Beranda > Keheningan > TIGA BENIH YANG SAMA

TIGA BENIH YANG SAMA

SiA, siB, dan siC masing-masing diberi sebutir biji jagung untuk di tanam dikebunnya.
SiA yang memiliki kepercayaan yang kuat, menanam biji jagung itu diatas batu besar yang keramat, dengan memberi persembahan/sesajian komplit, sambil berdo’a… “Ya tuhan…kumohon padamu agar biji jagung ini tumbuh menjadi pohon jagung emas yang kelak akan berbuah penuh dengan biji-biji emas.” “Berkahilah do’a permohonanku ya…. tuhan…ya allah.”

SiB juga menanam biji jagungnya di lahan yang gersang dan tak pernah merawatnya. Namun dia yang juga beriman, maka dia-pun berdo’a agar biji jagungnya tumbuh subur.

Sementara siC barangkali seorang kafir menanam biji jagungnya TANPA DOA’. Dia menanam pada tanah yang gembur, memberinya pupuk dan menyirami dengan air secukupnya.

Apa yang terjadi dengan tanaman jagung siA, siB dan siC…..? (Sanatana-dharma) Hukum alam bekerja dengan pasti; apa adanya. Walau siA dan siB, memiliki kepercayaan dan telah berdoa dengan persembahan setiap hari; namun tetap saja biji jagung yang ditanam diatas batu dan dilahan yang kering itu tak bisa tumbuh……, bukan? Jika seseorang berjalan dipagi hari kearah timur dan pulang kembali setelah siang, maka se-sampainya dirumah anak-istrinya bisa jadi bingung dan kaget, kenapa mukanya yang putih berubah menjadi merah kecoklatan?

Apabila kita sungguh memahami realita ini, hukum alam ini (sanatana-dharma), maka tak’an ada keraguan, kecemasan, harapan, khayalan dan lain-lainnya. Orang akan dapat menatap dunia ini dengan penglihatan yang baru, dengan jernih seperti apa adanya. Kita sering mendengar atau juga menggunakan kata “apa adanya”, tapi kebanyakan dari kita tak sungguh-sungguh paham. Ini bukan hal yang sepele. “Apa adanya” hanya bisa terjadi dalam keheningan batin. Jika batin Anda hening dalam satu detik, maka Anda akan melihat apa adanya selama satu detik, apabila keheningan batin Anda berlanjut selama satu jam, Andapun melihat apa adanya dalam satu jam. Ketika kata-kata ini tertuang, kita melihat kata-kata ini mengalir apa adanya, tanpa tujuan, harapan apa-pun. Kata-kata ini semata tertuang.

Namun do’a dan harapan yang merupakan rasa takut Anda yang terselubung tak pernah membuat batin Anda menjadi hening….., inilah suatu hal yang sangat bersahaja namun sulit dipahami. Padahal inilah hal yang paling mendasar yang mesti dipahami. Jika orang tak memahami ini, maka dia tak’an pernah menjadi hening sehingga tak’an dapat melihat apa adanya.

Setelah memanen jagungnya si-C pagi-pagi terbangun. Dia melihat halaman rumahnya menjadi baru, sejenak dia terkesima..…, hal ini berlangsung hanya beberapa detik saja. Ini terjadi karena dalam batinnya tak ada kenangan tentang hari-hari yang lalu, tak ada kepercayaan apa-pun. Batinnya betul-betul kosong, sehingga disitu ada keheningan yang membuat objek yang dilihatnya seperti baru. Ketika pikiran mulai bergerak masuk maka keheningan itupun berakhir dan halaman rumahpun kembali seperti biasa.

Melihat “apa adanya” adalah melihat dari keheningan batin. Melihat yang “bukan apa adanya” adalah melihat dari batin yang terkondisi oleh kenangan masa lalu, oleh kepercayaan, dogtrin, harapan dan rasa takut.

Pada umumnya tindakan kita adalah reaksi dari keterkondisian kita. Sehingga tindakan kita, penglihatan kita tak pernah bersifat baru. Dari kondisi ini kita sering merasa bosan, jenuh, bingung, hampa. Dari kehampaan, kebosanan ini orang mencari pelarian, dengan mengejar dan melekati banyak kesenangan, hiburan dan sebagainya. Dan hiburan ini kita klasifikasikan, ada yang bersifat duniawi dan ada yang bersifat spiritual. Yang bersifat duniawi kita anggap rendah sedangkan yang bersifat spiritual kita anggap mulya. Namun baik hiburan yang rendah maupun yang mulya tak’an mengantar kita pada keheningan, hanyalah pada kesenangan…., bukan?

Semua bentuk hiburan adalah pelarian bersifat semu dan sementara yang membawa orang pada ketidak-tahuan. Bila orang melarikan diri, maka dia kehilangan kesempatan untuk menghadapi realita dirinya dan otomatis kehilangan kesempatan untuk memahami dirinya. Dan ini hanya memperkuat kepercayaan, harapan dan rasa takut. Disinilah siA dan siB terjerat, sehingga dia percaya bahwa dengan berDOA biji jagungnya akan tumbuh, dan menghasilkan banyak emas/uang. Jadi UANG-lah yang dipuja-puja, karena dengan uang orang dapat membeli banyak kenikmatan.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: