Beranda > Keheningan > NONTON BARENG

NONTON BARENG

Pada pertandingan final world cup antara kesebelasan Italia dan Prancis, Sang Raja dan para hulubalangnya nonton bareng. Sang Raja bertaruh untuk Italia sedangkan sang Permaisuri bertaruh untuk Prancis. Tentu saja taruhan ini tidak ada unsur uang, hanya taruhan fan, pavorit kesebelasan masing-masing.

Para cecunguk yang senang mejilat-jilat, agar bisa punya hubungan dekat dengan Raja atau Permaisuri ikut memberi dukungan agar suasana menjadi lebih hangat. Mereka semua seolah-olah sangat menikmati tontonan dan suasana itu. Nonton bareng ini telah menjadi trend diseluruh dunia. Jika orang bisa ikut hadir, ini seolah memberi rasa puas tertentu, juga mereka merasa telah jadi orang yang mengikuti gaya hidup, dan dapat bergaulan dengan orang yang selevel.

Sambil nonton mereka juga menikmati hidangan makanan dan minuman berlimpah didalam ruangan yang nyaman dan sementara itu diluar istana, rakyat jelata hidup dalam keprihatinan yang sangat. Hidup mereka yang serba kekurangan, apalagi setelah tertimpa bermacam-macam bencana: tsunami, banjir bandang, tanah lonsor, gempa, letusan gunung merapi, luapan lumpur panas, kekeringan, yang membuat hidup mereka bertambah menderita.

Jika kita amati kontras kehidupan yang terjadi pada negeri ini; negeri dimana katanya dihuni oleh manusia-manusia yang beriman, tentulah memiliki hati-nurani dan kesadaran akan kehidupan dimuka bumi ini. Mereka sering berbicara mengenai kesadaran. Apakah sesungguhnya maksud atau makna dari kesadaran ini? Saya bertanya-tanya dalam hati apakah kita benar-benar memiliki kesadaran dalam diri kita? Jika ya, tidakkah kita mesti peduli akan semua hal yang terjadi disekitar yaitu: kesengsaraan, kemiskinan, ketidak berdayaan, kebodohan dan lain sebagainya? Adakah kesadaran, jika kita serakah, menumpuk harta dengan rakus dengan menghalalkan semua cara?

Dapatkah kita mengamati hal ini dalam kehidupan, dalam diri kita? Untuk melihat hal ini secara langsung mestilah ada kejernihan dan kesungguhan hati. Karena pernyataan maupun ide-ide yang telah dikumandangkan selama ini baik dari para Negarawan, Budayawan, Agamawan hanyalah kata-kata belaka, dan masalah kehidupan yang menjadi masalah negeri ini tak kunjung membaik bahkan bertambah parah.

Orang melihat, mendengar, mencium, merasakan, mencerap semuanya dengan indera; warnanya bunga, kicau burung, hangatnya sinar matahari, sejuknya udara, bermacam-macam suara dengan kelembutan nadanya serta kehalusan sifatnya yang berbeda-beda. Kita juga akan dapat merasakan sensasi tubuh yang merupakan alat persepsi indera pada level permukaan. Jika persepsi ini berada pada level ini, tidak akan terjadi kebingungan sama sekali. Bunga itu, burung itu, hangatnya matahari, sejuknya udara, begitulah adanya. Tak ada pilihan, penilaian, tak ada suka maupun tak suka – yang ada hanyalah ada, itu saja, tanpa adanya keterlibatan pikiran. Inilah kesadaran yang berada pada level permukaan. Bagi orang-orang tertentu terkadang mereka sampai pada level ini, namun kebanyakan dari mereka tak pernah menyadari. Apalagi untuk menyelam kedalam ruang kesadaran yang lebih dalam! Kebanyakan orang tanpa menyadari batinnya, yaitu ruang kesadarannya telah dipenuhi oleh segala macam pikiran yang sibuk dan ruwet. Dan setiap tindakannya berasal dari ruang ini, sehingga setiap tanggapan terhadap suatu permasalahan akan menimbulkan lebih banyak masalah.

Pikiran yang selalu mengejar kenikmatan, selalu ambisius selalu bertindak sesuai dengan kepentingan dirinya, cepat atau lambat akan menimbulkan konflik. Hal inilah yang terjadi pada kehidupan manusia termasuk para pejabat negeri ini, yang memberi kontribusi menimbulkan lebih banyak kekacauan dan kesengsara. Pernahkah kita memperhatikan dan mempertanyakan? Bagaimana kita akan menanggulangi masalah ini? Apakah dengan suatu revolusi berdarah? Dari pengalaman, seharusnya sejarah telah banyak memberi pelajaran, betapa selama ini dunia dan negeri ini telah berdarah-darah, namun tak pernah membawa perubahan yang berarti. Apa yang mesti diperbuat? Apakah kita hanya berpangku-tangan, tidak berbuat apapun, bukan semata untuk negeri ini namun untuk kehidupan dimuka bumi yang sekaligus bagi kehidupan masing-masing.

Untuk menanggulangi masalah ini menurut hematku, orang harus memulai dari diri masing-masing. Setiap orang haruslah melihat masalah ini sebagai suatu bahaya besar yang akan menghancurkan dunia, yang akan menghancurkan negeri ini dan dirinya, karena kita hidup didalamnya. Jika orang tidak melihat bahaya yang mengancam kehidupan, diapun akan tertidur. Namun jika orang melihat masalah ini sebagai suatu bahaya, mereka akan secara spontan bertindak untuk menghadapinya. Kita tidak harus menunggu instruksi dari para pemimpin; dan kita juga tak’an dapat melarikan diri, namun kita mesti menghadapinya secara kangsung, saat ini juga, karena bahaya ini bukanlah air bah atau seekor beruang raksasa, namun ini adalah ‘kebusukan dari moral dan akhlak’ kita.

Jadi pertama-tama orang haruslah melihat, menyadari bahaya ini, yaitu ‘kebobrokan akhlak kita’ yang akan menghancurkan kehidupan kita. Nah, jika kita semua sungguh-sungguh melihat, menyadari, maka kitapun segera bertindak. Tindakan ini bersifat spontan yang akan memberi energi dan kemauan yang kuat dalam diri kita untuk merespon sejak awal munculnya bahaya ini, karena ‘kebusukan moral’ ini berada didalam diri kita masing-masing.

Setiap orang mestilah memulai dengan menanggulangi dari diri sendiri. Orang harus mengadakan suatu revolusi total didalam batinnya, dengan demikian akan terjadi perubahan yang radikal pada struktur mendasar dari batin yang telah terkontaminasi oleh segala macam pikiran yang rakus, yang selalu mementingkan diri sendiri. Untuk mempertahankan kenikmatan, mereka telah menjadi sedemikian serakah, rakus dan ambisius. Jika orang sungguh melihat, menyadari hal ini dengan jelas, tentu mereka akan memiliki persepsi kebenaran yang mengandung cinta-kasih. Namun kebanyakan orang tidak menyadari, inilah masalah sesungguhnya yaitu akar dari semua kekacauan, penderitaan, keputus-asaan, kecemasan dan kesengsaraan yang terjadi di negeri ini.

Dapatkah orang melihat bahwa akar masalah adalah tidak adanya kesungguhan dalam melihat moral dirinya yang bobrok, yang adalah sumber masalah. Agar dapat sungguh-sungguh melihat, harus ada kemauan, gairah yang besar, keseriusan, kejujuran dari dalam hati-sanubari. Keseriusan, gairah, kemauan dan kejujuran ini adalah energi murni yang akan dapat menghancurkan kebusukan moral manusia. Sehingga dalam setiap individu akan terjadi revolusi total, orang akan berubah 180%, karena mereka melihat pentingnya berubah, dan dengan demikian masing-masing orang akan berkontribusi untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat baru dengan kehidupan yang baru, dengan manusia-manusia baru.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: