Beranda > Uncategorized > LUBANG JARUM KEHENINGAN

LUBANG JARUM KEHENINGAN

Tahun 1960an jembatan diperbatasan desaku adalah jembatan peninggalan penjajah Belanda. Jembatan itu sangat sempit, hanya bisa dilalui sebuah auto. Sekitar jam 13.15 hari gelap oleh mendung yang tebal, dan tak lama kemudian hujanpun mulai turun.

Karena tak ingin kehujanan, seorang murid kelas dua SMP yang baru pulang dari sekolah mengayuh sepedanya dengan cepat, dengan harapan segera sampai dirumah. Ketika sampai pada jalan turunan yang cukup tajam, yang menuju ke jembatan sepeda itupun laju dengan cepatnya. Kurang lebih 30m akan sampai ke jembatan itu, tiba-tiba dari arah berlawanan masuk sebuah truk dengan perlahan, yang sarat dengan barang tumpangan. Anak SMP itu mengerem kedua rem sepedanya, namun malang remnya blong. Sepeda itu masih laju dengan cepatnya. Hanya dalam hitungan detik sepeda itu sudah masuk kejembatan, kecelakaanpun tak mungkin terhindarkan. Si sopir truk yang melihat itu telah menghentikan truknya dan dia terhenyak tak bisa bernafas, demikian juga dengan seorang penumpang yang duduk disebelah kirinya. Begitu juga kondektur truk yang duduk diatas barang tumpangan, hanya melongo, jantungnya seolah berhenti berdetak.

Namun anak itu lolos dari lubang jarum maut, dia masih duduk diatas sepedanya, ketika sopir dan penumpangnya turun dari truk dan nyebut,….. ya allaaah…..lalaah!!
Secara logika sangatlah sulit dapat masuk diantara truk dan pinggir tiang besi pengaman jembatan yang hanya berjarak kurang dari setengah meter. Tiang pengaman itu dibuat dari besi siku-siku yang kecil dengan tinggi sekitar satu meter. Jarak dari tiang ke tiang sekitar dua meter. Jika orang bisa lolos dari lorong ini, sungguh dibutuhkan lebih dari sekedar ketenangan.

Apa sesungguhnya yang terjadi saat itu. Dalam hitungan detik keputusan dari keheningan batin terjadi seketika. Anak ini melihat segalanya: dia melihat lorong antara truk dan pinggir tiang pengaman jembatan; dia juga melihat si sopir dan penumpangnya yang terhenyak menahan nafas dan juga si kondektur yang melongo tak bergerak; dia juga melihat stang sepeda kanannya yang mepet dengan bedag truk sementara stang kirinya berada diatas besi pengaman jembatan dan pedal kiri sepedanya hampir menyentuh tiang-tiang pengaman. Dia juga melihat pucuk-pucuk menghijau dari pepohonan dibawah jembatan dan batu-batu serta aliran air sungai yang jauh dibawah; dia juga mendengar suara air sungai mengalir memecah batu dan suara dedaunan yang tertiup angin, seperti menyatu dan selaras dengan tarikan nafasnya yang lembut. Dia melihat seluruhnya bersamaan, dengan jelas. Hal ini tak bisa dijelaskan secara logika, karena itu adalah hal diluar pikiran. Anak itu telah masuk dalam dimensi keheningan, yang baru pertama kali dialaminya. Walaupun telah jauh dari jembatan, dia masih mendengar gumanan si sopir yang berkali-kali menyebut….”ya..allaah…lalah”.

Jika kemurnian diri belum tercemar, dalam kondisi krisis, kepekaan naluri seseorang sepontan bertindak. Ini adalah sesuatu yang alamiah, merupakan kodrat sejati manusia, yaitu kemurnian, keheningan dan kepekaan. Namun pada jaman modern yang telah banyak mengalami kemajuan disegala bidang, untuk menemukan manusia-manusia dengan kodrat sejatinya sangatlah sulit, seperti mencari jarum yang jatuh di dalam sekeranjang rumput kering. Batin manusia yang telah terkontaminasi oleh pikirannya yang beraneka-ragam, yang terjerat pada banyak hiburan, kesenangan hidup, seolah-olah telah memusnahkan kemurnian dirinya. Demikian juga kepekaannya jauh berkurang, sehingga manusia sangatlah sulit untuk menjadi hening. Kenapa hal ini bisa terjadi? Sebagai mahluk manusia, pernahkah kita bertanya-tanya dalam hati?

Seorang bujangan dengan mobil mewah, ditambah dengan titel Ir. dan jabatan yang cukup tinggi serta harta berlimpah warisan orang tuanya, mengeluh dengan dirinya. Dia tak tahu, dimana yang salah. Dia merasakan hidupnya hambar, hampa, sampai-sampai untuk memilih menu makan siangpun dia susah menentukan, sementara orang lain untuk bisa makan sekali sehari saja sulit.

Dalam suatu dialog disebutkan bahwa 90% lebih dari penduduk dunia ini hidup dalam penderitaan. Bukan semata karena kurang makan, namun yang berlimpah hartapun hidup dalam penderitaan. Tidakkah anda ingin bertanya pada diri anda? Apakah anda termasuk didalam yang sembilan puluh persen lebih itu? Seandainya ya; apakah anda tidak berniat keluar dari situ? Tidakkah anda berniat keluar dari dalam sangkar penderitaan, kecemasan, kehampaan, kebingungan dan kesedihan anda? Barangkali 99% akan berkata, “kami berminat sekali!” ”Kami ingin sekali bebas dari penderitaan dan kecemasan ini, dari kehampaaan dan kebingungan ini!” “Apakah yang mesti kami lakukan?” “Adakah suatu metode yang dapat membawa kami pada kedamaian, keheningan, kebahagiaan dan sorga abadi?” Seandainya keheningan ini dapat dibeli dengan uang, tentu para konglomerat sudah sejak lama membelinya.

Suatu sore menjelang senja, ketika lewat dipinggiran sebuah desa; hamparan sawah yang terbentang akan memberi kelegaan dan keluasan. Jika orang memandang hamparan sawah itu, sinar sore yang menerobos disela dedaunan dan semilir angin sore yang terasa sejuk serta suara burung-burung pipit yang beterbangan, timbullah perasaan didalam hatinya, bahwa mestilah ada suatu cara hidup yang lain, yang berbeda sehingga dia tidak selamanya terjerat dalam sangkar penderitaan.

Cobalah kita diam sejenak…. dan amati…. sebuah pikiran muncul, dan berlanjut………pikiran yang lainnyapun mengikuti. Demikianlah dari satu pikiran menuju kepada pikiran yang lainnya yang beragam. Jika sampai pada satu pikiran yang menyenangkan, pikiran ini memperkuat dirinya, dengan membayangkan dan mengidamkan kenikmatan yang lebih dimasa yang akan datang dan selanjutnya….., selalu berusaha untuk mempertahankannya. Dari usaha mempertahankan kenikmatan ini, timbullah kecemasan dari ketidak-pastian hari esok. Demikian juga sebaliknya, jika satu kenangan pahit dimasa lalu muncul, kita mengutuknya, dengan memperbaharui sumpah dan tekad sehingga keserakahan dan kebencian kita pun semakin kuat. Demikianlah manusia telah mengisi dan melewati hidupnya dengan segala penderitaan yang dia ciptakan bagi dirinya sendiri.

Dengan cara apapun orang menangis dan tertawa, menyesali dan mensyukuri, suatu kegagalan dan keberhasilan, sore yang hening itupun berlalu. Tetapi jika orang dapat memandang, melihat, dan mengamati, walaupun matahari itu terbenam namun keheningan itu terus berlanjut. Keheningan itu selalu ada disitu, dia ada disitu jika orang mampu mengamati. Untuk mengamati dengan benar orang haruslah peka, dimana yang ada hanyalah pengamatan semata tanpa adanya interpretasi dari pikiran. Kepekaan ada jika kemurnian diri tidak tercemar. Namun pikiran telah meracuni batin manusia. “Inilah masalahnya!” Orang harus memahami hal ini dengan jernih bahwa “pikiran itu adalah masalah”. Maka dari itu apapun yang disentuh oleh pikiran, hanyalah akan menuju kedalam ruang pikiran yang sempit dan ruwet, dimana pikiran telah berkubang, membuat jerat dan memperkokoh kedudukan dirinya menjadi sang “Raja Ego”.

Dengan demikian apapun yang dilakukan, dengan cara apapun orang berusaha untuk menjadi hening, “dia tak’an pernah hening”, selama unsur pikiran terlibat. Selama masih ada pikiran yang mencari, maka keheningan tak’an terwujud. Jika orang melihat, memahami betapa sia-sianya jerih-payah perjuangannya, semestinya dia berhenti dan diam. Barulah barangkali dia akan merasakan kesejukan, keindahan, luas serta heningnya semilir angin, hamparan sawah dan kesunyian suasana disore hari menjelang senja itu. Keheningan ini bergerak masuk dan keluar, pada kedalam dan keluasan yang tak terbatas, dimana dirinya berakhir dan menjadi bukan apa-apa. Pada keadaan ini entitas-sejati dirinya mewujud.

K berkata….., ‘hal ini tak dapat anda ciptakan atau cari, tugas anda hanyalah membuka jendela hatimu, jika anda beruntung anginpun bertiup, tapi jika anda dengan sengaja membuka jendela untuk mengundang angin datang, anginpun tak’an pernah masuk.’

Kategori:Uncategorized
  1. 6 Juli 2010 pukul 7:04 pm

    Thanks koment anda sdr.Xooopi, namun sy tak paham.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: