Beranda > Keheningan > TELUR, AYAM,……?

TELUR, AYAM,……?

Ada tiga ekor Jin yang sedang bertempur untuk memperebutkan seorang anak ajaib yang memiliki darah, sumsum serta nadi yang murni. Ketiganya bertempur saling menyerang, dengan kacau balau.

Si anak ajaib merasa kasihan melihat ketiga orang Jin itu, yang mulai kepayahan setelah bertempur dua hari dua malam tak henti-hentinya, diapun berseru, “Eh, kalian bertiga berhentilah bertempur, dengarkan aku!” Suasana ini sungguh aneh, tiga Jin yang wajahnya seram menakutkan ini sangat patuh kepada si anak ajaib. Dan anak itu yang terikat menjadi tawanan, sebaliknya merasa iba kepada tiga Jin itu.

“Begini saja!”, “dari awal permintaanku, aku hanya mau disantap oleh seorang dari kalian yang paling unggul. Secara phisik kekuatan kalian seimbang, maka aku akan menguji kemampuan otak kalian, dengan teka-teki!” Tiga Jin itu berguman, “menguji otak dengan teka-teki?” “Aku akan memberi kalian teka-teki, siapa yang jawabannya benar, dia berhak memangsaku”. “Akuuur”, tiga Jin itu serempak mejawab. Dengarkan baik-baik teka-teki ini, “Yang mana duluan ada, telor atau ayam”. “Aku beri waktu tiga hari, kalian harus sudah punya jawaban.”

Tiga Jin ini mulai berpikir keras sambil berguman mengulang pertanyaan, duluan mana ada …. telor atau ayam, ……telor-ayam?……telor-ayam? Jika telor, siapakah yang bertelor; jika ayam dari mana ayam itu menetas? Tiga hari, tiga malam Jin-Jin itu memeras otak, sampai lupa makan dan minum, namun mereka tetap saja tak bisa menemukan jawabannya. Akhirnya, tiba waktunya untuk memberi jawaban, tiga Jin itupun menemui sianak ajaib. Dengan dahi yang masih berkeringat, seluruh tubuh lemas karena kelelahan, tiga orang Jin itupun menjawab. Jin yang pertama menjawab, “telornya” sedangkan Jin yang kedua menjawab “ayamnya”. Jin yang ketiga bingung harus menjawab apa, seperti juga teman-teman, mereka sesungguhnya belum menemukan jawabannya. Karena terdesak dan harus memberi jawaban, diapun berteriak kesal, “TAHIIIInyaaa……”

Apabila orang memiliki batin yang bersahaja, dia akan menemukan jawabannya. Namun kebanyakan orang batinnya telah sedemikian komplek dipenuhi bermacam-macam pikiran: rasa malu yang besar, kehormatan, keangkuhan, gengsi, merasa tahu segala, padahal hanya tahu dari buku yg dibaca yang tak terbukit kebenaran. Maka itu mereka tak mau kalah, mereka bersaing dalam segala hal. Inilah adanya batin manusia secara umum.

Walaupun orang telah belajar di sekolah, di perguruan tinggi, dan kehidupan pun banyak membimbing mereka tentang norma-norma, untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, dengan tradisi, dengan tetangga, dengan kerabat-keluarganya, namun mereka tetap saja serakah, selalu bersaing yang menimbulkan konflik dan penderitaan dimana-mana juga bagi dirinya sendiri. Pengalaman mengajar orang tentang segala sesuatu seperti ketrampilan, bahasa, pertanian, sopan santun, menjelajahi angkasa luar, penyakit, obat-obatan, matematika dan sebagainya. Tetapi kenapa orang tidak belajar dari pengalamannya tentang peperangan, permusuhan, kebencian, rasa iri yang menguasai dirinya? Sudahkah mereka belajar untuk tidak menimbulkan peperangan, kebencian dan permusuhan? Tidakkah orang belajar dari pengalamannya bahwa peperangan itu sangat mengerikan, sangat membahayakan kelangsungan hidup mereka? Dari pengalaman orang bisa membangun rumah yang lebih baik, tetapi apakah mereka belajar untuk mendiami rumah ini dengan santun, dengan budi yang luhur? Pengalaman mengajarkan orang untuk mendapatkan makanan yang bergizi, pakaian dan tempat tinggal yang lebih sehat, tetapi tidak belajar bahwa keserakahan, ketidak-adilan sosial telah menghancurkan hubungan yang benar diantara manusia. Dan dari fakta, organisasi keagamaan yang dilandasi pengkondisian, dogmatis, memicu permusuhan dan kebencian, sehingga memecah-belah umat manusia.

Pengalaman membuat orang terkondisi dan memperkuat prasangka, kecenderungannya yang aneh-aneh, memperkokoh dogma serta kepercayaannya yang dianggap paling benar. Dan orang tidak belajar hidup dengan landasan yang benar yaitu cinta kasih. Juga, pengalaman telah mengajarkan orang untuk memperkuat kelompok masing-masing menjadi satu kesatuan yang berlawanan dengan kelompok yang lain, hal ini menimbulkan perselisihan, pemisah-misahan dan kebencian. Dapatkah orang melihat semua kejadian ini dalam kehidupan? Jika orang memperoleh pengetahuan lewat pengalaman yang bersifat teknik untuk meningkatkan taraf hidupnya hal ini mesti, dan sangatlah berguna. Namun dalam hubungan kehidupan dan tingkah-laku, ini adalah suatu hal yang hidup, yang terus bergerak, maka diperlukan pemahaman sepanjang waktu. Jika orang bertindak berdasarkan pada apa yang telah di pelajari; yaitu tentang bagaimana semestinya berprilaku, maka tindakannya menjadi mekanis dan basa-basi. Tindakan yang dilandasi pada pengetahuan selalu melibatkan masa lampau; dan pengalaman masa lampau yang sarat dengan kepentingan pribadi, dan kepentingan kelompok tertentu, yang membuat prilaku kehidupan tidak bisa berkembang. Lihatlah satu kelompok atau seseorang yang mampu menjadi superior, pengalaman ini akan memupuk kebanggaan diri. Dapatkah orang melihat bahayanya? Benih racun telah ditanam. Pengalaman sukses yang diraih menimbulkan kebanggaan dan kebanggaan memberi perasaan nikmat. Orang pun tergiur pada kenikmatan; dan akan selalu berusaha untuk mempertahankan, selanjutnya melipat-gandakan keinginan agar memperoleh yang lebih nikmat lagi. Dalam prakteknya tidak jarang menghalalkan segala cara; kecurangan, tipu daya licik dan sebagainya. Hal ini tentulah akan menimbulkan konflik, permusuhan dan kebencian. Bukan hanya itu; manakala apa yang didambakan tidak tercapai, ini pun menimbulkan kekecewaan dan kepedihan yang sangat.

Demikian juga halnya dengan pengalaman didalam organisasi keagamaan, dengan si-orang suci, para pendeta dan dogmanya. Mestikah orang mengikuti dan menerima semua otoritas dan dogmanya? Jika orang belajar yaitu mengamati, bukankah si-orang suci harus diakui oleh masyarakat dan selalu menyesuaikan diri dengan anggapan masyarakat tentang kesuciannya, jikalau tidak, dia tidak akan disebut orang suci. Sama halnya dengan si pendeta yang harus mendapat pengakuan serupa dari para pengikutnya yang telah terkondisi oleh tradisi, dogma dan kepercayaannya. Demikianlah, si pendeta dan pengikutnya merupakan bagian dari hasil pengkondisian tradisi oleh masyarakat tertentu di mana mereka hidup.

Apa yang disebut pengalaman religius bagi mereka yang terkondisi oleh tradisi, terkandung suatu proses mengenal tentang hal-hal yang sudah diketahui. Oleh karena itu apa yang dialami adalah hal yang telah di kenalinya dari pengalaman, dari masa lampau. Apa yang mereka anggap sebagai pengalaman religius tidaklah ada manfaatnya, hanyalah membuat orang terkondisi pada kecenderungan atau keinginannya yang special, hal ini menyuburkan illusi dan kepalsuan. Jika seseorang mengalami sesuatu, ini menunjukkan bahwa ada “yang mengalami”. “Yang mengalami” ini adalah intisari dari seluruh hasil pengkondisian yaitu pikiran (si-aku). Dan apa yang dialaminya sudah tentu adalah sesuatu yang pernah dikenalnya. Selama intisari ini, yaitu si “Anda” masih ada, atau “si-aku” masih di situ, maka yang maha luas tak dapat berwujud. “Si-aku” dengan pikirannya yang picik, dangkal, dengan segala pengetahuan dari pengalaman yaitu masa lampaunya, dengan keterkondisiannya, dengan hatinya yang dibebani oleh rasa cemburu, kebencian, keserakahan dan kecemasannya. Bagaimana mungkin wujud batin seperti itu dapat memahami sesuatu yang tiada awal dan tiada akhir, suatu dimensi ekstase yang tak terbatas.

Awal dari kebijaksanaan ialah pemahaman diri sendiri. Karena itu mulailah dengan memahami diri sendiri. Sesungguhnyalah hidup adalah belajar tanpa proses pengumpulan dari masa lampau. Dalam belajar ada perhatian yang terus-menerus, sehingga kita dapat melihat diri sejujurnya. Bila aku bodoh inilah adanya diriku, Namun ketika bodoh diriku plus (‘bolog megandong’), aku tak dapat melihat kebodohan diriku. Maka aku tak’an dapat menemukan jawaban duluan mana telor atau ayam….? Bila kita jujur disini ada kesederhanaan, maka kita menemukan jawabannya adalah TIDAK TAHU.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: