Beranda > Uncategorized > RATNA KEHIDUPAN

RATNA KEHIDUPAN

Pada suatu sore yang cerah, tiba-tiba ada sebuah pelangi yang indah. Warna spectrumnya begitu terang. Pelangi itu melengkung sampai ke cakrawala. Sebelah kakinya berpijak disamping pucuk pohon ‘pule’ yang bentuknya juga melengkung seperti pelangi itu. Pohon ‘pule’ ini menjulang jauh lebih tinggi dibanding dengan pohon-pohon yang lainnya. Maka ada dua lengkungan dikaki langit sebelah barat, yaitu pucuk pohon ‘pule’ yang menjulang seperti payung besar dengan warna hijau dan bianglala dengan warna spectrumnya yang cerah. Sungguh suatu pemandangan yang menakjubkan.

Sementara itu dijalan lalu lintas begitu padat, suara dan asapnya membuat suasana terasa sesak dan pengap. Ditrotoar berjalan sekelompok orang-orang dengan seragam rata-rata berwarna gelap. Melihat keadaannya tentu orang-orang ini baru pulang dari Nganyut yaitu satu runtutan acara dari upacara Ngaben. Dari wajahnya, mereka kelihatan sangat letih. Ibu-ibu setengah baya dengan tubuh yang tambun berjalan tertatih-tatih karena menahan beban tubuhnya. Tak satupun dari mereka melihat pelangi itu, walau mereka sedang berjalan kearah barat.

Diantara batang, cabang-cabang dan dedaunan pohon ‘pule‘ yang menjulang itu ada keheningan yang tak tersentuh oleh nurani dan perasaan manusia. Disela-sela awan ada terobosan sinar-sinar terang dari mentari sore merupakan kombinasi yang serasi dengan warna-warni pelangi diatasnya. Sungguh satu lukisan yang indah, alam penuh suka-cita. Seandainya orang dapat mengamati, diapun akan hanyut dalam keheningan itu. Namun kesibukan telah menyita banyak waktunya, segala urusan, tradisi, dewa-dewa dengan ritualnya, dan masalah-masalah yang diciptakan sendiri, sehingga tak ada waktu sejenakpun untuk mengamati. Seandainya ada yang melihat pelangi itu, orangpun tak’an tersentuh oleh keindahannya karena mereka melihat dengan hati yang dangkal, tumpul dan batin yang pengap, yang telah terkondisi dengan segala macam hal.

Pernahkah orang bertanya-tanya didalam hati, apa sesungguhnya hakekat dari hidup ini? Dimuka bumi ini ada berbagai jenis kehidupan yang luas tak terbatas. Jika orang mengamati disekitar, dia akan melihat dan mendengar bermacam-macam kicau burung, bermacam kokok ayam jantan maupun betina yang akan bertelur, ada juga suara jengkrik atau serangga lainnya. Suara anak-anak yang bermain dilorong, deru kendaraan dan suara tukang batu atau tukang kayu yang sedang bekerja. Disela-sela suara-suara ini ada kesunyian yang menyentuh keheningan kalbu. Itulah adanya kehidupan. Kehidupan tidaklah sempit, tidak picik dan tidak dangkal, tetapi kehidupan itu luas dan dalam.
Namun kebanyakan orang telah begitu saja menerima dan mau mewarisi kehidupan yang penuh dengan beban kepercayaan, tradisi, dogma, otoritas yang menimbulkan masalah; kebingungan, kecemasan, kepedihan, ketakutan, ketidaktahuan, keserakahan, persaingan, kebanggaan, keangkuhan, penderitaan dan sebagainya.

Mengapa manusia yang katanya adalah mahluk paling utama, paling mulya, justru hidup dalam kondisi yang sungguh memprihatinkan? Tidakkah orang melihat kenyataan ini? Kalau orang memperhatikan dengan jujur, orangpun akan melihatnya dengan jelas. Namun kebanyakan orang tidak peduli, tak pernah mengamati, ataupun mempertanyakan. Mereka sibuk mengejar, mengejar dan mengejar,…… apa?

Tidakkah penting bagi setiap orang untuk melakukan penyelidikan, agar bisa memahami hakekat hidupnya? Untuk dapat memahami orang mesti belajar, dan belajar adalah mengamati, mempertanyakan, menyelidik, bukan hanya menerima, mandah dan mempercayai. Untuk dapat belajar dengan benar mestilah ada kejujuran dan kebebasan. Yang dimaksud kejujuran yaitu jujur terhadap diri sendiri. Orang harus berani mengakui diri sendiri, orang mesti menghadapi apa adanya dirinya. Jika orang cepat membantah atau melakukan pembelaan bagi dirinya maka dia tak’an melihat sesungguh-sungguhnya dirinya. Oleh karena itu orang mesti jujur, maka orangpun akan melihat apa adanya dirinya. Dirinya yang cepat putus-asa, tersinggung, iba diri, ambisius, licik, bosan, bingung, emosional dan sebagainya.

Disamping itu dalam belajar juga mutlak harus ada kebebasan. Orang harus bebas dari keterkondisian, bebas dari pandangan atau pendapat, bebas dari kepercayaan, paham, otoritas, ideologi, doktrin apapun. Dengan demikian barulah orang akan dapat mengamati segala sesuatu itu dengan jelas seperti apa adanya. Namun, jika orang berpegang pada satu paham, dogma, kepercayaan atau pendapat apapun, ini ibarat dia melihat bunga mawar merah dengan mengenakan kacamata hitam, maka bunga itu akan tampak coklat warnanya. Dengan demikian orang tak’an dapat melihat fakta seperti apa adanya. Kebanyakan orang dalam melihat selalu memakai kaca mata, namun mereka tidak mengakui atau menyadari. Jika semua orang tidak memakai kaca mata yang artinya mereka benar-benar tidak terkondisi oleh doktrin atau kepercayaan apapun, maka mereka semua pasti berada dalam level kebebasan yang sama, dan mereka tentunya tidak akan bertengkar, tak’an ada pertentangan, karena mereka akan melihat fakta dengan jernih seperti apa adanya. Namun, selama ini tidakkah mereka bertengkar? Lihatlah, permusuhan, peperangan, konflik terjadi dimana-mana antara kolompok, bangsa, ras, agama dan juga terjadi konflik didalam diri setiap orang.

Mungkinkah setiap orang dapat menjadi jujur dan bebas? Jika orang melihat betapa pentingnya untuk menjadi jujur dan bebas, semestinya mereka segera meraihnya. Seperti seorang yang tersesat digurun pasir, setelah beberapa hari ketemu oasse maka dia akan menceburkan diri kedalamnya. Kata-kata tak’an ada artinya untuk mengungkap keindahan, kedamaian, keheningan manakala kejujuran dan kebebasan telah menjadi wujud dari kehidupan.

Hati terasa ringan tanpa khayalan.
Hati menjadi hening tanpa tradisi.
Hati damai tanpa kenangan.
Hati indah tanpa kepercayaan.
Hanya didalam hati seperti ini
akan tumbuh Ratna Kehidupan…!

Ratna Kehidupan

Pagi itu begitu cerah
burung-burung berkicau diselingi kokok ayam jantan bersautan……..
Sorot sinar pagi disela dedaunan
menyentuh embun menimbulkan
sinar berbintang-bintang
udara terasa segar, pagi yang ceria
alam riang gembira….. semalam
barangkali tertidur lelap.
Nun jauh disana……sekuntum
Ratna Kehidupan bersinar
menyaksikan seluruh gerak pagi yang
maha luas dalam pelukan kesunyian dan keheningan nan agung.
Ratna ini tumbuh jauh
didalam dasar hati setiap insan……
Ratna ini mekar mewangi
jika disiram dengan
air kejujuran dan kebebasan.

Kategori:Uncategorized
  1. HR.JUNEP
    4 Maret 2011 pukul 10:58 am

    Guru yang terhormat, dalam belajar kita mulai dengan keterbatasan. Kita berlajan mulai dengan satu langkah dan jatuh ditempat berpijak. Dari satu tempat itu yang menjatuhkan kita dan seolah mengunci kita itulah, kita mulai mengerti bahwa kita harus melangkah lagi agar bisa berjalan dengan seimbang. Kita mulai memandang dengan satu kaca mata karena kita diajar mengenal diri terlebih dahulu. Cara pandang itu adalah cara pandang orang yang mengajar saya. Tidak ada pilihan dan kacamata lain kecuali satu itu. Kebebasan dalam belajar saya peroleh setelah saya merasakan penjara keterbatasan itu. Tanpa mulai dari satu titik, tanpa mulai dari pembatasan, niscaya saya tak akan mencapai keindahan bak pelangi itu. Kita suka sekali dengan konsensus dalam pembelajaran sehingga kalau ada konflik pendapat kita merasa aneh. Kita lupa bahwa keluar dari pembatasan itu akan meberi peluang bagi kita untuk tidak sekedar menjadi pelangi tetapi menjadi taburan bintang bintang berwarna warni bagai gambar abstrak dilangit biru. Setiap orang akan merasa faham tentang gambar abstark itu dan merasakan penghayatan berbeda atas cara pandang yang berbeda. Bukankah alam smesta ini adalah abstrak dan pelangi hanya tampak dibatas pandangan dan lingkungan kita berpijak?. Rahayu.

    • windra
      7 Maret 2011 pukul 1:18 pm

      Pak HR.Junep komen anda sangat indah.
      Saya tak mungkin memulai dari seberang sana, menurut petunjuk orang lain, yg senyatanya tak paham tentang diri sy. Sy mesti memulai dari keterbatasan diri, dari apa adanya sy. Jd hal pertama adlh sy mesti memahami keterbatsan, keterkondisian diri sy. Dlm proses pembelajaran ini langkah demi selangkah berjalan otomatis, krn ini adlh kehidupan, tanpa mesti merasa “harus melangkah”.
      Apabila saya berpegang, mempercayai, memuja sebuah ide, dogma (kaca-mata), bukankah saya semata terjerat oleh pikiran? Apakah pikiran ini milik si-orang suci, guru, nabi atau si-kafir; namun itu tetaplah pikiran/kata2. Bila terjerat pd pikiran, disini tak ada kebebasan, dan sy tak’an pernah berada pd dimensi diluar pikiran.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: