Beranda > Uncategorized > PUSPASARI menjerat Si-RAMA2

PUSPASARI menjerat Si-RAMA2

Jika di kebun anda ada tanaman yang sedang berbunga, lebih-lebih jika bunga itu berwarna indah dan berbau harum tentu banyak kupu-kupu yang datang menghampiri untuk mengisap sari madunya. Demikianlah kehidupan adanya.

Mekar dan harumnya bunga-bunga itu bukanlah merupakan daya upaya untuk menjerat sikupu-kupu, namun itulah kewajarannya, demikianlah adanya. Setiap tindakannya selalu harmonis dengan alam sekitarnya. Kapan dia mekar, kapan dia layu dan akhirnya gugur semata-mata adalah proses. Dalam setiap tindakannya tidak ada maksud tertentu juga tidak ada daya upaya, harapan, maupun kebanggaan.

Jika orang mengamati fakta ini, bolehlah dia bertanya pada dirinya yang barangkali merupakan sesuatu yang ada manfaatnya. ”Andaikan daku dapat mencontoh tindakan bunga itu, maka tak perlulah aku bersusah payah untuk menjerat atau mencari-cari”. Karena apa yang dicari itu akan datang dengan sendirinya, seperti kupu-kupu yang datang menghampiri sibunga.

Si Rama-rama adalah ibarat kedamaian, kebenaran, kebahagiaan atau tuhan atau apapun orang memberinya nama, yang telah dicari oleh setiap orang kemana-mana, dengan segala cara dan daya upaya.

Mungkinkah si Rama-rama kedamaian, kebenaran, kebahagiaan atau tuhan ini dapat ditangkap, diraih? Keinginan Anda untuk meraihnya telah menyerimpung langkah Anda. Hal ini mesti sungguh-sungguh Anda pahami, jika tidak; biar orang mengejar sampai kepuncak-puncak gunung tertinggi, ketempat-tempat yang dianggap suci dan keramat, kedasar samudra yang terdalam atau keplanet-planet yang terjauh sekalipun; atau dengan membuat jerat ritual dari yang sederhana sampai yang termegah tak’an mungkin dapat meraih atau menangkapnya. Tiada cara, tiada metode yang dapat meraih atau menangkapNya. Satu-satunya jalan, orang harus menjadi bunga yang indah dan harum, so pasti kupu-kupu itu datang menghampiri. Namun untuk menjadi bunga yang semerbak bukanlah hal yang mudah. Keinginan untuk menjadi bunga itupun akan menyerimpung langkah Anda.

Jika orang melihat fakta ini, maka segeralah bertindak menjadi bunga! Sangatlah bersahaja, namun untuk menjadi sederhana baik lahir maupun batin tidaklah gampang, karena kebanyakan orang sudah terlanjur ruwet, ramai, pintar, penuh coreng-moreng dengan bermacam-macam hal.

Selama ini orang telah melakukan segala daya upaya, dibalik semua itu ada harapan, dan dibalik harapan ada kebanggaan yang memberinya perasaan senang dan puas. Semua ini berakar pada siAku (ego), jika dikembangkan bisa memiliki seribu lidah, seribu mata, seribu hidung, seribu telinga dan seterusnya. Dapatkah dibayangkan jika seorang memiliki ribuan ambisi atau harapan yang semuanya minta dipenuhi? Orang tak perlu mati untuk mencari neraka, namun saat inipun dia telah berada di neraka, karena sisi lain dari ambisi adalah kekecewaan, kecemasan dan kesedihan.

Tindakan apakah yang dapat membuat orang untuk menjadi bunga, yang selalu harum, indah dan segar? Tentulah orang mesti melakukan tindakan yang paling essensiil yaitu belajar; belajar tentang dirinya sendiri. Belajar bukanlah membaca buku, dengan mengumpulkan pendapat orang lain yang belum tentu benar. Namun belajar yang berarti memperhatikan, mengamati, menyelidiki, mempertanyakan, menyangkal sehingga dia sampai pada satu pemahaman. “Belajarlah dari buku kehidupan diri Anda!” Jika orang sungguh berminat, maka mestilah dia ada perhatian yang mendalam. Dengan perhatian ini orang dapat mengamati dan belajar tentang buku kehidupan dirinya. Dengan demikian orang akan memiliki persepsi yang jelas dan jernih tentang dirinya dan tentang segala sesuatu disekitar yang terkait dengan kehidupannya.

Dalam persepsi yang jernih orang akan melihat dirinya, segalanya seperti apa adanya. Jika orang sungguh-sungguh memperhatikan dengan jujur diapun akan memahami dirinya. Namun kebanyakan orang sulit jujur. Orang malu mengakui apa adanya dirinya, karena itu banyak orang bersikap aneh-aneh, memakai topeng monyet untuk menutupi kelemahan atau kekurangannya.

Lihatlah, selama ini orang-orang telah menjerat dirinya dalam koloni-koloni. Didalam koloni ini orang-orang tertentu yang dianggap ‘tetua‘ atau pemimpin: seperti pemimpin agama, pemimpin ritual, pendeta dan para sesepuh membuat dan memperbaharui aturan-aturan yang ada, dan yang kebanyakan adalah pengikut hanyalah patuh dan sebisanya menyesuaikan diri dengan norma tradisi yang telah tercipta, sedang dicipta dan akan terus disempurnakan. Tatanan yang mapan ini telah mengkondisi dan menjerat erat kehidupan mereka dalam usaha untuk mencari atau menemukan kedamaian, kebahagiaan, keheningan, “tuhan”, rejeki, apapun. Setiap koloni mempunyai cara yang berbeda-beda tergantung dari idea masing-masing tetua atau pimpinan terdahulu yang telah membuat aturan-aturan yang benar menurut mereka. Namun disadari ataupun tidak, semua cara atau usaha yang mereka lakukan termotivasi oleh suatu harapan untuk mendapatkan hasil. Hasil ini bisa berupa materi atau non material. Jika orang berhasil memperoleh sesuatu, disini tentu ada kebanggaan, dan kebanggaan ini mendorong harapan dan keinginan yang lebih kuat untuk memperoleh hasil. Demikianlah ambisi ini semakin kuat dan kuat, seperti mata rantai yang tak berujung.

Semua usaha dan cara yang mereka terapkan memang telah berbuah hasil, yaitu perasaan senang, kebanggaan, kehormatan bagi para pimpinan, namun disana tak ada kedamaian atau keheningan apalagi kebahagiaan atau tuhan apapun. Pandanglah orang yang melantunkan nyanyian pujian ketuhanan, kidung suci dalam pesanthian, tiadalah bedanya dengan seorang biduan yang menyanyikan lagu dankdut, reggea atau rock’nroll. Bukankah juga mereka semua sama-sama mendapatkan kesenangan, kenikmatan perasaan tertentu, sehingga mereka ketagihan untuk pentas, sampai lupa waktu dan membuat tetangga susah tidur.

Jika orang telah terjerat oleh kenikmatan dan mata rantai ambisi ini, hidupnya  pasti semakin jauh dari kedamaian. Jikalau orang menyadari dirinya telah terjerat mata rantai, mestinya dia melihat bahwa mata rantai ini membawanya berputar-putar dalam banyak kesengsaraan dan kesenangan sesaat. “Aku mestilah bertanya sekaligus mencari jawaban bagi diriku, bagaimana aku mesti mematahkan mata rantai ini?”

Dan apabila orang mengamati bunga itu, dia mekar mewangi, semata-mata mekar, demikianlah adanya. Sedikitpun tidak ada daya upaya untuk mekar, apalagi keinginan untuk menjerat sirama-rama. Dapatkah orang mencontoh tindakan sibunga? Tindakannya yaitu “tanpa daya upaya”, dengan demikian dalam setiap tindakannya tidak ada ambisi, tidak ada harapan pun tidak ada kebanggaan.

Bagaimana orang dapat bertindak tanpa daya upaya? Apabila orang telah melihat dan memahami betapa sia-sianya segala cara yang selama ini dilakukan, justru membuat dirinya berputar-putar, bertambah ruwet, bingung, cemas, sedih, menderita dan sebagainya, maka orang seyogianya diam. Seperti seorang yang tersesat ditengah rimba, yang tak tahu arah, sebaiknya dia diam. Ketika diam, barangkali orang akan mulai dapat melihat sekeliling, perlahan-lahan kesadarannya mulai datang. Namun jika dia terus bergerak dan berusaha, dia akan semakin bingung dan kelelahan. Terkurasnya energi membuat orang semakin cemas, bingung dan kehilangan kewaspadaan sehingga semakin tersesat, dan bisa-bisa kecebur kedalam jurang kegelapan.

Diam adalah tindakan tanpa daya upaya. Pernahkah orang betul-betul diam, diam dan mengamati? Didalam diam ini, kesadaran akan bertambah tajam, maka dia akan mendengar kicau burung-burung, kokok ayam jantan dikejauhan, suara jengkrik, lolong anjing, tawa riang anak-anak yang sedang bermain dilorong jalan. Dia juga merasakan sensasi ditubuhnya.

Jika orang diam seperti itu disana ada keheningan. Dalam keheningan ini ada keindahan, seperti bunga itu, dia indah, hening dan diam. Kemudian kupu-kupu kedamaian, kebajikan, kebenaran dan berkahpun menghampirinya.

Orang tak dapat berusaha untuk diam. Diam ini tak dapat diatur atau direkayasa oleh keinginan. Karena setiap bentuk usaha, disitu pasti ada harapan maupun keinginan. Keinginan untuk diampun tetap merupakan keinginan. Keinginan adalah ambisi. Ambisi untuk mendapatkan sorga,  penerangan batin, pencerahan, kesucian, dan seterusnya tetap merupakan ambisi. Semua ritual, doa maupun persembahan yang dilakukan dengan harapan agar mendapat berkah, perlindungan, keselamatan dan rejeki adalah ambisi. Batin yang penuh ambisi sudah pasti, tidak akan pernah bisa menjadi hening.

Dapatkah orang melihat fakta yang sederhana ini? Orang haruslah menjadi sangat bersahaja secara lahir-batin dalam keseharian hidupnya. Keheningan, keindahan, dan kedamaian terwujud apabila batin kosong dari pikiran!

Kategori:Uncategorized
  1. 9 Oktober 2009 pukul 10:56 am

    Tulisan ini semata kata-kata. Tulisan ini adalah siPupasari. Dia tak hendak bermaksud menjerat siapapun termasuk Anda. Dia hanyalah menebar wangi. Anda mau mencium wanginya atau melewatinya dengan menutup hidung; itu bukan urusannya. SiPupasari hanyalah kata-kata belaka. Janganlah Anda menyusahkan hati dengan kata-kata siPupasari, dia hanyalah sekuntum bunga dari banyak bunga dihalaman rumah Anda.

  2. 14 Oktober 2009 pukul 12:27 pm

    Osa
    Lanjutkan Berkarya Bli.
    Met Hari Kemengangan Dharma
    Happy Galungan dan Kuningan

    • 14 Oktober 2009 pukul 5:07 pm

      Osa
      Selamat Galungan & Kuningan juga Bli..semoga
      damai dihati damai dibumi.

  3. 14 Oktober 2009 pukul 5:05 pm

    Osa
    Selamat Galungan & Kuningan juga Bli.
    Damai di hati, damai di bumi

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: