Beranda > Keheningan > SALAH BUNDAKAH?

SALAH BUNDAKAH?

Seorang remaja tetangga berteriak-teriak, “ngapain lho bikin anak yang banyak, tapi lho tidak mengurusnya dengan baik!”
“Diurus bagaimana lagi, kemampuan keluarga kita hanya begini” , jawab ibunya dengan nada yang nolongso,
“Lho lihat tho anak tetangga, semua pakai sepeda motor……., gue cuma kereta angin” teriak sang anak penuh emosinal.

Ungkapan “bukan salah bunda mengandung”, menjadi kontroversial. Jika tak ada yang salah kenapa terjadi demikian banyak kesengsaraan dan konflik dalam kehidupan manusia. Mereka kebanyakan mengalami konflik dengan segala sesuatu di sekitarnya, pun konflik yang berada dalam diri mereka sendiri. Orang berbicara tentang tatanan alam yang sifatnya selaras, tetapi nampaknya hanyalah manusia satu-satunya binatang yang melanggar ketertiban ini dengan membuat begitu banyak kesengsaraan bagi mahluk lain dan bagi dirinya sendiri.
Suatu sore ada dua ekor cecak saling bertarung didinding, tapi mereka cepat pisah dan berdamai, sedangkan manusia secara terus menerus berperang dengan diri sendiri dan dengan orang lain sebagai beban batin sepanjang masa. Pernahkah orang bertanya-tanya dalam hatinya apakah ada kemungkinan dia berada dalam kedamaian dengan dirinya sendiri, sehingga dirinya juga harmonis dengan segala sesuatu di sekitar dirinya?
Jika orang melihat hamparan sawah yang luas dipagi hari dimana kabut mulai memudar, kicau burung dan kokok ayam dikejauhan, akan timbullah satu perasaan di kedalaman lubuk hatinya bahwa dia harus menemukan suatu cara hidup yang lain, yaitu hidup tanpa adanya pertikaian terus-menerus dalam dirinya sendiri dan juga konflik dengan dunia. Mungkinkah keselarasan ini dapat terwujud atau yang ada hanyalah kekacauan yang terus menerus? Dapatkah ketidak-selarasan diubah menjadi keselarasan?
Namun apabila orang tidak mempertanyakan dan hanya mandah menerima saja, maka dia pun harus menerima segala hal yang dibiarkan terjadi oleh masyarakat yaitu peperangan, persaingan, konflik, keserakahan, kekerasan manusia yang kejam. Wajarkah ini? Dapatkah keadaan ini menimbulkan keselarasan?
Jika diamati, ada fakta tentang batin manusia yang penuh konflik dengan segala perjuangannya yang ruwet, dan fakta yang lainnya yaitu dambaan dari batin, nurani manusia yang membutuhkan ketertiban, keharmonisan, kedamaian, keindahan, dan cinta kasih.
Orang tentu melihat konflik dalam dirinya, dan inipun ada dalam masyarakat, hal ini sangatlah kompleks. Selama ini orang telah melakukan berbagai cara, mencari penyebab dari kekalutan yang ada dalam dirinya maupun dalam masyarakat. Mereka percaya bahwa dengan menerapkan suatu metode barangkali akan dapat membebaskan batinnya dari kekalutan itu. Proses ini telah dilakukan oleh kebanyakan orang, tapi tak seorang pun dapat diandalkan. Manusia telah membuat bermacam cara dengan disiplinnya, ritual dengan aturan upacaranya, dengan harapan dapat menyelesaikan masalah-masalah hidupnya. Namun hasilnya tidak ada, tidak membawa perubahan.
Melihat fakta ini, apakah tidak ada kemungkinan suatu pendekatan yang lain terhadap problema ini? Metode dengan pergulatan serta segala daya upaya untuk bisa bebas dari problema sudah menjadi tradisi. Semua cara, metode adalah pendekatan tradisional. Dalam pendekatan tradisional ini pikiran selalu terlibat. Dan seperti yang terjadi, pendekatan pikiran yang tradisional ini menciptakan lebih banyak kekalutan dan konflik. Maka masalahnya bukanlah bagaimana cara mengakhiri kekalutan, tetapi ada kecendrungan untuk mempertanyakan, “apakah batin dapat melakukan pengamatan lepas dari cara tradisional, yaitu tanpa suatu metode apapun?”
Untuk lebih jelas, ada fakta tentang konflik, ini adalah fakta nyata. Pendekatan tradisional terhadap fakta ini ialah dengan metode dan mencoba menemukan penyebabnya dan berusaha mengendalikan, menekan, mengalihkan atau mengatasi penyebab itu. Ini adalah pendekatan tradisional dengan segala disiplinnya, latihannya, pengendaliannya, penekanannya serta sublimasinya. Manusia telah melakukannya beribu-ribu tahun lamanya. Hasilnya tidak ada. Dapatkah kita meninggalkan cara ini seluruhnya dan mengamati problema itu secara lain sama sekali—yaitu tidak berusaha untuk lepas bebas darinya, atau berusaha memecahkannya, atau mengatasinya, atau lari darinya? Dapatkah batin melakukan hal ini, yaitu langsung menghadapinya?
Janganlah orang cepat menjawab! Karena hal ini adalah sesuatu yang hebat sekali. Ini membutuhkan kesungguhan perhatian yang menyeluruh. Janganlah orang mengira dapat mengesampingkannya dengan gampang, hanya dengan berkata “saya setuju.” Inilah yang telah membangun struktur dari batin setiap orang. Mencari enaknya saja. Jika orang sungguh-sungguh memahami semuanya ini secara non-verbal, bisakah batin itu sekarang benar-benar membebaskan dirinya sendiri dari tradisi? Karena cara tradisional untuk menghadapi konflik ini tidak pernah dapat memecahkannya, justru malah menambah konflik: “karena bersifat kejam (ini konflik), diberi lagi tambahan konflik yaitu dari upaya untuk menjadi tidak kejam.” Semua moralitas sosial dan semua petunjuk keagamaan bersifat tradisional. Bisakah orang melihatnya?
Dapatkah orang melihat sekarang? Dengan memberi seluruh kesungguhan perhatian, kita sampai pada satu pemahaman, dan dengan menolak segala pendekatan tradisional ini, maka bagaimanakah keadaan batin yang sebenarnya sekarang ini? Sebab keadaan batin jauh lebih penting ketimbang konflik itu sendiri.
Kalau orang benar-benar telah melepaskan semua pendekatan tradisional, maka diapun melihat, menyadari perubahan batinnya? Hanya ada dua kemungkinan. Salah satu dari dua: apakah orang sudah atau belum melepaskannya. Kalau sudah, orang akan mengetahuinya. Jika sudah, maka batinnya telah dibuat polos bersih (innocent} untuk mengamati problema. Orang dapat mengamati problema itu seolah-olah untuk pertama kalinya. Dan jika dia melakukan itu, apakah sebenarnya memang ada problema itu? Namun karena orang mengamati dengan penglihatan yang lama, dengan metode, maka problema tidak hanya diperkuat tetapi juga bergerak pada rellnya yang sudah mapan.
Jadi yang penting adalah bagaimana orang mengamati problemanya—apakah dia mengamati dengan penglihatan baru atau penglihatan lama. Penglihatan yang baru telah bebas dari tanggapan terkondisi terhadap problemanya. Bahkan memberi nama kepada problema melalui pengenalan pun adalah pendekatan tradisional. Membenarkan, menyalahkan ataupun menerjemahkan problemanya dalam istilah suka dan tak suka, semuanya itu terlibat dalam pendekatan tradisional yang sudah merupakan kebiasaan untuk berbuat sesuatu terhadap problema itu. Ini yang umumnya disebut tindakan positif terhadap problema. Tetapi apabila batin menyingkirkan semuanya itu karena memahami bahwa hal itu tak ada gunanya dan tidak bijaksana, maka batin menjadi sangat peka, amat sangat tertib, serta bebas.
Namun hal ini tidaklah gampang, batin manusia yang telah terkondisi selalu saja berusaha melihat dan bertindak dengan cara lama yang selalu melibatkan pikiran. Cara atau metode yang dibuat oleh pikirannya, selalu saja berpijak pada pikiran yang menginginkan, baik disadari atau tidak. Setiap kata adalah pikiran, manakala orang berkata harus menjadi manusia yang berbudi, pernyataan ini telah menyulitkan dirinya. Hal ini berarti dia tetap saja mengamati dengan penglihatan yang lama yang ingin ikut campur, ingin berbuat sesuatu demi apa yang dilihatnya. Berhentilah berbuat demikian, sebab semua daya upaya apa pun yang dilakukan termasuk pendekatan tradisional hanya menambah konflik. Dengan melihat, memahami hal ini orang akan menjadi bersahaja dalam melihat. Itulah mukjizat persepsi—melihat dengan perasaan serta pikiran yang benar-benar bersih dari masa lampau. Peniadaan masa lalu adalah tindakan yang paling positif. Hal ini memang tidak mudah, namun orang harus menapakan kakinya sekarang juga dalam kehidupan kini.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: