Beranda > Keheningan > GALUNGAN

GALUNGAN

Sebentar lagi Hari Raya Galungan yaitu hari perayaan kemenangan Dharma atas Adharma. Disamping itu Galungan juga dimaknai sebagai hari terciptanya alam semesta, dimana pada hari ini umat menghaturkan persembahan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas segala rahmatnya. Banyak lagi definisi atau uraian berkenaan dengan Galungan; seperti kata Galungan yang berarti peperangan; adanya Sang Bhuta Galungan, Bhuta Dunggulan dan Bhuta Amengkurat sebagai unsur negatif (Adharma) yang harus ditundukan dan yang lain-lainnya.

Uraian panjang-lebar seperti itu tak’an membawa kita kemana pun. Disini saya ingin mengajak setiap umat untuk menggali dan memaknai filosofi Galungan, mengacu pada hal yang lebih realistis, kepada hal mendasar dari hakekat Galungan ini. Karena hanya dengan demikian kemungkinan akan ada peningkatan kwalitas dari ketajaman batin untuk mengungkap hal-hal yang belum kita pahami sehingga ada perubahan mendasar dalam sikap mental kita sebagai umat.

Galungan adalah perayaan kemenangan Dharma atas Adharma. Inilah hal mendasar, yang mesti dipahami. Untuk menyelami hal ini, kita mestilah melakukan penyelidikan secara seksama. Sebuah pertanyaan akan menggugah otak kita untuk berpikir dan menggali, untuk mencari jawabannya. Adakah Dharma itu telah menang atas Adharma dalam kehidupan ini? Sudahkah Dharma itu menang atas Adharma dalam diri kita?

Apa jawabanku atas pertanyaan-pertanyaan diatas? Bagiku inilah hal yang paling hakiki untuk diselami, dan dipahami. Tiadalah berguna aku merayakan Galungan jika Adharma masih bercokol dalam diriku. Ini bukanlah hal yang sederhana. Sungguhkah kita paham apa yang dimaksud dengan Dharma itu? Bila kita tak paham apa itu Dharma, adalah omong-kosong kita dapat memenangkan Dharma atas Adharma.

Apakah itu Dharma? Kata “Dharma” ini telah di-definisikan dengan panjang-lebar, namun kebanyakan orang belum menyentuh makna dari Dharma itu; apalagi mewujudkan Dharma dalam tindakan hidupnya. Kenapa, ini karena kita tidak sungguh-sungguh memahami apa itu Dharma? Kata “Dharma” bukanlah Dharma. Ini hanyalah kata-kata. Kita bisa mengutip dan menggunakan kata-kata Dharma seperti; Dharma Laksana, Dharma Wacana, Swadharmaning Hidup, Dharma Tula, dan sebagainya hanyalah semata hiasan belaka, dalam berdialog atau berpidato. Namun kita tak sungguh-sungguh dapat menghayati hal itu dalam diri kita.

Dapatkah kita memberi arti bahwa Dharma adalah hakekat dari tidakkan kebenaran? Jika ya, maka Galungan itu adalah hakekat tidakkan kebenaran adalah Dharma. Ini hanyalah teori! Untuk mengejewantahkan hal ini dalam kehidupan, dalam diri kita dibutuhkan tekad, kemauan yang besar. Tiadalah cukup, hanyalah merayakan Galungan dengan pergi sembahyang dengan pakaian keren dan setelah itu pergi ‘meceki’, makan-minum arak, bir atau tuak sampai mabuk.

Galungan ini telah dirayakan sejak ratusan tahun. Adakah Galungan ini telah membawa perubahan dalam sikap-mental kita? Dengan demikian akan terjadi perubahan dalam kehidupan bermasyarakat maupun berbangsa. Bila Dharma betul-betul telah menang atas Adharma dalam diri kita; kita tak’an bingung, tak’an cemas, tak’an ragu. Karena Dharma itu adalah pelita yang akan mengusir semua avidya (kebodohan) dari dalam diri, sehingga kita melangkah dengan pasti dan ringan. Dharma akan menerangi batin kita, dan setiap tindakan dari batin yang jernih ini akan menghasilkan kebenaran, cinta-kasih dan kedamaian (shanti). Sudahkah hal ini jadi kenyataan dalam hidup kita?

Dalam menyambut Galungan kita memasang Penjor dan memotong Babi, Ayam dan sebagainya yang bermakna membunuh kemalasan dan keserakahan dalam diri kita. Penjor yaitu, kemakmuran, keberlimpahan, keindahan, dan kemantapan dari pemahaman batin. Bila kita sungguh menghayati hal ini dalam hidup, tentunya kita semua telah bebas dari kemalasan, keserakahan sehingga batin kita subur, berlimpah, penuh kasih nan indah yang tak tergoyahkan. Dan semua ini pasti mengantar kita pada Dharma, hakekat dari tindakan kebenaran yaitu GALUNGAN!

Kategori:Keheningan
  1. 9 Oktober 2009 pukul 7:55 am

    Semua tulisan hanyalah kata-kata. Kita dapat mengatakannya sebagai pengetahuan, teori, konsep, dogrin apapun. Jika tulisan ini ibarat sebatang pohon mengkudu; orang bolehlah memetik buahnya untuk obat maag atau dijadikan rujak diminum dikala dahaga. Namun orang tertentu yang tak suka mencium bau acir buah mengkudu, akan meringis dan membuangnya. Tak ada yang perlu dipersoalan. Biarlah masing-masing dari kita memaknai dan menggali manfaatnya. Tulisan ini hanyalah cermin datar untuk melihat kedalam diri kita seutuhnya, apa adanya. Seandainya dengan menyimak, kita memperoleh manfaat dari kasiat buah mengkudu ini…..maka tiada yang melarang untuk menyimak!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: