Beranda > Keheningan > SANG JALAN

SANG JALAN

APABILA SAYA MENAPAKAN KAKI PADA SANG JALAN MENUJU NEGARA, SAYAPUN TIBA DISANA. DOA PERMOHONAN SAYA TAK’AN PERNAH MEMBAWA SAYA KE NEGARA BILA SAYA MELANGKAH MENUJU KARANGASEM.

Ini adalah hukum alam yang pasti. Bila kita menyimak kata-kata diatas secara dangkal, maka kita tak’an dapat melampaui kata-kata. Sebagian orang yang dengan kecerdasan cukup, tentu dapat mengerti kata-kata itu sebatas intelek dan diapun tetap terjerat dalam kata-kata.

Apakah makna yang terkandung didalam kata-kata diatas? Bila Negara itu Keheningan, Kedamaian, Kebebasan, Kebahagiaan; dan jika saya melangkah menuju ITU maka saya pasti akan tiba disana. Disini kita diajak melihat, memahami hukum alam, realita yang pasti; bukan berpikir, bahwa melangkah itu menuju sebuah tujuan untuk memperoleh sorga!

Lebih jauh, kita mesti menyimak lebih dalam agar dapat melampaui kata-kata itu. Apa itu yang dimaksud MENAPAKAN KAKI PADA SANG JALAN? Sang JALAN yang dimaksud adalah sang Diri, siPikiran. Jadi, Sang Diri mesti menapak pada dirinya, melalui dirinya dan menuju kedalam dirinya sendiri. Apakah maksudnya itu? Sang Diri mestilah melihat, belajar sedalam-dalamnya tentang dirinya sendiri sampai dia sungguh-sungguh memahami dirinya. Disinilah medan kurusetra tempat para Arjuna bertempur.

Bila dia sungguh memahami, dia akan melihat apa adanya dirinya, termasuk semua kebodohannya; keserakahannya, kedengkian dirinya, kecemasannya, kemelekatannya dan lain sebagainya. Untuk dapat sungguh-sungguh melihat seutuhnya, orang mesti memiliki niat yang kuat. Maka dalam melihat itu semua kebanggaan dirinya dihancurkan. Tiada apapun yang tersisa. Bila Anda telah sampai disini, Anda tak’an mempunyai kata-kata apapun untuk dikatakan……………”tubuh itu terlampaui, tinggallah nafas… satu… satu,…. energi perhatian merasuk, menembus dan melampaui materi pikiran…..dualitas terlampaui,…. nafaspun menghilang,….. tak ada apapun yang dapat dipegang…….dan disitu…… selembar pikiran murni, bagaikan sehelai daun segar tak bergoyang, manakala tak ada sedikit pun angin berhembus.”

Pemahaman mestilah secara actualitas, barulah kata-kata itu, dualitas itu terlampaui.

Kategori:Keheningan
  1. 18 Oktober 2009 pukul 9:53 am

    hmmmmm…
    i’m thinking it now…

  2. 4 November 2009 pukul 10:26 pm

    Seperti iluminasi (pencerahan tiba-tiba) dalam cha’an non dualitas hanya duduk diam.

    • 6 November 2009 pukul 9:23 am

      Bila orang sungguh memahami, maka dia hidup hanyalah hidup, dan fungsi pikiran sangatlah minim. Beban batin hampir tiada. Dari kesunyian ini timbulah pemahaman. Orang akan melihat jelas. Orang akan mempunyai kecepatan wawasan yang luar biasa. Ini hanya bisa terjadi bila pikiran betul-betul kosong, bila pikiran tidak dibebani oleh keributannya sendiri. Dalam kesunyian ini ada keluasan dan kelegaan yang tak tersentuh oleh lagu pujian, tradisi, kepercayaan apapun.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: