Beranda > Keheningan > IKUT ARUS

IKUT ARUS

Kemarin kita ada acara “nyegara-gunung”, (pergi ke-laut dan ke-gunung yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat) dan aku ketemu dengan teman lama. “Nah ini bagus, janganlah melawan arus!” dia menasehati. Barangkali dia berpendapat bahwa selama ini aku lebih sering melawan arus.

Dari ngobrol-ngobrol dengannya; barangkali dia mulai bimbang dengan tradisi ini, yang kemungkinan tak’an membawanya kemanapun; namun demikian dia tak bisa berbuat apapun. Dan untuk mencari GAMAN (gampang dan aman) ya…..ikut arus. Tiadalah sulit untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma, dengan tradisi setempat. Namun kita mestilah jernih. Bila ini adalah pilihan hidup kita, dan sebagaian besar orang memang telah disini; hendaklah kita sungguh menyadari. Tetapi saya melihat disinilah masalahnya, yaitu kita tidak sungguh sadar, tidak sungguh-sungguh paham dengan apa yang menjadi pilihan kita; sehingga kita selalu dalam dilema, ragu, gamang. Di satu sisi kita seolah-olah merasa aman, nyaman dan damai; dan disisi lainnya kita bingung, cemas, susah, tertekan dan kemudian mandah/ berusaha pasrah.

Banyak teman beranggapan bahwa selama ini saya melawan arus. Mereka berpendapat saya selalu mempermasalah segala sesuatu yang berkaitan dengan tradisi ini. Mereka berasumsi saya hanyalah mencari sulit sendiri. Namun juga tak jarang dari mereka menjadi bingung dengan fakta dan arus yang mengalir. Dan mereka selamanya dalam kebingungan, dalam keraguan, kecemasan bila tak dapat memahaminya.

Saya teringat masa kanak-kanak, ketika pertama kali naik auto-bus dari kampung ke Denpasar. Bila saya menatap kelantai Bus, seolah terasa diriku diam ditempat dan pohon-pohon disepanjang perjalanan itulah yang bergerak dari depan kebelakang. Seperti inilah barangkali bias pandangan kita, manakala ada seseorang yang nyeleneh berbeda. Apabila saya cukup bodoh dan tidak waras, barangkali saya akan bersedia berkelahi dengan seekor macam.

Sadarkah kita dalam setiap langkah hidup ini? Bila kita sadar; maka mestikah kita melawan arus ataukah sebaliknya merelakan diri terseret arus…..? Apabila ada kewaspadaan dan kecermatan dalam setiap langkah, kemungkinan tergelincir sangatlah kecil, bukan? Apabila kita sadar, bahwa kita sedang menyesuaikan diri, barangkali tak’an timbul masalah; namun masalah muncul ketika kita tidak waspada, tidak cermat, tidak sungguh-sungguh menyadari. Kita membiarkan diri terseret arus, pontang-panting sampai babak-belur. Apabila batin Anda babak-belur, dia akan rusak dan kemungkinan menjadi keras dan kering. Dalam batin seperti ini pohon cintakasih itu tak’an bisa tumbuh.

Apa yang saya coba sampaikan hanyalah kata-kata yang berserakan didepan kita, sebagai ungkapan realita apa adanya. Saya tak sedang berkebaratan apapun, saya tak punya kepentingan apapun, saya hanyalah semata menggugah tanpa harapan apapun. Rumah kita sedang terbakar; ini barangkali ulah salah satu dari anggota keluarga kita yang sedang membakar rumah dan dirinya sendiri dengan api fanatisme, api fundamentalisme, api kebencian, api kemarahan yang barangkali akan menghanguskan kita semua. Bila kita menyayangi kehidupan, tidakkah kita peduli dengan hal ini?

Saya tak hendak melawan arus, tetapi saya juga tak’an merelakan diri terseret arus api fanatisme, arus api kebencian, arus api kegelapan yang menghacurkan kehidupan dan cinta-kasih diantara manusia. Inilah hal paling mendasar yang mesti dipahami oleh masing-masing dari kita. Bila kita benar-benar memahami, maka tindakan kita selanjutnya akan bertolak dari pemahaman ini, yang pasti akan membiakan tunastunas kasih didalam hati kita semua. Bila tunas kasih ini bersemi di hati; Anda tak’an kesana-sini, terseret arus atau ikut arus, pun Anda tak’an pernah melawan arus. Tindakkan cinta-kasih bukanlah merupakan pilihan antara ikut atau-pun melawan; namun adalah tindakkan kebenaran dari melihat, dari pemahaman.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: