Beranda > Keheningan > TEORI lagi…., Teori lagi…?

TEORI lagi…., Teori lagi…?

Untuk menuliskan kata-kata yang berserakan disekitar, diluar dan didalam diri Anda bukanlah masalah. Anda tinggal merangkainya dalam kalimat dan menjadikannya sebagai teori, konsep, dogtrin, novel, cerpen, puisi dan sebagainya….., yang kesemuanya bisa dijadikan sebagai pengetahuan. Dan kesemuanya itu hanyalah tinggal kata-kata semata, apabila kita hanya berenang-renang diatas permukaan kata-kata atau pengetahuan itu. Hanyalah, apabila kita dapat menyelami sedalam-dalamnya makna dari kata-kata itu, barulah kemungkinan ada kebebasan dari jeratan segala teori, konsep, atau pengetahuan yang hanyalah kata-kata belaka.

Tanpa disadari, banyak orang hanyalah berenang dan terjerat dalam kata-kata atau pengetahuan apapun. Barangkali karena hal ini memberi mereka perasaan nikmat dari kebanggaan, maka dari itu dia terus memupuk, dengan membaca semakin banyak buku-buku. Bahkan bagi orang-orang tertentu yang mendapat kepuasan lebih atau memperoleh keuntungan tertentu dari buku-buku tertentu; lalu diapun memuja buku-buku itu. Seorang penceramah, pen-kotbah, guru suci dan yang sejenisnya, bisa jadi hanyalah terjerat didalam kata-kata semata; manakala mereka hanyalah berpuas diri dan merasa berbangga, oleh tepik-sorak gemuruh para pendengarnya; atas ceramahnya yang dianggap hebat.

Disinilah kebanyakan dari kita terjebak. Terjebak oleh sebutan sebagai seorang intelek, terpelajar, seorang pundit, publik speaker, penceramah, guru besar dan lain sebagainya. Dapatkah kita jernih, menjadi waspada, mengamati hal ini yang barangkali terjadi pada diri kita? Bila kita tak menyadari, adalah sia-sia belaka, apa yang selama ini dikotbahkan yaitu; cinta-kasih, persaudaraan umat-manusia, kebenaran, kebebasan, runtuhnya pikiran dan selebihnya. Dan semua kotbah, tulisan, ataupun konsep itu selamanya hanyalah teori, hanyalah kata-kata belaka.

Yang mendasar yang mesti dicermati bahwa tulisan adalah kata-kata adalah wujud pikiran. Bila kita memuja sebuah kitab, tulisan, artinya kita memuja kata-kata, memuja pikiran, bukan? Bila kita memuja atau merasa bangga dengan segala pengetahuan, kitab-kitab maka kita pun terjerat olehnya. Dan kita akan tersinggung atau marah besar bila ada orang yang dianggap sebagai melecehkan pengetahuan atau kitab yang kita puja. Dapatkah kita mencermati hal ini? Hal ini sering terjadi disekitar kita, yang memicu kekacauan, konflik dan kebingungan.

Semua tulisan sampai batas tertentu sangat bermanfaat, sebagai sarana untuk sampai pada pengertian. Seperti halnya pikiran bermanfaat untuk memahami semua kegelapan. Bila kita sampai pada tahapan ini, yaitu ketika pikiran melihat semua sumber masalah itu datang dari dirinya sendiri; dan dari pemahaman ini akan ada persepsi dari kerendahan hati, dari ketulusan dan kemurnian diri. Apabila orang sampai disini maka diapun bebas dari semua tulisan, konsep, teori dan segala pengetahuan, walaupun setiap hari dia menulis. Karena pada saat dia menuangkan kata-kata, ini bertolak dari ketulusan dan kerendahan hati. Tindakkan ini adalah tindakkan tanpa daya upaya. Dia menulis hanyalah menulis!

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: