Beranda > Keheningan > TSUNAMI YANG MASGUL

TSUNAMI YANG MASGUL

Sang Tsunami sangat masgul hatinya ketika para dewa bersujud dan memohon dengan sangat agar dia membatalkan niatnya untuk bertirtayatra kepuncak Gunung Agung atau kepuncak Semeru.

Sang Tsunami merasa sedih dan kecewa dengan ketidak-adilan para Dewa yang selalu memihak mahluk manusia. Selama ini mahluk manusia telah biasa bertandang kewilayahnya bahkan ada yang berkunjung kehabitatnya di dasar samudra dengan membawa kapal selam. Dan mahluk-mahluk manusia yang serakah ini juga telah mencemari habitatnya dengan melakukan percobaan nuklir dan membuang segala sampah kimia yang beracun. Dan kini para Dewa justru menghalangi keinginannya untuk berdarma-wisata, jalan-jalan……. maka sang Tsunami pun berteriak jengkel, “ini tidak adil….. ini tidak adil…..!

Sementara itu mahluk manusia didarat sangatlah ketakutan mendengar issu akan niat sang Tsunami berjalan-jalan ke pantai Kuta, pantai Sanur dan ke Hotel Nusadua, maka mereka beramai-ramai membuat sesajian persembahan untuk menyuap para Dewa membujuk sang Tsunami agar mau membatalkan maksudnya berjalan-jalan. Namun para Dewa tidak punya kuasa pada sang Alam termasuk juga sang Tsunami.

Jika di amati, ada dua hal mendasar yang lekat pada diri manusia, yaitu ketakutan dan kepercayaan. Ini bagaikan sekeping mata uang logam, satu sisinya bergambar rasa takut dan sisi lainnya berwajah kepercayaan. Cetakan ini telah memberi warna dan bentuk yang kental dan pekat pada kepribadian manusia umumnya yang seolah-olah telah menjadi entitas karakternya. Sehingga tanpa mata uang logam yang bergambar ketakutan dan kepercayaan ini manusia sepertinya tidak bisa hidup. Orang tidak melihat dan menyadarinya, mereka telah menjadi terbiasa dengan rasa takut dan kepercayaan. Hal ini barangkali karena telah terbentuk sejak puluhan bahkan ratusan tahun, sejak masih dalam kandungan nenek moyangnya, sehingga gensnya pun telah kental dengan gambar mata uang logam ini.

Beberapa dari mahluk manusia ini berperan sebagai orang yang katanya mendapat pewisik, atau yang disebut paranormal yang mampu melihat hal-hal yang akan terjadi, dan yang lainnya mempercayai. Lakon ini mereka mainkan terus menerus di dramatisir dengan bermacam bumbu penyedap, sehingga layak jual dan laik terbang untuk menjadi issu yang meresahkan.

Dapatkah kita bersama-sama mengamati, melakukan penyelidikan kenapa kita makhluk manusia ini memiliki dua hal ini, yaitu ketakutan dan kepercayaan yang saling terkait. Kenapa manusia begitu gampang mempercayai segala issue, kejadian-kejadian tertentu atau berita apapun? Seharusnya mereka sudah banyak memperoleh pelajaran, dari pengalaman, atau kepercayaan mereka kepada hal-hal yang katanya misterius, atau tentang pewisik, wahyu, fenomena alam dan sebagainya. Namun sampai saat ini mereka tetap saja seperti dahulu, hidup dalam penderitaan, ketakutan dan kepercayaan.

Tidakkah sebaiknya setiap orang bertanya pada dirinya sendiri, kenapa mereka mesti takut dan percaya? Jika orang jujur, diapun akan melihat kebodohannya. Namun orang tak pernah berlaku jujur, dia tak mau mengakui diri bodoh, dia malu dengan kebodohannya, karena itu berusaha untuk menutupi dengan berbagai cara. Dan orang-orang tertentu seperti yang disebut pemuka masyarakat, agamawan, para pendeta berlagak tahu segala, termasuk tahu kehendak dewa, makanya mereka mengatur semua keperluan dewa dengan dalih rasa bakti. Dan orang akan merasa terhormat, berbangga, jika bisa ambil bagian didalamnya, menyesuaikan diri untuk memulyakan rasa takutnya lewat kepercayaannya dengan rituilnya. Para pemuka inilah sebagai motor dan provokator dalam mempropagandakan kepercayaan dengan segala sublimasinya.

Jika orang mau bersungguh hati, meluangkan diri untuk memandang, barangkali mereka akan dapat melihat kesia-siaan dari jerih payahnya, kepalsuan dan penipuan dirinya dalam pengejaran yang tidak pernah mereka pahami. Namun selama ini orang malas, tak pernah menyelidiki, mempertanyakan, mereka hanya menerima dan percaya saja semua dogtrin dan otoritas, lebih-lebih jika yang mengatakannya seorang, pendeta, paranormal, guru suci, agamawan dan sebagainya, yang mereka anggap tahu. Padahal otoritas ini hanyalah pendapat orang purba yang ditulis lewat buku atau lontar yang belum tentu relevan dengan kebenaran. Jika tidak, kenapalah mereka masih berkubang dalam lumpur penderitaan, ketakutan dan kepercayaan.

Jika orang menolak percaya kepada semua dogtrin dan otoritas orang-orang yang dianggap pintar ini, apa yang terjadi? Dia akan berdiri sendiri, dia akan berhadapan dengan seluruh masyarakat yang selama ini selalu membenarkan dan menyesuaikan diri dengan norma, tradisi yang penuh ketakutan. Namun jika orang tidak menolak, dia akan terus hidup dalam ketakutan yang berarti kebingungan, penderitaan, kebodohan dan seterusnya. Inilah fakta yang ada. Dan kebanyakan orang memilih menyesuaikan diri, agar hidup aman yang bersifat semu dan dangkal. Jika orang sadar telah memilih hidup seperti itu, “itu hak” tetapi tidak sedikit dari mereka yang tidak menyadari bahwa hidupnya dalam ketakutan dan kegelapan. “Sadarkah mereka?” Jika sadar, mereka tak’an ketakutan.

Tetapi begitu ada berita tentang Tsunami, hampir seluruh masyarakat ketakutan, bingung dan secara otomatis membuat persembahan, memohon agar Dewa, Tuhan melindungi dirinya. Dapatkah orang mengamati dirinya, tindakannya? Kenapa mereka berbuat demikian? Wajar, jika orang takut pada seekor ular berbisa, namun takut pada sesuatu yang tidak diketahui? Dan, kenapa juga mereka percaya bahwa jika memberi persembahan kepada para Dewa akan diselamatkan? Apabila orang belajar yaitu mengamati setiap tindakannya, bukankah kepercayaan bersumber dari rasa takutnya? Dan rasa takut itu ada karena orang tidak mau kehilangan kenikmatan yang telah memberi kepuasan, kebanggaan selama ini, karena itu dia berusaha untuk terus mempertahankan. Kenikmatan pisik maupun non pisik yang berujung rasa takut.
Demikianlah dari keserakahan dalam mengejar kenikmatan dan dalam usaha untuk mempertahankan kenikmatan ini, maka muncullah rasa takut dari ketidak pastian pada masa yang akan datang dan merekapun mengajegkan doa dan rituil yang diyakini akan melanggengkan kenikmatannya. Demikianlah kepercayaan dibangun dari rangkaian rasa takut akan hilangnya kenikmatan.

Namun fakta adalah ketidak kekalan. Adakah orang yang sungguh-sungguh tahu pasti? Apakah Tsunami akan datang atau tidak? Dapatkah para Dewa mengaturnya? Tak ada seorang yang tahu akan hal ini, dewa sekalipun!
Buah pepaya rasanya manis sementara daunnya pahit; tak ada mantera atau ritual apapun bisa membalikan, sehingga buahnya menjadi pahit dan daunnya terasa manis. Demikian juga doa dan mantera tak akan dapat menahan fakta, benturan lempeng didasar samudera, atau pelepasan energi pada episentrum tektonik, yang bisa menimbulkan gempa dan tsunami. Jika orang memahami hal ini kepercayaannya pun berakhir. Dan ini merupakan awal dari tindakan belajar yaitu semata mengamati apa adanya.

Dari pada orang bercemas diri dan memohon, adalah lebih baik memahami ketakutan dan kepercayaan yang telah membeban- pengaruhi batin, sehingga selamanya orang akan terbebas darinya.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: