Beranda > Uncategorized > MATI SEGAN HIDUP-PUN BOSAN

MATI SEGAN HIDUP-PUN BOSAN

Saya bertanya-tanya dalam hati. Ada orang berpendapat bahwa sangatlah beruntung jika kita tidak pernah dilahirkan sebagai manusia, atau adalah juga beruntung pernah dilahirkan namun bisa mati muda.

Jika diamati pendapat atau pernyataan diatas, ada beberapa alasan kenapa orang sampai pada pandangan sedemikian. Pertama, barangkali setelah melihat kehidupan dimuka bumi ini yang penuh dengan ketidak-adilan, keserakahan, kekerasan, penindasan terjadi dimana-mana, sehingga dia merasa berputus-asa. Kedua barangkali dia tidak punya cukup kemampuan untuk dapat berhasil dalam meraih sesuatu yang ada nilainya. Atau …… apa?

Jika melihat kehidupan manusia umumnya, mereka kebanyakan hidup didalam rutinitas yang membosankan. Manusia tak dapat menghindari kondisi ini. Kebiasaan-kebiasaannya telah memperdaya dirinya dan dia telah menjadi lekat. Ambil contoh kecil, – merokok, minum alkohol, ngobrol tentang hal-hal yang remeh, bertegur sapa sekedar basa-basi. Semua kebiasaannya dibeban pengaruhi oleh norma dan tradisi lingkungannya, dan menjadikan mereka hidup secara dangkal. Rasa jenuh menggerogoti hidupnya, ini disebabkan karena mereka hanya mengejar kenikmatan dan kesenangan semata tanpa pernah belajar memahami hakekat hidup.

Barangkali ada yang menyadari hal ini, dan berusaha untuk menghindari atau melawan kebiasaan buruknya. Dia mungkin telah mengikuti berbagai cara, mendisiplinkan diri. Membaca buku dan melatih diri sesuai petunjuk buku seperti latihan – senam, yoga, meditasi, mendengarkan ceramah sepirituil, berpuasa dan lain sebagainya. Setelah latihan dengan tekun, awalnya sangat menyenangkan, bagaimanapun mereka merasa telah sungguh-sungguh melakukan sesuatu yang diyakini adalah benar. Namun setelah bulan berganti bulan dia belum menemukan. Jika seseorang ingin menjadi professional dalam bidang tehnik, barangkali dia perlu melakukan latihan dengan metode tertentu. Namun dapatkah batin dilatih dengan suatu metode, agar bebas dari kecemasan, dari kebiasaan-kebiasaan buruknya? Dengan mengucapkan kata-kata tertentu seperti mantera atau ziqir? Dengan itu orang barangkali dapat menghipnose dirinya, dan dapat melupakan masalah-masalahnya untuk sesaat, namun masalahnya masih ada didalam situ, hanya untuk sementara dia tertidur oleh pengaruh mantera atau ziqir apapun.

Dapatkah orang melihat fakta ini. Semua cara, metode adalah hasil dari pikiran yang menginginkan. “Saya ingin bebas dari masalah diri saya, saya ingin memperoleh penerangan batin, maka itu saya harus latihan, saya mesti mengucap matera. Semua ini saya lakukan karena saya sudah jenuh dengan diri atau hidup ini”.
Jika orang melihat fakta ini mestinya dia mulai mempertanyakan, menyelidiki, bukan hanya menerima atau menelan mentah-mentah apa yang dikatakan oleh buku-buku, guru, pemimpin agama atau pendeta, dewa sekalipun.
Setiap orang haruslah mempertanyakan kenapa dia percaya dan menerima saja kondisi yang dibeban-pengaruhi oleh tradisi lingkungan. Pertanyaan ini adalah penting artinya dan merupakan langkah awal dari belajar, sehingga dia dapat melihat “apa yang ada sebagaimana adanya.” Barangkali ini merupakan hal yang teramat sukar, karena hampir seluruh lapisan diri manusia telah terkondisi sedemikian beratnya.

Jika orang dibesarkan dilingkungan Hindu, maka lahir dan batinnya telah dibentuk sesuai dengan kondisi, tradisi dan norma-norma masyarakat Hindu. Dia akan pergi ke Kuil, dengan pakaian tertentu, mengucap manteram atau doa dengan kata-kata tertentu. Dia mungkin akan mempunyai pengalaman bertemu deva-devi atau apapun sesuai dengan kepercayaannya. Sementara jika dia seorang Kristiani, dia akan mempunyai pengalaman bertemu siperawan suci atau Kristus, demikian juga seandainya dia seorang Bhuddha, Islam, dia akan mempunyai pengalaman dan berkelakuan sesuai dengan keterkondisian batinnya. Semua pengalaman ini tak memberi manfaat apapun, karena pengalaman ini adalah ilusi dari keterkondisian bathinnya.

Setiap orang secara pisik tentulah tergantung pada banyak hal, seperti makanan, sandang dan papan, namun secara batiniah kenapa orang mesti menjerat dirinya dengan kepercayaan dan mengkondisi batinnya? Dapatkah orang membebaskan batin dari semua ini, sehingga dia tidak berada dalam satu kelompok yang manapun. Dan dengan demikian tak ada beban pengaruh apapun sehingga dia dapat memandang “apa yang ada seperti apa adanya.”
Batin yang bebas adalah batin yang jernih, orang akan melihat dengan jelas, karena batinnya tidak memihak, batinnya tidak dibentuk oleh suatu paham, atau dogtrin apapun. Selama ini setiap kelompok, atau aliran, telah mempunyai methologinya masing-masing. Ceritra akan suatu utopia, dan mereka telah menentukan metode, atau disiplinnya untuk sampai pada utopia yang luhur itu. Masing-masing dari mereka berpegang erat pada kepercayaan akan kebenaran dari dogtrinnya. Hal ini menimbulkan konflik vertikal maupun horizontal. Jika orang menjadi bagiannya, yang manapun; dia akan ngotot dan berpegang erat, karena dia yakin dan percaya bahwa ini akan memberinya surga. Dan dapatkah orang melihat bahayanya?

Pernahkah orang bertanya kepada diri sendiri, kenapa dia meyakini? Kebanyakan para Guru, Pendeta atau pemimpin agama telah mendoktrin dengan berkata, “kalian harus yakin” dengan menjalankan ini, “sorga pasti ditangan”. Dan apa jadinya, orang tergiur pada sorga, sekali tergiur, diapun tergiur dengan yang lainnya. Batin yang tergiur tidaklah bebas, dia telah terjerat oleh kegiuran. Batin seperti ini akan selalu haus pada kegiuran atau kenikmatan lahir maupun batin.

Kenapa orang meyakini dan percaya? Dapatkah dia menyelidiki, dan menemukan sumbernya? Kebanyakan orang tentu tak’an menemukan, karena kebiasaannya hanya menelan dan menerima saja otoritas ini. Orang hanya menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Orang takut jika berbeda dari kebanyakan orang. Orang takut jika tidak memiliki kepercayaan, yaitu tiang tempatnya bersandar dan berpegang erat. Karena kepercayaannya, katanya menjamin perjalanan hidupnya sekarang ataupun setelah mati. Dan memang sesungguhnyalah mereka dalam ketakutan yang terus menerus, karena itu mereka merasa perlu memiliki kepercayaan.

Jika batin jernih orang akan melihat dengan jelas bahwa kepercayaannya adalah wujud dari rasa takutnya yang terdalam. Orang yang batinnya bebas, tidak dibeban pengaruhi oleh doktrin, rasa takut, otoritas apapun, tak’an memiliki kepercayaan apapun. Batin yang bebas, begitu ringan, jernih, indah, segar dan murni. Batin seperti ini memiliki kwalitas berbeda, dia mampu memandang dunia apa adanya. Batin yang bebas adalah batin yang tidak dipengaruhi oleh pikiran, dia tidak berandai-andai, berprasangka, bercemas diri, bersedih, berambisi, berkhayal, karena dia telah melihat realita hidup dengan sangat jelas.

Tak ada metode, mantera, ziqiir apapun yang dapat membebaskan batin, karena semua metode adalah ciptaan pikiran. Setiap ciptaan pikiran akan menghasilkan pikiran. Dan pikiran adalah akar dari semua masalah. Dalam pikiran terkandung semua masalah: kesedihan, kebingungan, keserakahan, rasa takut, kepercayaan, dan khayalan.
Untuk membebaskan dirinya batin harus belajar tentang dirinya sendiri yaitu melihat, mengamati dirinya tanpa memihak, tanpa pembelaan, tidak menyalahkan ataupun membenarkan. Untuk dapat melihat dengan jelas orang harus diam, sungguh-sungguh memperhatikan. Melihat seperti itu adalah keterbukaan batin bagi dirinya sendiri. Hal ini akan membawanya pada kejujuran, ketulusan dan ini merupakan pemurnian bagi dirinya sendiri. Dengan demikian batin akan menjadi sangat bersahaja, ringan, segar dan jernih. Tak’an ada kata yang dapat menceritrakan keindahannya. Untuk yang satu ini setiap orang mesti menemukan bagi dirinya. Maka itu dia mesti melangkah pada sang jalan.
Jika orang sampai pada tahapan ini, dia tak’an segan mati maupun hidup. Dia tak’an membuat pernyataan-pernyataan ganjil, bahwa “adalah beruntung tidak pernah dilahirkan”, atau “percaya bahwa orang yang mati muda dosanya sedikit, atau karmanya pada kehidupan yang lalu adalah baik, dan sebagainya.

Hanya orang yang batinnya dalam kebingungan, yang digelapkan oleh bayangan beribu-ribu pikiran, akan mengajegkan kepercayaan dan keyakinan. “Perlukah orang percaya bahwa matahari terbit diufuk timur?”
“Jika dia jernih diapun jelas!” “Cahaya adalah cahaya, dia tidak meminta lebih banyak sinar!”

by windra w.

Kategori:Uncategorized
  1. 29 September 2016 pukul 4:10 pm

    Terima kasih Pak, saya mendapatkan satu obat disini, “setiap ciptaan pikiran akan menghasilkan pikiran.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: