Beranda > Keheningan > BENIH ADALAH BUAHNYA

BENIH ADALAH BUAHNYA

Saya ingin mengulang sebuah cerita. Pada sebidang tanah yang sama, seorang petani menanam dua benih. Satu benih adalah tebu, dan yang satunya lagi neem, adalah tanaman tropis yang pahit.

Dua benih ditanah yang sama, air yang sama, matahari yang sama dan udara yang sama. Alam memberi nutrisi yang sama pada kedua tanaman itu. Kedua tanaman itupun mulai tumbuh. Apa yang terjadi? Tanaman Neem tumbuh dan berkembang dengan rasa pahit disetiap seratnya. Dan Tebu tumbuh dan berkembang dengan rasa manis disetiap seratnya. Mengapa Tuhan begitu baik pada yang satu dan begitu kejam pada yang lainnya.

Alam tidak kejam pun tidak baik. Namun Alam bekerja dalam kuhum yang pasti, /SANATANA DHARMA (eternal cosmic law). Alam hanya membantu agar benih-benih itu bertumbuh. Alam memberi nutrisi untuk mengungkap sifat-sifat tanaman itu. Benih Tebu yang memiliki sifat manis, oleh karenanya tanaman itu tak bisa lain kecuali manis. Dan Neem yang memiliki sifat pahit, oleh karenanya tanaman itu tak bisa lain kecuali pahit. Sebagaimana benihnya demikian pula buahnya.

Si Petani karena kepercayaannya, pergi ke pohon Neem, memberi persembahan bunga-bunga, buah-buahan, lilin dan dupa, seraya membungkuk 3X dan mengelilingi pohon Neem itu 108X, sambil berdo’a dan mengucap mantra. “Oh dewa Neem, berilah aku buah mangga yang manis!!! Aku ingin mangga yang manis.” Kasihan dewa Neem yang malang itu, dia tak punya kuasa untuk memberikan buah mangga yang manis.

Apabila seseorang ingin buah mangga yang manis, dia mesti menanam benih mangga yang manis, sehingga dia tak perlu menangis memohon kepada dewa yang manapun.

Kenapa kita sangat sulit melihat realita dalam hidup ini? Hal ini sangat bersahaja bukan? Barangkali karena kebodohan saya, yang selalu sembrono dalam menanam benih. Saya selalu menanam benih Neem dan pada saat berbuah, saya menginginkan buah yang manis, dan itu tak terjadi. Maka itu saya menangis dan memohon kepada langit. Permohonan yang bodoh ini tak’an pernah memberi saya buah yang manis, bukan?

Saat ini saya tinggal di Denpasar, jika saya ingin ke Negara, saya mesti menapakan kaki saya pada sang jalan yang menuju ke Negara dan mulai melangkah. Apabila saya melangkah pada jalan yang benar menuju ke Negara, saya pasti sampai ke Negara. Doa permohonan saya tak’an pernah bisa membawa saya ke Negara, jika saya melangkah menuju Karangasem.

Keheningan itu ada jika saya tertib. Ketertiban ada jika saya memahami ketidak-tertiban dalam diri saya. This is meditation!

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: