kepekaan, dalam hening dan eling. Upaya persiapan dan penyelarasan kejadian alam (macrocosm) ini dengan diri kita (microcosm), maka kita mesti melaksanakan kaedah-kaedah “berata penyepian” (meditasi). Bumi dalam diri adalah Nurani, Bulan adalah Perasaan, Matahari adalah Inteligen/pikiran. Nurani, Perasaan dan Pikiran mestilah berada dalam satu garis lurus. Hanya apabila Nurani, Perasaan dan Pikiran berada dalam satu garis lurus, dalam meditasi, dalam hening; barulah orang akan dapat menerima dan menjadi selaras dengan macrocosm (bumi, bulan dan matahari). Penerimaan pengaruh macrocosm dalam hening akan meningkatkan kekuatan “api kesadaran” yang dapat berfungsi membakar habis semua avidya, dosa-dosa manusia. Inilah manfaat terbesar dari pelaksanaan “berata penyepian” (meditasi) yang dilakukan pada Tahun Baru Saka/Hari Raya Nyepi.

Namun umat secara umum sangatlah jarang yang melakukan “berata penyepian” ini. Kalau-pun mereka taat, ketaatan mereka hanyalah patuh tanpa ada kesadaran, pemahaman tentang apa yang ditaati. Dan ketaatan seperti ini menjadi siksaan sepanjang hidup, sehingga mereka tak’an pernah menjadi hening. Hal ini justru memberi efek buruk bagi diri mereka, karena pada saat Hari Nyepi ini terjadi ketidak-selarasan berlipat dari partikel-partikel dasar antara macrocosm dan microcom. Ketidak-selarasan ini nampak dari tingkah laku manusia yang semakin hari semakin serakah. Jangankan manusia biasa para imam, pendeta-pun tak sedikit yang terjerat pada kesenangan-kesenangan, sehingga “ritual, upacara dan upakara” dijadikan lahan bisnis. Seorang umat bertanya kepada “sulinggih”, “mengapa tirta (air suci/air yang telah diberi mantra) untuk upacara Ngaben harganya ada yang mahal dan ada yang murah?” Apa jawabnya……, “tirta ini akan mengantar roh siMati ke sorga; tergantung dari mantranya; mau yang kilat, express atau yang biasa; ibarat kalau mau pergi ke Jakarta; kalau ingin cepat… ya naik pesawat-mahal, naik bus atau kereta lebih lambat- lebih murah.

Hal-hal irasional seperti ini ada banyak sekali dalam kepercayaan. Disinilah manusia terjerat, dan Hari Raya Nyepi-pun dijadikan semata kepercayaan. Dengan cara apapun orang menjerat dirinya dalam kepercayaan, sudahlah pasti disini tak ada kebebasan (moksha). Dan Nyepi itu selamanya hanyalah perayaan simbol-simbol yang tak mengantar orang pada keselarasan antara Nurani, Perasaan dan Pikiran/Inteligensi. Jadi intisari Nyepi adalah sepi, hening, berakhirnya semua kata (vedanta), berakhirnya gerak pikiran dalam “buana alit” (diri). Ini adalah meditasi!

About these ads
Kategori:Keheningan
  1. 28 April 2013 pukul 11:55 am | #1

    Very exciting article, really worth recommending to other Web users.
    Text will surely read this not simply time but will also a lot more

  2. 30 April 2013 pukul 7:21 am | #2

    Thanks for your appresiation.

  1. 16 Maret 2010 pukul 4:56 pm | #1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: