Beranda > Keheningan > KEPEKAAN

KEPEKAAN

Kemarin aku “ngayah” untuk membersihkan halaman Pura. Jam 06.00 pagi yang hadir baru tiga orang. Dan setelah hampir jam 07.00 datang lagi 3 orang. Jadi yang hadir hanya 6 dari 15 orang yang ditugaskan. Walaupun demikian kami menyelesaikan tugas-tugas dengan baik dan secepatnya.

Seorang anggota panitia karya datang jam 08.00-nan dengan wajah sibuk,… menyulut rokoknya yang tinggal sebatang dan melempar bungkusnya begitu saja ditempat yang sudah tersapu bersih. Teman kami petugas pembersihan bersungut-sungut melihat tingkah-polah si panitia karya….., “tak tahu diri.”

Hal-hal seperti ini sering terjadi. Mungkin karena seringnya, ini menjadi terbiasa dan akhirnya menjadi tradisi. Apakah yang dapat kita katakan tentang hal-hal seperti ini….? Adakah hal ini baik atau tidak? Bila kita mengatakan ini buruk,…. hal ini telah menjadi tradisi, yang barangkali telah dianggap baik. Dan bila kita melakukan penilaian baik atau buruk, disini jelas pikiran terlibat. Sementara “ngayah” mesti dilandasi keikhlasan yang tulus……, dan hal ini tak banyak orang yang memiliki. Sehingga dalam kegiatan “ngayah” ini sering terjadi perasaan dongkol didalam diri.

Apa pendapat anda tentang tradisi ini….. tradisi “ngayah”, tradisi buang sampah sembarangan, tradisi menghindari tugas, tradisi dongkol, tradisi merokok ditempat umum. Dan banyak lagi tradisi yang lainnya. Dan yang pasti tradisi-tradisi yaitu kebiasaan yang diulang-ulang itu tak’an pernah membuat kita peka. Apabila tak ada kepekaan dalam diri, tindakan kita menjadi sembarangan. Dan saat ini kebanyakan dari kita sudah jauh dari peka. Kalau kita menilai ini sebagai hal yang buruk, hal buruk ini belum tentu buruk bagi si perokok, dan yang lain-lainnya, yang telah menjadikan kebiasaan-kebiasaan mereka sebagai tradisi.

Tahukah Anda apa itu tradisi? Bukankah hal itu adalah kebiasan yang diulang-ulang dari masa yang lalu, kita ulangi saat kini dan kita lestarikan untuk hari-hari kemudian. Kenapa kita melakukan tradisi ini? Karena kita mempercayai, bukan? Kanapa kita mempercayai? Tanyakanlah hal ini kepada diri kita masing-masing, kenapa kita percaya pada tradisi? Ini adalah proses belajar yaitu mempertanyakan.

Saya hanya menggugah Anda para Arjuna untuk mengangkat senjata Pasupati (intelek) Anda untuk berperang (belajar). Hanya dengan berperang para Arjuna akan sampai pada kebebasan dan kepekaan. Silahkan, apa jawaban Anda dengan pertanyaan, “kenapa kita percaya pada tradisi?”

Kategori:Keheningan
  1. 12 Oktober 2009 pukul 5:00 pm

    Apa jawaban Anda? Bagiku tradisi itu hal yang sangat jelas. Aku tak membutuhkan hal itu. Namun aku tak perlu mempermasalahkan hal itu. Jika orang terjerat dalam tradisi, dia mau tak mau harus menerima segala konsekwensinya. Dalam semua kepercayaan adalah ketidaktahuan. Bila orang memahami, dia otomatis berhenti percaya. Namun kebanyakan orang tidak sungguh-sungguh memahami, karena itulah dia terjerat dalam kepercayaan, ritual dan tradisi ini. Sudah terlalu sering kata-kata ini kutulis yaitu KEPERCAYAAN adalah wujud rasa TAKUT Anda yang terselubung. Orang takut menghadapi realita apa adanya hidup, dan berharap dapat berkah. Disinilah masalahnya. Tindakkan dari batin yang terkondisi ini bukanlah batin religius.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: