Beranda > Keheningan > OBROLAN “NGAYAH”

OBROLAN “NGAYAH”

Obrolan dengan seorang saudara yang barusan pulang dari Jakarta. Di kampong kami kebetulan ada Upacara Adat / “Karya” yang lumayan besar, dengan anggaran milyardan rupiah. Bukan hanya dari segi dana namun kegiatan “ngayah” (kerja dengan landasan rasa bakti yang tulus-iklas) yang menyita waktu dan tenaga juga cukup besar.

“Ayo Man…., kita “ngayah” mumpung kamu ada dirumah”, ajakku. “Siapa tahu, “Ida Betara sweca” (tuhan memberkahi), sehingga badanmu yang tambun ini bisa turun beratnya, dan kamu bisa bertambah sehat”, aku menambahkan sambil sedikit berseloroh. Saudaraku ini memang overweight, untuk jalan sendiri saja susah apalagi “ngayah” gotong-gotong ini dan itu, tentu tak’an mampu.

“Aku baru keluar dari Rumah Sakit dan pulang ke Bali ini maunya istirahat Yan, tapi melihat orang kampung yang sibuk “ngayah” aku jadi tak enak, mending aku balik ke Jakarta aje”, jawab saudaraku.

Obrolan kami berlanjut sekitar upacara/”karya agung” dan “ngayah” ini. Barangkali banyak saudara-saudara yang lain yang pernah tinggal di luar Bali seperti juga saudaraku, mulai mempertanyakan, kenapa kita terjerat didalam upacara-upacara ini? Adakah upacara-upacara ini sungguh-sungguh memberi manfaat bagi kehidupan kita? Apakah kita harus menerima saja semua dogma, otoritas ini? Haruskah kita……….? Masing-masing dari kita mesti menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas bagi diri kita sendiri. Jika kita tidak menemukan jawabannya, maka selamanya kita akan hidup dalam kebingungan. Jika orang hidup dalam kebingungan, maka tindakannya akan gamang dan menjadi kacau-balau.

Pandanglah satu contoh nyata dalam praktek “ngayah” ini. Sebagian besar umat beranggapan bahwa upacara ini baik dan benar, dan harus dilakukan. Dengan modal rasa mantap dan keyakinan yang kuat ini, kita sepakat untuk melakukan upacara. Ditengah perjalanan, ketika kita mulai merasakan tekanan berat, “ngayah” siang hari dan “mekemit” (jaga/begadang) di malam hari, kitapun mulai goyah. Sebagian orang yang memang punya rasa tanggung jawab, sungguh-sungguh “ngayah”, namun tidak sedikit juga yang mengindar dengan berbagai alasan untuk mencari kemudahan bagi dirinya. Belum lagi yang punya kepentingan pribadi akan memanfaatkan kesempatan (aji mumpung). Dalam peristiwa-peristiwa seperti ini secara nyata kita melihat kekacauan, kegaduhan didalam batin setiap orang, walaupun konsepnya bahwa “menangun karya” (melakukan upacara) ini adalah “mehening-hening” (dilandasi ketulus-iklasan dari keheningan batin).

Namun pertentangan bagi yang punya kepentingan pun terjadi, menjadi issue dari mulut kemulut. Dari panitia penggalian dana, diadakanlah “budaya judi ceki”, (sejenis judi se-tempat yang sudah membudaya), namun yang suka tajen menuntut agar juga digelar “budaya tajen” (judi sabung ayam). Proyek kecil-kecilan pun ditenderkan; dari jualan “banten” (sarana upacara), pengadaan bamboo “penjor” (bamboo yang di-hias sebagai symbol gunung atau kemakmuran) beserta perlengkapannya; pengadaan babi guling (babi panggang sebagai persembahan), “betutu” bebek, ayam, dan lain-lain jadi rebutan. Rakyat yang secara ekonomi pas-pasan;…. ya hanya bisa “pecik pelengan” (menekan pelipis karena rasa penat).

Saya kira dimanapun diadakan upacara-upacara, akan terjadi hal-hal yang tidak jauh berbeda, yaitu kegaduhan didalam batin setiap orang. Kalau kita jujur, mengakui apa adanya, senyatanya kegiatan upacara-upacara ini sama sekali tidak membawa kita pada keheningan batin, seperti yang kita kehendaki. Dari realita ini semestinya kita melihat dan menyimak; namun kebanyakan dari kita tak’an dapat melihat karena kita terlibat didalamnya, dan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kegaduhan itu.

Dapatkah kita BERHENTI sejenak dan DIAM; cobalah amati…., hidup ini amat-sangat sederhana, namun kita telah membuatnya menjadi susah dan ribet, dengan upacara-upacara yang ruwet agar batin kita gaduh…..! Sungguhkah kita menghendaki keheningan, mokshatam (kebebasan batin dari segala pikiran)…? Jika iya….., kenapa tindakkan kita berlawanan arah….!

Kesederhanaan adalah keindahan,

Keindahan adalah kepekaan,

Untuk peka harus diam

Diam adalah keheningan

Inti kasih adalah kebersahajaan.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: