Beranda > Keheningan > GALUNGAN ADALAH VEDANTA

GALUNGAN ADALAH VEDANTA

Aku melanjutkan ngobrol-ngobrol dengan tamu/teman lamaku. Dia mengeluh dengan keadaan dirinya walaupun secara ekonomi, dia lebih dari cukup. Dulu ketika Ibunya masih sehat, semua urusan (buat sesajen) dirumah tua, di kampung diurus oleh Ibunya. Namun kini siIbu (nenek) sudah tak bisa mengerjakan itu lagi karena tua. Dan tugas-tugas ini mau tak mau diambil-alih oleh istrinya yang sudah mengurus sesajen untuk para dewa dirumahnya di Denpasar. Hal inilah yang menjadi masalah membuatnya ikut stress. Apalagi menjelang menghadapi Hari Raya Galungan ini.

Kita telah merayakan Galungan ini sejak ratusan tahun. Banyak tulisan yang menguraikan, memberi definisi dengan panjang-lebar, apa itu Galungan?; yang bersifat deskripsion semata, yang hanyalah menjadi pengetahuan. Dari pengetahuan ini kita dapat melipat-gandakan uraian-uraian tentang Galungan ini sehingga jumlah artikel bertambah banyak. Dan semua ini sama sekali tak membawa kita pada hakekat Galungan yaitu Galang (Vedanta).
Seperti tulisan saya terdahulu, kita sepakat Galungan itu adalah perayaan kemenangan Dharma atas Adharma. Artinya bahwa Dharma itu telah menang atas Adharma, maka itu kita merayakannya. Seperti kita merayakan 17 Agustus, sebagai hari Kemerdekaan Bangsa kita. Artinya kita telah merdeka, bukan?

Nah, sudahkah betul-betul Dharma itu menang atas Adharma?; dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali umumnya dan dalam diri kita masing-masing tentunya? Hal ini mesti kita pertanyakan! Apakah yang akan terjadi bila Dharma itu menang atas Adharma? Barangkali satyam, sivam, sundaram atau satya, prema dan santhi akan mewujud dalam diri Anda, atau akan memenuhi seluruh kehidupan masyarakat kita. Sudahkah hal ini mewujud dalam diri Anda? Jika kita jujur, tidakkah selama ini kita telah menipu diri sendiri?

Kita selalu merasa diri hebat, apa-apa yang kerkenaan dengan diriKU: agamaKU, bangsaKU, Hari RayaKU, rumahKU, mobilKU, upacaraKU, kepercayaanKU, puraKU, dewaKU dan yang lain-lain KU, yang tak terhitung, telah menutupi mata hatiku untuk melihat yaitu belajar. Belajar bukan mempercayai namun menyimak, mencermati, menyelidiki.

Untuk belajar kita mesti menjadi Arjuna-Arjuna yang gigih, siPahlawan perang dimedan Kurusetra. Andalah si Arjuna, siPahlawan Perang itu; dan Andalah medan Kurusetra itu; dimana perang itu terus-menerus berlangsung dalam diri Anda. Ketika Arjuna bimbang dan ragu untuk mengangkat senjata bertempur, Krishna mengajarkan Karma Yoga, Bhakti Yoga dan Jnana Yoga yang dirangkum menjadi inti-sari Veda yaitu Bhagavad-Gita.

Gita ini, mesti dihayati dan dilampaui. Jika tidak kita tak’an pernah sampai pada Vedanta yaitu Galungan (Galang). Kenapa Galungan adalah Vedanta? Kata ‘Vedanta’ bermakna, ‘akhir dari Veda-Veda’, akhir dari semua pengetahuan, konsep-konsep, teori, dan sebagainya yang bersumber dari pikiran (siEgo). Hanya dengan berakhirnya semua ini, barulah ada terang (galang) yaitu Galungan.

Semua tulisan adalah teori, konsep, termasuk Gita, Veda dan lain-lainnya, namun ini berguna sebagai sarana bagi para Arjuna untuk berperang. “Wahai Arjuna, angkatlah senjata pasupatimu yang sakti, dan berperanglah!”, sabda Krishna. Namun Arjuna bimbang, ragu. Jika Anda ragu, bimbang; ada apakah gerangan? Bukankah itu pertanda bahwa dalam diri Anda ada avidya? Ada kegelapan, ada ketidak-jelasan, sehingga Anda ragu, cemas, dan bingung. Apakah kegelapan ini? Tahukah Anda? Dari mana sumber kegelapan ini? Ini yang mesti Anda selidiki sampai Anda menemukan sumbernya dan memahaminya, barulah kemungkinan ada kejelasan.

Arjuna bimbang, dan berbisik dalam hati, “dapatkah aku membunuh guru-guruKU, kakekKU, sanak keluargaKU, membinasakan semua harta-milikKU, harapanKU, semua hal yang memberi rasa nyaman, rasa aman dan kenikmatan selama ini?” Arjuna jatuh terkulai, lemas seluruh tubuhnya. Apabila Anda lekat, terjerat oleh kenikmatan yang selama ini Anda pupuk dan kejar, yang menyuburkan siEgo bercokol dalam diri Anda, maka Anda tak lebih hanyalah seorang budak yang hidup terbatas dalam ruang kesenangan dan kesedihan yang gelap gulita. Namun senyatanya inilah tindakan dalam hidup Anda, bukan?

Ketika Gita itu dinyanyikan oleh Krishna, Arjuna secara perlahan mulai menyimak bait demi bait dan kekuatannya berangsur pulih. Begitu Gita itu selesai dilagukan Krishna berubah menjadi Narayana. Arjuna tersentak bagaikan terbangun dari sebuah mimpi, dia melihat sang hakekat, dia melihat realita, dualitas, semua ilusi, bias dari siEgo (siAKU) yang selama ini bercokol dalam dirinya. Melihat ini adalah tidakkan spontan dari batin yang terjaga. Dalam detik ini Dharma menang atas Adharma terus dharma-adharma inipun sirna. Dia adalah dualitas, itu hanyalah konsep, pengetahuan, hanya sarana untuk sampai pada Vedanta yaitu Galungan – Galang!

Kategori:Keheningan
  1. Arik
    8 Oktober 2009 pukul 9:54 pm

    Pak wayan, bagaimana kita bisa menilai apakah yang kita lakukan selama ini (galungan) adalah salah atau benar? apa dasar ukurnya? trus apakah yang anda sampaikan bukan merupakan konsep, pengetahuan, dan teori2 yang bersifat argumentatif dan komparatif.

  2. 8 Oktober 2009 pukul 11:11 pm

    Betul Pak Arik, semua tulisan bisa jadi teori, konsep ataupun pengetahuan. Kita tak perlu menilai, apakah Galungan selama ini benar atau salah. Saya hanya menggugah, agar kita mau menggunakan senjata Pasupati (intelek) kita untuk berperang yaitu belajar. Belajar memahami diri kita sendiri. Bila saya tak memahami kedunguan diri saya, maka selamanya saya berada dalam kegelapan. Dan tindakan dalam kegelapan ini akan membuat saya kacau, bingung, cemas. Inilah yang mesti saya pahami. Bila sungguh-sungguh ada pemahaman Galungan-Galang ini jadi nyata, bukan hanya konsep semata.

  3. 15 Oktober 2009 pukul 10:53 pm

    Rahajeng Rahina Galungan

    Buat keluarga di Bringkit semua😉

  4. 16 Oktober 2009 pukul 7:27 am

    Rahajeng GALUNGAN dan KUNINGAN mantuk ring semeton sami, warga Hindu Bali; dumugi sidhakarya, lanus…tentrem-raharjo sejeroning arsa… tentrem rig jagathe sami. Om santhi, santhi, santhi om.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: