Beranda > Keheningan > BARONG MANA LEBIH SAKTI

BARONG MANA LEBIH SAKTI

Nang Lecir adalah seorang pengerajin barong yang sangat terkenal. Dia telah menerima banyak pesanan dari berbagai desa yang menjadikan barong sebagai atribute penting dalam kaitan ritualnya. Mungkin karena salah menghitung pesanan, seekor barong masih tersisa dan Nang Lecir menjadikannya semacam maskot. Barong ini dipajang dan digantung disamping rumahnya yang sekaligus merupakan workshop and showroomnya.

Belakangan ini terjadi kejadian-kejadian yang menghebohkan, banyak barong, pretima dan patung-patung batu antik dipura-pura yang disatroni pencuri. Sudah banyak perhiasan Ratu Gede, Ratu Niang, Ratu Alit, Ratu Lingsir dan ‘pretima-pretima‘ yang dicongkel oleh para pencuri. (ini semua adalah atribute, simbol-simbol dalam agama Hindu)

Si Lengeh berjalan sambil berguman seorang diri. “Bukankah barong-barong yang dibeli dari Nang Lecir itu sudah ‘dipelaspas’ dan ‘dipasupati’ dengan upacara lengkap, semestinya sudah menjadi dewa, demikian juga dengan ‘pretimapretima’ itu, namun kenapa pencuri-pencuri bisa mempreteli dan menggasaknya? “Apakah dewadewa ini tidak memiliki sakti?” Si Lengeh menggeleng-gelengkan kepalanya, pertanda dia bingung.

Karena ulah pencuri-pencuri ini maka seluruh warga didesa-desa serempak mengadakan penjagaan ketat disetiap pura-pura. Bukan hanya itu, tempat-tempat penyimpanan barong dan pretimapretima bahkan dibuatkan kunci double malah ada yang dilengkapi dengan system alarm otomatis katanya. Bukan main cara orang desa dalam menanggulangi masalah pencurian ini. Agar kuat begadang, maka digelar sistem terpadu yaitu permainan ‘judi ceki‘ dan ‘pe-santhi-an‘ sekalian penggalian dana. Sistem ini bagaikan menyelam sambil minum air sekaligus menangkap ikan dan udang dibalik batu.

Dari tindakan siskamling yang terpadu ini, para pencuri tidak dapat melakukan operasinya lagi. Maka si pencuri melirik barong maskotnya Nang Lecir yang digantung disamping rumahnya tanpa ada penjagaan sama sekali. Si pencuri menyatroni rumah Nang Lecir dan mendekati barongnya yang tergantung. Suasana sangat sepi, maklum sudah jam 01.01, semua penghuni dirumah Nang Lecir sudah lelap. Ketika si pencuri akan mulai melakukan aksinya yaitu mencongkel perhiasan dikeningnya, tiba-tiba mata barong itu berkedipkedip. Bayangkan sipencuri yang tak pernah mengenal takut melintasi gelapnya malam, sontak terkejut dan lari pontang-panting. Berita angin ini juga membuat si Lengeh berhari-hari gelang-geleng dan berguman, “barong mana lebih sakti nich yee…..? Barongnya Nang Lecir atau nyang………mana?”

Didesa tua yang penuh dengan orang-orang, tetapi kosong dari kehidupan–manusia telah menciptakan kelompok-kelompok dengan kurungan masing-masing. Dan didalam kurungannya mereka juga membuat sekat-sekat pemisah antara desa yang satu dengan yang lainnya. Mereka membuat artribute, simbol-simbol yang kemudian disakralkan dengan suatu upacara dan mempercayai bahwa itu telah menjadi dewa yang akan dapat melindungi diri mereka. Demikianlah mereka memuja dewa-dewa khayalannya dengan melakukan berbagai macam upacara yang benar menurut pikiran mereka.

Si Lengeh berhari-hari gelang-geleng, berpikir tentang kenyataan yang ada, namun tak dapat menemukan jawaban, maklum otak si Lengeh pas-pasan.

Kenapa orang-orang didesa tua melakukan kegiatan-kegiatan itu? Apakah dasar dari tindakan mereka? Adakah mereka benar-benar telah mendapat perlindungan atau berkah dari artribute, simbol-simbol dan ritual yang dilakukan? Pernahkah orang mempertanyakan kepada dirinya, dan apakah mereka menemukan jawaban yang sejujurnya? Setiap orang tentu mempunyai jawaban yang berbeda. Namun orang mesti sungguh jujur, untuk dapat menemukan jawabannya. Kenapa mereka membuat simbol-simbol dan memujanya?…… Kenapa?

Jika orang sungguh-sungguh jujur, dia akan menemukan yaitu, karena dalam dirinya ada rasa TAKUT, bukan? Karena mereka tidak berani menghadapi fakta hidup seperti apa adanya, mereka mencari perlindungan. Bentuk perlindungan ini di ciptakan sendiri oleh pikiran mereka, dan merekayasa sedemikian rupa, dengan ornamen ritual agar kepercayaannya semakin mantap. Bukankah ini yang telah lakukannya?

Jika orang jujur, diapun akan melihat kehidupan dengan jelas, termasuk ketakutan yang ada dalam dirinya. Tetapi selama ini orang tak pernah jujur dan mempertanyakan, mereka menganggap dan meyakini bahwa apa yang dilakukan sudah benar, wajib hukumnya, apalagi jika hal itu diperintahkan oleh sang pemimpin agama, sang pendeta yaitu orang yang telah dianggap tahu……? Namun dari kenyataan yang ada, hidupnya masih terbelenggu oleh penderitaan, kecemasan, kebingungan, kemiskinan, kemalangan, keserakahan, persaingan, kebencian, ketakutan dan lain-lainnya.

Tetangga si Lengeh mengeluh, “Suba keto abet mapinunas, nu keweh hidupe, apebuin sing ngawe aturan, meh metulu-tulu geringe teka.” (sudah sedemikian rupa melakukan ritual dan berdoa, masih susah hidup, apalagi tidak melakukan itu, bisa-bisa musibah datang tak henti-hentinya). Tetangga ini tentu memiliki kepercayaan dan juga rasa takut yang kuat.

Kepercayaan timbul dari rasa takut. Semakin kuat kepercayaan pada sesuatu, semakin kuat juga rasa takut itu. Jika orang tidak dapat melihat dan memahami hal ini, maka setiap tindakan apapun yang dilakukannya tentu bersumber dari rasa takutnya, dan tindakan ini akan menghasilkan rasa takut semakin kuat dan kuat yang akan mengikatnya semakin erat pada kepercayaannya. Dengan demikian, dia tak dapat belajar untuk menemukan kebebasan (mokhsa).

Karena itu orang harus belajar melihat dengan jujur. Belajar adalah memperhatikan, mengamati, menyelidiki, mempertanyakan, menyangsikan, bukan mempercayai sehingga mereka sampai pada suatu pemahaman. Dengan dipahaminya rasa takut itu, maka diapun bebas darinya, bebas dari kepercayaan dengan semua ritualnya.

Apakah itu kebebasan? Kebebasan disini bukanlah bebas berbuat apa saja, semau gue, namun orang secara batiniah mesti bebas yaitu bebas dari rasa takut, yang berarti bebas dari kepercayaan, dogma, otoritas dan sebagainya. Dengan demikian barangkali hal ini dapat membawa orang pada demensi belajar yang berbeda, yaitu semata mengamati, tanpa penilaian apapun. Namun jika orang terkondisi secara psikologi oleh rasa takut atau kepercayaan, maka dia tak’an dapat melihat kehidupan secara utuh, karena semua bentuk pengaruh atau intervensi dari suatu otoritas, metode atau doktrin apapun membuat batin tidak jernih, menjadi tumpul dan kehilangan energi.

Orang mesti belajar dengan jujur mengamati dirinya dan keterlibatannya dengan kehidupan disekitar. Bagaimana kecemasan, kesedihan, keputus-asaan, kemarahan, kejengkelan, penderitaan dan sebagainya itu muncul didalam dirinya. Amati saja! Dalam mengamati hendaklah jangan mengadili, membenarkan ataupun menyalahkan, maka segalanya terlihat dengan jelas. Hal ini awalnya mungkin membingungkan dan terasa berat karena orang tak biasa melihat dengan benar yaitu semata mengamati. Selama ini orang selalu terlibat secara emosional dalam melihat, makanya diapun tidak melihat, dan oleh karena itu mereka tak pernah bebas dari rasa TAKUT. Jika tak ada rasa TAKUT dalam diri, maka kepercayaanpun tidak ada, dan barulah orang dapat belajar; diapun melihat, diapun memahami, diapun bebas (mokhsatam)…….; maka tak’an ada pertanyaan…., barong mana yang lebih ‘sakti‘, yang dapat memberi berkah sorga ataupun perlindungan, keselamatan dan lain-lain.

Kategori:Keheningan
  1. putu suniat
    28 Desember 2011 pukul 9:15 am

    hehehe,,cerita yg masih subyektif dari pak penulis,,namanya orang BELAJAR,,ya harus nerima apa yg diajarkan,kalo gk ngerti,baru bertanya,bukan memprotes/menyangsikan apa yg dipelajari,,kalo sudah menyangsikan proses belajar,itu bukan BELAJAR namanya,tapi PENGAMAT,,,KEPERCAYAAN bukan timbul dari rasa takut,kalo seperti itu,itu mah percaya setengah2 namanya,,sya kira pak penulis lebih paham akan hal ini,,,tolong tulisannya jangan selalu menyudutkan sesuatu,,saya kira wawasan anda cukup luas,kenapa dipersempit,,semoga damai selalu,,mohon maaf atas tulisan saya ini,,

    • windra
      28 Desember 2011 pukul 3:07 pm

      Sy hanya mencoba menulis fakta2 dlm kehidupan disekitar Pak Putu…, mungkin ini tak berkenan bagi anda. Maksud saya proses belajar itu mesti diawali dgn meragukan, mempertanyakan, bukan mempercayai. Dgn dmk kita mungkin akan dpt lebih kritis menyimak. Ini sama sekali tdk bermaksud menyudutkan, kita hanya mencoba mengukap dgn mempertanyakan…., dgn dmk kita akan menemukan jawabannya…., sy harap Bapak jangan merasa tersudut…., terima kasih komen anda…, salam persaudara….

  2. putu suniat
    28 Desember 2011 pukul 5:54 pm

    maaf pak,tyang juga jadi agak bingung nih,,mudah2n ada pencerahan dari bapak,,,
    kalo dri sudut pandang tyg ya pak,kita berbicara fakta dalam hal2 yg lain itu masuk logika,,tapi kalo fakta dalam kepercayaan/keyakinan,kayaknya kita musti masuk kedalam kepercayaan/keyakinan tsbt,,karena menurut tyg,apapun yg kita lihat,kita dengar,itu bisa jadi tidak sesuai dengan fakta yg kita tulis,faktanya bisa berbalik 180 derajat,,,
    dan ada lagi yg tyg agak bingung nih pak,,bagaimana bisa orang yg tidak punya kepercayaan bisa tidak punya rasa takut,kecuali orang tsbt punya kepercayaan/keyakinan yg beda,tetapi tetep saja org tsbt punya kepercayaan/keyakinan,,,
    dan yg terakhir pak,mengapa bapak yg notabene orang bali dan mudah2n bpk adalah seorang hindu kok nulisnya kayak orang yg sudut pandangnya bukan agama hindu,walaupun bapak menuliskan tentang hindu,kalo bapak bukan seorang hindu,tyg tidak akan bertanya,karena tyg yakin,semua itu hanya berdasarkan fakta yg bapak lihat dan dengar,,,
    mohon maaf pak,sudah mengusik ketenangan bapak atas kebingungan tyang,mudah2n apa yg tyg tulis ini adalah salah semua,mohon pencerahannya pak,,suksme,,

    • windra
      29 Desember 2011 pukul 1:32 pm

      Pak Putu yg baik…, sy dilahirkan dlm keluarga Hindu dan pernah jadi anak angkat dari kel. Pemangku. Jadi saban hari sy sll main di Pura disamping rumah sambil bersih2. Ya sejak kecil sy biasa dgn kegiatan tradisi Hindu. Namun dmk sejak sy bisa berpikir, sy sll mempertanyakan shg sy menulis artikel dgn judul PENGAKUAN KAKEKNYA, mungkin Bapak tlh membacanya. Dlm perjalann ini klo kt menyimak scr perlahan, tentu kita melihat fakta2 apa adanya.
      Hal mendasar dlm tulisan2 sy hanya mncoba mengajak diri kita masing2 untuk belajar, utk ini kt mesti scr jujur mengungkap fakta2 itu.
      Fakta pertama kt tentu melihat jelas bahwa saat pertama kita lahir, kita adlh kosong, murni. Ini sy katakan sbg hakekat diri yaitu kemurnian. Lambat-laun sejalan dgn pertumbuhan, kita terisi oleh sgl hal yg datang dari lingkungan dmn kt lahir….; dan akhirnya kita memiliki kepercayaan yg ber-beda2. Ini jg sebuah fakta yg lainnya. Dlm kepercayaan inilah kita berpegang, meyakini, meletakan tumpuan harapan dan tanpa disadari disini jg ada kecemasan yg adalah bayang2 dari harapan.
      Saya tak mengatakan kepercayaan itu salah…., namun faktanya kepercayaan itu telah meng-kotak2 umat manusia menjadi agama A,B,C dstnya, yg sering menimbulkan konflik. Dan seNYATAnya kepercayaan juga menghalangi kt utk menyelidik, menyimak lebih dlm…., krn umumnya kt telah puas ktk kita telah melakukan kaedah2, dogma2 sesuai dgn konsep2 kepercayaan. Disini penggalian, proses belajar ini berhenti.
      Saya beri analogi yg sahaja:
      Umpama sy mau ikut ujian matematika, namun sy tak tahu apa2 tentang itu…; sy berharap dan percaya pd muksizat…, namun tetap saja dlm diri sy ada kecemasan bukan…? Seandainya sy telah paham dgn matematika, sy tak perlu PERCAYA bahwa 2×2 = 2+2. Jadi pemahaman akan membuat kepercayaan dan rasa takut sirna. Pemahaman ini adalah mokshatam inti sari Hindu. Pemahaman tdk datang lewat kepercayaan, namun lewat pengamatan, lewat perhatian, penyimakan, penyelidikan, ini adlh belajar. Coba baca juga artikel terakhir BELAJAR. Belajar disini bukan pengumpulan pengetahuan yg justru menjadi kekayaan sekali-gus sampah batin…, yg mungkin hanya akan memberi kebanggaan-diri.
      Saat ini mungkin sy bukan lagi orang Hindu, atau Islam atau apa-pun…, krn ktk mokshatam hadir dlm diri kita, kita otomatis bebas dari sgl label2, atribut2 scr batiniah…, walau saya tetap scr pisik mesti datang ke Banjar melakukan tugas kewajiban sy sebagai warga desa yg masih berpegang pd tradisi.
      Pak Putu, kita semua sedang dan terus belajar krn kehidupan ini dinamis.., kt mesti terus mengikuti dan mengamati tanpa menyimpulan apa-pun, krn kebenaran tak mungkin disimpulkan. Kita mesti menemukan itu bagi diri kita masing2. Seandai kt mampu memahami kepercayaan yg adlah keterkondisian diri kita oleh lingkungan, mungkin kita menemukan hakekat-diri yaitu kemurnian itu (rebirth).

      Klo boleh sy meminta, utk membaca artikel dlm blog ini mesti dibaca scr meditatif, semata membaca tanpa membenarkan atau-pun menyalahkan.

      Salam damai…., smg anda diberkahi…

  3. putu suniat
    30 Desember 2011 pukul 11:00 am

    trimakasih banyak pak wayan atas semua pencerahannya yg luar biasa,,mohon maaf,sebenernya tyg menilai artikel bapak bukan dari sudut pandang tyang pribadi,tyg mengambil sudut pandang dari artikel yg bpk tulis tersebut,,tyg paham akan apa yg bapak sampaikan dalam artikel tsbt,,,jika kita sudah mencapai yg namanya alam semesta,benar itu adalah salah dan salah itu adalah benar,tiada bedanya karena mereka sama,tak terpisahkan,,dan jika keraguan sudah mulai ada,karena saking banyaknya yg ada di alam semesta ini,disitulah keyakinan akan mulai luntur karena pikiran kita sudah mulai ikut campur,,ingatlah,karena pikiran maka rwabhineda itu ada,,dan jika pikiran telah mulai mengikat kita,maka alam semesta yg begitu jernih sebelumnya akan mulai samar2,dan mungkin hanya tinggal bayangan,,orang bijaksana dulu yg telah meletakan pondasi hindu bali,mungkin telah mengalami kesadaran alam semesta,dan pikiran2 kitalah yg telah mencampur aduknya,,,,
    salam damai p.yan,,bahagia rasanya bertutur sapa dengan pribadiku yg berbeda,,

    • windra
      30 Desember 2011 pukul 5:31 pm

      Sama2 Pak Putu…, terima kasih jg atas komen dan masukannya…, semoga sharing ini memberi manfaat bagi kita semua…., rahayu…., damai selalu…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: