Beranda > Keheningan > DIMENSI DILUAR PIKIRAN

DIMENSI DILUAR PIKIRAN

“Eh, ngapain bengong, kok melamun?”
Dia tersadar oleh teguran temannya dari keadaan yang tak bisa dijabarkan oleh logika. “Apakah saya telah sejak lama bengong?” dia bertanya. “Nggak; begitu duduk, ku-tengok…. eh, kamunya melongo dengan pandangan jauh dan kosong”. “Orang bilang bisa kesambet setan kalau bengong seperti itu, maka itu aku segera menegur” temannya menjawab!

Kejadian ini mungkin berlangsung sekitar sepuluh atau lima detik saja, namun terasa begitu lama. Bagaimana hal ini terjadi, tak bisa dijelaskan, itu terjadi tiba-tiba, begitu saja, seperti mimpi namun nyata. Tanpa disadari tiba-tiba ada makhluk disampingnya, didepan, dibelakang, diatas, dibawah mengelilingi dirinya semakin banyak yang datangnya dari dalam dirinya sendiri. Tubuh mengambang ditengah-tengah, seolah-olah seperti balon diruang hampa yang tak bertepi. Makhluk-makhluk ini keluar-masuk tubuhnya. Ketika keluar geraknya perlahan, namun ketika masuk geraknya sangat cepat dari segala penjuru. Dari atas masuk kedalam kepala, masuk dari samping kiri keluar kekanan dan sebaliknya, dari depan masuk melalui perut, dada dan keluar dari punggung dan sebaliknya. Mereka masuk satu-satu kadang sekaligus bertiga, berlima atau berdua dan keluarnya bertambah banyak. Sehingga jumlahnya ratusan bahkan ribuan, dia melihat sampai jarak yang sangat jauh.

Kejadian ini terjadi tahun 1977, dan baru-baru ini setelah nonton film Harry Potter, dia diingatkan akan makhluk-makhluk itu yang mirip dengan dementor-dementor dalam film itu yang selama ini sulit digambarkannya. Wujud makhluk-makhluk yang mirip dengan para dementor, namun lebih jelas, dengan warna-warni terang yang memantulkan cahaya dan rupanya jelas, sangat menakutkan juga menjijikan. Karena disekujur tubuhnya penuh dengan lendir-lendir dan tetesan-tetesan seperti darah, ditambah dengan suaranya yang parau dan meringkik menakutkan.

Jika dalam keadaan normal, orang tentu akan lari pontang-panting atau berteriak gemetar ketakutan. Namun apa yang dia alami dan siapa sesungguhnya yang mengalami? Kalau itu dapat dikatakan merasakan, “sungguh suatu rasa damai yang tak terperikan”. Siapakah yang merasakan? “Rasa aman dan damai-suatu ecstase” itu? Dia tak tahu, karena intelek (pikiran) telah berakhir.

Setelah dimensi para dementor ini, perlahan-lahan muncullah alam seperti binatang-binatang dengan bentuk aneh-aneh, kulit atau bulunya berwarna-warni bercahaya. Ruang disini terang dengan cahaya sejuk yang aneh, dan setelah agak lama perlahan berganti dengan alam tumbuh-tumbuhan yang juga berbentuk aneh-aneh, berdaun berwarni-warni terang berkilauan. Ada kabut-kabut terang yang memantulkan kesejukan dan keindahan. Dari sini bergerak ke-alam seperti padang-rumput dan lumut yang juga berwarni-warni berkilauan dan memancarkan kedamaian. Sinar-sinar seperti aurora menghias dimensi menjadi hening, segar dan indah. Namun semua ecstase keheningan itu, kesegaran, kedamaian, kesejukan dan keindahan disini tak dapat digambaran atau dirasakan oleh perasaan (intelek)!

Jika orang mengalami kejadian seperti ini, akan menjadi perenungan dan pertanyaan yang lama dalam otaknya. Dan dia pun juga teringat dengan kejadian sejenis yang lebih sederhana yang dihalaminya ketika masih duduk di kelas II SMP, yang telah dituangkan dalam tulisan berjudul Lubang Jarum Keheningan.

Jikalau orang kenangkan peristiwa-peristiwa ini dengan nurani, perasaannya seperti ingin meledak—mati pun orang iklas. Barangkali, walaupun ketika mengenangkan itu ada unsur intelek disana, namun inteleknya telah tak berdaya, yang telah dinegasikan, sehingga yang ada hanya kemurnian diri, ketulusan kasih yang tak tercemar oleh penderitaan, ketakutan, keserakahan atau kepercayaan apapun. Orang tak’an bisa membayangkan kondisi batin seperti ini, kecuali dia telah menanggalkan segalanya, menanggalkan keserakahannya, kepercayaannya yang adalah rasa-takut terselubung, kebanggaan diri yang semata mengentalkan, mengukuhkan egonya.

Apabila orang dapat menanggalkan, melepasan ikatan-ikatan yang membelenggu dan membebani batinnya; yang artinya orang mesti waspada, eling, mengamati dirinya dari saat kesaat. Jika kesadaran diri ini memiliki kualitas kenihilan, kemurnian yang tulus, barulah kemungkinan dimensi itu bisa terwujud dalam dirinya. Walaupun hanya sedetik, dua detik, namun percikan ‘tirta dimensi’ ini dapat membersihkan batinnya secara nyata. Dimensi ini adalah segalanya; adalah energi yang membakar habis semua keraguan, ketakutan, kepercayaan, kegelapan, keserakahan, harga diri, kehormatan, kebanggaan, ambisi, ilusi, dan penderitaannya. Sehingga tak ada apapun yang tersisa, maka dia akan menjadi semiskin-miskin orang. Namun kebanyakan orang ngeri untuk menjadi miskin, maka dari itu dia terus memupuk, mengumpulkan segala macam kotoran batin yang membuatnya pengap, sumpek dan stress.

Barangkali orang tidak menyadari dirinya yang telah terkondisi. Ini merupakan hal serius, jika orang tidak dapat melihat dirinya yang dibeban-pengaruhi oleh tradisi, kepercayaan, dogma, otoritas, norma-norma dan sebagainya yang telah membentuk kesadaraannya. Dan dirinya beranggapan bahwa kesadarannya adalah prinsip, keyakinan yang harus, yang tak bisa diganggu-gugat. Orang-orang seperti ini bagaikan tonggak kayu yang telah terpancang dalam. Adakah berkah menghampiri? Barangkali gelombang penderitaan tsunamilah yang mungkin akan melandanya; namun berkah itu, ‘tirta suci dimensi’ itu tak’an pernah mengguyur dirinya.

Pamannya seorang yang sangat senang bekerja. Dulu dia seorang yang lugu, boleh dikatakan seorang karma-yoga. Namun keserakahan, kelicikan dimasyarakat telah membuat keluguannya terkontaminasi. Walaupun dia masih senang ngayah, (kerja bhakti) namun dari mulutnya akan keluar kata-kata ngedumel luapan dari jengkelnya akan tipu-daya orang-orang yang licik. Hal ini tanpa disadari telah menimbulkan konflik horisontal dan vertikal. Hatinya sering panas oleh rasa jengkel, membuatnya susah tidur sehingga kesehatannya banyak terganggu. Dan suatu hari siPaman berkunjung. “Pakman, anda telah ngayah sekian lama, berkah apakah telah Pakman peroleh?” dia bertanya. Sang Paman yang bicaranya besar dan panas ini, hanya menghela nafas……… SiPaman yang lugu ini…….hanya mendengar dan mendengar, barangkali keluguannya memiliki kualitas kemurnian, walaupun bertahun-tahun tercemar oleh lingkungan, diapun mulai melihat keterkondisian dirinya.

Dan malam itu sebelum tertidur, dia mengikuti petunjuk keponakannya yaitu menyerahkan seluruh berat tubuh kepada sang ranjang (bumi), sambil mengamati nafas, sensasi tubuh dan pikirannya. Dalam hitungan menit dia pun sampai pada keheningan itu, nafasnya tinggal satu-satu. Dia merasakan kedamaian seperti telah tertidur lelap, namun tiba-tiba dia terperanjat oleh cahaya terang seperti lampu sorot atau sinar petir yang menerobos dari plafon/ langit-langit kamarnya. Dia terperanjat, dia mencari-cari sekeliling namun tak ada tanda-tanda apapun. Dia bertanya-tanya dalam hati, “apakah aku bermimpi, tapi itu sangat nyata!” Apapun adanya itu, apakah bendungan ‘tirta dimensi’ meledak dari kurungannya, walaupun sedetik, namun pengalaman ini telah memberinya persepsi dari keheningan suatu dimensi diluar intelek, yang tak bisa diuraikan dengan kata-kata!!!

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: