Beranda > Keheningan > KASADARAN dan KONFLIK

KASADARAN dan KONFLIK

Aku bertanya-tanya dalam hati, apabila aku merasa berkeberatan dengan segala sesuatu; seperti halnya si Dokter yang berkeberatan dan menguliahi dengan suara lantang ketika disuguhi secangkir kopi oleh istri si petani. https://wayanwindra.wordpress.com/2009/09/29/kesadaran-diri/……., Apa artinya ini? Setiap ada sesuatu yang tidak cocok dengan keinginanku, dengan pendapatku aku merasa keberatan. Sadarkah aku? Aku berada dalam konflik!

Bulan September adalah musim panca-roba, angin bertiup tak menentu, bunga kenanga menebar wangi ke-segala penjuru. Itulah adanya. Setelah musim panca-roba berlalu, bergantilah musim penghujan. Di belahan bumi yang lain mungkin terjadi musim gugur, musim panas, atau musim dingin. Ini realita yaitu perubahan yang terus menerus. Apabila saya tak melihat, memahami ini, saya akan selalu berada dalam konflik. Dapatkah saya melihat konflik ini? Ini terjadi ketika saya menolak yang saya ‘tidak sukai’ dan menginginkan yang saya ‘suka.’

Tulisan-tulisan seperti ini barangkali telah dituliskan ribuan kali dari segala jaman oleh siapapun dan ini hanyalah teori, hanyalah kata-kata belaka dan akan selamanya hanyalah kata-kata semata, apabila aku tak dapat menyimak. Bagaimana aku bisa menyimak jika aku merasa berkeberatan, jika aku berasumsi….? Disinilah masalah diriku, yang mesti aku pahami. Hanyalah dengan pemahaman yang sedalam-dalamnya tentang realita ini yaitu hukum alam yang pasti, dualitas yang bersumber dalam diriku sendiri yaitu pikiranku; barulah ada kemungkinan aku sampai pada keheningan. Seperti si Pratiksi HealingTouch (PHT) yang mengamati dengan sangat diam, tentang pengalaman dari penomena yang sangat mengerikan itu. (APAKAH ITU….?)

Apabila aku berasumsi bahwa cerita itu hanyalah hisapan jempol belaka…..; siPHT tak’an berkeberatan apapun; aku bebas berasumsi, ini hak setiap orang. Namun berulang kali aku mesti mengingatkan diriku; apabila aku berasumsi, asumsiku ini telah menutupi mata hatiku untuk melihat. Siapakah yang berasumi itu? Jelas AKU (siEGO) dimana ada siEGO, akupun terjerat olehnya. Kalau sudah demikian, apa artinya semua omongan tentang berkesadaran dan kebebasan (mokshatam) itu?

Ini bukan masalah gampang. Aku mesti diam mengamati.

Kategori:Keheningan
  1. 9 Oktober 2009 pukul 10:01 am

    Artikel ini hanyalah kata-kata, dan kita tak perlu menjerat diri dalam kata-kata. Ini hanya sarana untuk berkaca, melihat kedalam diri kita sendiri. Bila saya menilai, berasumsi ini artinya saya berpegang pada kata-kata, pendapat, pikiranku. Mestilah ada kebebasan dalam memandang; bebas dari pendapat, dari konsep, dari dogma ataupun kepercayaan. Disini barulah kita dapat melihat senyatanya, apa adanya diriku maupun dunia sekeliling. Untuk dapat memandang seperti itu, mestilah ada kesederhanaan batin, yaitu batin yang tidak mencari.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: