Beranda > Uncategorized > HANYA DUA CAWET

HANYA DUA CAWET

Di India ada orang-orang yang disebut sannyasi, yaitu mereka yang berkeliling mencari guru kebenaran dengan hanya memiliki dua buah cawet, satu cawet yang sedang dipakai dan satunya lagi merupakan persediaan untuk dipakai hari berikutnya.

Pada suatu hari seorang sannyasi sampai pada sebuah kerajaan dimana katanya bahwa sang Raja telah mencapai kebenaran sempurna dan sedang memberi khotbah di istananya. Sannyasi itupun mengunjungi sang Raja untuk ikut mendengarkan khotbahnya. Betapa kontrasnya antara sannyasi yang hanya mengenakan cawet sementara Raja itu memiliki segalanya, istana megah, pakaian dan perhiasan indah, para selir dan dayang-dayang, juga makanan berlimpah.
Ketika Raja sedang berkhotbah tiba-tiba istananya terbakar. Sannyasi itu sangat cemas dengan sebuah cawetnya yang sedang dijemur disamping istana itu, namun sang Raja tetap ber-khotbah seperti tak terjadi apa-apa.

Seperti juga sannyasi itu kebanyakan orang selalu dalam keadaan cemas, mencemaskan tentang segala hal. Cemas akan keselamatan dirinya, cemas akan harta miliknya, cemas akan jabatannya, cemas akan kehormatannya, cemas akan anak dan istrinya atau suaminya, cemas akan terjadi musibah menimpa. Dapatkah orang melihat kecemasan-kecemasan dirinya yang terjadi hampir setiap saat dalam hidupnya? Kebanyakan orang tidak suka memperhatikan, sehingga mereka tidak melihatnya sehingga tidak punya kesempatan untuk membebaskan diri dari kecemasannya. Tidakah orang pernah bertanya kepada dirinya? Mestikah mereka diganduli kecemasan, atau masalah-masalah lainnya sepanjang hayat?
Untuk membebaskan diri dari kecemasan, orang haruslah memperhatikan, mengamati kecemasan dirinya untuk dapat menemukan akar permasalahannya. Kenapa, apa yang menjadi penyebab sehingga hidupnya selalu dihantui kecemasan? Jika orang mau sederhana dalam melihat, dia akan menemukan sumber segala masalah hidupnya yang berada dibalik masalah itu sendiri.

Manusia umumnya adalah hedonism, yang beranggapan bahwa kesenangan dan kenikmatan adalah tujuan utama hidup. Hal inilah yang mendorong manusia menjadi serakah, menghalalkan semua cara untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Karena dengan uang mereka akan dapat membeli segala macam kenikmatan. Hal inilah yang telah menjerat hidupnya yang kemudian menimbulkan kecemasan atau masalah-masalah lainnya tanpa pernah disadari. Dapatkah orang menyingkap masalah ini, dan dengan demikian barangkali mereka bisa membebaskan diri dari kecemasan atau masalah-masalah yang lainnya….? Jika tidak, maka kondisi hidupnya akan menjadi semakin parah, karena setiap tindakannya adalah reaksi dari pola hidup hedonism yang melekat, berurat-berakar dalam batinnya.

Dari kecemasan atau masalah hidup lainnya, manusia telah berusaha untuk menyiasati, bagaimana mereka bisa membebaskan diri atau setidaknya meringankan beban hidupnya. Maka diciptakanlah berbagai etika moral, norma-norma tentang berkelakuan baik. Dan mereka merasa puas jika telah berbuat sesuai dengan norma-norma; norma agama, norma tradisi masyarakat setempat, norma keluarga, dan lain-lainnya. Namun hal ini tidaklah banyak membantu; mereka tidak pernah sungguh bebas dari masalah-masalah hidup termasuk kecemasan dalam dirinya.

Semua usahanya seperti tambal-sulam, gali lobang tutup lobang, tak ada habisnya. Hanya kadang-kadang kecemasan mereka hilang manakala mereka hanyut dalam kenikmatan. Kecemasan manusia tergantung dari suasana hatinya yang bagaikan sekam, kadang meredup dan seringkali membara lebih besar jika ada angin berembus. Inilah fakta dari kehidupan manusia secara umum. Namun demikian, karena orang telah terbiasa dengan rasa cemas ini, maka dia telah menjadi immun, masa bodoh kadang berputus asa, stress dan ahkirnya mandah menerima. Kecemasan ini telah membebani batin dan menghantui hidupnya, yang membuat batinnya terseok-seok, tak ber-energi, dan hal ini tentunya tidak sehat, bukan….? Batin seperti ini tidak mungkin dapat menyingkap tabir misteri dirinya atau misteri semesta yang maha dasyat tak terbatas.

Seorang yang telah mengikuti pelatihan Meditasi mengungkapkan bahwa awal mengikuti pelatihan itu dia merasakan masalah-masalahnya seperti menghilang, berganti dengan sakitnya seluruh tubuhnya. Namun setelah pelatihan itu berakhir yang juga berkurangnya rasa sakit ditubuh, maka kecemasan atau kegelisahannya muncul kembali. Walaupun dia telah melakukan pengamatan terhadap setiap pikiran yang muncul seperti yang di-instruksikan oleh pembimbing, namun kegelisahan, ketertekanan, dan kecemasannya tetap saja menguasai dirinya.

Hal seperti ini tentu banyak yang dihalami oleh setiap orang tanpa kecuali oleh para meditator. Apa yang harus dilakukan? Betapa sulitnya untuk membebaskan diri dari segala keterkondisian yang telah berurat-berakar, yang sepertinya telah membentuk seluruh lapisan sel-sel syaraf otak. Walaupun orang telah banyak belajar dengan membaca banyak buku-buku, pada akhirnya mereka tetap terkondisi, terbelenggu bahkan belenggu itu bisa semakin erat dengan semakin banyaknya pengetahuan yang diterimanya.

Walaupun orang telah melakukan latihan meditasi dengan metode tertentu, namun tanpa peletakan fondasi yang benar, semuanya tak’an banyak nilainya. Fondasi itu bukanlah ke-imanan atau kepercayaan, namun adalah belajar dalam kebebasan tanpa menimbun. Belajar seperti ini tidak menjadikan Anda pintar, ini adalah perhatian, pengamatan yang terus-menerus tanpa penilaian, sehingga Anda melihat apa adanya dengan jelas.

‘Diri saya yang terlanjur pintar, terlanjur komplek, blepotan, sesak dengan beban pengaruh, dan memiliki kemantepan kepercayaan, sulit untuk menjadi sederhana. Keyakinan saya telah mengajarkan, dan membentuk diri saya yang membuat hati saya bagaikan batu karang yang keras, sehingga saya tak bisa melihat, memahami hal yang sederhana itu. Mungkinkah saya dapat belajar yaitu melihat, menjelajah, mengarungi diri saya dengan hati yang keras, dengan ke-fanatikan saya yang sempit, sambil mengikatkan batin pada tiang kepercayaan?’

Hendaklah jangan cepat menjawab ataupun menyimpulkan. Hal ini membutuhkan kesungguhan perhatian, kesungguhan hati, kejujuran, ketulusan, keseriusan. ‘Dapatkah orang hanya semata mengamati…..?’ Jika orang menanggapi, menyalahkan ataupun membenarkan, disini telah terjadi gerak pikiran. Pikiran adalah kecemasan, adalah kegelisahan, dan berikut semua masalah dirinya. Dengan demikian, setiap tanggapan dari pikiran yang terkondisi ini, justru akan memperkuat pengukuhan dari eksistensi sang pikiran (sang diri).

Pernahkah orang meluangkan diri mengamati batinnya? Keseluruhan bidang batin yang dipermukaan ataupun yang tersembunyi? Sungguh-sungguh mengamati, dimana orang mencurahkan seluruh daya perhatiannya. Dapatkah orang melihat keterkondisian dirinya dengan jernih? Jika orang bersungguh hati, mengamati dengan teliti, barangkali orang akan sampai pada satu penglihatan, dimana objek adalah subjek.

Ketika pikiran, sang diri (subjek) bergerak menanggapi sebuah objek, selanjutnya ada penilaian; menyenangkan atau tidak menyenangkan. Dari objek ini timbullah penilaian yang memberi kesan-kesan ingatan, yang memperbaharui dan memperkuat file yang sudah ada pada sang diri (subjek). Sepiring nasi goreng (NG) akan menimbulkan reaksi yang berbeda pada pikiran (subjek) sesuai dengan file pengalamannya akan NG itu. Sang diri (pikiran) yang memiliki pengalaman menyenangkan akan NG itu tanpa disadari akan meneguk air liurnya, ketika mencium aroma NG, dan demikian juga sebaliknya. Namun jika sang diri, pikiran (subjek) tidak memiliki pengalaman akan NG itu (seorang bayi misalnya), maka tak ada reaksi apapun, maka disini tak ada lagi pikiran (subjek) maupun NG (objek). Sepanjang subjek itu ada, maka projeksi dirinya yaitu objek juga akan selalu ada. Dari sinilah awal senang dan sedih (dualitas).

Orang yang dapat melihat fakta ini dengan jernih, akan melihat bahwa objek adalah subjek. Subjeklah yang berkata, yang menilai tentang objek baik atau buruk. Subjeklah yang mengarang objek ceritra tentang Tuhan tempatnya berlindung….. yang maha dan MAHA…, dan subjeklah yang selalu dalam ketakutan, dan menjerat dirinya pada tiang kepercayaan dengan segala sublimasinya. Subjeklah yang membuat norma agama, kaidah-kaidah dan mempercayai bahwa DIRInya yang melaksanakan, katanya akan mendapat ganjaran sorga….; ini dambaan subjek akan rasa aman dan nyaman. Semuanya adalah gerak subjek yang selalu mendambakan kenyamanan dirinya, disadari ataupun tidak.

Apabila orang sungguh jernih, dia akan melihat kesia-siaan jerih payahnya, maka diapun diam mengamati fakta apa adanya, dan diapun menjadi sederhana, polos dan akhirnya menjadi bukan apa-apa. Disini subjek dan objekpun berahkir, jangankan dua, setengah cawetpun tak membuatnya cemas! Penjelasan kata-kata tak memadai! Orang harus datang dan berada bersamaNya!

By windra w.

Kategori:Uncategorized
  1. 27 November 2016 pukul 4:30 pm

    Jika demikian, yg ada hanya datar saja,,kl tdk boleh lg ada sedih lalu masihkah ada bahagia..??
    Jika cemas itu dilarang,,lalu adakah rasa nyaman..??
    Sdangkan bahagia dan nyaman adlh impian semua mahluk hdp,,bkn hnya manusia sj…
    Maka jadilah org gila saja..!!!

    • windra
      29 November 2016 pukul 1:09 pm

      Thanks,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: