Beranda > Uncategorized > PONSEL MENCARI SINYAL

PONSEL MENCARI SINYAL

Pada suatu hari datanglah seorang bertubuh kekar dan tambun dengan rambut panjang diikat model ekorkuda. Dia mengeluh tak bisa tidur. Telah berobat kemana saja namun tak ada perubahan. Belakangan ini dia ikut rombongan orang-orang yang melakukan sejenis tamasya pada tengah malam dengan mengunjungi tempat-tempat suci katanya.

Pada awalnya dia mengalami perasaan berbeda, seperti mantap, yakin, hikmad barangkali. Namun lama kelamaan perasaan itu hilang, diapun kembali dengan dirinya yang sebelumnya, bingung, resah dan gelisah, entah menunggu siapa? Tanyakan saja pada semut merah yang beriring dipohon tibah.
Saya bertanya, “kenapa anda ikut dengan rombongan orang-orang itu, untuk mencari-cari tempat suci?” “Apakah dirumah anda tidak ada tempat suci, sehingga anda harus mencari dan mencari?”
Dia bingung mendengar pertanyaan saya, dan katanya, “ada pak, tapi saya rasa tempat suci dirumah saja tidaklah cukup, kita perlu juga ketempat suci yang lainnya.”
“Kenapa…..?”, saya tanya lagi.
“Itu pak…………, ya seperti ponsel, kalau ditempat kita sinyalnya tidak kuat maka harus mencari tempat yang lebih tinggi, untuk mendapat sinyal yang lebih kuat dan jelas”, jawabnya.
“Apakah sekarang ponsel anda telah mendapatkan atau menangkap sinyalnya?”
Dia terdiam, setelah agak lama dia berkata, “entahlah, saya tak begitu yakin pak, saya bingung”.
“Kenapa anda tidak membeli ponsel yang bagus saja….? Jika ponsel anda berkualitas tinggi, biar anda berada dilembah yang dalam, didasar samudera atau di ‘saptapetala’ (didalam tanah) sekalipun sinyalnya akan tetap kuat.”
Dia melongo dan bertanya, “Dimana saya dapat membeli ponsel seperti itu, pak?”
“Anda tak perlu jauh-jauh mencari. Anda cukup datang ke Pasar Loak.”
“Pasar Loaak…..?”, dia mengulang terperangah; dimana pasar itu pak?”
“Pasar Loak Lubuk Hati, Anda boleh ambil satu atau sepuluh, jika anda cukup punya uang.”
Dia bertambah bingung, “Pasar Loak Lubuk Hati….?” dia mengulang dengan nada lemah, dengan pandang mata bingung dan ragu. “Dimana pasar itu pak, memang berapa harganya?”
“Eeeh….., bapak ekorkuda! biar jelas, diamlah sejenak,….!” “Ponsel itu adalah hati anda. Kemanapun anda pergi dan mencari dan mencari, dengan hati anda yang bingung, resah dan gelisah, anda tak’an pernah menemukan sinyal itu. Sinyal adalah keheningan. Jika hati anda hening, maka ponsel anda otomatis memiliki sinyal yang kuat. Anda tak perlu kemana-mana mencari sinyal! Pahamkah Anda? Hanya dalam keheningan ada kesucian. Hanya batin yang suci-murni dan hening akan menerima sinyal berkahNya.”

Dapatkah batin menjadi hening, jika orang sibuk dengan keinginan yang rakus untuk mendapatkan sinyal? Hal itu tak’an pernah terjadi, bukan….? Kemanapun orang mencari, kepuncak gunung Agung, puncak Semeru, Rinjani maupun kepuncak Himalaya orang tak’an menemukan sinyal itu. Dengan cara apapun orang mencari, baik dengan persembahan kecil-kecilan atau persembahan besar-besaran komplit dengan guling gajah, sate langoan’ ikan paus atau ‘betutu bebekputihjamboool’ dia tak’an mendapatkan sinyal itu. Bisa jadi dia merasa seolah-olah telah menemukan sinyal, namun ini bukanlah yang sebenarnya. Ini hanyalah sinyal rekayasa dari perasaannya. Sinyal khayalannya sendiri yang selalu mengharapkan berkah. Sinyal dari batinnya yang sarat dengan beban pengaruh, yang telah terkondisi oleh tradisi dan kepercayaannya. Kenapa?…. Karena niat yang mengharap, yang menginginkan, adalah hati yang rakus, hati yang rakus pasti ribut, dan sudahlah tentu apabila hati Anda ribut, disitu tak’an pernah ada keheningan maupun kesucian dan berkah. Dapatkah orang melihat dan memahami fakta yang sederhana ini?  “Hamba tak habis pikir… dengan diri awak, hal ini demikian sederhana, so simple, tapi kenapalah awak….tak melihat, tak paham akan realita ini….–:(( ?”

Lihatlah, pandanglah fakta kehidupan; kehidupan masyarakat disekitar! Adakah mereka semua telah memperoleh kedamaian, keheningan, kabahagiaan? Atau barangkali setiap orang tak pernah mempertanyakan, untuk apa dia hidup? Apa yang sesungguhnya mereka cari dalam kehidupan ini? Kebanyakan orang hanyalah mengejar kesenangan, kenikmatan, dan kebanggaan, tanpa menyadari dibalik semua itu terkandung kepedihan dari kecemasan, ketidak-puasan, keserakahan, persaingan, kekerasan, kekejaman dan seterusnya. Dari kepedihan dan kebingungan ini orang hanya dapat mandah, pasrah menerima, tunduk pada otoritas, pada dogtrin dan percaya.  Dan sedapatnya menyesuaikan diri dengan tradisi, norma-norma lingkungan yang ada. Jika dia telah bersikap santun, bisa berbasa-basa sampai basi dan serasi dengan tradisi setempat, melaksanakan kebiasaan-kebiasaannya, maka orang merasa telah cukup.
“Ya, disitulah beta terjerat, beta tak dapet melepas diri, mesti harus berbuat apa? walau nafas tersedak dalam kepatuhan menerima dogma-dogma ini…. beta mau tak mau tetap mesti berteriak…… mantap.”

Namun tanpa disadari, rutinitas ini telah membuat batin tumpul dan menjadi mandeg. Dengan kondisi batin seperti ini orang tak’an mungkin bisa melangkah, tak’an dapat menjelajah, mengarungi, dan menyelami luas serta dalamnya samudera kehidupan. Jika dia tak dapat menjelajah dan menyelami maka hidupnya hanyalah dipermukaan yang dangkal. Orang-orang yang hidup secara dangkal tidak pernah memiliki kwalitas batin yang memadai untuk menorobos; yaitu menerobos kegelapan hidupnya; kesengsaraan, kesedihan, kebodohan, kebingungan, keserakahan, kebencian, dan ketakutannya yang selalu menghantui. Karena itu dia tak’an memiliki sinyal untuk sampai pada yang terang yaitu cahaya abadi dari cinta-kasih.

Dapatkah orang melihat fakta yang sederhana ini? Hal ini sangatlah bersahaja. Namun, kenapa, mengapa orang menciptakan masalah yang ruwet dan kesengsaraan bagi dirinya sendiri, dan berharap mendapatkan berkah dan sorga? Dapatkah ritual dengan mengunjungi tempat-tempat suci yang penuh pamrih, yang penuh pengharapan memberi keheningan pada batin? Justru sebaliknya, bukan? Fakta ini sangat-sangat sederhana, begitu jelas.
“Yaow,.. hambo pikir…. ini so simple beneer, tapi… kenapo hambo tak menyadarinyo”.

Pada umumnya orang tak pernah mengamati, tak pernah menyelidiki atau mempertanyakan, mereka hanya menerima dan percaya saja. Dan dari sini mereka merasa matap dan menjadi terlanjur pintar, penuh idea-idea, sarat dengan segala macam pengetahuan. Mereka seolah-olah tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana yang suci dan mana yang tidak suci. Maka dari itu dia yang merasa tahu, menjadi pimpinan dan mengarahkan ketentuan-ketentuan yang mesti dipatuhi dan yang lainnya yang penurut melaksanakan dogtrin itu. Si pemimpin merasa begitu senang dan bangga karena telah berhasil mengatur, mempengaruhi dan menipu yang lain, dan juga dirinya sendiri.
Orang yang begitu pasti, percaya yakin dan mantap, tak’an pernah meragukan atau mempertanyakan, dengan demikian dia tidak mungkin dapat belajar, yaitu menyangsikan dan menyelidik. Jika orang tidak belajar diapun tidak akan pernah melihat dan memahami dirinya.
“Kadang awak melihat….tradisi itu,…norma-norma itu,… upacara-upacara itu…. rancu, irasional, membingungan… apa itu suci dan tidak suci?”

Baik-buruk, benar-salah, suci-kotor, disinilah manusia hidup. Mereka hidup dalam dualitas. Mereka hidup dalam konflik. Ini semua bersumber, berada dalam ruang pikiran manusia. Orang selalu berusaha mencari yang baik yang suci dan menghindari yang buruk yang kotor. Dari sinilah datangnya suka dan duka, senang dan sedih. Jika orang memiliki batin yang sederhana, mungkin dia akan melihat fakta seperti apa adanya.

Tahi itu kotor dan buah itu suci, maka dari itu orang akan mempersembahkan buah kepada dewanya. Sadarkah Anda, buah jeruk atau ikan yang Anda konsumsi sehari-hari adalah dari tahi? Dan berak yang Anda buang setiap pagi adalah buah jeruk, beras dan ikan! Ini adalah fakta dari siklus kehidupan. Seorang pemuja Dewa berkata, “kita boleh makan tempe, tapi tempe tak boleh dijadikan persembahan kepada dewa.” Karena proses pembuatan tempe itu melalui injakan kaki, dan kaki diklasifikasikan sebagai kotor/tidak suci. Inilah manusia yang hidup dalam dualitas…..? Jika dia belajar maka dia bertanya…, “kenapa manusia diciptakan dengan kaki….? Tidakkah orang harus jernih dan jujur, sehingga dia dapat memahami masalah dirinya yaitu dualitas yang bersumber dari otaknya yang membuat hidupnya terbirit-birit untuk mengejar dan menghindar? Jika hal ini tak dipahami, maka ponselnya tak’an menemukan sinyal itu.
“weleh…weleh… beneran aku mangan sego iku pedo karo tahi…weleh…weleh…piye-to.”

Keheningan akan terwujud jika orang dapat mengamati dan memahami batinnya yang penuh dengan pikiran yang ribut, yang meyakini sekaligus mencemaskan, dan selalu menginginkan berbagai macam hal. Orang mesti memahami seluk-beluk, cabang dan ranting dari pikiran itu dengan detail, betapa semua pikiran itu bagaikan ribuan ikan gabus yang memenuhi dan telah membuat kotor, keruh air telaga hatinya. Dan hal ini harus berakhir barulah ada kejernihan dan keheningan. Maka dari itu orang harus menjadi sederhana, polos dan murni. Untuk ini orang mesti diam, tidak berkomentar apapun, karena sembarang komentar hanya akan menghalangi persepsi dan pengertian membuka dirinya.
Kata-diam” bukanlah diam. Jika orang dengan sengaja atau memaksa diri untuk diam, disini akan terjadi konflik. Selama masih ada gabus konflik, gabus keserakahan, maka air telaga hati Anda tak’an pernah tenang dan tak mungkin menjadi hening. Jika diam ini memiliki kwalitas kekosongan yang murni, yang berarti disana sudah tak ada apapun, baru barangkali kepekaan itu akan tersentuh. Sekali itu tersentuh, sinar kasih itu akan meledak dari kedalaman diri dan menerangi seluruh kehidupan Anda.

Kesederhanaan adalah keindahan,
Keindahan adalah kepekaan,
Untuk peka harus diam
Diam adalah keheningan
Inti kasih adalah kebersahajaan.

Kategori:Uncategorized
  1. nur arif muhamad
    11 Oktober 2010 pukul 8:05 am

    mantap pak wayan saya suka tulisan diatas =)
    terima kasih atas penggambaran dari sudut pandang yang lain yg menurut saya menarik HP beli di pasar loak lubuk hati ;b

  2. windra
    12 Oktober 2010 pukul 7:33 pm

    Kita hanya mencoba menggugah Sdr Nur. Kadang kita butuh kias2/perumpamaan, agar lebih bervariasi; paling tidak teman2 mau membaca dan klo mungkin mempertanyakan dan menyimak makna yg terkandung. Terima kasih anda sudah mampir, semoga ini dpt menjadi serana bagi anda untuk menyelam dan menemukan mutiara-kasih dikedalam telaga hati anda.

  3. 13 April 2013 pukul 4:26 pm

    What’s up Dear, are you truly visiting this website daily, if so afterward you will without doubt take good know-how.

  4. 11 Mei 2013 pukul 10:32 pm

    Hello! Do you know if they make any plugins to protect
    against hackers? I’m kinda paranoid about losing everything I’ve worked hard on.
    Any suggestions?

    • 14 Mei 2013 pukul 9:50 am

      I have no idea,
      Thanks for your attention,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: