Beranda > Keheningan > PERTANYAAN YANG SAMA

PERTANYAAN YANG SAMA

Kemarin ada seorang tamu seorang teman lama berkunjung. Tak lama berselang datang lagi seorang temanku yang lainnya. Dua orang temanku ini tidak saling mengenal, maka itu aku perkenalkan mereka satu sama lain. Dan hari itu aku kebetulan sendirian dirumah, jadi terpaksa aku mesti menyiapkan minuman untuk tamu-tamuku. Aku biasanya memberi juss pada tamu-tamuku. Untuk mempersiapkan ini terpaksa kutinggal mereka agak lama.

Ketika aku kembali mengantar minuman, kulihat kedua orang tamu/temanku yang tidak saling mengenal ini ngobrol, berbasa-basi sepertinya tidak nyambung. Tak lama kemudian seorang dari tamuku meminta diri dengan suatu alasan yang dibuat-buat. Aku mengantarnya sampai di depan Gang. Begitu dia berlalu, tamu/teman lamaku yang masih tinggal, mengajukan pertanyaan, “bagaimana bisa lho punya teman seangkuh itu, Yan?” “Siapa manusia itu?”, tanyanya. Aku tak bisa segera menjawab……, dan tiba-tiba HP-ku berdering, tanda ada pesan SMS masuk. Aku beranjak mengambil HP. Ketika aku membaca pesan dari SMS itu, adalah pertanyaan yang hampir sama dan pada saat yang hampir bersamaan yang berbunyi; “bagaimana lho bisa punya teman seangkuh itu, siapa manusia itu Yan?” Ini adalah SMS dari tamu/temanku yang barusan pergi.

“Telebingkah beten biyu, belahan pane, belahan paso” (dunia luas banyak manusia, ada begini ada begitu), pepatah tua ini terlintas dibenaku. Dua orang tamu/temanku ini adalah orang-orang sukses secara materi. Dia adalah seorang pejabat, seorang staff ahli di salah satu BUMN……, jelas pintar dan kaya. Dan yang satunya lagi adalah seorang konsultan, ahli masak, mantan shep yang berkali-kali tugas diluar negeri……, jelas pinter dan kaya.

Disinilah manusia secara umum terjerat, “merasa diri lebih”. Perasaan yang “merasa diri lebih” ini adalah siEgo, yang tak pernah teramati. Semakin kuat perasaan ini tertanam, semakin cepat reaksinya sehingga tak teramati. Dia cepat menyimpulkan atau memberi penilaian kepada orang lain atau kepada sesuatu apapun. Inilah umumnya yang terjadi pada diri, didalam hubungan kehidupan kita. Hal ini memberi kita rasa suka dan benci, senang dan sedih silih berganti. Dapatkah kita mengamati hal ini terjadi dalam diri kita…..?

Kita telah terkondisi oleh hal ini semenjak kanak-kanak, dan terus terpupuk sampai tua tanpa disadari. Budaya bersaing sejak kecil dari bangku sekolah, di rumah, dalam pergaulan, ditempat kerja dan lainnya telah memupuk kebanggaan diri. Tanpa disadari semua ini membentuk suatu perasaan ‘gambar diri’ yang kuat, sebagai orang yang merasa ‘TER’!!!

Apabila masing-masing orang memupuk rasa ini dengan rajin dan tekun, maka perasaan ‘TER’nya akan semakin solid. Apakah yang terjadi apabila perasaan TER yang solid ini ketemu dengan TER yang lainnya yang sama-sama solidnya? Bisa jadi, Joko Sembung pergi ke-Batam…tidak nyambung jadi ber-hantam.

Disinilah, ditempat ini, pada saat ini, aku dapat mengamati, menyadari sedalam-dalamnya realita ini, yaitu apa adanya diriku. Melihat semua perselisihan, gejolak hasrat dari kebencian atau kebanggaan yang ditimbulkan oleh perasaan ‘TERku. Ini semua terjadi disini, didalam diriku. Disinilah realita itu, dualitas itu, adalah hal yang paling mendasar, yang mesti aku pahami, sadari. Bagaimana itu semua mengombang-ambingkan, menghatam dan mengelus, mengangkat dan membanting diriku. Inilah yang mesti aku pahami. Bila aku sungguh paham akupun melampauinya.

Bila aku dapat mengamati dengan sangat diam, akupun melihatnya dengan sangat jelas apa adanya. Namun bila aku membenarkan ataupun menyalahkan ‘setiap tindakan diriku’; artinya pikiranku ikut-campur, membuat rekayasa; maka pengamatanku menjadi bias, kabur, sehingga aku tak dapat memahami seutuhnya diriku, yaitu diriku yang brengsek, yang TER dan sebagainya. Ini bukan hal yang gampang. Kebiasaanku….., yaitu pikiranku yang selalu suka ikut campur dalam memandang atau menghadapi persoalan apapun, akan menghalangi diriku untuk memahami secara total. Untuk itu aku mesti waspada, mengamati yaitu semata mengamati. Maka perhatian adalah tindakan belajar tanpa menimbun kenangan apapun.

Kategori:Keheningan
  1. 9 Oktober 2009 pukul 8:11 am

    Tulisan ini hanyalah kata-kata belaka, dan selamanya hanya kata semata, apabila kita tak dapat mengungkap makna dan manfaat dibalik kata-kata ini. Ada berbagai jenis bobot tulisan…. ibarat gempa; ada yang berkekuatan 7sclR, ada yang hanya 3sclR, dan banyak yang hanya 1cslR. Tulisan dengan bobot 7sclR, akan mengguncang Anda dari mimpi, sehingga Anda terjaga. Sebaliknya tulisan yang hanya berbobot 1sclR, hanyalah membuat Anda semakin lelap dalam mimpi-mimpi Anda.
    Andaikan saya boleh memilih, saya pilih yang 10sclR, ini akan melulus-lantakan seluruh bangunan diriKU yang selama ini kubanggakan, sehingga tak ada apapun yang tersisa. Hanya dalam kemiskinan batin inilah yang lain itu terwujud.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: