Beranda > Uncategorized > PENGAKUAN KAKEKNYA

PENGAKUAN KAKEKNYA

Ketika kecil dulu, dia tinggal disebuah desa, dimana kakeknya adalah seorang “pemangku” (imam) dari sebuah Pura yang terletak disebelah rumahnya. Hampir setiap hari dia bermain-main dihalaman Pura yang berdebu tebal dimusim kemarau.

Adalah sudah menjadi tradisi, pada setiap upacara piodalan (perayaan setiap 210 hari) di Pura itu, akan hadir banyak dewa dari Pura-Pura yang lainnya yang masih dalam lingkungan desanya; sehingga juga akan hadir banyak Pemangku (imam) dari Pura-pura yang lainnya. Dan juga telah menjadi tradisi bagi para Pemangku untuk kerawuhan (trance). Pada saat kerawuhan, para Pemangku akan berkelakuan yang aneh-aneh, seperti ngambek, berteriak-teriak. Ada yang menghunus keris seraya membentak-bentak seperti orang marah kepada umat yang hanya tertunduk takut. Ada juga yang melemparkan bara api pengasepan (api pemujaan). Wah, suasananya sungguh ramai, penuh misteri dan histeri. Drama ini dilakoni dengan baik yang dapat memupuk perasaan angker (serem), mempertebal kepercayaan, serta memperkuat rasa takut mereka.

Dia yang setiap malam tidur bersama kakeknya, pada suatu petang menjelang tidur bertanya. “Kakek, kenapa pada waktu odalan di Pura kakek menangis tersedu-sedu, seperti anak kecil?”. Kakeknya terdiam tak bisa segera menjawab.
“Apakah kakek menangis itu juga tandanya “kerawuhan” (trance), seperti Pemangku yang lainnya?” dia menambahkan pertanyaannya, namun kakeknya tetap terdiam. Dia tahu kakeknya belum tertidur, karena itu dia lagi bertanya.
“Kenapa kakek kerawuhan hanya menangis, ini kan tidak seru, seperti yang lainnya, yang pegang tombak dan keris? Dan apakah benar bahwa yang ngerawuhin (masuk kedalam tubuh) itu adalah para dewa?”
Sebelum menjawab dia mendengar kakeknya menghela nafas panjang……………..!
“Itu mungkin suatu kemunafikan, kepalsuan,” kakeknya berbisik seolah berbicara pada diri sendiri. “Kakek sebenarnya tak berniat berbuat itu, namum sebagai Pemangku di Pura sendiri, kalau tidak kerawuhan (trance), kakek merasa malu dengan yang lainnya”. “Ah, semua itu kebohongan”. “Mereka itu sinting, hanya mencari pengakuan, agar menjadi terpandang dan disegani oleh masyarakat”. “Ah, sudahlah jangan menanyakan hal itu, kalau besar nanti cucu akan tahu”. “Jangan percaya pada hal-hal itu, dan jangan meniru tabiat seperti itu”. “Sudahlah,…. tidurlah….tidurlah…. biar besok jangan terlambat mengangkat bubunya” (perangkap untuk menangkap belut). Kakeknya pun mengakhiri.

Dapatkah orang melihat kepalsuan ini? Orang merasa tidak enak kalau tidak menyesuaikan diri, kalau tidak serasi dengan keadaan setempat, maka itu dia harus dengan suka-rela ikut memalsukan dirinya. Jika seorang pemangku mengalami trance, hal ini dipercaya oleh umat bahwa dewa telah bersemayam dalam dirinya, maka yang lainnya pun ikut trance; jika tidak, dia akan dianggap tidak suci karena dewa tidak mau bersemayam dalam dirinya. Hal inilah yang terus dilestarikan dan terus dipupuk untuk meningkatkan kepercayaan mereka.

Jika orang mau belajar yaitu mempertanyakan, bukan mempercayai, tentu dia akan melihat fenomena ini yang timbul dari berbagai alasan. Sebagian alasan dari mereka adalah untuk mendapatkan pengakuan agar dianggap hebat, yang lainnya adalah menyesuaikan diri agar tetap serasi dan memperoleh predikat. Orang-orang ambisius setali tiga uang ini terus berusaha untuk mempertahankan dan kalau mungkin meningkatkan atmosphir ini, karena mereka memperoleh kepuasaan tertentu, bisa duduk sebagai orang-orang jumawan yang merasa terhormat. Atmosphir ini diusahakan dengan segala muslihat agar semakin mengental dan menguat yang seolah-olah mendapat legitimasi dan simpati umat. Dengan cara-cara tidak memberi satu kesempatan alternatif maka terjadilah pengkondisian yang mengkristal bagaikan sebongkah batu karang ditengah gurun. Orang-orang ini tak’an berpaling, karena keyakinannya yang telah dipupuk oleh rasa takut, yang akan selalu ketakutan apabila berusaha berpaling. Dan kemantepan ini sepertinya harga mati, keras dan solid, apalagi mendapat sanjungan dari pihak lain bahwa tradisi mereka  sangat indah dan mempesona, bertambahlah kebanggaan dan kemantapan yang tak bergeming. Mereka yakin bahwa kepercayaannya adalah yang paling, yang akan memberinya sorga. Dan diluar sana pun ada banyak tumbuh hal yang serupa, tidak kalah solid dan kerasnya. Demikianlah, disadari atau tidak, masing-masing kelompok telah, sedang, dan akan terus berkompetisi.

Semenjak pengakuan kakeknya, dia sering merenung dan bertanya dalam hati. Apakah makna dan tujuan sebuah kehidupan? Dia melihat orang-orang tua yang belum dewasa memadati desa tua, namun kosong dari nurani. Dari mereka banyak yang pintar; pintar meramal, pintar berceritra tentang tahyul, fenomena alam, klenik dan sebagainya yang irasional. Orang-orang ini adalah katalisator yang telah memperkuat jeratan diri mereka pada tiang kepercayaan yang dianut dan ditakuti.

Dari perjalanan hidup seharusnya telah banyak hal yang dapat dijadikan guru, tuntunan untuk belajar yaitu bertanya-tanya, menyelidik dan mengamati. Seperti yang pernah hebooh….., yaitu seekor ular sanca yang besar, yang diramal sebagai Ki Banda Naga Sakti dari India, karena kepercayaan mereka, maka langsung dibuatkan pelinggih (altar penujaan), dan diberi persembahan. Setiap hari berduyun-duyun umat menghaturkan persembahan, karena kepercayaan mereka yang tak terbantahkan yang telah membeban pengaruhi batinnya, merekapun ikhlas katanya. Namun tak jarang yang datang untuk tujuan-tujuan tertentu. Para pedagang datang mohon agar dagangannya laris-manis. Para pegawai datang mohon agar naik pangkat atau naik gaji. Para dukun datang mohon agar bertambah sakti mandraguna. Para penggandrung togel datang mohon agar diberi mimpi nomor empat angka. Dan semua umat yang datang, selain memohon yang bersifat khusus itu, mereka semua mohon perlindungan agar selalu selamat dan sehat walafiat. Eeeh……, setelah sekian bulan dipuja dan disembah karena percaya, ternyata Ki Banda Naga Sakti itu adalah ular sanca piaraan seorang warga Amerika yang terlepas dari kandangnya. Dapatkah kita dengan jujur melihat bodohnya sebuah kepercayaan….?

Banyak lagi kejadian-kejadian serupa yang menggemparkan. Tidakkah hal seperti ini dapat membawa orang pada kondisi belajar yaitu menyelidik, mempertanyakan? Dapatkah orang melihat bahwa kepercayaan itu hanya memperkuat ketidak-tahuan (avidya), yang membuatnya mandeg, mantep, mampet, keras dan kaku? Kapercayaan, keyakinan hanya membawa orang pada kesimpulan. Jika orang telah menyimpulkan, maka berakhirlah perjalanannya, berhentilah penggaliannya, tamatlah pendidikannya. Dengan demikian kepercayaan itu adalah mengakhiri proses orang belajar. Hal ini barangkali membuat orang menjadi bingung dan akan timbul pertanyaan; bagaimana mungkin orang hidup tanpa kepercayaan? Selama ini orang-orang telah lekat pada kepercayaan dan menjadikan kepercayaaan ini sebagai obat mujarab, sebagai pelipur hatinya dikala dia bimbang karena ketidak-tahuannya (avidya). Dan batinnya telah terlanjur menjadi keras, karena terkondisi dari ratusan tahun sejak dalam embrio nenek moyangnya, sehingga kepercayaan ini telah merasuk memenuhi lapisan terdalam dari ruang bawah sadar mereka.

Apabila orang sungguh-sungguh melihat secara actual bahwa kepercayaan mengakhiri proses belajar, semestinya akan timbul keraguan, dan keraguan ini akan mengaktifkan proses belajar lagi. Dari keraguannya orang akan mempertanyakan; dan mempertanyakan adalah kegiatan belajar. Untuk memahami ini barangkali orang akan menemukan kesulitan, yang membuatnya berputar-putar, mengikuti rantai yang membelenggu batinnya dan menjadi bingung; seperti halnya orang yang naik komedi putar menjadi pusing……..; sebaiknya orang berhenti sejenak, dia harus menarik nafas panjang sehalus dan sedalam-dalamnya dan diam, Disitu akan ada ketenangan yang besar terkumpul. Dalam ketenangan yang dalam ini, orang akan dapat menyimak secara perlahan semua keraguan, kebingungan dan pertanyaan-pertanyaannya.

Jika orang sungguh mengamati, bukankah semuanya itu: keraguan, kebingungan, kepercayaan, keinginan, ketakutan dan sebagainya itu bersumber pada pikiran, si-Diri, “sang-Aku”?……, Inilah KUNCI rantai yang telah menjerat batin manusia sejak dahulu kala. Tak ada orang lain yang dapat mematahkan belenggu rantai Anda, setiap orang mestilah dapat mematahkan rantai ini bagi dirinya sendiri, untuk mencapai kebebasan (mokhsa).
Dan barangkali akan muncul keraguan lagi, apakah mungkin orang dapat mengakhiri pikiran? Jika orang cermat, diapun melihat bahwa pertanyaan ini pun diajukan oleh pikiran “sang-aku”. Jika dia menjawab……., “mungkin atau tidak”….., jawaban inipun datang dari pikiran “sang-aku”. Dengan demikian dia terus berputar dan berputar dan berputar, yang hanya memperkokoh existensi sang-Aku/si-Diri (pikiran) dengan segala keruwetan dan masalah-masalah dirinya.

Apabila orang melihat ini dengan jernih, diapun diam mengamati, hanyalah semata mengamati! Dalam pengamatan ini ada keheningan, kemurnian yang tak tersentuh oleh kepercayaan, oleh ritual apapun, dan rantaipun patah, kebebasan (mokhsa) pun terwujud!

Kategori:Uncategorized
  1. manuzia goa
    3 April 2011 pukul 12:21 pm

    kakakakaka……… memang tidak bisa dipungkiri Kepalsuan sperti in banyak…. yg diperlukan hanya kecerdasan budhi,jujur pada diri sendiri……..

    • windra
      3 April 2011 pukul 12:25 pm

      Hehe…he…., hanya manusia2 goa yg primitif barangkali masih punya kejujuran. Manusia beragama saat ini cendrung munafik, bagai ‘si-cangak meketu’.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: