Beranda > Keheningan > NI LAYON SEKAR

NI LAYON SEKAR

Kisah cinta dari kehidupan Ni Layon Sekar dan I Jayaprana telah dijadikan lakon dalam pentas kesenian klasik seperti Arja dan Drama, juga telah dijadikan tembang-tembang dalam pesantian. Kisah cintanya demikian melankolis dan dramatis. Jika seniman drama atau si penyanyi dapat melakoni atau melagukan kisah ini dengan baik, tentu banyaklah penonton meneteskan air matanya.

Kenapa kisah-kisah cinta mengharu-birukan perasaan manusia? Dapatkah orang menyadari dirinya yang telah dihanyutkan oleh perasaan ini, yaitu perasaan iba-diri ketika mendengar atau menyaksikan lakon-lakon semacam itu? Telah banyak dikarang atau diceritrakan kisah-kisah cinta serupa, seperti: Romio and Yuliet, Sakuntala, Cleopatra, Sampiek-Ingtei dan lain sebagainya. Kisah cinta dalam karangan, mau-pun kisah-kisah cinta yang nyata yang terjadi dalam drama kehidupan ini hanyalah merupakan bagian kecil yang menghias pada permukaan kehidupan manusia. Segala duka dan kepedihan yang terjadi adalah tindakan dari keinginan manusia untuk meraih dan mempertahankan kenikmatan. Kisah-kisah cinta dari kehidupan ini telah menciptakan kepedihan, kesengsaraan, kebencian, permusuhan dan kebingungan dalam sejarah manusia.

Sang Raja yang mengasuh I Jayaprana semenjak kecil, sangatlah menyayanginya. Namun rasa sayang dan cinta-kasih sang Raja berganti jadi cemburu dengan hadirnya Ni Layon Sekar. Dan cinta Ni Layon Sekar yang amat sangat kepada I Jayaprana berubah jadi kepedihan yang dalam dan akhirnya bunuh diri. Apa artinya semua ini? Adakah cinta itu identik, dan atau dapat berubah menjadi rasa cemburu, kesedihan, keputus-asaan, atau nafsu birahi?

Apakah sesungguhnya makna cinta itu? Para guru suci menganjurkan agar orang menumbuhkan dan memelihara perasaan cinta-kasih dalam dirinya, namun bagaimana mungkin orang dapat melaksanakan anjuran ini, jika dia belum jelas dengan apa adanya cinta-kasih itu?

Sebelum memasuki persoalan ini, haruslah ada suatu kejelasan bagi kita bahwa kata “cinta” bukanlah bendanya. Diskripsi tentang cinta bukanlah fakta yang dilukiskan. Hal ini dari awal mestilah jelas, jikalau tidak penjelasan sebanyak apa pun, betapapun cerdik dan indah bahasanya, tidak akan dapat membuka hati bagi kedalaman dan kemurnian cinta kasih. Orang harus sungguh-sungguh jelas dalam memahami hal ini, bukanlah hanya berpegang pada kata-kata semata. Kata-kata memang bermanfaat sebagai alat untuk berkomunikasi, namun untuk membahas sesuatu yang tidak nyata, yang bersifat non-verbal, bahasa tidaklah memadai. Maka dari itu harus ada satu kemupakatan, pengertian bersama dan kejernihan persepsi sedemikian rupa, sehingga setiap orang merasakan dan menyadari hal yang sama pada saat yang bersamaan, dengan segenap pikiran, hati nurani dan perasaannya. Jika tidak, orang hanya bermain sebatas kata-kata belaka, maka dia pun tidak dapat memahami kesejukan, kesegaran dan kemurnian air oasse cinta-kasih ditengah padang pasir yang tandus itu.

Bagaimanakah orang dapat melakukan sentuhan pada sesuatu yang tak teraba, yang tidak dapat tersentuh oleh pikiran? Seyogyanya orang mestilah melangkah secara perlahan, dan mengamati dengan cermat. Barangkali orang bisa melihat dari arah yang berlawanan yaitu dari bukit tandus kehidupan, atau melihatnya dari apa yang bukan cinta kasih. Dengan demikian kemungkinan dia akan dapat melihat apa adanya cinta kasih itu. Dengan penyangkalan ini orang mungkin akan menemukan yang positif, namun jikalau orang dengan sengaja mengejar yang positif, tindakan yang sengaja ini, dapat membawanya pada satu kesimpulan, dimana hal ini justru memperkuat titik-pusat yaitu “sipenyimpul” (pikiran). Ini akan menimbulkan keterpisahan, pertentangan, dan hal ini jelas bukanlah cinta kasih, sebab di dalamnya ada konflik, perselisihan, kekerasan dan kekejaman.

Pikiranlah yang memiliki dasar dari sifat-sifat memecah-belah. Pikiran juga yang mengejar kesenangan, kenikmatan dan mempertahankannya. Pun pikiranlah yang memupuk keinginan. Jika orang melihat rumah mewah yang indah, maka timbul rangsangan, “wah,…itu bagus”. Lalu timbul keinginan untuk memilikinya. Kemudian timbul upaya untuk mendapatkannya. Semua itu merupakan gerak pikiran yang berpusat pada “sang diri”. Dan titik pusat inilah penyebab dari pemisah-misahan, konflik, permusuhan, kekerasan, kekejaman dan semua kesengsaraan. Pusat ini adalah perasaan adanya si “aku“, yaitu penyebab dari semua masalah. Orang menyebutnya ego atau apapun lainnya. Di mana ada pusat yaitu si “aku” dengan segala kepentingannya, yang dalam semua tindakannya selalu terasing, exklusif, maka disitu pasti ada pertentangan dan konflik. Semuanya ini adalah proses pikiran. Cinta kasih tidaklah berasal dari pusat ruangan ini. Cinta kasih bukanlah pengejaran kesenangan, kenikmatan atau kepedihan dari rasa sakit, perjuangan dan perlawanan, bukan pula kebencian ataupun kekerasan dalam bentuk apa saja.

Kisah cinta-kasih pada kehidupan umumnya, selalu melibatkan unsur-unsur pikiran, “sang aku”. Seperti cinta-kasih orang tua pada anaknya! Si orang tua akan kecewa jika anaknya melawan kehendak atau perintahnya. Si orang tua akan kecewa jika anaknya menjadi orang yang tak berguna (tak berhasil) dalam hidupnya, demikian sebaliknya si anak akan marah atau benci pada orang tuanya jika kemauan dan keinginannya tidak dituruti.
Demikian juga cinta-kasih diantara manusia. Sungguh adakah cinta-kasih dalam hati manusia? Adakah rasa persaudaraan diantara manusia? Semua agama mengajarkan tentang cinta-kasih dengan motto ajaran seperti, ‘Cintailah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu’, ‘Tatwam-asi’ (aku adalah anda), we are the world dan lain-lainnya. Namun tidakkah orang saling membenci? Lihatlah kebencian ada dimana-mana; perang, permusuhan, pertikaian antar bangsa, antara kelompok, partai, agama, antara suku, dan pertikaian didalam diri manusia itu sendiri.
Demikian juga cinta dan bakti manusia pada tuhannya. Memang tak terjadi pertikaian, karena tuhan barangkali tidak memiliki kebencian, namun orang-oranglah yang sering kecewa manakala harapan dan doa permohonannya tak kesampaian. Dapatkah orang menjadi jernih akan hal ini dalam dirinya, sehingga dapat melihat konflik yang komplek dalam kehidupannya? Setiap tindakan apapun yang berdalih cinta-kasih, jika bersumber pada “sang aku” yaitu pikiran yang menginginkan akan selalu menimbulkan konflik, dan ini jelas bukanlah cinta-kasih.
Cinta kasih antara pria dan wanita pada umumnya selalu melibatkan unsur sexual. Apakah cinta kasih identik dengan sexual? Dalam hal ini hendaknya jangan cepat menarik kesimpulan. Karena setiap kesimpulan akan menghalangi penyelidikan lebih lanjut, dan hanya akan memperkuat “sang diri, sipenyimpul”. Pikiran adalah si penopang kenikmatan, berpikir tentang sesuatu yang pernah memberi rasa nikmat, tanpa disadari orang secara otomatis mengembangkan citra nikmat itu. Demikianlah pikiran melahirkan dan membiakan kenikmatan. Berpikir mengenai hubungan seks adalah nafsu birahi, yaitu sesuatu yang sangat berbeda dengan hubungan seks itu sendiri. Yang dipikirkan oleh kebanyakan orang adalah nafsu birahi. Mengidamkan kenikmatan sebelum maupun sesudah seks adalah nafsu birahi, karena idaman ini adalah pikiran. Pikiran bukanlah cinta kasih. Setiap orang haruslah jernih dan memahami hal ini, sehingga dia menemukan peranan seks dalam kehidupan yang luar biasa ini!

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: