Beranda > Keheningan > AYAT YANG LEMAH

AYAT YANG LEMAH

“Jalan yang manapun engkau tempuh, datang menuju kepadaKu, akan kuterima”.

Ayat diatas tertulis dalam sebuah kitab suci, dimana dalam forum dialog antar-seumat, ada lontaran yang menilai bahwa ayat diatas sangat lemah.

Kenapa kita menilai ayat diatas sangat lemah? Ini terjadi karena adanya pembandingan dengan ayat-ayat pada kitab suci umat yang lainnya, yang barangkali berbeda seratus delapan puluh derajat. Disamping itu juga, karena kita sama sekali tidak pernah mau melakukan pengkajian lebih mendalam, tentang ayat-ayat itu.

Diantara kita mungkin banyak yang berbicara, atau berpandangan yang bersifat universal. Mungkin juga banyak yang berteori dan mengucapkan ‘we’re the world’…, atau agamaku adalah agama universal. Ucapan-ucapan atau pandangan seperti ini, kedengarannya sangat mengesankan, mulya, penuh rasa kasih sayang terhadap semua umat manusia. Ini barulah sebatas terori, namun senyatanya…..? Setiap orang mestilah menengok kedalam diri masing-masing. Sudahkah pernyataan-pernyataan itu sungguh-sungguh dihayati….? Atau barangkali kita menginginkan, mengharapkan yang lain….?, sesuatu yang dapat kita banggakan, yang memberi kita perasaan puas dan senang.

Seandainya kita mau sedikit saja berdiam, dan melihat dengan kesungguhan, dengan jeli… tentu kita akan melihat kegundahan, ketidak-puasan, kekecewaan dalam diri kita. Tahukah kita, kenapa kita bingung, tidak puas, kecewa, dan lain sebagainya? ‘Saya bingung karena saya mengharapkan suatu kepastian, saya kecewa, karena saya menginginkan kepuasan.’ Dambaan, tuntutan saya inilah yang membuat saya kecewa, resah dan gundah.

Salahkah, jika kita mendambakan sesuatu? Tiada yang salah dengan keinginan kita, namun seyogianya kita mesti menyadari segala hal yang terkait dengan keinginan itu. Jika keinginan tak sampai, kita akan kecewa…., lebih jauh mungkin kita akan mencari kambing hitamnya…, dan mungkin timbul kebencian dan seterusnya. Atau mungkin saja Anda dapat menghibur diri dengan berkata, “ah, kali itu emang belum rejeki gue,” namun rasa kecewa itu telah mengiris dan menyesakan dada Anda. Jika hal ini sering-sering terjadi, bisa terjadi cronic hiccup yang tak terobati.

Namun dalam forum dialog diatas ada anak muda yang urun-pendapat yang mengesankan,…. ”bagi saya, ayat diatas itu sangat luar biasa,” katanya. “Ayat diatas memberi keluasan, kebebasan kepada seluruh umat manusia untuk membaktikan seluruh hidupnya pada kehidupan ini. Dan ini adalah inti-sari seluruh kebijaksanaan dari semesta-raya.” Walaupun ayat itu mengajarkan tentang kebebasan dan memberi saya kebebasan, namun demikian saya tak’an beranjak dari sini, karena saya melihat, dari ayat itulah terbentang jalan yang luas dan lurus dimana saya dapat melangkahkan kaki dengan ringan tanpa beban otoritas dan jeratan dogma.”

Pembandingan hanyalah memperkuat dualitas. Pembandingan memunculkan suka dan tak-suka, senang-sedih. Jika kita tak dapat melampaui ini, mau tak mau kita akan berjalan berjingkat-jingkat dan melompat-lompat. Kita melangkah berjingkat untuk menghindari lumpur atau kotoran kambing yang bau. Dan kita melompat untuk meraih kenikmatan hidup. Dalam melompat ini kita bisa saja tersandung orang lain, karena merekapun mempunyai keinginan yang sama. Disinilah kita berada, bersaing secara sehat maupun tidak-sehat. Karena persaingan ini sampai-sampai kita tidak dapat mencermati makna yang terkandung dalam ayat diatas.

Ketika kita telah menjadi budak dari keinginan-keinginan, termasuk kebanggaan-kebangaan kita pada kitab-kitab suci, tanpa sadar kita telah terdogtrinisasi dan kita akhirnya menjadi fanatisme, terjebak pada kebanggaan sehingga tak dapat menyelami intisari dari sanatana-dharma (eternal cosmic law). Bila kita telah begitu lekat pada kebanggaan maka kita akan terus berusaha untuk mempertahankan yang sudah ada dan meraih yang lebih nikmat (ini kecendrungan manusia umumnya), maka kita bagaikan baling-baling yang mesti terus berputar kencang dan kencang dan keceng. Dengan demikian kobaran api-keinginan kitapun semakin menggelora, syukur-syukur hanya membakar jenggot sendiri, tapi kalau percikan apinya sampai meludeskan rumah tetangga…, nah lho?

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: