Beranda > Uncategorized > DIA TERUS MENGGENDONG

DIA TERUS MENGGENDONG

Pada suatu hari ada dua orang biarawan yang sedang melakukan perjalanan. Ketika sampai ditepi sebuah sungai mereka melihat seorang gadis sedang duduk menangis. Biarawan yang lebih muda mengampiri dan bertanya. “Adik yang baik, kenapa adik menangis?”

Si gadis menengok dan menjawab, “lihatlah rumah diseberang sana itu, tadi pagi aku berangkat dari sana dan tak ada kesulitan apapun, namun sekarang air sungai menjadi pasang, aku tak bisa kembali.”

“Oh itu masalah gampang”, sahut si biarawan seraya langsung memanggul tubuh gadis itu dan membawanya menyeberang. Ketika sampai diseberang, dia pun menurunkan si gadis yang mengucapkan banyak terima kasih atas pertolongan biarawan itu.

Kedua biarawan itupun melanjutkan perjalanan. Setelah agak jauh sibiarawan yang lebih tua bertanya. “Adik kita ini adalah biarawan yang telah bersumpah tidak akan mendekati (menyentuh) seorang wanita. Perbuatanmu tadi itu adalah dosa besar, apakah kamu tidak merasakan sensasi, terangsang pada saat kamu menggendong tubuh wanita itu?” “Tapi saya telah menurunkan dia lima jam yang lalu, namun kakak sampai saat ini masih terus menggendongnya,” jawabnya.

Kebanyakan orang tanpa pernah menyadari telah mengendong atau menyimpan banyak kenangan dari beribu-ribu hari yang lalu. Otaknya telah dipenuhi oleh file-file kenangan ini, baik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Dan semua tindakannya adalah reaksi yang bersumber dari file-file ini. Jika satu kenangan pikiran yang memberi rasa nikmat bereaksi, maka ketika bertindak tanpa disadari file ini memberi pengaruh dan dorongan pada tindakannya, yang akan memperkuat keinginannya untuk mendapatkan kenikmatan yang lebih. Demikian sebaliknya, jika satu file kenangan pikiran dari kekecewaan yang bereaksi, maka orang akan berusaha untuk menghindarinya.

Kebanyakan orang selalu berusaha mempertahankan kenikmatan dan menolak atau mengindari yang tidak nikmat. File-file inilah mengkondisi batin dan selalu bereaksi dalam setiap tindakannya sedemikian kuatnya tanpa disadari, dan membuat orang hidup dalam konflik. Karena tidaklah mungkin bagi orang selalu bisa menghindar dari kemalangan dan terus menerus dapat mempertahankan keberuntungan. Dalam mempertahankan kenikmatan timbullah pengejaran, keserakahan, persaingan, pertengkaran, penipuan, kelicikan, kebohongan, kekerasan, dan sebagainya yang mengakibatkan kesengsaraan, kecemasan, keputus-asaan, ketakutan, stress dalam kehidupan mereka.

Dapatkah orang melihat ini, yaitu hal-hal yang saling terkait dari tindakannya yang merupakan reaksi dari file masa lalu, yang telah menimbulkan kesengsaraan pada dirinya sendiri dan juga pada dunia? Kebanyakan dari mereka tidak menyadari, karena mereka tidak biasa menyelidiki dan bertanya-tanya dalam hati. Kenapa? Kenapa hidupnya dalam kondisi yang menyedihkan? Kesibukan dan segala macam kegiatan yang mesti dilestarikan; tradisinya, dewa-dewa dengan ritualnya, layang-layangnya, bisnisnya, judinya, hiburannya, hobbinya, dan yang lain-lain, telah menjeratnya dan menyita waktunya, sehingga tak sejenakpun mereka dapat diam untuk mengamati.

Pernahkah orang diam, mengamati? Jika orang sungguh-sungguh diam barulah dia akan dapat mengamati. Untuk pengamatan seperti ini orang harus memiliki kemauan, gairah serta energi yang besar sehingga orang dapat melihat, memperhatikan dengan jelas dirinya, dan seluruh bidang batin. Semangat, gairah dan energi ini akan ada jika orang menyadari; jika ada suatu desakan yang kuat, bahwa dia mesti membebaskan dirinya dari belenggu yang tidak tampak ini. Apabila orang berkesungguhan hati maka dia akan melihat semuanya, batinnya yang penuh dengan segala pikiran, disana ada: ambisi, keserakahan, keangkuhan, kecemasan, kegelisan, keputus-asaan, kelicikan, tipu-daya, rasa-iri, kebencian, kebosanan, kebingungan, kepercayaan, ketakutan dan sebagainya. Jika mereka melihat dan menyadari hal ini, tidakkah orang akan bertanya-tanya pada dirinya? ‘Kenapa AKU MESTI memelihara dan menyimpan semua hal yang tak ada manfaatnya ini?’ Untuk menggugah tekadnya orang mesti membuat pernyataan dengan suara lantang,…………… “SELURUH PENDERITAANKU BERAWAL DARI SINI!”

Kosongkanlah Laci Anda! (K)

Andaikan Anda telah mengumpulkan surat-surat selama bertahun-tahun didalam sebuah laci, kini laci itu telah penuh. Cobalah membaca surat demi surat, menahan sebagian dan membuang yang lainnya. Apa yang ditahan dibaca kembali dan setelah memahami buang lagi sampai laci itu kosong. Demikian juga halnya, orang harus waspada terhadap setiap perasaan-pikiran; pahami maknanya dan bila ia muncul kembali, renungkanlah itu kembali karena ini berarti Anda belum memahami sepenuhnya. Seperti halnya laci itu akan berguna bila ia kosong, demikianlah pikiran harus bebas dari segala yang ditimbunnya, karena dengan demikian barulah ada keterbukaan bagi kebijaksanaan dan kebahagiaan, yaitu puncak dari yang sesungguhnya ada.

Jika laci (batin) kosong, barulah disitu ada keheningan, kedamaian, kesederhanaan, dan keindahan. Untuk sampai disini, orang mutlak memiliki kemauan yang kuat, keberanian untuk belajar yaitu mengamati, mempertanyakan, menyelidiki dan menyangsikan. Bukanlah menerima dan mempercayai.

Tindakan manusia umumnya bersumber dari hati yang bingung, dari batin yang terbebani, yang selalu menyesuaikan diri pada norma, tradisi masyarakat. Sehingga setiap tindakannya hanyalah merupakan reaksi, yang justru membuat semakin banyak copy file, sehingga lacinya menjadi semakin berjubel dengan surat atau berkas-berkas tak berguna.

Satu contoh: jika seorang memuji diriku atau berbuat baik menurutku, maka saya pun senang dan membalas kebaikannya. Namun sebaliknya, jika ada orang berkata yang menyakitkan, saya barangkali tidak akan membalasnya, karena ada nasehat yang berkata, “jika orang melempar tahi, anda harus membalasnya dengan bunga”. Walaupun dalam hati sesungguhnya saya sangat jengkel dan terbakar. Diluarnya tampak indah namun didalamnya busuk, ini kemunafikan. Saya dapat menahan marah, karena batin saya ditekan, yang terkondisi oleh norma nasehat. Ini adalah tindakan yang merupakan reaksi dari batin saya yang dibebani oleh norma nasehat berkelakuan baik. Namun demikian norma masyarakat tetap memuji saya sebagai seorang yang sabar dan tahan uji. Hal ini sama sekali tak ada nilainya justru membuat laci saya semakin sesak.

Pendapat, penilaian masyarakat ini tak’an pernah membawa saya untuk belajar yaitu mengamati batin yang telah terkondisi oleh rasa senang saya akan pujian, oleh nasehat tentang berkelakuan baik, oleh rasa bangga saya karena dianggap sebagai orang yang sabar. Jika saya tidak dapat melihat bahwa semuanya itu adalah kepalsuan, maka ini artinya saya tak pernah membaca dan memahami surat-surat dalam laci hatiku.

Jika saya terus hidup dalam kepalsuan ini, saya hanyalah menumpuk sampah dan memperkuat semua kebusukan dalam diri saya, maka dengan demikian tak’an pernah ada kejernihan, keheningan dan kedamaian. Siapapun adanya diri saya, apakah saya seorang brahmana, ksatrya, president, pendeta sakti, gembel, pejabat, tokoh agama dan sebagainya; jika saya tidak memahami hal ini, yaitu diriku sendiri yang penuh dengan kenangan ribuan hari-hari yang lalu, maka aku akan terus mengendong, dan mengendong konflik selamanya!

By windra w.

Kategori:Uncategorized
  1. Sukiman
    30 Mei 2014 pukul 10:12 am

    Terimakasih, sangat mencerahkan pak Wayan

    • windra
      31 Mei 2014 pukul 3:01 pm

      Sama-sama Pak Sukiman; kita semua selamanya belajar.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: