Beranda > Keheningan > RITUAL DAN CARU

RITUAL DAN CARU

Ritual apapun hanyalah bersifat simbolis yang harus dipahami maknanya dan orang harus mengayati inti sarinya dalam kehidupan.

Pertemuan diawali dengan pembahasan sebuah artikel pada Majalah Saradh. Artikel ini menceritakan tentang kisah kedatangan pertama kali Resi Markendya di Bali, dimana katanya 400 orang pengikutnya meninggal karena wabah penyakit. Resi Markendya kemudian melakukan meditasi, dan katanya mendapat wahyu, bahwa pulau Bali adalah pulau yang unik. Setiap orang yang datang ke Bali harus melakukan persembahan korban atau Caru, kalau tak ingin mendapat musibah. Demikianlah sejak saat itu di Bali berkembanglah segala macam ritual yang mewah maupun yang sederhana (nista, madia dan utama).

Sebelum melakukan pengamatan dan penyelidikan lebih jauh tentang apa dan kenapa orang melakukan ritual, khususnya caru, apa sesungguh arti dari kata caru itu? Caru berasal dari kata sansekrit yaitu Ca dan Ru. Ca berarti noda atau kotor, Ru berarti menghilangkan. Jadi kata caru berarti yang menghilangkan noda, kotoran atau caru juga dapat diartikan menjadikan indah lestari.

Dalam ritual ini biasanya orang melakukan korban dengan membunuh binatang-binatang, dengan harapan akan memperoleh kesucian dan keselamatan. Korban yang dilakukan beragam, tergantung dari besar kecilnya jenis caru. Dan orang hanya menerima hal ini begitu saja tanpa pernah mempertanyakan. Pernahkah orang bertanya atau menyelidiki, kenapa dan apa sesungguhnya yang terkandung dibalik semua ritual ini? Orang melakukan penyemblihan terhadap binatang-binatang, bahkan menurut ceritra dahulu-kala konon sampai mengorbankan seorang anak manusia.

Sungguhkah caru atau ritual apapun dapat menghilangkan noda atau kotoran baik lahiriah maupun batiniah, dan menjadikan orang indah lestari, atau memberi kesucian dan keselamatan pada kehidupan? Jika orang jujur, dan mau mengamati apa yang terjadi disekitar, semua ritual tidak memberi manfaat apapun. Dalam hal ini orang tak pernah jujur, karena dia telah menjadi bagiannya, maka orang enggan mengakui fakta apa-adanya. Kenapa?…….. Para peserta dialog tak segera dapat menjawab. Ada jawaban, “karena ini warisan leluhur, orang harus hormat kepada leluhur, yaitu dengan melestarikan warisannya”. Ada lagi alasan yang lain, “orang tak mungkin melepaskan diri dari tradisi yang ada, karena pengaruh lingkungan demikian kuat, dominan dan kadang arogan”. Yang lainnya menjawab, “ini memang sudah demikian (gugon tuwon)”. Yang lainnya hanya diam menunggu……………….

Selama ini sebagian besar orang hanya melakukan saja segalanya yang dianggap benar menurut tradisi (yang dianggap agama). Namun kalau mau jujur, sering terjadi perbedaan pendapat berkenaan dengan peraturan maupun prakteknya dalam melaksanakan kaidah-kaidah tradisi; walaupun ini masih dalam lingkungan desa adat yang sama. Dan apapun perbedaan maupun kekurangannya pada akhirnya, “jadilah”. Bagaimana orang mengartikan semua tindakan ini? Pada suatu saat orang ngotot, menyalahkan atau membenarkan, “ini seharusnya begini dan itu tidak boleh begitu”….. dan pada saat berikutnya mandah saja. Bukankah ini pertanda dari kebingungan dan orang sesungguhnya tidak mengetahui kebenarannya.

Pernahkah anda memperhatikan orang-orang yang sedang melakukan kegiatan sebagai persiapan ritual? Cobalah perhatikan dengan diam, sungguh-sungguh diam, yaitu dimana lahir dan batin tidak ikut terlibat dalam pekerjaan itu. Tidak ada pendapat apapun tentang ritual itu. Maka anda akan melihat seolah-olah baru pertama kalinya melihat. Anda akan melihat orang-orang tua itu seperti kanak-kanak yang sedang ‘bermain dagang-dagangan’. Ada seorang Acharya yang bernama Sri Yukteswar Giri yaitu murid dari murid Baba Khan (Babaji), Lahiri Mahasaya, menyebutkan bahwa ritual sejalan dengan ketidak-tahuan kalau ini kita terjemahkan dengan bahasa yang sopan bukankah artinya ritual sama dengan kebodohan?

Tokoh Parisada Bapak Drs. I Ketut Wiana pernah memaparkan tentang ritual mencaru ini. Pada saat penampahan Galungan orang memotong Babi, Ayam atau apapun yang lainnya. Ini hanyalah merupakan simbol-simbol, untuk memenangkan Dharma atas Adharma. Yang diharapkan setiap orang mestilah membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada didalam dirinya, yaitu membunuh malasnya yang disimbolkan sebagai babi, membunuh keserakahannya yang disimbolkan sebagai ayam atau membunuh kerakusannya yang disimbolkan sebagai anjing dan sebagainya.

Pada awal jaman kehidupan manusia, tidak ada tradisi atau ritual apapun. Manusia melewati hidup dengan nalurinya. Mereka hidup dalam kebersahajaan. Namun lambat laun, dari mala-petaka dan musibah yang dialaminya, tumbuhlah rasa takut pada diri manusia. Berawal dari sinilah manusia semakin tidak berdaya, dan dia mulai mencari perlindungan pada sesuatu tak berwujud yang mereka percayai memiliki kekuatan. Demikianlah manusia mulai mencipta dan merekayasa bentuk dewa-dewa pelindung sesuai dengan ilusinya masing-masing. Terjadilah penyembahan berhala. Dari sinilah cikal-bakal tradisi yang pada awalnya dilakukan dengan sangat sederhana, namun lambat-laun berkembang dan berkembang, dan menjadi beban dalam kehidupan manusia. Jadi tradisi ini tidak mempunyai dasar pada yang hakiki. Karena kenyataannya hal ini bisa saja ditambahkan atau dikurangi. Melihat kenyataan ini orang seyogianya telah paham dengan jelas betapa semua tradisi atau ritual apa-pun tidak sama dengan agama/religi?

Sudahkah orang belajar dari fakta yang ada? Belajar yang benar haruslah mempertanyakan, menyelidiki, sehingga sampai pada satu pemahaman. Namun orang tak pernah menyelidiki atau mempertanyakan, orang hanya menerima dan percaya bahwa ini harus dan wajib. Ini adalah tindakan orang yang dalam ketakutan, terdoktrinisasi, dan dalam kebingungan. Swami Vivekananda menyatakan bahwa tujuan agama adalah untuk membebaskan manusia dari kebodohan, penderitaan, dan rasa takut. Setelah sekian banyak orang melaksanakan tradisi dan ritual, apakah orang telah bebas dari hal-hal tersebut? Dapatkah ritual, upacara dan tradisi ini membebaskan batin orang dari kebodohan, penderitaan dan rasa takutnya? Justru sebaliknya bukan……?

Jika orang mau sejenak meluangkan diri untuk bertanya, mengamati dan menyimak kedalam diri dan kehidupan ini, barangkali akan terbuka suatu tabir yang bisa memberi jawaban. Barangkali orang akan mampu melihat gelapnya kepercayaan yang selalu melempar bayang-bayang kedalam hatinya. Inilah hal terpenting yang mesti dipahami, sehingga orang bisa menjadi bebas dari bayangan gelap ini secara total? Tidakkah selama ini kepercayaan dengan ritualnya justru memberi beban-pengaruhi dan menjerat batin kedalam segala rasa takut, kecemasan, kebangggaan, persaingan, kebingungan, dan sebagainya…..? J. Krishnamurti bertanya, “seandainya tidak ada rasa takut dalam diri Anda, apakah Anda akan masih mempercayai rituil…?” Krishnamurti juga mengatakan bahwa meditasi tak pernah berarti berdoa. Doa permohonan lahir dari rasa iba-diri. Orang meminta, bila dalam kesulitan, tetapi sebaliknya jika dia bahagia, gembira, permohonan pun tak ada. Dari kebingungan ini manusia menangis dan memohon kepada surga atau kepada suatu dewa buatan akal budi manusia. Permohonan ini mungkin akan mendapat jawaban, namun jawabannya adalah gaung dari rasa iba-dirinya dalam keterpisahan, kepedihan, dan kecemasan mereka”. Memahami persoalan ini dengan jernih jauh lebih penting dari pada melakukan segala macam ritual. Namun bagaimana orang dapat memahami jika dia tidak pernah dan tidak mau belajar.

Untuk dapat belajar orang harus sungguh-sungguh berminat, harus ada kemauan yang besar, semangat serta energi. Jika tidak, orang tak’an dapat mokhsa yaitu kebebasan batin dari segala beban pengaruh tradisi, kepercayaan yang telah mengkondisi dengan sangat kuat dari puluhan bahkan ratusan tahun. Dan orang mestilah melakukan penyelidikan, mempertanyakan, menyangsikan bukan mempercayai sehingga akan sampai pada suatu pemahaman, dan dengan demikian orangpun melihat dengan jelas apa adanya hakekat hidup ini. Pemahaman akan hakekat ini adalah CARU yang hakiki, yang membersihkan segala kekotoran batin, sehingga didalam batin Anda ada KEINDAHAN yang tak terlukiskan dengan kata-kata.

Kategori:Keheningan
  1. HR.JUNEP
    23 Februari 2011 pukul 11:56 am

    Guru matur suksme atas pencerahan ini. Semoga kita semua dapat membebaskan diri dari kebodohan yang senagaja dipelihara untuk kepentingan duniawai oleh fihak yang mencari keuntungan. Salam.

  2. windra
    23 Februari 2011 pukul 1:26 pm

    Jangan berlebihan Pak HR, kita semua adalah murid2 yg mesti berlajar sepanjang hidup. Bila ada pembelajaran kita akan terbebas dari segala dogma dan berhenti mempercayai apa-pun. Semoga tulisan2 kecil ini dpt memencrikan cahaya2 kecil yg memberi suluh dalam kehidupan kita. Salam hangat dan persaudaraan.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: