Beranda > Keheningan > LELLAAODDAN!

LELLAAODDAN!

Di suatu hari Rabu, ibu-ibu PKK pada suatu Desa Adat yang jumlahnya sekitar tiga ratusan orang sibuk mempersiapkan diri dalam rangka penyelenggaraan suatu parade. Mereka semua menghias diri sebaik-baiknya agar nampak lebih cantik dan menawan. Memang sebetulnya mereka semua adalah cantik, karena mereka semua adalah perempuan. Namun mereka seperti tak menyadari kecantikannya, keperempuanannya, sehingga mereka merasa perlu berhias diri lebih.

Dalam parade ini mereka menjunjung diatas kepala masing-masing sebuah persembahan (‘rayunan‘) yang ditaruh dalam sebuah ‘dulang’ yang telah dihias apik dengan janur. Mereka semua kompak dan serasi dalam kostum tradisionalnya serta persembahan yang terhias indah diatas kepalanya, menjadikan semua ibu-ibu PKK tampil mempesona. Parade yang bersifat seremonial ini merupakan kelengkapan dari suatu ritual. Dan dengan disertai iringan orkestra ‘bleganjur’, membuat suasana bertambah meriah sehingga membangkitkan gairah rasa senang para pesertanya.

Upacara-upacara persembahan ataupun parade seperti ini identik dengan kehidupan beragama masyarakat setempat yang merupakan bentuk dari rasa ‘bhakti‘ mereka kepada Yang Maha Esa. Perwujudan atau pengungkapan rasa bhakti seperti ini, barangkali dianggap sebagai hal yang paling tepat, karena barangkali mereka tak pernah memikirkan yang lainnya. Adakah semua yang dilakukan itu sungguh-sungguh ‘pengejewantahan’ dari rasa bhaktinya? Pernahkah orang mengamati dan bertanya-tanya dari kedalaman hatinya? Apa sesungguhnya rasa bhakti atau bhakti itu? Adakah orang telah melakukan penghayatan dalam segenap hatinya sehingga setiap tindakannya penuh bhakti adanya? Bukankah para bhakta sejati mesti memiliki loyalitas dan dedikasi yang tinggi serta mendalam akan kecintaannya pada Tuhan yang artinya kepada segenap kehidupan? Dan ini mestilah didasari oleh ketulusan hati yang berlandaskan kemurnian batin? Jadi hal ini bukanlah sesuatu yang remeh, yang dangkal, yang harus dipamerkan dalam suatu parade ataupun dalam kontes persaingan yang mengejar kebanggaan dan kesenangan, dimana semua itu hanyalah menuntun orang pada peng-ajegan egoistis. Untuk memahami hal ini orang mesti ada kesungguhan dan kejernihan dalam hatinya, jika tidak persepsi tentang bhakti ini akan selalu gelap.

Apakah sungguh-sungguh ada bhakti dalam pameran parade yang meriah itu? Orang mesti jujur bertanya dan melihat kedalam diri masing-masing! Bukankah disana, didalam hati ada rasa senang, rasa puas, rasa bangga, rasa pamer, dan persaingan? Para pemuka, pemrakarsa tentu merasa bangga dan puas, karena telah mampu menggiring dan mengatur orang untuk memamerkan rasa bhaktinya. Dan hal yang paling berat, bukankah dalam pameran rasa bhakti ini ada ketakutan yang terselubung? Orang takut jika berbeda, takut dikucilkan. Orang takut pada otoritas, yang dibebankan oleh para pemuka, pendeta, pemimpin agama yaitu orang-orang yang dianggap atau menganggap diri berhak menetapkan doktrin atau ketentuan tradisi yang dianggap benar dan perlu dilestarikan.

Jika orang dengan jernih, mempertanyakan dan mengamati, apa perlu rasa bhakti itu dipamerkan? Apabila orang sungguh-sungguh menghayati bhakti dalam hidupnya, batinnya mestilah berada dalam ke-murnian; dalam hatinya mesti ada ketulusan dari kesederhanaan; keloyalan kasihnya pada kehidupan mesti terwujud dalam setiap tindakan hidupnya. Jadi, bukan pengejaran kebanggaan, kesenangan, bukanlah rasa pamer dalam persaingan. Semestinya setiap orang telah banyak belajar dari sekian banyak pengalaman dalam hidupnya. Dengan telah dilakukannya sekian banyak, sekian lama, sekian macam persembahan, upacara, ritual dan parade; dengan menghabiskan sekian banyak waktu, sekian tenaga dan material; namun adakah masing-masing orang telah memiliki ketulusan, kesederhanaan hati, kemurnian batin, keloyalan dalam tindakannya? Sudahkah hati masing-masing orang bersih dari rasa sirik, iri-hati, licik, serakah, benci, tipu musliat dan sebagainya itu? Jika belum, mungkinkah dengan ‘melellaodan’, bhakti dapat mewujud dalam dirinya? Dengan cara apapun orang berusaha memamerkan bhaktinya, maka pamer bhakti ini tak’an pernah mewujudkan bhakti, bukan?

Jika orang dapat memandang dirinya dengan jujur, tentulah dia akan dapat belajar banyak. Hal ini barangkali sulit, karena kita sangat sulit untuk jujur. Tak apalah, orang boleh melihat fakta diluar dirinya. Bukankah orang lebih suka menggunjingkan orang lain dari pada melihat kejelekkan diri sendiri? Dari fakta inipun orang akan dapat belajar banyak, jika dia dapat memandang, mengamati dengan serius, dengan kemauan yang besar. Namun orang tak memiliki kemauan, keseriusan untuk melihat, yaitu belajar, mereka hanyalah menggunjing, karena selama ini, kebiasaan ini telah memberi kesenangan dan menjadikan mereka tergantung untuk terus menggunjing.

Kebiasaan-kebiasaan telah menjadi tradisi. Orang telah terbiasa dengan semuanya, walaupun mereka terjerat dalam kecemasan, kesedihan, penderitaan, kehampaan dan sebagainya, yang disebabkan oleh tidak terpenuhinya keinginan dalam mengejar kesenangan, kebanggaan dan kemapanan hidupnya. Dalam kebingungan oleh gelapnya hidup, mereka hanya bisa memohon, berdoa dengan wujud rasa bhaktinya yang penuh ketakutan, kepalsuan; yang telah dilakukan turun temurun dari puluhan bahkan ratusan tahun, namun merekapun tetap dalam gelapnya ketakutan dari ketidaktahuan. Mengapalah orang tidak bertanya dan menyelidik; apakah tidak ada jalan lain, jalan yang dapat membebaskan dirinya, keseluruhan hidupnya dari penderitaan?

Sekali lagi, rasa bhakti itu adalah mewujudnya kemurnian batin, ketulusan hati, dalam tindakan yang penuh loyalitas yang dalam dan menyeluruh akan kasih serta cintanya pada Tuhan, dan kecintaannya pada seluruh kehidupan. Maka dari itu, hal yang paling mendasar adalah manusia mesti membersihkan dirinya dari semua kotoran batin, sehingga menjadi murni dan tulus. Jika orang tidak meletakkan fundamen ini dalam dirinya, maka dengan cara apapun mereka mewujudkan rasa bhaktinya tidaklah bernilai. Namun dalam pamer bhakti yang diwujudkan lewat upacara, ritual, parade, orang justru mengotori batinnya dengan rasa bangga, dalam persaingan dan ketakutan terselubung. Rasa bhakti yang dipamerkan dengan segala ketentuan yang mengikat sesungguhnya bukanlah bhakti, karena disini tidak terkandung kemurnian, ketulus-iklasan dari kebebasan batin. Yang ada adalah sampah batin, yang terus dipupuk, direkayasa, dan dipaksakan.

Sangatlah banyak rintangan pada jalan bhakti ini. Orang mesti membuang onak dan duri, serta segala sampah busuk yang menghadang yang melekat pada batinnya. Untuk itu orang mesti menyimak dan mengamati seluruh bidang batinnya yaitu cabang dan ranting dari pikiran, emosi serta ambisinya yang selalu mengejar kebanggaan, kenikmatan, persaingan dan sebagainya. Orang yang sampai kepuncak, tentulah memiliki spirit dan kemauan yang kuat dalam pendakiannya. Juga dalam bertindak dia mesti effisien, makanya haruslah ada kesederhanaan batin yang mendalam. Hal ini akan menjaga dan memberi energi pada dirinya sehingga dia dapat belajar. Namun tradisi dengan segala ketentuan, dogma, dan otoritasnya telah menghancurkan kesederhanaannya, menguras energinya, menjerat kebebasannya dan yang tersisa hanyalah batin yang loyo dan tumpul. Batin seperti ini tak’an dapat belajar yaitu menjadi waspada.

Pengamatan dari saat ke saat adalah tindakkan kewaspadaan. Tindakkan kesadaran batin yang waspada, akan memurnikan dan memperbaharui dirinya. Penyelidikan yang konstan ini adalah belajar tanpa akhir sehingga orang selalu berada pada level persepsi yang murni dan jernih. Dengan demikian batin selalu segar, sehat, murni, ringan dan bebas. Hanya dalam batin seperti inilah pohon bhakti itu tumbuh asli subur. Berbunga harumnya ketulusan kalbu dan berbuah manisnya kemurnian batin.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: