Beranda > Keheningan > IMAN dan RASA TAKUT

IMAN dan RASA TAKUT

Apa yang kita maksud dengan keimanan? Mengapa kita harus beriman pada sesuatu? Beriman itu adalah kepatuhan pada kepercayaan. Kenapa kita harus patuh pada kepercayaan? Pernahkah kita menanyakan hal ini pada diri kita?

Sejak kecil kita telah dicekoki dengan berbagai dogtrin, otoritas, konsep-konsep dan tanpa disadari kita menerima hal itu sebagai suatu kepercayaan. Yaitu kepercayaan kepada sesuatu yang kita tidak ketahui dan sama sekali tidak kita pahami.

Guru di sekolah maupun Guru pesantian menceritrakan kita tentang segala sesuatu; “Lihatlah, bulan-bintang-matahari… siapa yang menata itu semuanya diangkasa, kalau bukan Tuhan?” “Lihatlah, bagaimana pohon bertumbuh dengan batang, akar, cabang, daun-daun, bunga dan buahnya… semua itu bersumber dari sebutir biji yang kecil.” “Lihatlah seekor anak ayam menetas dari sebutir telor, siapa yang menaruh anak ayam itu didalam telor, kalau bukan Tuhan?” Sungguhkah kita tahu TUHAN menaruh anak ayam didalam telor itu…..? Bila kita sungguh paham, untuk apa mempercayai…?

Cerita-cerita ini dikombinasi dengan ayat-ayat dalam kitab yang dipercayai, dan secara terus menerus dijejalkan kedalam otak kita, semenjak kanak-kanak sampai gede, dan apa jadinya? Lengkaplah keterkondisian batin kita dengan kepercayaannya yang membatu. Dalam menjalani hidup dan semua tindakan kita, adalah reaksi dari batin yang terkondisi ini. Hal ini dapat kita amati didalam diri pun dalam kehidupan disekitar kita. Dan senyatanya ke-imanan, tak membawa kita kemanapun. Kita menjadikan diri hanya berpuas dengan cerita-cerita, dan membiarkan diri terbentuk oleh dogtrin, dan konsep-konsep untuk percaya. Disini sama sekali tak ada proses belajar.

Penerimaan kita, baik disadari maupun tanpa disadari pada ke-imanan ini mesti dipertanyakan? Masing-masing orang memiliki ke-imanan yang berbeda. Jika saya beriman kepada tuhan A, saya akan menolak yang lainnya..B,C,D…Z. Saya hanya akan mendengar dan percaya kepada tuhan A yang senyatanya sama sekali tidak saya pahami. Saya menolak menerima B,C,D…Z, yang adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan semesta alam. Dapatkah saya melihat, menyelami sedalam-dalamnya apa nilai ke-imanan ini? Yaitu ke-imanan saya pada sesuatu yang tidak saya ketahui dan juga bersifat sempit (tidak menyeluruh). Ini adalah pembodohan bagi diri saya sendiri yang telah mengikatkan diri pada satu tiang kepercayaan. Hal ini cepat atau lambat pasti menimbulkan kepedihan dan konflik. Untuk menghindari konflik, saya menggunakan sarana “toleransi”, untuk mengelus dada, jika hati saya bergejolak. Ini adalah penipuan diri yang menghacurkan kejujuran, ketulusan dan kemurnian hati.

Pertanyaan, dan pernyataan diatas tentu akan sangat mengganggu batin saya yang telah berpenggang erat pada iman. Karena hal itu bagaikan pisau silet yang menyayat keyakinan diriku. Saya akan merasa tersinggung, dan barangkali saya tak’an mau melanjutkan untuk membaca tulisan ini. Jika itu keputusanku, maka berakhirlah perjalananku untuk penyelidikan yang lebih kedalam diri. Dan aku akan tetap berada didalam kubangan imanku yang sempit. Dan inilah yang membuat aku bertentangan, berhadapan satu sama lain, karena aku telah memposisikan diri dalam satu kelompok yang aku imani, aku yakini. Dapatkah aku melihat jelas hal ini?… Apabila aku dapat memahami hal ini, barangkali dibenaku akan timbul pertanyaan; “kenapa aku mesti berpegang erat pada iman ini; mestikah aku……?” Janganlah cepat menjawab atau menyimpulkan, bila aku ingin belajar!

Bukanlah pekerjaan yang mudah untuk membuka sebuah buntalan yang telah diikat erat-erat. Dibutuhkan kecermatan, ketenangan, dan kesungguhan hati. Apabila orang dapat membuka, melepas buntalan dirinya, maka dia akan melihat satu persatu isinya yaitu; kecemasan, harapan, dan kebanggaannya. Inilah isi kesadaran yang jika diurai akan mencakup seluruh permasalahan manusia yang bersumber pada pikiran/sang-Diri. Orang merasa cemas, apabila harapannya tidak menjadi kenyataan. Orang merasa senang dan bangga jika harapan/ keinginannya tercapai. Dan orang menjerat dirinya didalam iman/kepercayaan dan berdo’a agar harapannya jadi kenyataan. Orang takut dan cemas kalau sampai mendapat musibah, sakit, miskin, bodoh dan sebagainya, maka itu dia ber-iman dalam do’a. Apabila orang cermat; “dapatkah iman dan do’a ini merubah realita?” Dalam sebuah diskusi seorang teman mengajukan pertanyaan yang ektrim, “kenapa kamu tak berdo’a agar pohon mengkudumu itu berbuah ‘buah mengkudu emas’, sehingga kamu dapat memetik berkilo-kilogram emas?”

Orang mesti menyelami dan menyimak kedalam dirinya dan mempertanyakan setiap kali hatinya ingin berpegang? Kenapa kita ingin berpegang? Berpegang pada iman/kepercayaan, pada tongkat atau pada tiang? Kenapa setelah berpegang, kita merasa mantap, aman dan terlindungi? Kenapa….? Karena kita takut, tak sanggup berdiri, berjalan melakukan ekplorasi diatas kaki sendiri.

Cobalah amati dengan perlahan. Kenapa kita berpegang? Bukankah karena kita takut menjalani hidup yang tidak pasti ini; kita merasa sangsi dengan diri untuk bisa berdiri diatas kaki sendiri, oleh karena itu kita butuh tongkat? Dengan tongkat ini kita merasa mantap; siapakah yang merasa mantap ini? Sudah barang tentu adalah pikiran kita yang membuat jerat “iman dan doa”, untuk menipu dirinya sendiri, agar dia menutup mata pada realita yaitu “ketakutan” didalam dirinya. Jadi masalahnya adalah pikiran/sangDiri merasa takut….., kemudian dia membuat tongkat/agama/metode/doa, untuk berjalan dan selalu berharap. Semua perangkat yang dibuat, kemudian dipegang erat-erat, diyakini, di-imani….., hanyalah memperkuat eksistensi sang-Diri, bukan? Dapatkah kita mengamati, memahami hal ini….?

Orang mestilah memahami secara aktual kecemasan, harapan dan kebanggaan yang membelenggu dirinya. Semua masalah dalam kehidupan kita bersumber dari sini. Apabila orang sungguh memahami maka belenggu itupun patah. Dan disitu mestilah ada kebebasan, kejernihan persepsi. Dengan demikian maka tak’an ada keraguan lagi, orang akan terbebas dari segala perangkap pikiran dan secara otomatis terlempar dan terlepas dari semua pegangan, kemelekatan maupun jeratan.

Kategori:Keheningan
  1. 29 September 2009 pukul 6:49 am

    Itu susah…, walau orang mengerti bahwa semua itu sia-sia, namun mungkin seperti kata-kata berikut:

    saya tidak menyukai semua kepuraan-puraan ini sebagaimana saya tidak menyukai kacang, namun saya tidak dapat berhenti makan kacang
    😀

  2. 29 September 2009 pukul 11:25 am

    Kata-kata apa digunakan bagi diriku yang “tak suka” kacang namun “tak bisa berhenti” makan kacang? Dapatkah kubilang “aku mengerti” atau “aku sidungu?”

  3. Arik
    8 Oktober 2009 pukul 9:31 pm

    Banyak orang melihat orang lain seolah2 berbuat salah, itu karena menggunakan batas kebenaran yg ada dalam dirinya sendiri. hanya jika kita benar2 berada pada posisi yg sama pada orang itulah maka kita akan bisa menilai apa yang mereka lakukan itu tepat atau tidak. saya tidak mengatakan benar atau salah karena sesungguhnya kebenaran itu semu (tanpa batas ukur yang jelas).

  4. 8 Oktober 2009 pukul 10:34 pm

    Kebenaran menurut saya, bukanlah kebenaran. Tiada gunanya kita menilai orang lain. KArena yang menilai itu adalah si pikiran yg telah terkondisi, yg telah punya pendapat sesuai dengan pengetahuan, dogtrin, konsep atau kepercayaannya. Untuk melihat diri, kita tak perlu menyesuaikan diri dengan orang lain. Melihat bukanlah menilai. Melihat yang benar adalah melihat dari kebebasan batin. Hal mendasar adalah kita mesti menyadari keterkondisian batin kita oleh segala dogtrin, kepercayaan yang adalah rasa takut. Ini yang harus dipahami sehingga batin menjadi bebas. Hanya dalam kebebasan kita dapat melihat apa adanya. Jika kita melihat dari batin yg terkondisi, boleh jadi kita akan menilai, baik atau buruk, benar atau salah. Dan kita akan terjerat dalam dualitas ini. Ini tak’an pernah membawa kita pada kebebasan (mokshatam).

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: