Beranda > Keheningan > KESADARAN DIRI

KESADARAN DIRI

Suatu hari seorang Dokter bertamu kerumah petani dan disuguhi secangkir kopi oleh istrinya. “Hidangan apa ini!” sang Dokter bersuara lantang. “Tidakkah kalian tahu kopi ini mengandung racun, hidangan ini absurd tak ada manfaatnya”, berkata demikian seraya dia membuang kopi didalam cangkir itu.

Suami-istri petani itu hanya saling pandang tak menjawab sepatah pun kata. Barangkali dia sadar, sebagai orang kampung yang bodoh dan miskin, tak’an didengar oleh seorang Dokter yang jelas pasti pinter dan juga kaya. Disamping seorang Dokter dia juga terkenal di daerah itu sebagai seorang Guru spirituil yang telah banyak memberi wejangan tentang kesadaran dan kebebasan. Sungguh eronis bukan? Seorang Guru pengajar tentang kesadaran, jelas tidak sadar dengan tindakannya.
Kata orang dunia ini sudah tua, apa saja bisa terjadi. Ada pepatah daerah yang berbunyi, “telebingkah beten biu, belahan pane belahan paso.” (kehidupan yang luas, ada yang begini ada yang begitu)

Sadarkah aku, bila aku merasa puas karena merasa telah dapat memojokan orang lain dengan kepintaranku?

Sadarkah aku, bila berkata, “kasihan deh-lho dirongrong oleh orang-orang bodoh yang sok pintar?

Sadarkah aku, bila aku berkata, “nah mau berkelit kemana juga lho?”

Sadarkah aku, bila aku merasa berkeberatan dengan apa yang dikatakan orang lain?”

Sadarkah aku, bila aku membuat pernyataan, “Ah itu Cuma teroritis yang absurd.”

Semestinya aku membuka lebih lebar-lebar mata batinku untuk melihat, menyimak kedalam diriku, sehingga aku tidak berasumsi bahwa orang lain itu bodoh.

Dan celakanya lagi aku berasumsi orang lain sama bodohnya dengan diriku. Sadarkah aku ketika aku berasumsi?….., jelas tidak sadar. Walaupun sampai berbuih-buih aku bicara tentang berkesadaran, dan aku tetap tak sadar, ini barulah benar-benar absurd.

Bulan September musim panca-roba, angin bertiup tak menentu, bunga kenanga menebar wangi ke-segala penjuru. Itulah adanya.

Kategori:Keheningan
  1. 9 Oktober 2009 pukul 11:08 am

    Aku semata hanyalah menggugah diriku sendiri untuk melihat, untuk ini aku mesti menarik kelopak mataku kencang-kencang dan kuat-kuat selebar mungkin, agar mataku melotot. Barangkali hanya dengan tindakan ini aku dapat melihat kepalsuan diriku. Selama ini aku telah berbuih-buih, bicara tentang berkesadaran, kebebasan dan runtuhnya pikiran, namun senyatanya aku hanyalah sigentong yang melompong.

  2. 9 Oktober 2009 pukul 11:09 am

    wayan windra :
    Aku semata hanyalah menggugah diriku sendiri untuk melihat, agar pernyataan dan tindakkan-ku harmonis. Betapa sangat menyedihkan, bila aku setiap saat berbicara tentang kesadaran, namun aku tak pernah menyadari kata2, pernyataan-ku yang sok pintar-sendiri.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: