Beranda > Keheningan > PENDEKAR PEDANG

PENDEKAR PEDANG

Bagi yang pernah membaca serial Cerita Silat—Kho Ping Hoo, tentu tahu si Raja Pedang Cia Beng San atau Lu Kwan Cu yang kemudian menjadi Bu Pun Su. Atau si Pendekar Super Sakti Suma Han dan Pendekar wanita si Mutiara Hitam atau Ang I Niocu yang jatuh cinta kepada si Pendekar Bodoh.

Apabila kita ingin ngobrol, atau berbagi, semestinya kita layaknya para pendekar-pendekar ini yang selalu membawa pedang bermata dua. Satu mata pedang menghadap ke dada kita dan yang satunya lagi menghadap keluar. Dengan demikian kita akan merasakan langsung seberapa dalam sayatan dari mata pedang kita.

Semakin dalam aku menyayat semakin lebar robekan didadaku dan semakin perih rasa sayatan itu. Pada puncak kepedihan inilah letak tirai pemisah antara ilusi dan yang nyata, antara gelap dan terang. Dengan demikian setiap kata yang terucap adalah ditujukan kepada diriku pun kepada yang lainnya. Aku boleh menusuk dan merobek sedalam mungkin untuk membedah dan memutuskan semua jeratan yang membelenggu diriku maupun belenggu Anda. Inilah semestinya landasan ngobrol-ngobrol untuk berbagi, yaitu membedah kedalam diri masing-masing agar kita sampai pada kebebasan; bukanlah untuk memuaskan diri, mencari menang, dan berusaha memojokan lawan bicara kita…? Hal ini mestilah aku camkan dalam-dalam.

Sebagai manusia, aku terkadang bersedih melihat perdebatan, pertentangan, kebodohan-kebodohan yang telah kita lakukan yang menimbulkan kebencian dan permusuhan. Apakah artinya ini? Mungkinkah peradaban manusia sudah terlalu tua? Sehingga otak-otak manusia menjadi terlanjur pintar untuk saling menyakiti, saling membenci dan saling membunuh? Kapankah dunia ini akan sadar, sungguh-sungguh sadar pada dirinya?

Marilah kita ajukan pertanyaan ini dengan hati yang tulus kepada diri kita masing-masing, dan barangkali jika Anda dapat menemukan jawabannya, berbagilah untuk kita semua. Betapa akan indahnya hidup ini dan wacana TatwamAsi (aku adalah anda) atau Anda adalah Dunia ini…. betul-betul jadi kenyataan. Dan hal ini tak’an dapat terwujud, apabila saya tetap berpegang, mempertahankan pendapat, konsep-konsep ataupun dogma-dogma. Apabila dengan berdoa hal ini dapat terwujud, semestinya sudah sejak dulu kala dunia ini damai, penuh suka cita, karena hampir semua dari kita setiap harinya berdoa, bukan?

Jika kita sungguh melihat realita, tiada jalan lain; setiap orang mesti menyalakan pelita dalam diri masing-masing dan dengan demikian kita tak’an membuang bayangbayang kemuka yang lainnya.

Kategori:Keheningan
  1. 9 Oktober 2009 pukul 10:31 am

    Gak Bun Beng adalah perdekar sakti yang budiman adalah putra Gat Liat seorang Datuk sesat yang mengerikan. Serial cerita ini hanyalah kata-kata untuk menggugah kita menjadi kritis, tidak sembarang menuduh, berasumsi dan menyimpulkan.

  2. 17 Juli 2014 pukul 11:16 am

    Article writing іs also ɑ excitement, іf yoս know аfter that yoս can write if not it iѕ complex tօ write.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: