Beranda > Uncategorized > ANAK PANAH DUKHA

ANAK PANAH DUKHA

Saya ingin mengulang sebuah cerita tentang seorang murid yang mengajukan pertanyaan pada Gurunya:

“Guru, apakah Tuhan itu benar-benar ada? Dan apakah benar Tuhan mencipta Bumi dan Langit, alam seisinya: bulan, bintang-bintang, dan matahari, hanya dalam tujuh hari tujuh malam? Betapa super luar-biasa Tuhan itu? Sungguhkah ini , dimanakah Tuhan berada Guru?”

Sang Guru menjawab, “sungguhkah engkau ingin tahu hal ini?; baiklah….., namun sebelumnya dengarkanlah cerita ini”, dan sang Gurupun mulai bercerita demikian……; “dalam sebuah peperangan yang dahsyat seorang prajurit terkena anak panah didadanya. Diapun dibawa kedalam tenda untuk mendapat perawatan dokter. Ketika dia siuman dia melihat sang dokter sedang asyik mempersiapan alat-alat untuk mencabut anak panah yang masih menancap didadanya’.

Ketika dokter akan memulai pekerjaannya untuk mencabut anak panah didadanya, prajurit yang malang itu bertanya. “Dokter, apakah dokter melihat, siapakah prajurit dipihak lawan yang melepas anak panah yang menancap didadaku ini? Apakah dia itu prajurit yang bertubuh tinggi besar dan berambut panjang, ataukah prajurit pendek cebol-gendut yang gundul itu? Yang manakah dokter…..?”

“Saat ini yang terpenting adalah menyelamatkan nyawamu prajurit, bukan segala pertanyaan bodoh itu”, jawab sang dokter.

Kebanyakan dari kita terjebak seperti halnya prajurit yang malang itu. Kita menginginkan suatu kepastian, kita ingin agar orang memberi kita jawaban. Namun kalau kita jernih, adakah manfaat dari jawaban-jawaban itu? Selama ini telah banyak cerita, buku-buku yang ditulis yang secara tersamar atau secara gamblang memberi kita jawaban-jawaban, bukan? Adakah jawaban-jawaban ini bermanfaat bagi kita…? Bukankah kita masih selalu berada dalam ke-tidak-jelasan. Jika jawaban itu mirip dengan kecendrungan kita, maka kita bersorak dalam hati…dan keyakinan kita semakin mantap. Namun jika jawabannya tidak jelas apalagi bertentangan dengan iman kita, kita jengkel dan mencaci maki.

Selama kita hidup terperangkap didalam dualitas ini, kita tak’an melangkah kemanapun. Jika kita dengan sadar memilih cara hidup seperti ini, dan kebanyakan orang memang demikian ….monggo!

Namun jika kita memilih cara hidup ini, kita mesti sadar, bahwa gelombang dualitas ini kadang bisa sangat dahsyat memporak-porandakan batin kita, karena kita hidup dipermukaan yang dangkal. Seandainya kita berenang lebih ketengah dan menyelam lebih dalam disana ada ketenangan dan keindahan dari sebuah terumbu karang nurani yang asri.

Untuk bisa berenang dan menyelam orang mestilah tidak menjerat dirinya pada iman, kesimpulan, kitab-kitab dan dogma-dogma. Ini artinya kita mesti bebas, bebas dari semua doktrin, otoritas dan lain sebagainya itu. Disini ada keterbukaan batin bagi dirinya sendiri. Disini batin dapat belajar banyak tanpa kesimpulan apapun. Belajar dalam kebebasan seperti ini membawa orang pada kejernihan persepsi. Anda akan melihat apa adanya. Melihat apa adanya adalah melihat dari keheningan batin.

Ini bukan hal yang mudah! Orang mesti punya kesungguhan hati, tekad, kemauan yang besar. Tak ada gunanya berpegang pada cerita, buku-buku, dogma.…., karena semua itu hanyalah kata-kata (pikiran) yang tak’an pernah dapat membawa Anda pada kejernihan, pada keheningan. Dan juga tak’an pernah dapat mencabut anak panah dukha yang menancap didada.

Kategori:Uncategorized
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: