<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Wayan Windra&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://wayanwindra.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://wayanwindra.wordpress.com</link>
	<description>Journey in the Deep Pool of Life</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Jan 2012 02:09:33 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='wayanwindra.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/9e0c147d7fccfbd30b3e22eebd8bed9a?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Wayan Windra&#039;s Blog</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://wayanwindra.wordpress.com/osd.xml" title="Wayan Windra&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://wayanwindra.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>BELAJAR</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/10/20/belajar/</link>
		<comments>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/10/20/belajar/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Oct 2011 03:19:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keheningan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayanwindra.wordpress.com/?p=674</guid>
		<description><![CDATA[Secara umum belajar adalah mengumpulkan pengetahuan, lewat buku-buku atau praktek langsung. Belajar ini berkaitan dengan hal-hal yang bersifat tehnik atau ketrampilan, seperti belajar bahasa, seni lukis, seni suara, seni tari; belajar ilmu kedokteran, hukum, tehnik mesin, komputer, arsitek, pertanian, bangunan dan lain-lain. Sementara itu ada sejenis belajar yang lainnya, yang tidak bersifat mengumpulkan; belajar disini [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=674&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Secara umum belajar adalah mengumpulkan pengetahuan, lewat buku-buku atau praktek langsung. Belajar ini berkaitan dengan hal-hal yang bersifat tehnik atau ketrampilan, seperti belajar bahasa, seni lukis, seni suara, seni tari; belajar ilmu kedokteran, hukum, tehnik mesin, komputer, arsitek, pertanian, bangunan dan lain-lain. Sementara itu ada sejenis belajar yang lainnya, yang tidak bersifat mengumpulkan; belajar disini adalah semata mengamati, semata menyimak segala sesuatu yang terjadi disekitar maupun yang terjadi didalam diri kita.</p>
<p>Dalam suatu dialog atau diskusi langsung, lebih-lebih yang tidak langsung seperti dalam dunia maya, kita dapat menyimak banyak. Suatu contoh, ketika kita mengajukan pertanyaan….; jawaban atau tanggapannya bukannya bersifat objektif, namun cendrung bersifat subjektif yang merupakan praduga atau asumsi atau tak jarang merupakan dalih sebagai pembelaan diri, sebagai pertahanan atau penolakan. Dapatkah kita secara perlahan mengamati hal ini; reaksi-reaksi kita, kecendrungan kita yang selalu berusaha bertahan atau menolak…? Saya kira ini sangat penting, karena sumber segala masalah dalam hidup ini berawal dari hal yang paling mendasar didalam diri kita masing-masing.</p>
<p>Hal ini barangkali tanpa di sadari, kita selalu ingin bertahan atau ada sesuatu yang kita pertahankan, sehingga tanpa sadar juga tentu ada penolakan, bukan? Dan hal ini dapat menimbulkan konflik baik yang bersifat langsung atau tak langsung. Bagi yang berlapang dada barangkali dapat menghindari debat kusir, namun tak jarang konflik yang terpendam didalam hati berakibat buruk dan hal ini tentu tidak sehat. Nah, semata menyimak, semata mengamati apa yang terjadi pada batin kita adalah belajar tanpa mengumpulkan apa-apa. Belajar seperti ini adalah belajar dalam kebebasan, mengalir terus, tanpa beban dan hambatan, karena kita tak berpegang kepada apa-pun. Hal ini tidak mudah dilakukan, karena kita telah terkondisi, kita terbiasa pada kecendrungan untuk berpegang.</p>
<p>Ini satu ilustrasi…; “Eh yan…, kamu itu sudah sakit, kenapa masih merokok dan minum alkohol?”….; saya merasa terusik oleh penunjukan dan pertanyaan ini. Dari keter-usikan ini saya balik bertanya atau membuat pernyataan pembanding…; “kamu punya hak apa ngurus orang lain…? Lihat too, semua orang juga merokok, minum alkohol…, sana suruh tutup saja pabrik rokok, bir, wisky…!” Coba kita amati…! Kenapa saya begitu gampang terusik…? Apa/siapakah yang merasa terusik ini? Bila anda menunjuk bahwa baju saya kotor atau robek.., tidakah semestinya saya melihat, memeriksa pada penunjukan itu? Demikian juga walau penunjukan itu mengarah kepada hal yang substansi, seperti keyakinan, kepercayaan, dogma, doa’, kaidah, konsep, ideology dan lain-lain. Ketika anda mempertanyakan keyakinanKu..; kenapa AKU merasa terusik…? Inilah hal mendasar yang mesti saya pahami. Tetapi saya tak’an mampu memahami apa-pun karena saya tak bersedia belajar..; saya keburu terusik dan membanding untuk pembelaan diri, untuk menutupi keburukan diri dengan balik berasumsi, menyebut keburukan anda. Demikianlah reaksi pikiranKU (si-Diri) yang selalu bercokol, menopoli batinku sehingga aku tak mungkin BELAJAR.</p>
<p>Bila aku tak mampu menanggulangi pada akarnya, maka tak’an pernah ada kemungkinan perubahan total dalam hidupku. Kebaikan, kebahagiaan, kedamaian yang kuharap hanyalah harapan belaka. Maka timbullah pertanyaan, “apa yang mesti aku lakukan…?” Dapatkah saya semata mengamati, semata menyimak, menyelidik dan mempertanyakan; tanpa menyimpulkan? Ini adalah belajar tanpa mengumpulkan, belajar seperti ini tak membuat kita pintar, namun membebaskan batin dari dogma, otoritas, fanatisme, kepicikan. Disini ada keindahan dari kesederhanaan batin, ada riang-gembira dari batin yang ringan, ada vitalitas dari batin yang waspada.</p>
<br />Filed under: <a href='http://wayanwindra.wordpress.com/category/keheningan/'>Keheningan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wayanwindra.wordpress.com/674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wayanwindra.wordpress.com/674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wayanwindra.wordpress.com/674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wayanwindra.wordpress.com/674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wayanwindra.wordpress.com/674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wayanwindra.wordpress.com/674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wayanwindra.wordpress.com/674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wayanwindra.wordpress.com/674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wayanwindra.wordpress.com/674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wayanwindra.wordpress.com/674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wayanwindra.wordpress.com/674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wayanwindra.wordpress.com/674/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wayanwindra.wordpress.com/674/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wayanwindra.wordpress.com/674/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=674&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/10/20/belajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/261e62603ba67d00dd2b9e29aecf31fb?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wayanwindra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEPALA ADALAH EKORNYA</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/09/23/kepala-adalah-ekornya/</link>
		<comments>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/09/23/kepala-adalah-ekornya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Sep 2011 03:28:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keheningan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayanwindra.wordpress.com/?p=669</guid>
		<description><![CDATA[PERUBAHAN…. *KEPALA jadi EKOR…, dan EKOR jadi KEPALA…., apakah itu? Setelah jadi penganggur kelas kakap, aku punya banyak waktu&#8230;., seharian hanya bengong&#8230;, eeh ahkir2 ini aku melihat tanpa sengaja terjadinya proses ulat menjadi kepompong. Dan aku lanjut mengamati kepompong yang netas jadi kupu2&#8230;. Nah, perubahan ulat menjadi kupu-kupu inilah dia&#8230;., ternyata KEPALA ULAT berubah jadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=669&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERUBAHAN</strong>….</p>
<p>*KEPALA jadi EKOR…, dan EKOR jadi KEPALA…., apakah itu?</p>
<p>Setelah jadi penganggur kelas kakap, aku punya banyak waktu&#8230;., seharian hanya bengong&#8230;, eeh ahkir2 ini aku melihat tanpa sengaja terjadinya proses ulat menjadi kepompong. Dan aku lanjut mengamati kepompong yang netas jadi kupu2&#8230;. Nah, perubahan ulat menjadi kupu-kupu inilah dia&#8230;., ternyata KEPALA ULAT berubah jadi EKOR/BUNTUTnya KUPU-KUPU. Coba aja amati&#8230;.!</p>
<p>Dari sini aku berpikir-pikir, apa yg terjadi dgn KEPALA/mulut ULAT yg sangat rakus selama dia masih bewujud ULAT. Hanya kurang lebih seminggu dari ulat kecil dia tahu-tahu sudah gendoot jadi ULAT DEWASA. Dan kedewasaanNya menuntun dia pada KESADARAN-DIRI untuk sebuah PERUBAHAN. Dia memutuskan untuk berhenti rakus/makan dan BERSEMADHI dengan cara &#8220;ngalong&#8221; spt &#8216;Sang Subali&#8217; si raja kera dari Gua Kiskenda. Buntutnya melekat pada bagian tengah dari urat selembar daun kembang Medori dan kepalanya terayun-ayun kebawah. Hanya kurang lebih dua hari bersemadhi <strong>ngalong</strong>, si-ULAT telah sampai pada langkah awal dari PERUBAHAN itu. Dari bagian belakang batook kepalanya keluar sejenis cairan-kulit yang berwarna hijau. Cairan-kulit ini tumbuh dan bergerak melapisi sekaligus mengupas kulit luar ULAT. Cairan-kulit ini bergerak dari bawah keatas hanya dalam hitungan kurang-lebih sepuluh detik dan tubuh ULAT itu telah berubah menjadi KEPOMPONG hijau. Menjelang akhir dari proses pembungkusan, kepompong ini bergerak dan berputar-putar untuk melepas kulit ulat yg telah terkumpul dibagian buntut yg melekat pada urat-daun. Dan kulit ulat berikut cangkang kepalanya yg agak keras menjadi satu dan terlepas yang akhirnya jatuh ke tanah. Aku sempat memungut dan mengamati kulit ulat dan cangkang kepalanya yang se-olah2 telah mongering dan lapuk.</p>
<p>Waw… aku terkesima tanpa kata menyaksikan proses dan ke-indahan mahluk KEPOMPONG kecil itu hanya sekitar satu sentimeter panjangnya sangat berbeda dari tubuh ulatnya yang gendoot sepanjang tiga sentimeter. Setiap hari aku sempatkan diri menengok dua buah KEPOMPONG yang bergantung berdekatan pada bagian atas dari daun-daun kembang Medori. Untuk menuju langkah terakhir dari PERUBAHANnya, ulat yang sekarang telah berwujud KEPOMPONG ini membutuhkan waktu agak lama. Pada hari kedelapan kepompong yang berwarna hijau itu berubah menjadi coklat tua kehitam-hitaman. Titik-titik kuning atau putih terang pada kulit kepompong itu kelihatan berkilauan. Dan…. preiss…, kulit punggung kepompong itu pecah…, menjelma menjadi kupu-kupu kecil berwarna coklat muda dengan lukisan ornament yang sangat mempesona. Waw… kupu-kupu yang mungil dan cantik.  Sayapnya masih kuncup, namun secara perlahan oksigen dan angin memberi nutrisi kehidupan dan sayap-sayap itu bertambah panjang dan lebar. Pada saat itu aku baru sadar…, lha KEPALA kupu-kupu berada diatas…, bukankah yang melekat pada urat daun itu adalah buntutnya ULAT…?</p>
<p>Kalau diamati siklus kehidupan ulat hingga jadi kupu-kupu mungkin fifty fifty…..; yaitu masa makan/rakus setengah umurnya. Berubah menjadi ‘pertapa’ kepompong…., meninggalkan kemewahan (‘wanaprasta’) dan akhirnya menjadi kupu-kupu terbang bebas (‘moksa’) juga separoh umurnya. Mungkin melihat fakta kehidupan kupu-kupu ini ada ungkapan yang berkata <strong>life begin at forty</strong>. Ini diambil rata-rata kehidupan manusia adalah delapan puluh tahun. Empat puluh tahun pertama manusia bolehlah berpoya-poya, makan dengan rakus seperti ulat. Untuk ini dia mesti bekerja keras agar memperoleh segala materi. Namun setelah empat puluh tahun dia mestilah menjadi DEWASA sehingga ada KESADARAN-DIRI untuk berubah, dan meninggalkan kemewahan hidup. Kalau dalam konsep Hindu disebut sebagai ‘wanaprasta’ (pergi kehutan) meninggalkan kemewahan, iruk-pikuknya kehidupan. Namun dari fakta kehidupan manusia sangatlah berbeda. Manusia sampai tua tetap, malahan bertambah serakah/rakus. Coba lihat para koruptor itu…., mereka tiada bosan-bosannya serakah, demikian juga kehidupan masyarakat secara umum, walau mereka telah sangat berumur. Dimana-mana terjadi pertengkaran, persaingan, yang berlanjut dengan kebencian dan permusuhan…., baik yang bersifat vulgar ataupun yang samar, tersembunyi hanya didalam hati masing-masing.</p>
<p>Kalau kita melihat fakta ini…., walau manusia telah menghabisan separoh dari umurnya, tetapi mereka tidak segera menjadi DEWASA seperti si-ulat…, ada apakah gerangan…? Jadi saat ini ada sedemikian banyaknya manusia-manusia tua secara umur, namun tidak pernah DEWASA. Kalau kita mau mengamati disekitar…, dan yang paling jelas tersorot tentulah kehidupan para politikus kita saat ini. Dari usia mereka rata-rata sudah berumur, dari segi pendidikan mereka rata-rata manusia jebolan sekolah tinggi. Namun kalau dilihat dari tingkah laku, mereka seperti anak-anak. Mereka suka bertengkar, berebut, bersaing, main umpet-umpetan; mereka bagaikan bermain dagelan…, lucu, menggemasan dan menyedihkan.</p>
<p>Dan sesuatu yang misteri bagiku kenapa buntut/ekor si-ulat menjadi kepala kupu-kupu. Ketika terjadi perubahan si-ulat menjadi kepompong disini sudah kelihatan yang melekat/tergantung itu adalah kepala kepompong yang tadinya adalah buntut/ekor si-ulat. Bila diamati proses perubahan yang radikal ini terjadi manakala si-ulat menjadi DEWASA. Dan kedesawaan ini menumbuhkan KESADARAN-DIRI untuk berubah. Ini terjadi apabila kepala menjadi ekor atau ekor menjadi kepala. Idea dari sistem demokrasi mungkin terinspirasi dari perubahan ulat menjadi kepompong…, yaitu ekor (rakyat) sebagai pemimpin. Semestinya memang kedautan tertinggi itu berada ditangan rakyat ini teorinya, namun prakteknya melenceng jauh. Tetap saja pemimpin (kepala ulat) rakus/serakah…, inilah yang terjadi khususnya di Negara kita. Ini mungkin akan berakhir jika para ULAT (koruptors) menjadi DEWASA, sadar sehingga mereka berubah menjadi kupu-kupu (kepala/pemimpin) yang berasal dari ekor yang mengerti tentang si-ekor/rakyatnya. Hanya pemimpin seperti kupu-kupu (berasal dari ekor) yang dapat memberi keindahan dan kedamaian bagi kehidupan kita berbangsa. Tapi sampai saat ini para ULAT itu tidak pernah menjadi DEWASA&#8230;., mereka tetap rakus dan gembool walau secara umur mereka telah lewat dari forty&#8230;.., kapankah EKOR JADI KEPALA&#8230;.?</p>
<p>By si Khakool Puyung.</p>
<br />Filed under: <a href='http://wayanwindra.wordpress.com/category/keheningan/'>Keheningan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wayanwindra.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wayanwindra.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wayanwindra.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wayanwindra.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wayanwindra.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wayanwindra.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wayanwindra.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wayanwindra.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wayanwindra.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wayanwindra.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wayanwindra.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wayanwindra.wordpress.com/669/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wayanwindra.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wayanwindra.wordpress.com/669/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=669&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/09/23/kepala-adalah-ekornya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/261e62603ba67d00dd2b9e29aecf31fb?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wayanwindra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>HARTA EKSLUSIF</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/13/harta-ekslusif/</link>
		<comments>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/13/harta-ekslusif/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Jul 2011 23:48:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keheningan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayanwindra.wordpress.com/?p=642</guid>
		<description><![CDATA[Kepekaan-diri hanya hadir dalam kesederhanaan batin yang bebas dari timbunan berkas-berkas ingatan masa-lalu, sehingga dalam dirinya ada kematian dan kelahiran. Apakah yang dimasud dengan pernyataan diatas…? Sudah menjadi hukum alam (sanatana-dharma) bahwa setiap kematian akan membawa kelahiran baru. Dalam artikel KEMATIAN…, diceritrakan bagaimana proses terjadinya senyawa baru yang ditimbulkan oleh sebuah kematian yang disana hadir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=642&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kepekaan-diri hanya hadir dalam kesederhanaan batin yang bebas dari timbunan berkas-berkas ingatan masa-lalu, sehingga dalam dirinya ada kematian dan kelahiran.</strong></p>
<p>Apakah yang dimasud dengan pernyataan diatas…? Sudah menjadi hukum alam (sanatana-dharma) bahwa setiap kematian akan membawa kelahiran baru. Dalam artikel KEMATIAN…, diceritrakan bagaimana proses terjadinya senyawa baru yang ditimbulkan oleh sebuah kematian yang disana hadir suatu kelahiran. Demikian juga halnya bila didalam batin ada kematian dari berkas-berkas kenangan masa-silam, maka disitu akan hadir suatu kelahiran yang membawa pembaharuan bagi dirinya; batin seperti ini dinamis, kreatif, penuh vitalitas, selalu segar dan ceria. Sedangkan batin yang selalu mengumpulkan akan menjadi penuh sesak oleh segala macam hal; dan apa yang dikumpulkannya menjadi basi dan membusuk.<span id="more-642"></span>Inilah yang dilakukan oleh kebanyakan orang tanpa disadari. Disinilah kita hidup dalam ruang batin yang sesak dengan muatan beban-pengaruh sehingga batin menjadi rentan, tumpul, pengap, letih dan loyo. Cobalah amati…., batin yang mengumpulkan selalu memegang dan memupuk apa-pun yang diperoleh. Dari hal yang kecil meluas menjadi permasalah yang komplek sehingga disini tak pernah ada kematian maupun kelahiran yang bersifat baru. Pengumpulan ini menjadikan batin kaya-raya dengan barang-barang rongsokan yang pasti akan membusuk…? Dan yang sangat menyedihkan kita justru berpegang erat-erat dan mempertahankan segala harta kepemilikan ini sebagai hal yang istimewa. Dari sinilah awal semua masalah, konflik dan penderitaan; manakala kita meyakini, berpegang dan mempertahankan konsep-konsep, ideologi, pendapat, dogtrin, agama, simbol-simbol dan yang lain-lain yang dipuja-puja, yang kita jadikan sebagai HARTA EKSLUSIF.</p>
<p>Telah berulang kali kita pertanyakan, kenapa kita ngotot mempercayai…? Hal ini tentu akan tampak jelas apabila kita mau jujur mengamati. Bukankah dibalik kepercayaan kita ada HARAPAN dan KECEMASAN/rasa takut…? Namun kita tak bersedia jujur mengakui, kita lebih senang menghindar atau tersinggung jika ada yang mempertanyakan. Ketidak bersediaan kita melihat hal ini, membuat kita bingung…; dan dari kebingungan ini kita mencari petunjuk lewat seorang guru, otoritas, dogtrin, kitab-suci…, apapun yang lainnya. Dan petunjuk yang diharapkan justru kita jadikan pegangan, symbol, ajimat yang semakin memenuhi batin. Penerimaan pada kaidah-kaidah, metode, disiplin dan sebagainya membawa pada rutinitas hidup yang membuat batin semakin tumpul dan loyo.</p>
<p>Ini adalah kisah seorang gadis yang sejak kecil telah dicekoki oleh dogtrin. Pada awalnya dia amat sangat percaya, bahwa hanya tuhan allaah-nyalah yang akan dapat menyelamatan dirinya dan memberinya sorga. Namun penerimaan dogtrin-dogtrin ini tanpa disadari telah menyuburkan rasa ekslusifisme dalam dirinya. Bukan hanya kesombongan memenuhi dirinya namun diapun mulai membenci orang-orang lain yang tidak seiman. Hari berganti hari, musim berganti musim, kehidupan mengalir bebas tertiup angin pancaroba menyebrangi lautan, gurun, gunung-gunung, daratan dan pulau-pulau. Semua ini memberi pembelajaran bagi batin-batin yang bebas terbuka untuk menyimak. Dara ini dihadapkan pada fakta-fakta; ternyata tidak semua orang-baik itu se-iman dan tidak semua orang se-iman itu baik. Dan sebuah ayat pendek membuat dia terhenyak<strong><em>….“Dan barangsiapa yang mencari agama selain ISLAM, maka tidak akan diterima agamanya itu, dan di akhirat dia termasuk golongan yang menerima SIKSA yang pedih.” (QS.Ali-Imran:85)</em></strong></p>
<p>Ayat ini mendorong dia menjadi murtad. Dalam dirinya timbul tanda-tanya dan keraguan. Keraguan dan tanda-tanya ini adalah syarat bagi batin yang siap belajar. Demikianlah sejak saat itu dia meninggalkan sangkar emas yang selama ini telah mendogtrinisasi, mengurung dirinya dengan dongeng-dongeng yang menggiurkan tentang kebesaran kerajaan syurga.</p>
<br />Filed under: <a href='http://wayanwindra.wordpress.com/category/keheningan/'>Keheningan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wayanwindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wayanwindra.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wayanwindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wayanwindra.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wayanwindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wayanwindra.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wayanwindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wayanwindra.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wayanwindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wayanwindra.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wayanwindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wayanwindra.wordpress.com/642/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wayanwindra.wordpress.com/642/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wayanwindra.wordpress.com/642/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=642&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/13/harta-ekslusif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/261e62603ba67d00dd2b9e29aecf31fb?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wayanwindra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>SiAKU ADALAH PUSAT</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/10/siaku-adalah-pusat/</link>
		<comments>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/10/siaku-adalah-pusat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jul 2011 05:51:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keheningan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayanwindra.wordpress.com/?p=638</guid>
		<description><![CDATA[Dalam tulisan terdahulu kita telah menemukan bahwa semua tindakan kita bersumber dari si-AKU/pikiran yang memenuhi ruang-batin; demikian juga semua masalah diri kita bermula dari si-AKU. Dapatkah kita melihat hal ini senyatanya bagi diri kita masing-masing…? Kita tak butuh jawaban verbal, namun hanyalah sebuah fakta bahwa kita sungguh melihat, sungguh memahami, bagaimana proses terbentuknya ‘DIRI-KU’ yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=638&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Dalam tulisan terdahulu kita telah menemukan bahwa semua tindakan kita bersumber dari si-AKU/pikiran yang memenuhi ruang-batin; demikian juga semua masalah diri kita bermula dari si-AKU. Dapatkah kita melihat hal ini senyatanya bagi diri kita masing-masing…? Kita tak butuh jawaban verbal, namun hanyalah sebuah fakta bahwa kita sungguh melihat, sungguh memahami, bagaimana proses terbentuknya ‘DIRI-KU’ yang merasa memiliki.</strong></p>
<p><span id="more-638"></span>Dapatkah kita sejenak diam mengamati dan mempertanyakan? Kenapa kita memperlakukan si-AKU ini sedemikian ekslusif, sangat-penting sehingga begitu dominan menguasai diri kita? Bila kita renungkan dia…si-AKU ini hanyalah kumpulan dari berkas-berkas ingatan masa lalu. Dia terbentuk oleh kombinasi dari berbagai berkas-berkas ingatan masa silam yang mungkin sudah sangat basi. Inilah sebabnya kenapa tanpa disadari kita kadang bahkan sering merasa bosan. Motif perasaan bosan ini seolah bersumber dari objek-objek diluar, namun senyatanya perasaan bosan ini bersumber dari dalam diri sendiri yaitu dari si-AKU (kumpulan masa silam yang basi). Tindakan-tindakan si-AKU yang basi inilah yang membuat kita merasa bosan. Pernahkah anda ngobrol dengan seorang kaya mendadak (OKB), yang menjadi kaya karena kesandung rejeki…? Ceritanya hanya itu-itu, seperti kaset yang diputer ulang, sehingga anda atau dia sendiri menjadi bosan mendengarkannya. Untuk menyimak, menyelam kedalam diri memang bukan hal yang mudah, karena kebiasaan kita selama ini adalah melihat objek-objek diluar diri.</p>
<p>Karena si-AKU sangat ekslusif maka apa-apa yang menjadi miliknya juga bersifat istimewa. Apa saja kepemilikan si-AKU…? Yang paling istimewa dan luhur tentulah tuhan dan agama termasuk para rasul, kitab suci, imam dan para pendetanya. Kepemilikan yang bersifat pengikat pribadi tentu keluargaKU, anakKU, istriKU, saudaraKU, orang-tuaKU, mobilKU, rumahKU, hartaKU dan lain sebagainya. Sedangkan kepemilikan sebagai pembentuk si-AKU untuk menjadi semakin solid adalah perasaan cinta, kehormatan, jabatan, martabat, kebanggaan, prestasi, kepintaran, pengetahuan, gelar, predikat dan sebagainya. Semua kepemilikan inilah yang mengokohkan kedudukan si-AKU didalam diri kita, yang mungkin lepas dari pengamatan.</p>
<p>Seorang teman bertanya, “kalau si-AKU ini adalah sumber masalah, apa yang dapat kita perbuat dengan si-AKU…? Dapatkah kita menghilangkan atau mengendalikan si-AKU…?</p>
<p>Menghilangkan si-AKU…, mungkinkah kita dapat menghilangkannya…? Menurut hematku hal ini kecil kemungkinannya. Dapatkah kita hidup seperti seekor burung atau seekor keledai…? Kita tak perlu berandai-andai atau berspekulasi tentang hal yang belum jelas bagi kita. Selanjutnya dapatkah si-AKU dikendalikan&#8230;?</p>
<p><strong>AGAMA DAN TUHANNYA</strong></p>
<p>Barangkali tujuan pokok dari agama-agama didunia adalah PENGENDALIAN DIRI…. yaitu untuk mengendalikan si-AKU. Dan diciptalah konsep-konsep, metode, kaidah-kaidah sesuai dengan pikiran (si-AKU); dan ini tak membawa perubahan yang berarti. Penyesuaian diri memberi warna pada permukaan yang dangkal sebagai etika, sopan-santun dan toleransi. Inilah kesepakatan umum dari moral masyarakat yang merasa telah cukup dengan menjalankan kaidah-kaidah ajaran agama. Namun jauh didalam hati-sanubari, kita masih hampa, bingung dan dahaga.</p>
<p>Cobalah kita perlahan…., semua metode, kaidah-kaidah, ayat-ayat yang dituangkan dalam bentuk kitab-kitab seberapa-pun sucinya tetaplah produk pikiran. Semua itu dicipta oleh si-AKU (pikiran) yang bingung, hampa dan resah dalam rangka menanggulangi masalah-masalah dirinya. Jadi ini adalah reaksi dari kehampaan, kecemasan, kebingungan si-AKU (pikiran). Maka hasil akhir dari semua reaksi, usaha-usaha si-AKU tak bisa lain adalah DIRInya SENDIRI yaitu berkas-berkas masa-lalu yang basi. Bila kita menganggap bahwa reaksi, usaha pikiran ini sebagai suatu keberhasilan…, ya boleh-boleh saja. Namun faktanya kita tetap hampa, bosan, bingung, cemas, gelisah, serakah, bersaing atau hidup dalam khayalan, penipuan diri, karena inilah yang selama ini dirajut oleh si-AKU/pikiran.</p>
<p>Dapatkah kita menyimak uraian diatas…., semata menyimak? Hal ini tidak mudah memang, karena kecendrungan si-AKU (pikiran) adalah bereaksi, memberi tanggapan, menilai sesuai dengan keterkodisiannya, sehingga penunjukan yang semata menunjuk ini jadi absurd. Penunjukan ini bukanlah ajaran, dogtrin atau hasutan. Ini bagaikan angin sepoi-sepoi yang sejuk yang memberi pertanda bahwa musim dingin akan tiba. Untuk dapat melihat dan tanggap dibutuhkan kepekaan diri. Kepekaan-diri ini hadir dalam kesederhanaan batin yang bebas dari timbunan berkas-berkas ingatan masa-lalu, sehingga dalam dirinya ada kematian dan kelahiran.</p>
<br />Filed under: <a href='http://wayanwindra.wordpress.com/category/keheningan/'>Keheningan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wayanwindra.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wayanwindra.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wayanwindra.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wayanwindra.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wayanwindra.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wayanwindra.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wayanwindra.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wayanwindra.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wayanwindra.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wayanwindra.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wayanwindra.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wayanwindra.wordpress.com/638/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wayanwindra.wordpress.com/638/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wayanwindra.wordpress.com/638/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=638&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/10/siaku-adalah-pusat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/261e62603ba67d00dd2b9e29aecf31fb?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wayanwindra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>OTAK DAN PIKIRAN</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/05/otak-dan-pikiran/</link>
		<comments>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/05/otak-dan-pikiran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jul 2011 08:10:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keheningan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayanwindra.wordpress.com/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[Untuk mengungkap sesuatu yang abstrak, bukanlah hal yang mudah. Dapatkah pikiran mengungkap dirinya sendiri…? Bagaimanakah kehadiran pikiran ini didalam diri kita…? Karena pada saat pertama kita dilahirkan, pikiran belum ada dalam diri. Bila kita berbicara tentang pikiran mau tak mau mesti mengaitkan otak yang merupakan perangkat terbentuknya pikiran. Seperti kita ketahui otak adalah pusat system [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=633&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Untuk mengungkap sesuatu yang abstrak, bukanlah hal yang mudah. Dapatkah pikiran mengungkap dirinya sendiri…? Bagaimanakah kehadiran pikiran ini didalam diri kita…? Karena pada saat pertama kita dilahirkan, pikiran belum ada dalam diri. Bila kita berbicara tentang pikiran mau tak mau mesti mengaitkan otak yang merupakan perangkat terbentuknya pikiran.</strong></p>
<p><span id="more-633"></span>Seperti kita ketahui otak adalah pusat system saraf  (<em>central nervous system</em>) yang mengatur pergerakan dan fungsi-fungsi tubuh seperti detak jantung, keseimbangan cairan tubuh, pembentukan enzem, hormon dan lain-lainnya. Otak juga bertanggung jawab atas fungsi pengenalan perasaan, emosi dan ingatan, pembelajaran pergerakan otot-otot dan sebagainya. Dari multi kemampuan perangkat otak inilah pikiran terbentuk. Sensori otak merekam objek-objek lewat panca-indera dan dijadikan file-file ingatan yang sangat teratur. File-file ini kita kumpulkan sejak masa kanak-kanak. Inilah cikal-bakal dari pikiran kita yang ada saat ini didalam otak kita.</p>
<p>Saat belita kita hanya bisa berpikir sederhana, minta ini … minta itu&#8230;, belum ada rasa kepemilikan, identifikasi diri, seperti kita saat ini. Dapatkah kita mengikuti perjalanan diri kita sejak pertama kita dapat berpikir hingga saat ini? Kita telah mengumpulkan segala sesuatu secara bertahap, dan tanpa kita sadari perangkat otak kita yang memiliki multi fungsi ini mencipta jaring-jaring pikiran lewat objek-objek diluar diri yang terekam melalui panca-indera. Dari ruang inilah semuanya bermula. Ruang ini disebut sebagai batin. Dalam ruang batin ini dipenuhi oleh pikiran yang tersusun oleh komponen perasaan, akal-budi (logika), emosi, kesadaran dan ingatan yang saling mempengaruhi. Didalam ruang batin ini otak bekerja secara terus menerus dgn rangkaian-rangkaian yang dia ciptakan sendiri yang berupa jaring-jaring pikiran. Seiring dengan pengumpulan yang dilakukan, terjadilah pengkondisian yang semakin menguat dan terciptalah si-AKU/DIRI-ku. Si-Aku inilah merasa memiliki…., “baju’Ku, rumah’Ku, anak’Ku, keluarga’Ku” dan lain-lain ‘KU yang tak terhitung banyaknya.</p>
<p>Dapatkah kita melihat senyatanya hal ini…? Kebanyakan orang tak pernah melihatnya, krn kita tak pernah ada waktu untuk menyimak kedalam diri. Kita cenderung melihat objek-objek diluar diri. Ketika ada objek yang mengesankan, tanpa sadar otak kita merekam. Kesan ini memperkuat hasrat kita untuk merasakan lagi. Dari sini terjadilah pengejaran dan kita semakin melekati (kecanduan). Demikianlah otak kita memupuk pikiran demi pikiran semakin kuat dan kuat yang menjadi si-AKU. Dari sinilah semua tindakan kita bersumber; dan dari sini pula semua masalah kita bermula</p>
<br />Filed under: <a href='http://wayanwindra.wordpress.com/category/keheningan/'>Keheningan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wayanwindra.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wayanwindra.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wayanwindra.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wayanwindra.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wayanwindra.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wayanwindra.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wayanwindra.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wayanwindra.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wayanwindra.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wayanwindra.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wayanwindra.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wayanwindra.wordpress.com/633/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wayanwindra.wordpress.com/633/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wayanwindra.wordpress.com/633/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=633&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/05/otak-dan-pikiran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/261e62603ba67d00dd2b9e29aecf31fb?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wayanwindra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KOKI YANG ANEH</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/03/koki-yang-aneh/</link>
		<comments>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/03/koki-yang-aneh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 Jul 2011 11:01:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keheningan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayanwindra.wordpress.com/?p=626</guid>
		<description><![CDATA[Di sepanjang jalan Likaliku di sebuah kota Harapan berjejer restaurant-restaurant, rumah makan-rumah makan dengan beraneka ragam masakan. Dan disana ada sebuah restaurant dengan seorang KOKI yang masakannya sangat aneh rasanya bagi kebanyakan orang, sehingga restaurant itu sepi pengunjung. Walau demikian manager restaurant tidak juga mengganti KOKInya. Dari segi bisnis tentu hal ini tidak menguntungkan. Tetapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=626&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Di sepanjang jalan Likaliku di sebuah kota Harapan berjejer restaurant-restaurant, rumah makan-rumah makan dengan beraneka ragam masakan. Dan disana ada sebuah restaurant dengan seorang KOKI yang masakannya sangat aneh rasanya bagi kebanyakan orang, sehingga restaurant itu sepi pengunjung.</em></strong></p>
<p><span id="more-626"></span>Walau demikian manager restaurant tidak juga mengganti KOKInya. Dari segi bisnis tentu hal ini tidak menguntungkan. Tetapi berita tentang KOKI yang aneh ini tersebar dari mulut kemulut, sehingga ada saja orang-orang yang mengunjungi restaurant itu sekedar ingin tahu; namun rata-rata pengunjung mengercitkan hidung, bibirnya dan mencibir karena rasa masakan itu sungguh tidak sedap. Tak jarang ada yang langsung muntah-muntah, atau menyumpah-nyumpah oleh rasa muak dan jengkel. Apakah kita adalah salah satu dari pengunjung yang merasa muak dan jengkel itu….? Dapatkah kita melihat kedalam diri kita, kenapa kita mesti jengkel…? Bila kita tidak suka dengan masakan si-KOKI yang aneh itu…., ya kita tak usah datang kesana, bukan?</p>
<p>Saya teringat dengan suatu pengalaman tahun 80an, ketika pergi bersama teman-teman Bali sebagai perwakilan pemuda Hindu, untuk menyambut kedatangan seorang Guru Agung dari sebuah pertapaan di-kaki Himalaya. Setelah lagu Guru dan Arathi sebagai prosesi penyambutan selesai, kami dipersilakan untuk menikmati prasadam. Hidangan pertama adalah bubur kacang-hijo…., waw kelihatannya sedap, kami berempat selalu bersama-sama, karena tak biasa bergaul dikalangan komunitas India. Kami ber-empat mengambil bubur kacang-hijo secukupnya…., dan ketika kami menyantap sesendok…, kqeekh…, saya terkejut dan teman-teman yang lain langsung memuntahkan bubur-bubur itu. Namun saya tak bisa berbuat demikian, disamping karena etika, pada saat itu TG Kezin yang sekarang dikenal sebagai Anand Krishna telah mendekati kami. Dia menyapa dan kami lanjut ngobrol-ngobrol sambil menikmati bubur kacang-hijo yang rasanya sangat aneh di-lidah kami orang-orang Bali yang telah terkondisi dengan babi-guling, lawar atau masakan Indonesia umumnya.</p>
<p>Namun pengalaman ini sangat berharga bagi saya dengan menyantap habis bubur kacang-hijo itu. Dan ketika hidangan utama disuguhkan saya tidak menolak, walau teman-teman yang lain tak bersedia. Setiap suap dari semua masakan india ini, saya coba dengan sungguh-sungguh merasakan, rasa bumbunya yang mirip dengan parem yang terasa sangat aneh bagi lidah saya. Ternyata ini menjadi pembelajaran yang luar biasa. Saya melihat penolakan dari kesan-kesan diri. Dari pergolakan rasa dalam diri ini, saya melihat sumber keterkondisian rasa yang melekat pada pengalaman-pengalaman nikmat yang pernah diterima pada masa-masa yang lalu. Inilah suatu kebersediaan diri untuk terbuka dan menghadapi apa adanya sebagai fakta, dan ini mengantar pada pemahaman diri tentang rasa yang menjebak diri kita selama ini. Sejak saat itu saya dapat menyantap masakan apa saja tanpa ada complain, malah saya sungguh-sungguh dapat melihat dimana kenikmatan itu berada tanpa melekatinya. Ini adalah salah satu bentuk kebebasan yang menjadi landasan bagi saya untuk menyelami hal-hal selanjutnya.</p>
<p>Demikian juga halnya dengan kondisi yang lainnya. Pada saat kita merasa keberatan, complain, jengkel atau tersinggung dengan apa-pun, termasuk makanan, pernyataan, penunjukan, status-status, note, dogtrin, suasana sekitar dan sebaginya…, apa maknanya? Bukankah ini pertanda kita terkondisi, berpegang, melekat pada sesuatu yaitu kenikmatan, kenyamanan, keamanan yang kita dambakan, yang bisa berupa simbol-simbol, konsep-konsep, ayat-ayat, yang mungkin saja kita jadikan PUJAAN, KEYAKINAN, dan HARAPAN.</p>
<p>Suatu hari seorang Dokter bertamu kerumah seorang petani dan disuguhi secangkir kopi oleh istrinya. “Hidangan apa ini….!” sang Dokter berteriak lantang. “Tidakkah kalian tahu kopi ini mengandung racun, hidangan ini absurd tak ada manfaatnya”, berkata demikian seraya dia membuang kopi didalam cangkir itu. Disamping sebagai Dokter dia juga terkenal di daerah itu sebagai seorang Guru spirituil yang telah banyak memberi wejangan tentang kesadaran, kebebasan dan runtuhnya pikiran. Sungguh eronis bukan?</p>
<p>Dan ini kisah lain tentang seorang public speaker, yang membabarkan KEBENARAN sedang manggung dan didengarkan oleh banyak pendengarnya. Seorang pendengar yang karena terseret arus juga ada disitu duduk paling depan berhadapan langsung dengan si-penceramah. Si Pembicara mulai ceramahnya, dan pada jedah-jedah tertentu dia meminta hadirin….., “TEPUK TANGAN DONG”… dan semua hadirin bertepuk tangan kecuali si pendengar yang terseret arus itu. Setelah beberapa kali si Pembicara meminta hadirin tepuk-tangan, namun si pendengar yang terseret arus itu tetap tidak mengikuti, sehingga membuat si Pembicara jengkel. Diapun mulai menyindir si pendengar yang tak mau tepuk-tangan itu. “Jika kamu merasa tidak cocok mendengar ceramah seorang Guru, sebaiknya kamu keluar dan mencari Guru yang lain! Kamu mestilah menghargai orang yang berbicara didepan kamu! Jika kamu menganggap orang yang bicara didepan kamu seorang Guru, maka kamu akan mendapat berkah Guru. Jika kamu menganggap orang yang bicara didepan kamu seorang dewa, maka kamu akan mendapat berkah dewa.” Ceramahnya berapi-api….. “Kalian adalah ibarat domba-domba yang terjepit, kalian mesti dapat membebaskan diri dari jepitan, dan untuk itu kalian membutuhkan OTORITAS seorang Guru yang dapat membantu kalian terbebas. Sungguh suatu lelucon yang menarik bukan…., si Pengembala domba yang terjepit kambing hitam batinnya yang digelapkan oleh predikat Guru. Kemudian seseorang mendekati si pendengar yang tak pernah ikut bertepuk tangan itu, menyentuh pundaknya dan memberi bahasa isyarat dengan tangannya…..; ternyata dia adalah seorang gagu yang tuli……</p>
<p>Bila kita sejenak diam menyimak kedalam diri, tentu kita akan melihat keterkondisian diri kita. Saya yang lahir di-lingkungan orang-orang Bali tentu akan terkondisi dengan makanan khas Bali, seperti babi-guling, lawar, komooh dan yang lainnya. Betapa sulitnya bagi lidah saya untuk menikmati makanan yang lain. Syukurlah jika saya selalu berada di lingkungan Bali, sehingga akan dengan mudah memperoleh makanan kesukaan diriku. Namun bila saya berada jauh, dirantau orang mau tak mau saya akan bersentuhan dengan makanan yang lain. Dan saya merasa tidak nyaman, tak nikmat; dari kondisi ini saya merasa tersiksa dan mungkin akan menyumpah-nyumpah, menyalahkan hal-hal yang diluar diriku. Padahal sumber masalah berawal dari dalam diriku sendiri.</p>
<p>Anda datang dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan……, “tidakkah engkau dapat belajar dari fakta apa adanya yang terjadi dalam dirimu atau disekitar…? Mestikah hidup engkau yang sesaat ini kau isi dengan segala komplaim? Apakah sumber yang membuat engkau merasa berkeberatan…?” Apabila aku tak mampu menjawab pertanyaan Anda, aku merasa malu. Malu kalau aku diketahui bodoh, tak berpendidikan. Ini artinya aku malu mengakui kondisi diriKu. Sebaliknya jika Anda mampu menjawab pertanyaan-pertanyaanku karena Anda memang pintar, aku-pun merasa dikalahkan, aku tak bisa terima kenyataan ini. Aku terus berusaha mencari-cari kelemahan Anda, agar aku dapat memojokan lawan bicaraku. Aku mengajukan pertanyaan atau pernyataan yang bersifat memancing, dengan dilandasi oleh ketidak tulusan hatiku yang tidak dapat menerima fakta diriku yang bodoh. Dan yang lebih celaka lagi aku berasumsi bahwa Anda lebih bodoh dari diriku.</p>
<p>Kenapa aku bertindak seperti ini? Dengan kelakuan seperti ini jelas aku tak dapat belajar, menyimak apa-pun. Karena aku sibuk dengan asumsi, praduga2, intrik2, tipu-daya untuk mendapatkan kemenangan dan kepuasan. Inilah ilusi dari kesenangan yang terus dikejar oleh pikiran. Pikiranku bagaikan karat yang menempel pada besi, secara perlahan dia menggerogoti batinku menjadi kropos. Inilah masalah diriku; fakta diriku.</p>
<p>Apa yang mesti kulakukan…? Mestikah aku menerima kondisi diriku ini? Atau bagaimana caranya aku menolak atau membuang hal-hal yang buruk ini…? Seluruh masalah umat manusia berada dalam diriku. Artinya masalah diriku juga merupakan masalah orang-orang dimanapun dibelahan bumi ini; hanya dengan motif yang berbeda. Namun masalah adalah masalah.</p>
<p>Dapatkah Anda atau Guru Agung, SADHU, atau sebuah OTORITAS menuntaskan masalah diriku? Jika kita jujur melihat, bukankah tiada siapa-pun yang dapat menyeselaikan masalah-masalah diri kita? Karena masalah yang terjadi dicipta oleh diri kita sendiri, maka masing-masing dari kitalah yang mesti menyelesaikan. Bila kita amati permasalahan diri seperti rasa jengkel, tersinggung, benci, sedih, kesepian, kecemburuan, kecemasan, keraguan dan lain-lain yang muncul dalam batin kita adalah terbentuk oleh pikiran kita bukan…? Fakta ini telah berulang kali kita ungkap. Jadi hal ini semestinya telah kita ketahui. Nah, dapatkah sebuah OTORITAS menuntaskan kondisi batin kita dari masalah-masalah? Saya melihat, tak ada OTORITAS yang dapat menyelesaikan masalah-masalah diri kita, justru batin kita bertambah terbebani. Saya tak meminta anda sepakat dengan pernyataan saya, karena saya bukan siapa-siapa, saya tidak sedang mencari pengikut atau berusaha memperngaruhi; namun saya hanyalah pohon mengkudu yg kebetulan tumbuh dan berbuah. Setelah kita mengetahui bahwa sumber segala masalah adalah pikiran, maka kita mesti mengungkap apakah pikiran itu&#8230;.?</p>
<br />Filed under: <a href='http://wayanwindra.wordpress.com/category/keheningan/'>Keheningan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wayanwindra.wordpress.com/626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wayanwindra.wordpress.com/626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wayanwindra.wordpress.com/626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wayanwindra.wordpress.com/626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wayanwindra.wordpress.com/626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wayanwindra.wordpress.com/626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wayanwindra.wordpress.com/626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wayanwindra.wordpress.com/626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wayanwindra.wordpress.com/626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wayanwindra.wordpress.com/626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wayanwindra.wordpress.com/626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wayanwindra.wordpress.com/626/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wayanwindra.wordpress.com/626/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wayanwindra.wordpress.com/626/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=626&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/07/03/koki-yang-aneh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/261e62603ba67d00dd2b9e29aecf31fb?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wayanwindra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERANGKAP TERJERAT</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/06/18/perangkap-terjerat/</link>
		<comments>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/06/18/perangkap-terjerat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jun 2011 16:21:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keheningan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayanwindra.wordpress.com/?p=618</guid>
		<description><![CDATA[Apakah kira-kira ungkapan ini dapat mengantar kita kepada pembelajaran yang lebih mendalam…? “Perangkap yang terjerat atau jerat yang terperangkap.” Atau anda dapat mengubah kata-katanya menjadi “jebakan yang terperangkap atau jerat yang terjebak.” Bagi yang telah membaca tulisan-tulisan sebelumnya dalam blog ini, tentu telah dapat menangkap makna dari ungkapan ini. Yang dimaksud adalah pikiran yang terjebak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=618&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Apakah kira-kira ungkapan ini dapat mengantar kita kepada pembelajaran yang lebih mendalam…? “Perangkap yang terjerat atau jerat yang terperangkap.” Atau anda dapat mengubah kata-katanya menjadi “jebakan yang terperangkap atau jerat yang terjebak.” Bagi yang telah membaca tulisan-tulisan sebelumnya dalam blog ini, tentu telah dapat menangkap makna dari ungkapan ini. </strong></em>Yang dimaksud adalah pikiran yang terjebak oleh dirinya sendiri.</p>
<p><span id="more-618"></span>Pernyataan ini sangat sahaja, namun bagi kebanyakan orang untuk sungguh melihat hal ini senyatanya tidaklah mudah. Kita telah mencoba mengungkap hal ini dalam artikel DIMANA MASALAHNYA &#8230;, namun sepertinya kita belum juga dapat memahami apa yang dimaksud. Karena dari dialog, diskusi yang kita lakukan, tetap saja kita terjebak dalam jerat pikiran/kata-kata. Sehingga dialog atau diskusi yang terjadi kadang memanas dan sering menjadi debat kusir. Bila kita sedikit mau menahan diri, menarik nafas dalam dan mengamati, barangkali kita akan dapat melihat apa yang terjadi didalam batin kita manakala kita merasa panas dalam perdebatan.</p>
<p>Dalam artikel-artikel sebelumnya sepertinya telah berulang kali kita ungkap, dan pada kesempatan ini kita terpaksa mengulang kata-kata, atau pernyataan-pernyataan yang sama. Apakah yang membuat kita berdebat…? Coba kita diam dan amati bersama-sama; bukankah karena kita mempertahankan sesuatu…? Dan sesuatu itu adalah hal yang kita anggap sangat berharga…., yaitu pendapat, prinsip, ideology, konsep dan lain sebagainya. Sadarkah kita dari mana asal-muasal semua hal yang kita hargai, kita banggakan dan kita puja-puja….melebihi segala harta milik kita? Ini semua berawal dari ingatan/kenangan masa lalu kita yang tanpa sadar kita rajut dari hari-kehari menjadi jaring /‘tamus’ perangkap untuk menjerat diri kita sendiri. Bagi yang memiliki kecerdasan dalam selayang pandang mereka tentu akan melihat, menyadari hal ini yang berada dalam diri. Namun kebanyakan dari kita sangat sulit melihatnya, karena mata hati kita telah tertutup rapat oleh jaring-perangkap yang tebal; sehingga yang tampak hanyalah JARING PEKAT yang menjadi pandangan, prinsip, pegangan, keyakinan, dan kebenaran kita. Demikianlah setiap orang memiliki KEBENARAN dari keyakinan yang berdeba-beda.</p>
<p>Dalam artikel PUNCAK YANG SAMA kita telah mencoba mengurai….; adakah itu KEBENARAN menurut saya, menurut anda, si-A, atau si-X…? Puncak Gunung selamanya adalah PUNCAK…, tiada puncak-gunung milik anda, milik saya atau milik si-A, si-B atau si-C. Pahamilah hal ini! Bila ada pemahaman kita pasti tak’an berdebat, karena ini artinya kita telah berada pada puncak yang sama, KEBENARAN yang sama. Maka dari itu KEBENARAN mesti dipahami BUKAN dipercaya, bukan dijadikan hak milik. Apabila kita berada dalam kebenaran maka kita tak’an mempertahankan, atau menentang. Kebenaran selamanya kebenaran kita tak perlu membelaNYA. Kebenaran ini mesti dihayati dalam hidup dalam setiap tarikan nafas kita, sehingga kita dapat merasakan hangat, segar dan indahnya kebenaran itu.</p>
<p>Dapatkah kita mengikuti uraian tadi? Kita hanya mencoba mengukap realita dari fakta-fakta. Untuk menguji uraian tadi, kita juga dapat menggunakan fakta-fakta dalam kehidupan disekitar. Lihatlah konflik yang ada dimana-mana. Konflik diantara saudara kandung, antara kerabat dekat, keluarga jauh; antara tetangga, sahabat, warga sekampung; antara suku, ras, suku bangsa; antara desa, organisasi, partai, bangsa; antara agama, sekte, aliran dan konflik yang terjadi dalam diri sendiri. Kenapa…, apa yang melatar-belakangi konflik-konflik ini? Tentulah karena mereka berPEGANG pada keyakinan atau kepercayaan dari kebenaran masing-masing bukan…? Nah, adakah kebenaran yang mereka pegang, yang mereka yakini ini adalah kebenaran…? Jika itu kebenaran kenapa hasilnya konflik..? Apabila kita memiliki sedikit kecerdasan tentu kita dapat memahami uraian ini. Kebenaran bukanlah produk pikiran. Kebenaran tidak bisa menjadi kepemilikan kita. Kebenaran bukanlah pendapat, ide, konsep, keyakinan ataupun kepercayaan. Dan semua uraian ini adalah kata-kata produk pikiran; kata “kebenaran” ini-pun bukanlah kebenaran. Namun demikian kata-kata ini hanyalah mengukap tabir dari jaring kata-kata agar kita dapat melampauinya. Jaring kata-kata yang berupa keyakinan, keimanan, kepercayaan, konsep, ideology, prinsip, pendapat dan lain-lainnya yang telah kita kumpulkan sejak masa kanak-kanak tanpa kita sadari. Ini semua adalah produk pikiran. Hal inilah memenuhi batin kita; dan masing-masing orang memiliki keterkondisian yang berbeda-beda sesuai dengan lingkungan yang mempengaruhi dimana mereka dilahirkan. Rangkaian jaring kata-kata dari masa-lalu inilah yang mengidentifikasi dirinya sebagai DIRIKU/ si-AKU.</p>
<p>Dapatkah kita  mengikuti uraian ini….? Dapatkah kita melihat proses keberadaan si-AKU dalam diri kita…? Amatilah..! Sebelum kita sampai pada kondisi diri kita saat ini…, tentu kita juga dapat melihat proses ini dari fakta kehidupan. Saat pertama kita dilahirkan, kita kosong, polos dan murni. Ini telah berulang kali kita ungkap, bahwa hakekat diri kita adalah KEMURNIAN. Kemurnian ini adalah cinta-kasih, karena kita semua dilahirkan dalam kasih yang sama. Ini bukanlah sebuah pendapat, dogtrin, atau idea, namun ini adalah realita (sanatana-dharma). Untuk dapat melihat realita ini senyatanya, kita mestilah melepas semuanya; melepas kepemilikan kita yang berupa ide-ide, gagasan, pendapat, cita-cita, pegangan, keyakinan, mitos dan lain sebagainya yang menjadi <strong><em>tabir jaring-jaring pekat pikiran</em></strong> yang menutupi <strong>hakekat</strong> diri kita yaitu KEMURNIAN.</p>
<p>Seorang teman bertanya,… “apakah yang anda maksud dengan KEMURNIAN….?”</p>
<p>“…. Janganlah anda bertanya terus!” Sebanyak apapun jawaban yg diberikan, apabila kita tak mampu menyimak kata-kata ini tiadalah manfaatnya. Inilah barangkali alasannya kenapa ditulis demikian banyaknya buku-buku yang diharapkan agar kita dapat melihat senyatanya hakekat itu. Namun tak sedikit dari buku-buku yang ditulis hanyalah merupakan salinan yang memberi makna keliru sehingga menimbulkan kesalah pahaman. Atau ditulis semata menonjolkan keindahan bahasa untuk menarik minat, dan hal ini sama sekali tak memberi manfaat hanyalah menjadi hiburan semata. Inilah kendala, kesulitan-kesulitan yang muncul yang menjadi penghalang bagi kita untuk sungguh-sungguh mampu menembus dan melampaui jaring keterkondisian diri kita.</p>
<p>“Siapakah anda sesungguhnya? Apakah Anda Tuhan sehingga tidak perlu memohon kepada Tuhan?”…. ini adalah pertanyaan dari seorang teman yang terperangkap dalam kata-kata. Sudah menjadi tradisi, pendapat umum bagi teman-teman yang terperangkap, bahwa kita mesti percaya dan memohon perlindungan kepada tuhan. Disinilah kesulitannya. Saya tak memiliki apa-pun, selain kata-kata yang tiada artinya ini. Jika semua kata-kata yang selama ini kita rangkai tak mampu mengantar kita pada pengertian, saya pikir saya tak’an melanjutkan hal yang sia-sia ini. Seandainya dengan berdoa’ memohon kepada tuhan kita dapat melihat, memahami permasalahan hidup kita, bukankah sejak dahulu kala kita sebagai orang-orang beriman telah melakukannya….? Tidakkah semestinya kita telah mampu membebaskan diri dari segala permasalahan hidup? Namun faktanya kita tetap terjerat dalam masalah, bukan….? Tidakkah pengalaman hidup kita selama ini dapat dijadikan guru untuk belajar melihat diri kita yang terperangkap?</p>
<p>Seandainya dengan berdoa’ saya dapat membantu diri kita untuk melihat tentu saya akan berdoa’, karena hal ini tidaklah sulit dilakukan. Namun senyatanya hal ini tiada gunanya, bukan? Kata-kata ini ibarat pohon pepaya yang tumbuh dikebun atau dihati kita. Dapatkah kita sungguh melihat faedah dari buahnya yang manis atau faedah dari daunnya yang pahit? Janganlah mempersoalkan rasanya yang manis atau pahit, namun kita mesti sungguh-sungguh merasakan atau menerima faedahnya bagi kesehatan dan kesegaran batin kita. Tatkala kita tersentuh oleh kesegaran, maka hakekat-diri terjaga. Persepsi ini meretas jaring-jaring perangkap yang selama ini telah menjerat. Selanjutnya anda tak’an pernah berdoa’ kerumah tuhan, karena tindakan hidup anda bersumber dari kebebasan batin.</p>
<br />Filed under: <a href='http://wayanwindra.wordpress.com/category/keheningan/'>Keheningan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wayanwindra.wordpress.com/618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wayanwindra.wordpress.com/618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wayanwindra.wordpress.com/618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wayanwindra.wordpress.com/618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wayanwindra.wordpress.com/618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wayanwindra.wordpress.com/618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wayanwindra.wordpress.com/618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wayanwindra.wordpress.com/618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wayanwindra.wordpress.com/618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wayanwindra.wordpress.com/618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wayanwindra.wordpress.com/618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wayanwindra.wordpress.com/618/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wayanwindra.wordpress.com/618/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wayanwindra.wordpress.com/618/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=618&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/06/18/perangkap-terjerat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/261e62603ba67d00dd2b9e29aecf31fb?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wayanwindra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TUHAN MAHA ADIL</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/04/15/tuhan-maha-adil/</link>
		<comments>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/04/15/tuhan-maha-adil/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 15 Apr 2011 04:46:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayanwindra.wordpress.com/?p=592</guid>
		<description><![CDATA[“Halo…., selamat siang…., dengan Pak Wayan?”……,  “selamat siang….., dengan siapa ya?”&#8230;&#8230;  “Marno Pak”, ……“marno siapa ya…?”…….”Marno yang sering membuat Bapak sakit perut waktu di SP…”,  Ooh…, marno…..?, kami tertawa bersama di-telpon. Tiga puluhan tahun yang silam ada seorang teman yang kocak, dia selalu menghibur kami dengan ceritra-ceritra yang lucu pada jam-jam istirahat siang, sehingga kami [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=592&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>“Halo…., selamat siang…., dengan Pak Wayan?”……,  “selamat siang….., dengan siapa ya?”&#8230;&#8230;  “Marno Pak”, ……“marno siapa ya…?”…….”Marno yang sering membuat Bapak sakit perut waktu di SP…”,  Ooh…, marno…..?, kami tertawa bersama di-telpon.</strong></p>
<p>Tiga puluhan tahun yang silam ada seorang teman yang kocak, dia selalu menghibur kami dengan ceritra-ceritra yang lucu pada jam-jam istirahat siang, sehingga kami semua dibuat terpingkal-pingkal. Tak disangka-sangka dia menghubungi sekedar ‘say-helo’, aku jadi teringat sebuah dari sekian banyak ceritra dia yang lucu-lucu yaitu TUHAN MAHA ADIL. “Blaaa…. Blaa…blaa…., bukankah Tuhan maha adil….?” Dalam jeda-jeda tertentu Si-Dosen selalu mengakhiri penjelasan kuliahnya dengan kata-kata “tuhan maha adil.”</p>
<p><span id="more-592"></span>“Tapi si-Artalita, walau sudah dipenjara, dia tetap masih dapat hidup enak dengan uang kotornya; bagaimana Tuhan dapat dikatakan adil Pak”…., bantah seorang siswa.</p>
<p>“Itu karena kalian baru melihat pada kulit luarnya. Namun faktanya sungguhkah dia hidup enak…? Bagaimana pun juga bagi dia yang biasa hidup mewah dan bebas, tetap merasa tertekan selama di penjara. Cara pandang pikiran manusialah yang tak mampu memahami. Blaa…blaa…tuhan maha adil….!”</p>
<p>Si-Murid berpikir…., betapa sulitnya membantah omongan si-Dosen, apa…iya Tuhan Maha Adil…? Keluarganya yang bekerja setengah mati, hanya bertahan bisa makan untuk hidup…., selama sekolah dia tak pernah dapat uang jajan dari orang tuanya.</p>
<p>“Bagaimana Tuhan dapat dikatakan maha adil Pak….? Lihatlah burung kecil itu…! Tubuhnya yang kecil porsi makannya pun sangat sedikit, bukan….? Apalagi saat ini ada banyak sekali ulat bulu, dia bisa menemukan makanannya begitu saja; dan juga dia dilengkapi dengan sayap, sehingga dapat terbang menemukan biji-bijian atau makanan yang lainnya dengan mudah.  Dan lihatlah gajah itu…! Dengan tubuh besar sudahlah tentu porsi makannya banyak. Dia mesti berjalan tertatih-tatih, dengan susah payah mencari makanan untuk memenuhi perutnya yang besar….., Nah, dalam hal ini dimana letak keadilan tuhan….?</p>
<p>Si-Dosen mengerutkan keningnya tanda dia mulai berpikir, sambil mondar-mandir di depan kelas.  Setelah sekian lama…., sepertinya dia belum juga menemukan jawabannya. Murid-murid pun diam mulai ikut memikirkan persoalan itu. Karena merasa penat, si-Dosen pun keluar ruangan menuju taman sekolah dengan kening masih berkerut. Para murid tak beranjak hanya mengikuti dengan pandang mata mereka. Tiba-tiba……ccrreeet…plook, si-Dosen menyentuh kepalanya yang botak dan kemudian mendekatkan jari-jari tangannya kehidung……., “Hoorreee aku menemukan jawabannya”….., dia berteriak sambil melompat-lompat seperti anak kecil yang menemukan jawaban sebuah teka-teki. “Tuhan Maha Adil…, tuhan maha adil….., tuhan maha adil…….”, sampai dia berdiri di depan kelas dia terus mengulang kata-kata itu…, “tuhan maha adil…., tuhan maha adil…..” Para siswa saling pandang&#8230;., mungkinkah tuhan telah memberi inspirasi, sehingga si-Dosen menemukan jawabannya&#8230;.?</p>
<br />Filed under: <a href='http://wayanwindra.wordpress.com/category/uncategorized/'>Uncategorized</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wayanwindra.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wayanwindra.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wayanwindra.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wayanwindra.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wayanwindra.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wayanwindra.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wayanwindra.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wayanwindra.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wayanwindra.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wayanwindra.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wayanwindra.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wayanwindra.wordpress.com/592/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wayanwindra.wordpress.com/592/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wayanwindra.wordpress.com/592/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=592&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/04/15/tuhan-maha-adil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/261e62603ba67d00dd2b9e29aecf31fb?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wayanwindra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENYIMAK KATA-KATA</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/03/25/menyimak-kata-kata/</link>
		<comments>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/03/25/menyimak-kata-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Mar 2011 02:07:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keheningan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayanwindra.wordpress.com/?p=552</guid>
		<description><![CDATA[Apakah arti kata menyimak? Bukankah maknanya mendengarkan dengan penuh perhatian, meneliti dan menyelidik secara seksama? Apabila kita sungguh mampu menyimak setiap rangkaian kata-kata sehingga kita sampai pada pemahaman senyatanya, secara actual, maka kita dapat melampaui kata-kata. Dalam tulisan SI BURUNG BEO, pada paragrap terakhir disebutkan: “Apa-pun yang dikatakan oleh seorang peng-kotbah, publik speaker, Guru Suci, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=552&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Apakah arti kata </em>menyimak<em>? Bukankah maknanya mendengarkan dengan penuh perhatian, meneliti dan menyelidik secara seksama? Apabila kita sungguh mampu menyimak setiap rangkaian kata-kata sehingga kita sampai pada pemahaman senyatanya, secara actual, maka kita dapat melampaui kata-kata. </em></strong></p>
<p>Dalam tulisan SI BURUNG BEO, pada paragrap terakhir disebutkan: <em>“Apa-pun yang dikatakan oleh seorang peng-kotbah, publik speaker, Guru Suci, tak’an mampu menghilangkan kegelapan (</em><em><strong>avidya</strong></em><em>) dalam batin Anda, alih-alih Anda ikut menjadi si burung Beo. Maka itu tiada jalan; hanyalah apabila Anda bersedia <strong>menyimak</strong> kata-kata dikedalaman diri Anda, kata-kata pada setangkai bunga, dalam tetesan air hujan, dalam sehelai daun kering yang jatuh melayang ke-tanah……., dan seterusnya. Bila Anda menyimak kata-kata <strong>semesta</strong> yang bersifat original ini, maka Anda bebas dari kepalsuan si-Beo.”</em></p>
<p>Seorang teman bertanya, <em>“bagaimana caranya menyimak kata-kata dikedalaman diri Pak?”</em> Pernahkah Anda menyimak? Termasuk menyimak kata-kata didalam diri kita, ataupun kata-kata yang berserakkan disekeliling, dalam buku-buku, Koran-koran, majalah-majalah, atau pada alam sekitar? Pernahkah Anda menyimak, sehingga Anda sungguh melihat kata-kata ini adalah pikiran? Apabila kita tidak sungguh menyimak, saya ragu…., apakah kata-kata yang kita ucapkan sungguh bersifat original atau hanyalah sekedar copy-paste yang mem-beo…?</p>
<p>Kata-kata tentu bermanfaat sebagai sarana berkomunikasi, untuk sampai pada suatu pengertian, sehingga kita sungguh-sungguh melihat apa yang ditunjukkan oleh kata-kata ini. Sang Buddha berkata, <strong><em>“lihatlah itu sekuntum bunga yang sedang mekar”…,</em></strong> hal mendasar adalah saya mestilah sungguh melihat ‘<strong>bunga’</strong> ini; <strong>bukan</strong> <strong><em>percaya</em></strong> bahwa itu sekuntum bunga yang sedang mekar, dan menceritrakan pada orang lain, bahwa karena itu dikatakan oleh Sang Buddha. Ketika saya <strong>tidak</strong> sungguh melihat, maka ceritra/kata-kata saya hanyalah copy-paste yang bersifat palsu bagai si-beo. Disinilah pentingnya menyimak agar kata-kata ini tidak bersifat palsu, karena kita senyatanya mengucapkan hal-hal yang sungguh kita lihat; walaupun kita mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha, Krishnamurti, Vivekananda atau siapa-pun yang lainnya. Karena apa-pun yang dikatakan oleh Sang Buddha, Krishnamurti maupun yang lainnya, hanyalah kata-kata, yang barangkali bersifat original. Jika Anda atau saya merangkai kata-kata semesta yang bersifat original ini, tentu memiliki ke-aslian yang sama, sehingga pada intinya tentu memiliki makna yang sama, hanya pengungkapannya bisa jadi berbeda.</p>
<p>Dapatkah kita melihat bahwa kata-kata ini adalah pikiran? Sekuntum bunga dapat berceritra banyak tentang dirinya, manakala pikiran Anda mampu menemukan kata-kata pada bunga itu, bukan? Tentang warnanya, bentuknya, harumnya, daun mahkota, tepung sarinya, tangkainya dan seterusnya. Dan semua kata-kata ini bersumber dari pikiran. Jadi bila kita menyimak kata-kata pada kedalaman diri kita, adalah kita menyimak si-pikiran, si-sumber kata-kata; artinya pikiran menyimak kedalam dirinya sendiri. Pernahkah kita sungguh menyimak kedalam diri? Manakala Anda mengatakan saya si-dungu, apa reaksi saya? Saya sangat tersinggung, dan saya langsung marah besar dengan balik memaki Anda, “anjing tahi lho”….; bila hal ini terjadi apa maknanya? <a href="../2009/12/02/ketersinggungan/">http://wayanwindra.wordpress.com/2009/12/02/ketersinggungan/</a> Adakah saya menyimak kata-kata yang terucap dari ketersinggungan diriku? Bila saya sungguh menyimak; sebelum kata-kata itu sempat keluar saya telah melihat semua rangkaiannya; bagaimana awal terbentuknya kata-kata ini. Dapatkah Anda melihat, dari mana sumber kata-kata <strong><em>“anjing tahi lho?”</em></strong> Bukankah hal ini bersumber dari perasaan diriku yang tak mau direndahkan, yang merasa diri pintar, dari harga-<strong>diriKu</strong>. Inilah si-<strong>aku</strong> yang merasa memiliki harga-diri, merasa pintar sendiri. Semua kepemilikkan si-<strong>aku</strong> ini telah menjadikan kepalaKu besar, dan yang juga membuat diriku terbakar. Bila aku sungguh menyimak rangkaian hal ini, maka saya-pun melihat dan memahami. Dan saya semestinya tak terbakar.</p>
<p>Banyak sekali kata-kata yang dapat disimak pada kedalaman diri kita. Dalam setiap permasalahan kehidupan terdapat banyak sekali kata-kata. Kata-kata ini adalah pikiran, dari sinilah sumber segala masalah tanpa disadari, apabila kita tak mampu menyimak. Sehingga semua kata-kata hanyalah teori. <a href="../2009/10/13/teori-lagi-teori-lagi/">http://wayanwindra.wordpress.com/2009/10/13/teori-lagi-teori-lagi/</a></p>
<p>Namun kata-kata menjadi berfaedah, bila kita mampu menyimak, menyelami, sehingga kita sungguh melihat apa yang ditunjuk oleh kata ini. Saya selalu berharap dapat menuliskan kata-kata setajam mata pedang, <a href="../2009/10/01/pendekar-pedang/">http://wayanwindra.wordpress.com/2009/10/01/pendekar-pedang/</a>&#8230;.., sehingga kata-kata yang tajam ini mampu membedah kedalam diri kita sedalam-dalamnya. Hanya dengan demikian kemungkinan kita mampu menyimak kata-kata. Inilah sesungguhnya landasan kita dalam berbagi. Bila kita mampu menyimak kedalam diri, maka kata-kata yang terucap bukanlah kebanggaan diri, bukanlah kata-kata untuk menggurui, pamer-diri, atau copy-paste yang membeo, namun kata-kata yang terucap adalah realita yang juga diperuntukan bagi diri-sendiri yang selamanya terus belajar dan menyimak.</p>
<p>Ketika mentari mulai bersinar se-ekor burung “cicklar” berkicau nyaring. Dia hinggap pada pucuk kembang “<strong><em>soka</em></strong>” didepan jendela seraya mematuk-matuk kaca jendela dengan paruhnya yang panjang, sambil terus berbunyi melengking nyaring, seolah-olah memberitahu teman-temannya bahwa ada ruang didalam sana, namun tak dapat ditembusi. Namun setelah lima menit dia mulai capai atau barangkali <strong>bosan</strong>, karena ternyata semua usahanya tak dapat membawa dia menembus kedalam ruangan. <a href="../2010/05/07/bosan/">http://wayanwindra.wordpress.com/2010/05/07/bosan/</a> Pernahkah kita menyimak perasaan bosan dalam diri kita? Banyak sekali kata-kata dan faktor yang terkait didalam kebosanan ini, namun kita tak berminat untuk menyimak, sehingga kita kehilangan kesempatan untuk memahaminya.</p>
<p>Ketika kita memandang remeh kepada orang lain, karena kita adalah seorang dokter, seorang sarjana, S1, S2, atau seorang Guru spirituil….., apa yang terjadi dalam diri kita? <a href="../2009/09/29/kesadaran-diri/">http://wayanwindra.wordpress.com/2009/09/29/kesadaran-diri/</a> Ketika kita meremehkan orang, bukankah kita sedang berbangga dan melekati martabat, identitas diri kita dengan jumawan? Apabila pada saat ini kita menyimak kata-kata dari perasaan bangga-diri, martabat dan kejumawanan ini, semestinya kita akan melihat sumber munculnya sikap meremehkan orang lain. Persoalannya kita tidak bersedia menyimak kedalam diri, karena merasa pintar sendiri.</p>
<p>Betapa banyaknya kata-kata yang dapat disimak dari segala kehidupan ini; namun baik kata-kata itu banyak atau hanyalah satu; ini tetap bersumber dari si-<strong>aku</strong> (pikiran). Apakah kata-kata ini dalam bentuk tulisan seperti tulisan ini, dalam ayat-ayat kitab suci, dalam Koran; dalam semesta-raya seperti gunung-gunung, awan-awan, sawah, samudera, taman bunga; dalam nyanyian atau tangisan anak-anak, dalam wajah-wajah pucat para gelandangan, dalam tetesan keringat para kuli pabrik, dalam dasi para koruptor, dan sebagainya, namun semuanya adalah wujud pikiran.</p>
<p>Jadi menyimak kata-kata dikedalaman diri adalah menyimak pikiran. Pikiran menyimak kedalam dirinya. Apabila pikiran sungguh memahami dirinya, maka dia menjadi <strong>bebas</strong>, karena dia <strong>melihat</strong> <strong><em>senyatanya</em></strong> seluruh rangkai dan gerak dirinya. Namun bila dia belum memahami gerak dirinya, maka tanpa sadar dia (pikiran) akan <strong>berpegang</strong>, <strong><em>melekati</em></strong> objek/hal-hal diluar dirinya. Amati dan simak dengan seksama…! Bagaimana pikiran berpegang pada sesuatu, apa-pun itu seperti: materi, martabat, kehormatan, kenikmatan, kepercayaan, keyakinan, dogma, tuhan, kitab-suci, dan sebagainya. Didalam berpegang dan melekati sesuatu ini ada motif dari kepentingan si-aku (pikiran). Motif, kepentingan si-aku ini adalah harapan sekaligus kecemasan dirinya.</p>
<p>Menyimak kedalam diri adalah melihat, memahami seluruh rangkaian gerak, motif dari si-aku (pikiran). Bila sungguh ada pemahaman total, maka kata-kata terlampaui….., dan adalah <strong>alam</strong> <strong>cahaya</strong> dibalik tabir-gelap dari bathin yang kebingungan.</p>
<br />Filed under: <a href='http://wayanwindra.wordpress.com/category/keheningan/'>Keheningan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wayanwindra.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wayanwindra.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wayanwindra.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wayanwindra.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wayanwindra.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wayanwindra.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wayanwindra.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wayanwindra.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wayanwindra.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wayanwindra.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wayanwindra.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wayanwindra.wordpress.com/552/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wayanwindra.wordpress.com/552/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wayanwindra.wordpress.com/552/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=552&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/03/25/menyimak-kata-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/261e62603ba67d00dd2b9e29aecf31fb?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wayanwindra</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEMASAN INDAH</title>
		<link>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/03/08/kemasan-indah-2/</link>
		<comments>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/03/08/kemasan-indah-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Mar 2011 00:57:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>windra</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keheningan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://wayanwindra.wordpress.com/?p=502</guid>
		<description><![CDATA[Kemasan yang indah memang sangat menarik perhatian. Entah kenapa, orang-orang jaman sekarang sangat gampang tertarik pada kemasan. Untuk apa kemasan yang indah kalau isinya tak berkwalitas, tak bermanfaat? Kemasan dapat berfungsi sebagai label agar dikenal. Barang-barang dagangan akan dikemas se-indah dan se-menarik mungkin, agar para konsumen tertarik. Namun agama, kepercayaan…., perlukah dikemas indah? “Kita mesti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=502&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Kemasan </strong></em>yang indah memang sangat menarik perhatian. Entah kenapa, orang-orang jaman sekarang sangat gampang tertarik pada <strong>kemasan</strong>. Untuk apa kemasan yang indah kalau isinya tak berkwalitas, <strong>tak bermanfaat?</strong> Kemasan dapat berfungsi sebagai label agar dikenal. Barang-barang dagangan akan dikemas se-indah dan se-menarik mungkin, agar para konsumen tertarik. <strong><em>Namun agama, kepercayaan…., perlukah dikemas indah?</em></strong></p>
<p><strong><em>“Kita mesti berani menunjukan jati-diri kita, karena itu kita mesti menekan-kan anak-anak didik kita sedini mungkin untuk membiasakan diri tampil dengan ciri-khas </em>UMAT<em>kita”,</em></strong> kata seorang guru sekolah dengan nada tegas, dalam suatu obrolan di-warung pojok. Adakah pendapat, anjuran ini baik….?</p>
<p>Sebelum kita melangkah lebih jauh, cobalah kita menengok sejenak kebelakang. Tahun-tahun 1950an anak-anak sekolah tak kenal apa itu <strong>GayaTriMantram</strong>, <strong>Tri Sandya</strong>, tak ada sembahyangan ‘<strong>purnama-tilem</strong>’ dengan mengenakan pakaian ‘<em><strong>adat</strong></em>’ seperti anak-anak sekolah sekarang ini. Dengan contoh ini bukan berarti yang dulu itu baik atau buruk dan yang sekarang ini benar atau salah; namun <strong>manfaat </strong>apa yang diperoleh dari pendapat atau gagasan yang kita kedepankan. Tidakkah penting bagi kita mempertanyakan? <strong><em>Apakah makna sebuah pendidikan?</em></strong></p>
<p>Tujuan pendidikan secara umum tentulah untuk memperoleh pengetahuan; namun hal yang paling <strong><em>mendasar</em></strong> dalam ranah pendidikan adalah pembentukan <strong>karakter</strong>, <strong><em>moralitas</em></strong>. Seseorang boleh jadi sangat pintar, jenius; namun jika tak bermoral, maka terjadilah kondisi bangsa kita seperti saat ini; penuh dengan <strong>koruptor</strong>-koputor yang <strong><em>rakus</em></strong>. Karakter, moralitas ini adalah <strong>ISInya</strong>. Bila ISInya tidak berkwalitas, biar KEMASANnya keren dan indah tiadalah <strong><em>berfaedah</em></strong> bukan? Dan kenapa kita ber-<strong>agama</strong>…? Diharapkan agama dapat <strong>mengISI</strong> diri manusia/kita, sehingga menjadi <strong>bermoral</strong>. Selama ini kita adalah orang-orang beragama, telah memeluk agama ribuan tahun, sejak didalam embrio nenek moyang kita. Semestinya kita telah menjadi orang-orang yang ber-<strong>ISI</strong>, <strong>bermoral</strong>, sudahkah kita…..?</p>
<p>Akhir-akhir ini kita justru sibuk menghias kulit-luar, label-label, menghias rakit-rakit, sampan, perahu atau getek yang hanyalah sarana untuk menemukan <strong><em>mutiara-kasih</em></strong> di-kedalaman samudera <strong>diri</strong>, sehingga kwalitas ISInya terpulakan. Apalagi wacana menghias kulit-luar ini dianjurkan oleh seorang guru, seorang pendidik….?  Seorang pendidik mestilah paham akan inti-sari sebuah pendidikan. Barangkali kreteria <strong>3B </strong>dari syarat menjadi Miss World dapat dijadikan acuan; <strong>inner-beauty</strong>, <strong>brain </strong>dan <strong>behavior</strong>. Bukankah yang kita butuhkan adalah sumber daya manusia yang andal? Untuk ini kita mestilah menitik-beratkan kwalitas, ISInya, bukan kemasan. Jika kita sibuk pada kemasan, maka kwalitas ISInya terabaikan; karena kemasan yang indah ini akan memupuk kebanggaan. Semakin kuat <strong>kebanggaan <em>DIRI </em></strong>(ego), maka semakin jauhlah kita dari moralitas.</p>
<br />Filed under: <a href='http://wayanwindra.wordpress.com/category/keheningan/'>Keheningan</a>  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/wayanwindra.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/wayanwindra.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/wayanwindra.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/wayanwindra.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/wayanwindra.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/wayanwindra.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/wayanwindra.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/wayanwindra.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/wayanwindra.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/wayanwindra.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/wayanwindra.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/wayanwindra.wordpress.com/502/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/wayanwindra.wordpress.com/502/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/wayanwindra.wordpress.com/502/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=wayanwindra.wordpress.com&amp;blog=8958054&amp;post=502&amp;subd=wayanwindra&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://wayanwindra.wordpress.com/2011/03/08/kemasan-indah-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/261e62603ba67d00dd2b9e29aecf31fb?s=96&#38;d=wavatar&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">wayanwindra</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
