Beranda > Keheningan > MEMUJA sangDIRI

MEMUJA sangDIRI

Seandainya aku, seperti halnya kebanyakan orang yang terjerat dalam kesenangan yang berpandangan hedonism, maka aku pun tak’an henti-hentinya mencari uang dan uang lagi. Karena dengan uang aku akan dapat membeli banyak sekali kesenangan. Dengan uang aku dapat mempertahankan atau meningkatkan kadar kebanggaanku. Dengan uang aku dapat melarikan diri dari masalah-masalah diriku; dengan pergi ke diskotek, berjoged, minum alkohol, ecstasi, nyandu dan sebagainya. Walaupun hanya sesaat, segala masalah terlupakan.

Apabila aku terjerat pada kesenangan ini….; barangkali aku masih dapat menyadari secara intelek, bahwa apa yang kulekati adalah tidak baik menurut norma-norma umum ataupun nuraniku. Kemelekatanku yang amat sangat ini, membuatku tak berdaya; namun demikian disana masih ada kesadaran walaupun sebatas intelek, dan akupun masih dapat melihat segala resiko yang terkandung dari kobodohan diriku yang tak dapat kuhindari. Namun adalah suatu kemelekatan yang lainnya yang hampir tak tampak, sedemikian tersamarnya, sehingga malahan dikejar dijadikan tumpuan pengharapan. Ini adalah kemelekatan diriku pada sang diri yaitu si-pikiran. Hal ini sangatlah sulit teramati, karena dia adalah bagian yang melekat tak terpisah, dia ibarat bayangan dari diriku yaitu siAku.

Seperti dalam tulisan “TEORI LAGI…TEORI LAGI”, maka semua tulisan adalah kata-kata adalah wujud pikiran, bukan? Bila kita melihat hal ini senyatanya, maka kitapun melihat bahwa semua konsep, teori, doktrin, kitab-kitab dengan tuhan-tuhanya itu adalah pikiran. Dan apabila saya memuja atau mempercayai sebuah kitab, sebuah ayat, bukankah sama artinya saya memuja pikiran yang adalah si Diri. Kepercayaanku yang solid, yang telah kuwarisi turun temurun dari moyangku, membuat aku semakin sukar melihat realita ini. Yaitu kepercayaanku adalah pemujaan terhadap pikiran, siDiri. Dan lebih jauh, aku sama sekali tak pernah menyadari bahwa apa yang kujadikan sebagai tempatku berlindung; yang kupercayai itu hanyalah sebuah pikiran, sebuah konsep, sebuah simbol dari rasa takut, dari sebuah pengharapan, dari sebuah keinginan akan adanya sesuatu yang kekal-abadi. Sadarkah aku akan kondisi diriku ini?

Ini bagaikan benang kusut, tiadalah gampang untuk mengurainya; maka dari itu aku selalu hidup dalam kebingungan, dalam keraguan dan kecemasan. Apabila aku tak dapat memahami, mengurai benang kusut ini, selamanya aku terjebak disana. Dan apa itu kebebasan (mokshatam), nirwana hanyalah sebuah ide mendaki puncak gunung yang tak pernah kulaksanakan. Aku hanyalah berputar-putar, terjerat dalam kubangan yang kubuat sendiri. Kubangan ini adalah semua konsep, teori, metode, kitab-kitab, ayat-ayat, simbol-simbol dan sebagainya, yang kupercaya, ku-puja, dan ku-mulyakan. Dan ini semua senyatanya adalah pikiran-siAku! Dapatkah aku jernih melihat realita ini? Bila aku sungguh-sungguh melihat, didalam melihat ini terjadi tindakkan batin seketika. Disini ada pemahaman total. Tindakkan batin yang cerdas ini menyapu bersih semua debu dan sampah-batin!

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: