Beranda > Keheningan > SI PARMAN DAN KALIMOSODO

SI PARMAN DAN KALIMOSODO

Si Parman adalah pedagang buah yang suka mangkal di daerah Setiabudi. Karena hampir saban hari aku membeli buah disana akupun akrab. Kalau ada waktu luang kita suka ngobrol ngalor-ngidul.

“Lha, sampean iki wong mBali kok orak beragama? Piye tho”, pertanyaan ini berulang kali diajukan si Parman, setiap kali aku membeli buahnya.

“Parman, apa nggak ada pertanyaan yang lainnya? Aku coba mengalihkan pertanyaannya dengan memilih-milih mangga.

“Tenan, aku heran, sampean ora duwe agama!” “Mestinya sampean adalah islam”.

“Lha, kok iso islam, ora hindu Man?”

“Iyo hindu itu kan islam tho, sampean ora ngerti…..kan?”

“Kok iso Man, hindu itu podo karo islam piye…tho?,” aku bertanya heran juga.

“Sampean tahu Yudistira?……. nah, Yudistira itu nenek monyangnya orang hindu, raja Astinapura itu adalah islam, …….. iyo, hindu kabeh ya islam.” Aku bertambah bingung mendengar ceritra si Parman.

“Sampean pasti nggak tahu kan?……. Didalam senjata Kalimosodonya Yudistira ada dua kalimat syahadat, nah itu artinya Yudistira islam dan hindu semuanya juga islam.”

“Wah kalau gitu aku ini Islam tho Man?” jawabku.

“Aku seneng kalau kamu Islam Yan” si Parman senyum-senyum penuh rasa persaudaraan.

“Tapi nyatanya, aku adalah seorang kafir Man, apakah kamu akan membenci aku Man?”

“Ah, aku tak’an bisa membenci kamu Yan; kamu udah lebih dari seorang teman.” Mata si Parman berkaca-kaca, tanda hatinya trenyuh. “Biar kamu seorang kafir, tapi kamu udah kuanggap seperti saudara,” Parman menambahkan sambil menunduk.

Perasaanku galau melihat kepolosan si Parman, bagaimana aku bisa menjelaskan hal yang sesungguhnya sangat sederhana ini, kepada si Parman yang begitu kuat kepercayaannya pada ceritra tentang Kalimosodo itu…., yang hanyalah trik-trik ki-Dalang untuk meyakinkan sisa-sisa penganut Hindu pada awal masuknya islam.

Namun demikian persahabat, persaudara manusia tidak mesti terputus oleh sekat-sekat pemisah ini. Karena sekat-sekat ini hanyalah fatamorgana yang mengelabui mata-kasih diantara umat manusia. Dunia akan penuh suka-cita, jika hati manusia bisa bebas dari bias fatamorgana ini.

Kategori:Keheningan
  1. kalimatika
    21 Juli 2011 pukul 4:19 pm

    rahayu mas wayan….

    salam dari saya …Kanjeng Kalimasodho….

    • windra
      21 Juli 2011 pukul 6:17 pm

      Terima kasih sudah mo mampir…., semoga sehat dan sukses.
      Salam persaudaraan selalu… Mas Kanjeng Kalimosodho….

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: