Beranda > Keheningan > SI BURUNG WALET

SI BURUNG WALET

Pernahkah anda memperhatikan burung-burung walet yang terbang disore hari menjelang senja? Dia terbang meliuk-liuk, mengepak sayapnya dengan gesit, tak henti-hentinya dengan kecepatan tinggi, seakan-akan menabrak setiap obyek disekitarnya. Namun tiba-tiba dia meliuk kekiri atau kekanan dengan gerakan yang indah sekali. Sambil terbang dia memangsa setiap serangga terbang yang keluar dari pepohonan.

Walet-walet ini tidak bermaksud memamerkan kebebasan ataupun kemampuan terbangnya, namun dia hanyalah semata-mata terbang. Sebaliknya jika seorang manusia terbang (sukses) dia akan memamerkan diri. Dan hal ini membuat dirinya sama sekali tidak bebas. Dia telah membelenggu dirinya sendiri dengan kebanggaan dan kebanggaannya telah memperkokoh kesombongan dan keangkuhannya. Sementara itu siwalet terbang bebas, hanyalah terbang, dia betul-betul bebas karena tak ada kebanggaan, kesombongan ataupun maksud tertentu.
Janganlah orang mengartikan kebebasan itu secara dangkal, bebas berbuat sekehendak hati, menghalalkan semua cara untuk mencapai keinginan dalam mengejar kesenangan dan kenikmatan. Yang mana hal ini justru mengikatnya yang membuat dirinya tergantung pada kenikmatan. Kebebasan siwalet hanyalah bebas, yaitu kebebasan tanpa motifasi.
Jika orang secara batiniah masih lekat pada pikiran dan perasaan yang menginginkan; apakah hal itu bersifat material atau non material seperti kebanggaan, kehormatan, martabat, reputasi dan sebagainya, termasuk keinginan menjadi orang yang beriman, religius, orang suci atau orang berbudi luhur sekalipun, maka jelaslah mereka belum bebas. Demikian juga jika batin dibeban pengaruhi oleh suatu kepercayaan, otoritas atau dogma, maka hal inipun adalah jerat yang tak disadari.
Barangkali setiap orang ada baiknya bertanya pada diri masing-masing, adakah kiranya mereka menghendaki kebebasan? Karena dari faktanya kebanyakan orang takut bebas, terbang melayang seperti siburung walet. Orang takut meninggalkan sangkar tempatnya mengurung diri. Orang takut meninggalkan kurungannya. Sangkar kepercayaan yang seolah-olah telah memberi rasa aman, perlindungan, keselamatan dan rejeki selama ini. Namun jika orang terkurung dalam sangkar kepercayaan ini, dia tak’an bisa terbang bebas seperti walet itu. Nah, pilihan sepenuhnya tergantung kepada diri masing-masing, apakah orang mau bebas atau terkurung? Dibawah ini ada sebuah sajak tentang Sang Biduan Hati……… yang berkelana bebas mengarungi samudera kehidupan.

SANG BIDUAN HATI
Ditengah sebuah sungai yang luas…
sebuah perahu tua sedang berlayar.
Perahu tua itu penuh dengan orang-orang namun kosong dari kehidupan.
Dunia disebut orang akan perahu tua itu………Pada suatu pagi
Sang Biduan Hati lewat disana….
berceritra tentang kebebasan dengan sangat bersahaja. Orang-orang yang cukup dewasa mendengar dengan penuh perhatian, sambil mengangguk-nganggukan kepala…dan berkata, “kami dapat mengerti apa yang tuan maksud, namun bagaimana dengan
rumah-rumah sembahyang kami, tradisi kami,dan dewa-dewa kami?”
“Siapa yang akan selanjutnya mengurus?”

Sang Biduan Hati mengangkat kedua pundaknya dan berlalu. Orang-orang diperahu tua itu kembali asyik bernyanyi dan menari diiringi musik dengan suara yang sumbang.
Kapan hari mereka sembahyang dan berdoa dirumah sebahyangnya dan hari lain mereka berjudi ditempat itu juga. Kapan hari mereka bernyanyi dan berceritra tentang Lubdakha yang terjaga, namun hari-hari mereka tertidur dalam pesta-ria sampai lelap oleh arak dan candu. Mereka tak pernah menyadari perahu kehidupannya mulai karam.
Inilah peta kehidupan mereka. Namun mereka tak pernah melihat dan mengamati peta ini. Kalaupun ada yang melihat, orang enggan mengakui dengan jujur, karena dia terlibat didalamnya dan telah menjadi bagiannya. Dan mereka merasa seolah-olah telah bertindak sesuai dengan kehendak tuhan.
Para pendetanya menganjurkan agar mereka lebih giat dan lebih banyak melakukan upacara dan ritual, karena dengan demikian tuhan akan memberkahi dan mereka akan mencapai Mokshatham Jagaditham, katanya. Bukankah fakta dan pernyataan ini bertolak seratus delapan puluh derajat? Apakah yang dimaksud Mokshatham? Bukankah kebebasan? Mungkinkah kebebasan dicapai dengan mengurung diri pada sangkar kepercayaan?
Beberapa dari mereka ada yang bisa membaca kitab-kitab, berceritra tentang malam shiva, berceritra tentang turunnya ilmu, kemenangan dharma atas adharma, tentang kasih diantara manusia dengan mottonya tatwamasi, dan banyak lagi yang lainnya, tetapi tindakan hidup mereka sangat bertentangan.
Bagaimanakah mungkin orang yang lekat pada kesenangan, apapun bentuknya; judi, minuman, sex, morphin, dan sebagainya, akan sampai pada jalan kebebasan. Demikian juga sama halnya dengan hiburan kepercayaan dengan ritualnya, hanya kedengarannya lebih mulia, karena norma masyarakat telah memberi label demikian. Faktanya, bukankah ritual juga memberi perasaan nikmat, ketika semua yang telah dilakukan, sepertinya telah diterima dengan senang hati oleh tuhan? Dan orang merasa puas, karena mereka menyangka telah dapat membuat tuhan senang. Namun dibalik semuanya, ada harapan agar tuhan berbaik hati memberi mereka berkah dan rahmat. Bukankah permohonan adalah harapan, adalah ambisi yang diucapkan dengan bahasa agar kedengaran sopan?
Mungkinkah ini terjadi? Mungkinkah orang yang ambisius, yang serakah, yang selalu mengejar kesenangan, yang lekat pada kenikmatan, yang tergantung dan terbelenggu erat oleh kepercayaan yaitu wujud terselubung dari rasa takutnya, akan mencapai Moksha yaitu kebebasan?
Jika orang memiliki kesederha-naan batin, dia akan dapat melihat fakta ini dengan sangat jelas, sejelas mereka melihat burung-burung walet yang terbang disore hari.
Mungkinkah orang dapat mencapai kebebasan (moksha) jika dia tidak menapakan kaki pada jalan ini? Mungkinkah orang mencapai moksha kalau setiap tindakannya justru menjerat batinnya sendiri pada hal-hal yang membuat dia lekat, terikat dan tergantung. Hal ini tak’an pernah terjadi, bukan? Namun masalahnya adalah batin mereka terlanjur ruwet, rumit, terlanjur pintar, merasa tahu, atau sudah menjadi tumpul, jenuh oleh rutinitas, sehingga tak dapat melihat diri sendiri yang terkondisi, lekat, terjerat oleh rasa takutnya!
Jika hal ini belum dipahami, biar orang memiliki seribu kepercayaan, seribu dewa lengkap dengan upacara dan ritual yang megah, orang tak’an pernah sampai pada sang jalan yang mengantarnya pada kebebasan (moksha).

Kategori:Keheningan
  1. 27 Juli 2014 pukul 4:11 am

    Asking questions are truly fastidious thing if you are not understanding something totally, but this paragraph offers
    good understanding yet.

    • 29 Juli 2014 pukul 8:59 pm

      We can find the answering behind the question…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: