Beranda > Keheningan > RAJAWALI BUKAN MERPATI

RAJAWALI BUKAN MERPATI

Sudah beberapa kali teman-teman bertanya tentang hal yang serupa. Ini dikarenakan mereka sulit mempercayai ada orang tidak mempunyai kepercayaan. “Kenapa Anda tidak mempercayai, seperti orang kebanyakan yang beragama harus  mempercayai, bahwa segalanya adalah ciptaannya, dan bahwa orang harus bersujud, berdoa mohon rahmat dan perlindungannya?” “Bagaimana anda sampai pada kondisi ini, yaitu tidak mempercayai?” “Tidakkah anda risih berbeda, berjalan sendiri tanpa kepercayaan, tanpa agama, tanpa tuhan, tanpa perlindungan?”

Ada sebuah ungkapan yang mengatakan, “pigeons always fly in a group but eagle flies alone”. Jadi tidaklah mungkin orang menyuruh rajawali itu pergi bersama si merpati yang selalu terbang berkelompok. Dapatkah orang melihat fakta ini seperti apa adanya, akan sangatlah sulit bagi yang telah terbiasa melihat dengan batin yang dibeban pengaruhi oleh kepercayaan. Orang percaya suatu hari nanti rajawali itu akan risih terbang sendiri. Dan barangkali orang juga akan percaya suatu saat mangga bisa berbuah jeruk.

Daripada berandai-andai, berharap-harap dan cemas, tidakkah sebaiknya orang memberi perhatian, pada pohon mangga kecil yang tumbuh dihalaman belakang rumah itu. Dengan memberi pupuk, menyirami dan menyemai rumput liar disekitarnya. Selang beberapa bulan, jika tanah dan iklimnya tepat, tentu akan tumbuh tunas-tunas baru dan daunnyapun rimbun menghijau, dan setelah beberapa tahun diapun berbunga. Dalam hitungan hari kuncup-kuncup bunganya akan mekar, kemudian berubah menjadi kucil buah mangga kecil. Pernahkah orang mengamati proses kehidupan mangga ini? Jika melihat fakta ini, perlukah orang mempercayai bahwa mangga itu akan berbuah mangga, apalagi berbuah jeruk? Jika orang sungguh mengamati dan melihat fakta apa adanya kehidupan, diapun akan memahami, dengan demikian orang tak perlu membelenggu batin dengan kepercayaan. Namun jika orang tak pernah mengamati, menyelidiki maka diapun tak’an melihat dan memahami segalanya, karena itu orang merasa perlu untuk memiliki kepercayaan.

Rajawali itu terbang sendiri, karena dalam dirinya tak ada kecemasan, kebingungan dan keraguan, oleh sebab itu tak ada kepercayaan apapun. Dia terbang sendiri menjelajahi luasnya daratan dan lautan. Dengan pandang matanya yang tajam, dia mampu mengamati, termasuk gerak ikan dibawah permukaan air maupun gerak perlahan seekor ular didalam semak-semak. Rajawali itu terbang ringan sendiri, karena dia tidak menggendong beban kepercayaan apapun, dan karenanya tak ada ketakutan sama sekali. Dia tak pernah gentar apakah esok akan ada tsunami, badai atau topan. Dia selalu menyongsong hari dengan mengepak sayap dan pekikan riangnya yang nyaring. Dalam setiap pekik dan kepakan sayapnya ada keindahan dan kesunyian dari kebebasan.

Tidakkah orang berani menjadi seekor rajawali, yaitu sendirian mengarungi dan menyelami luas serta dalamnya kehidupan? Untuk ini orang mutlak mempunyai nyali, yaitu keberanian dan kemauan. Jika dia tak berani terbang sendiri, selamanya akan terjerat oleh ketakutannya, dengan demikian tak’an mungkin ada pemahaman pada kehidupan yang dalam, luas tak terbatas, termasuk kehidupan dirinya sendiri.

Jika orang tidak memahami dirinya, diapun tak’an mengerti dengan hatinya yang resah-gelisah, bingung, cemas, sedih dan sebagainya. Adakah mereka pernah mengamati dirinya? Jika orang terbelenggu oleh kepercayaan, dia tak’an dapat melihat dirinya dengan jelas. Orang hanya bisa mengeluh, “ya tuhan, berilah jalan terang hidup hamba!” Dan jalan terang itupun tak kunjung tiba. Walaupun orang mempunyai seribu kepercayaan lengkap dengan ritualnya dan seribu dewa pelindung, selama dia tidak memahami dirinya, yaitu batinnya yang terjerat, terkurung, terkondisi dan terbatas maka jalan terang itu tak’an tiba. Karena itu orang harus menemukan sumber dari penderitaan didalam batinnya yaitu pikirannya sendiri.

Selama ini mereka telah merekayasa, menciptakan berbagai cara dan juga memperbaharui atau melengkapi sistem yang telah ada dengan memasukan unsur-unsur, menterjemahkan simbol-simbol, membenarkan aturan-aturan baru dengan melengkapi segala sesuatu yang dianggap belum lengkap. Dan mereka percaya bahwa dengan semua usaha ini, mereka akan memperoleh sorga, nirwana, memperoleh jalan terang atau menjadi beriman, menjadi bermoral, memperoleh kedamaian abadi, mendapat perlindungan dan keselamatan, atau bertemu dan bersatu dengan tuhan. Sudahkah mereka menemukan? Barangkali orang telah bertemu dengan si “Dewa Aji”, namun sudahkah dia bertemu dengan secercah sinar kegembiraan dalam hidupnya? Sinar terang yang menyuluhi perjalanan hidupnya, sehingga setiap langkah yang dilakukan demikian pasti, riang dan ringan tanpa ada keraguan dan beban apapun, karena disitu telah ada persepsi yang jelas.

Untuk dapat melihat dengan jelas, orang mesti memiliki ketajaman penglihatan, seperti pandangan rajawali itu, orang harus mampu melihat dan menyimak, setiap pikiran yang telah memenuhi ruang kesadaran didalam batinnya, termasuk setiap pikiran yang tersembunyi dibawah sadarnya.

Orang harus mengamati pikirannya, karena pikiran merupakan sumber segala masalah dalam kehidupan ini. Jika orang dengan teliti merunut satu persoalan yang terjadi, tentulah pikiran merupakan akar masalah itu.

Pikiranlah yang melakukan pergunjingan, membenarkan dan menyalahan, mencari kemenangan dan kesenangan, mengejar kemasyuran dan kenikmatan, menuntut rasa aman, mengatakan ini suci dan itu tidak, dan mempertahankan kehormatan. Pikiranlah yang berprasangka, berandai-andai, berkhayal dan berharap. Dan semua tindakan pikiran ini menimbulkan penderitaan, konflik dan kesengsaraan pada dirinya sendiri, juga pada orang lain.

Karena orang tidak pernah mengamati dan memahami tindakan atau kerja pikiran ini, maka diapun tak dapat mengerti dengan penderitaan, kecemasan dan kebingungan dirinya yang bersumber pada pikiran. Dari kecemasan dan kebingungan ini, orang berdoa dan memohon kepada tuhan khayalannya, agar diberi keselamatan, rejeki, kenikmatan dan jalan terang. Tuhan yang malang itupun ikut menjadi bingung dan sedih, karena dia tak sanggup memenuhi permohonan semua manusia.

Adakah seseorang yang dapat memberi secercah cahaya itu? Tak ada guru, sulinggih, bagawantha, dewa sekalipun yang dapat menyulut pelita bagi batinnya. Hanyalah dia sendiri. Tak ada upacara atau ritual apapun yang dapat menerangi batinnya! Namun mereka mesti mengamati, melihat, dan belajar tentang ikhwal dari pikirannya; pikiran sadar maupun pikiran bawah sadar yang mengisi dan memenuhi batin, sehingga orang sungguh-sungguh memahami seluruh gerak pikiran yang licik bagaikan ular yang bergerak perlahan didalam semak belukar. Untuk ini dibutuhkan pengamati yang tajam seperti mata Rajawali yang selalu waspada, cermat, dan teliti.

Apabila orang selalu cermat dan waspada dalam setiap tindakan, tentu penderitaan terhindarkan. Bukannya dia ingin menghindar dari penderitaan, namun kewaspadaan itu telah memusnahkan penderitaannya. Pengamatan secara waspada ini ibarat cahaya yang menerangi jalan kehidupan, dan segalanya menjadi jelas dan terang. Seperti orang memahami matematik, dua ditambah dua, sama dengan dua kali dua. Ketika ada pemahaman orang tak perlu mempercayai apapun, maka dengan demikian mangga itu akan berbuah mangga, tak’an ada penyimpangan dari kodratnya, semuanya selaras, harmoni dengan hukum alam. Dan kodrat sejati manusia seperti juga Rajawali itu, yaitu terbang sendiri dalam keheningan, mengamati, waspada dalam kebebasan. Bebas dari ketakutan, bebas dari kebodohan, bebas dari penderitaan, bebas dari otoritas, bebas dari beban tradisi dan bebas dari gelapnya kepercayaan!!!

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: