Beranda > Keheningan > KELUARGA PENDONGENG

KELUARGA PENDONGENG

KELUARGA PENDONGENG

Adalah sebuah dongeng, yang mendongeng tentang keluarga pendongeng yang suka mendongengkan dongeng-dongeng. Keluarga Pendongen ini hidup rukun. Dari wajah-wajah mereka, ada pancaran kedamaian, kejujuran dan kasih-sayang yang mendalam. Barangkali mereka telah dapat menghayati, dongeng-dongeng yang banyak mengandung makna filosofis yang dalam.

Suatu sore, cucu-cucunya datang merubung si Kakek dan memintanya untuk mendongeng. Si Kakek bertanya…”kemarin kalian dapat dongeng apa dari Nenek kalian?” “Dongeng si Monyet dan si Kura-kura” jawab cucunya serempak. “Dan dua hari yang lalu dongeng apa dari Ibumu?” “Cerita Angling Dharma” jawab cucunya lagi serempak.

Baiklah ini hari kakek akan menceritakan kalian suatu kisah ‘paruman agung pemberian tanda jasa bagi para pahlawan perang Negara Ayodya.’ Hore…cucu-cucunya bersorak senang. Demikianlah si Kakek memulai ceritanya.

Tatkala Dewi Sinta berhasil diboyong kembali ke Ayodya, maka seluruh rakyat Ayodya bersuka-cita. Untuk menghargai keberanian, ketulusan pengabdian para pejuang, pahlawan Bangsa, di medan perang, maka diadakan suatu perayaan besar di ‘alun-alun’ Negara yang dihadiri oleh seluruh lapisan masyarakat. Juga hadir para pahlawan, kerabat Kerajaan dan pula para Guru Agung, Guru Bangsa hadir.

Maka acarapun dimulai. Dari serangkaian acara itu yang paling menarik akan Kakek ceritakan pada kalian…..”dengarkan baik-baik.” Cucu-cucunya yang memang sejak awal telah mendengarkan si Kakek, kini kelihatan lebih serius memperhatikan si Kakek.

Acara itu adalah ketika penyerahan tanda jasa kepada para pahlawan perang. Pahlawan yang paling berjasa dalam perang ini adalah si Kera Putih (Anoman). Anoman dianugrahi tanda jasa langsung oleh Ibu Negara Dewi Sinta. “Anoman, anaku… terimalah tanda kasih Ibumu ini,” seraya beliau melepas kalung mutiara yang menghias lehernya dan memberikannya kepada Anoman. Tepuk-sorak gemuruh menyambut, ketika Anoman menerima kalung mutiara pemberian Ibu Negara Sinta.

Anoman memperhatikan, meneliti kalung itu dari kiri-kanan, atas-bawah, sambil ‘nyengar-nyengir’, dan dia mulai menggigit salah satu dari butir-butir mutiara sampai pecah, sambil mencari-cari sesuatu didalam mutiara itu. Ketika tak menemukan, diapun mulai menggigit butir-butir mutiara yang lainnya satu persatu. Begitu kuatnya gigi Anoman sehingga mutiara yang keras itu pecah-pecah dengan sangat mudahnya, bagaikan kacang-kacang Atom Garuda.

Bayangkan….., para hadirin terhenyak menyaksikan tingkah si Anoman itu. Barang berharga dari Ibu Dewi Sinta…, dihancurkan begitu saja. Tiba-tiba terdengar teguran yang mengguntur dari kursi para Guru Agung. Dia adalah seorang Maha Resi yang PALING PINTER SENDIRI berteriak, “Hei..Anoman, apa yang kau lakukan itu? Aku sangat KEBERATAN dengan kelakuanmu itu. Engkau sama sekali tak menghormat junjunganmu!”

Namun Anoman tak mendengar teguran itu; dia asyik menggigiti butir-butir mutiara yang belum pecah. Sang GURU AGUNG yang suci ini semakin jengkel dan berteriak….., “dasar monyet, apa engkau mengira biji-biji mutiara itu adalah buah lengkeng?”……., Apppp…. app….,

Para hadirin menjadi bingung;  karena pada saat itu, Ibu Dewi Sinta maupun Dewa Rama hanya tersenyum-senyum menyaksikan ulah si Monyet Putih. Si Guru Agung baru menyadari suasana, ketika melihat Dewi Sinta hanya tersenyum-senyum, diapun menahan teriakan yang sudah siap meluncur lagi dari mulutnya ….. app …ap!

Melihat suasana vakuum yang menggiris ini, Dewa Rama pun menegur alus si Anoman…, “anaku Anoman…., berilah penjelasan kepada Guru Agung kita, kenapa engkau berbuat demikian?”

Gimana cerita ini, apa kalian suka? Tanya si Kakek. “Wauw, seru sekali ceritanya Kek”, jawab cucunya yang pertama. “Kenapa Dewi Sinta tidak marah, malah si Guru Agung yang suci itu teriak-teriak marah Kek?” “Seharusnya… kan, Dewi Sinta yang tersinggung hatinya…, dan kenapa seorang Guru Agung yang suci justru berteriak marah-marah?” dia menambahkan pertanyaannya.

“Disinilah cucuku…, kalian mesti belajar melihat realita apa adanya. Janganlah kalian cepat percaya, jangan mempercayai apapun. Walaupun dia itu seorang Guru Agung….., yang barangkali telah berbuih-buih mulutnya, ngomong tentang kesadaran, tentang kebebasan, tentang runtuhnya pikiran, tentang anatta dan lain sebagainya, tiada gunanya mempercayai. Bila kalian percaya, kalian akan berhenti menyelidiki, menggali lebih dalam kedalam diri. Jika kalian mempercayai, kalian tak’an dapat memahami diri, bagi diri kalian sendiri.”

“Apa kira-kira alasan si GURU AGUNG itu berteriak-teriak marah, dan kenapa pula Sinta dan Rama hanya tersenyum-senyum. Dan Sang Anoman itu hanya nyengar-nyengir ketika dibentak dan dimaki ‘dasar monyet’ oleh si GURU AGUNG itu, Kek?”

“Mereka masing-masinglah yang paling tahu tentang diri mereka, cucuku….” “Namun menurut kakek kira-kira karena apa?” tanya cucunya. “Jawaban Kakek tentu tak’an sesuai dengan fakta cucuku. Namun melihat gelagatnya ada beberapa kemungkinan cucuku, kenapa si GURU AGUNG berteriak”, kakeknya menyela. “Kenapa Kek” cucunya mendesak.

“Pertama…, barangkali karena dia melihat si Monyet Putih itu kurang ajar, dengan merusak perhiasan berharga itu, yang berarti si-Anoman tidak bersikap hormat kepada rajanya.” “Kedua, barangkali karena dia berasumsi bahwa seekor monyet itu adalah mahluk bodoh, yang tak tahu mutiara itu adalah barang berharga.” “Ketiga barangkali karena dia merasa dirinya seorang GURU AGUNG YANG PALING PINTER SENDIRI, sehingga merasa berhak berteriak, BERKEBERATAN, dan mencaci maki, berasumsi, mengadili siapa saja, apalagi hanya seekor monyet.”

“Terus kenapa Rama dan Sinta hanya tersenyum-senyum Kek?”…..”Dalam cerita ini Rama dan Sinta bermakna sebagai Cinta-Kasih. Hanya dengan cinta-kasih orang dapat melihat realita apa adanya. Dalam cinta-kasih tak ada kebencian, tak ada kebingungan, tak ada kepentingan. Cinta-kasih itu adalah keindahan, kedamaian, kejujuran, rasa riang gembira yang murni.

“Waoow…. hebat Kek, terus si Monyet itu, apa maknanya Kek?”…… “si Monyet itu adalah lambang kerendahan hati cucuku.” “Orang yang sampai pada kerendahan hati, sudah tak memiliki apapun yang dapat dibanggakan. Dia telah menjadi semiskin-miskinnya orang. Jangankan materi, KEPINTERAN pun dia tak punya. Maka itu tak ada sesuatu apapun yang membuatnya resah.

“Wauoow…..luar biasa Kek.” Maka itu Anoman tidak marah ketika dia dimaki-maki Kek?”….”Ya cucuku, karena sang Anoman telah melihat, memahami sedalam-dalamnya hakikat hidup. Tak ada gunanya dia bermain-main dengan seekor ular berbisa.”

“Wauow! Justru si Monyet yang telah bebas, dan si GURU AGUNG itu….. si ular berbisa itu, malah terjerat oleh kepinterannya sendiri Kek.” “Entahlah cucuku dialah yang paling tahu tentang dirinya.”

“Terus si GURU AGUNG ini kira-kira perlambangan apa dia dalam hidup ini Kek?” “Ya, kepalsuan.”

”Oh, seperti si ‘Cangak Meketu’.” Sela cucunya yang bontot. “Siapa yang mendongengkan dongeng itu pada kalian?” tanya kakeknya. “Bapak Kek”, jawab cucunya serempak. “Ya…itulah cucuku, dalam hidup ini tak sedikit manusia-manusia palsu. Dengan label Guru Suci, mereka mengais keuntungan, baik materi maupun non materi.” “Apa itu non materi Kek?”, tanya cucunya yang kelima. “Non materi itu seperti kebanggaan, kehormatan, perasaan senang karena diposisikan sebagai Guru Agung… ya popularitas.”

“Terus apa jawaban sang Anoman, Kek.”

“Ayo coba kalian tebak apa kira-kira jawaban si Monyet Putih itu?”

Setelah agak lama, cucu-cucunya tertunduk diam untuk mencari jawabannya…… “Gimana tahukah kalian?”, tanya si Kakek. “Nggak tahu Kek”, jawab cucunya yang nomer tiga. Sementara yang lainnya hanya menatap dengan pandangan mata memohon agar si Kakek melanjutkan cerita itu. Mereka ingin sekali mendengar apa gerangan jawaban si Monyet Putih. “Baiklah, dengarkan baik-baik.” si-kakek melanjutkan……

Sambil mencampakan butir mutiara terakhir pecah berantakan karena digigitnya, Anoman pun bersujud dan berkata. “Kenapa Amba memecahkan semua mutiara-mutiara itu?….karena Amba ingin tahu, apakah di dalam butir-butir mutiara itu ada Rama dan Sinta?” “Namun ternyata didalamnya tak ada Rama dan Sinta.”

“WwHa…ha..ha…haaaa…… dasar engkau monyet”, si Guru Agung tertawa mendengar jawaban si Monyet Putih. “Mana mungkin ada Sri Baginda Raja dan Ratu di dalam mutiara-mutiara itu. Tidakkah engkau melihat beliau ada di depan kita?” Kamu ini sungguh-sungguh monyet yang bodoh dan tolol Anoman.” ejek si-Guru Agung.

Anoman tak menghiraukan ejekan si Guru Agung, dia pun melanjutkan dan berkata, “tadinya hamba kira Rama dan Sinta juga ada didalam mutiara-mutiara itu, namun ternyata Rama dan Sinta hanya ada didalam dadaku,” ….berkata demikian seraya si Monyet Putih merobek dadanya. Para hadirin yang menyaksikan ulah si Monyet Putih……. terhenyak…., dan terpesona; manakala di dalam dada si Monyet tampak wajah Rama dan Sinta tersenyum-senyum, memancarkan cahaya illahi yang lembut dan sejuk. Suasana menjadi hening dan sunyi…., hadirin seperti tersihir, dalam keheningan ketika semua pikiran diam.

Menyaksikan realita ini si Guru Agung pucat wajahnya…., ada sedu-sedan menggigil menyesak dada dan tenggorokannya. Rama dan Sinta menggapai, mengelus-elus kepala dan pundak si Monyet Putih.

Si monyet nyengar-nyengir terbuai dalam kedamaian, bagaikan seorang anak kecil bermanja akan kasih-sayang seorang ibu yang telah lama dirindukannya. Seru seluruh alam penuh suka-cita, matahari meredupkan sinarnya, angin sepoi-sepoi berhembus sejuk, bunga-bunga dan pucuk-pucuk pohon bergoyang menari, diiringi kicau riang burung-burung. Vibrasi keheningan tersentuh dan menyelimuti alam sekitarnya.

Keheningan itu berakhir, manakala pikiran ingin tahu, diapun bergerak. “Apakah yang terjadi?” Demikianlah pikiran memulai geraknya dengan sebuah pertanyaan. Dari pertanyaan yang tak memperoleh jawaban, maka kebingungan-pun muncul. Mereka pun bergantian menatap Rama-Sinta dan Rama-Sinta yang ada di dalam dada si Monyet. Mereka tak’an pernah memahami kenapa ada hal seperti itu?

“Apakah makna dari semua kejadian dalam cerita ini Kek?” tanya cucunya yang pertama.

“Mutiara itu adalah lambang materi (kekayaan) yang dikejar oleh semua manusia. Dan di dalam materi itu tak dapat ditemukan cinta-kasih maupun kebahagiaan. Jadi materi tak’an pernah memberi kebahagiaan, namun materi dapat memberi manusia kesenangan atau kenikmatan.” “Hendaklah kalian cucu-cucuku paham akan hal ini; kesenangan itu tidaklah sama dengan kebahagiaan.”

“Kebahagiaan, cinta-kasih, kedamaian, keheningan hanya bisa ada didalam dada si Monyet Putih yaitu si Kerendahan Hati.” “Hanya didalam kerendahan hati yang tulus hal itu terwujud.”

by wayan windra

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: