Beranda > Keheningan > KEMELEKATAN

KEMELEKATAN

“Setiap bangun pagi, begitu sadar, dalam kondisi mata masih merem, saya menggapai rokok yang telah saya siapkan, dan menyulutnya.” “Waow sedapnya; barulah setelah itu saya bisa membuka mata.” Ini pengakuan seorang kerabat yang telah melekat (ketergantungan) pada rokok.

Kita semua barangkali melekat/tergantung dengan berbagai hal, yang tak pernah kita sadari. Ini mungkin karena kemelekatan kita tidak separah si-kerabat, si-perokok tadi. Kalau kita mau sedikit saja menaruh perhatian untuk melihat, tentu kita akan menyadari ketergantungan kita. Manakala kita bersedih, marah-marah, jengkel, bingung, takut, gelisah; tahukah kita, apa penyebabnya? Bila kita cermat mengamati, ini terjadi karena kemelekatan kita pada sesuatu, bukan? Yaitu manakala apa yang kita lekati itu tak kesampaian; kita kecewa, bingung, cemas, marah-marah dan sebagainya.

Apabila saya melekat pada sesuatu, katakan materi, kekayaan, kemasyuran; maka saya akan selalu berusaha untuk memperolehnya lebih banyak dan lebih banyak lagi. Dalam memperoleh ini tak jarang saya menghalalkan semua cara, termasuk korupsi umpamanya. Karena terbiasa, maka cara-cara ini menjadi kebiasaan, menjadi tradisi. Seperti korupsi yang telah menjadi tradisi dimana-mana. Walaupun tradisi korupsi, merokok, mabuk dan sebagainya di-katagorikan sebagai hal yang tidak baik, tetap saja kita terjerat disana.

Disini kita tidak akan melakukan menilaian benar-salah, baik-buruk dengan segala kemelekatan/ ketergantungan itu, namun kita hanyalah menyimak dan mempertanyakan, kenapa kita mesti melekat? Melekat kepada hal-hal yang dianggap buruk, pun kepada hal-hal yang dianggap baik, ataupun kepada hal-hal yang digolongkan sebagai mulya, luhur, super baik. Kemelekatan adalah melekat; baik kepada yang buruk, kepada yang baik, kepada yang super baik/luhur, adalah sama nilai melekatnya yaitu terjerat.

Kemelekatan pada yang buruk, katakan korupsi; saya mesti menebang berjuta-juta hectar hutan, agar ada uang untuk dikorup. Ini telah menimbulkan bencana dimana-mana, suhu yang extrim, pamanasan global, banjir, kekeringan dan sebagainya. Namun demikian saya masih membutuhkan lebih banyak hutan untuk ditebang, karena kemelekatan saya pada materi, kemasyuran, membuat saya tak pernah merasa puas. Pahamkah aku dengan tindakanku?

Kemelekatan pada yang baik, katakan memupuk pengetahuan dengan membaca banyak buku-buku. Bila tak ada buku, saya tak punya inspirasi apa yang harus ditulis, dan saya menjadi tergantung dengan buku-buku, barangkali juga saya akan memujanya. Pemujaan saya pada buku-buku ini, tanpa disadari memupuk kebanggaan akan “citra diri” merasa diri pinter. Ketika ada orang berkata bahwa tulisan saya tak ada yang original, maka “citra diri” saya tersinggung. Sadarkah aku pada diriku?

Kemelekatan saya pada yang super baik, yang mulya/luhur, seperti halnya kepercayaan dengan segala ritualnya. Ini adalah kemelekatan yang lebih bersifat laten, tersembunyi; namun jika saya peka, saya dapat melihatnya bagaikan mengamati bayangan wajah diriku didalam cermin datar yang bersih. Tetapi masalahnya adalah cerminku tak pernah bersih, dia hampir tertutup penuh dengan debu yang tebal, sehingga aku sama sekali tak melihat apapun. Debu kemelekatanKU yang senantiasa melekat pada kesenangan, kebanggaan, kemasyuran menimbulkan harapan sekaligus kecemasan dan ketakutan, dari sini saya memohon kepada langit, tuhan khayalanKu; dan ini mendorong saya lekat terjerat pada kepercayaan dengan segala ritualnya. Jadi rasa takut yang tersembunyi inilah merupakan sumber; kenapa saya melekat kepada hal yang ku-anggap mulya/luhur ini. Jika saya cermat, apa yang ku-anggap luhur yaitu kepercayaan dengan ritualnya yang adalah wujud tersembunyi dari rasa takutKU. Maka saya hanyalah memuja rasa takutKU sendiri, yang selama ini tak pernah ku-pahami.

Pernahkah Anda menyimak, kenapa kita takut? Ini karena kita telah melekat, tergantung dan ketagihan. Bila saya melekat pada kenikmatan, saya takut kalau itu berakhir, maka dari itu saya memohon pada langit dan saya pun terjerat dalam kepercayaan. Jadi kemelekatan, rasa takut dan kepercayaan itu adalah satu hal yang sama. Jika saya tidak melekat pada apapun, tak’an ada rasa takut dan saya tak’an memohon apapun kepada dewa yang manapun.

Seandainya dalam kehidupan ini ada masalah; maka masalah ini berawal dari kemelekatanKU, yang kemudian berkembang menjadi keserakahan, persaingan, pertentangan, permusuhan, kebencian dan seterusnya. Adakah kita melihat hal ini? Disinilah, saya mestilah menyelidiki, mempertanyakan, mestikah saya terjerat dalam kemelekatan?— kemelekatan pada yang buruk, yang baik maupun yang luhur? Karena semua kemelekatan itu telah menyerimpung diriku dari kebebasan.

Saya tak meminta Anda untuk berhenti jadi perokok, koruptor, jadi pemuja dan lain sebagainya; hidup Anda sepenuhnya milik Anda. Bila Anda bertanya, mencermati dan sungguh-sungguh menyimak, barangkali Anda akan menemukan sesuatu yang adalah kunci jawaban. Anda akan melihat hidup hanyalah hidup, Anda hidup dalam kebebasan! Ini adalah mokhsatam jaghaditam.

Kategori:Keheningan
  1. Nora Yuliani
    25 November 2010 pukul 6:16 pm

    🙂

  2. windra
    26 November 2010 pukul 9:50 am

    Dulu seorang teman bertanya, bgmn kita dpt menguji atau menghilangkan kemelekatan?

    Cobalah ber-experimen pd makanan kesukaan Anda. Ambil contoh bahwa Anda suka sekali pada nasi-goreng. Cobalah berpuasa dari pagi hingga sore, dan sore harinya Anda pergi ke-restauran yg paling enak dan pesanlah nasi-goreng. Saat sang-Koki menggoreng nasinya, aroma sedapnya akan semakin mengundang rasa lapar Anda bukan…? Dan ketika nasi-goreng yg panas2 dihidangkan…waw…Anda terpaksa meneguk air-liur; namun JANGANLAH menyantapnya, amati batin Anda…, betapa hasrat yg kuat seperti meledak tak tertahankan pingin segera melahap nasi-goreng itu.
    Disini kita dpt melihat betapa kuatnya kemelekatan kita. Apabila kita tetap bertahan dlm pengamatan, artinya kita jangan melarikan diri/mengalihkan pikiran/keinginan dari nasi-goreng, tetapi kita juga tdk menuruti keinginan untuk menyantapnya…., dlm bbrp saat kita akan terombang-ambing oleh gelombang hasrat kemelekatan kita. Namun secara perlahan gelombang-hasrat ini semakin calm. Ini akan memberi kita pelajaran langsung, dan ini secara otomatis mendatangkan pemahaman, dimana kemelekatan itu menjadi lumpuh dan habis.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: