Beranda > Keheningan > PERHATIAN

PERHATIAN

Ketika ada pertimbangan disitu akan hadir dilema, rasa bimbang;……. “mestikah aku, tidakkah aku?” Hal ini dialami hampir dari sebagian besar orang dalam bagian banyak hidupnya tanpa disadari. Pernahkah kita mengamati? Kita sangat jarang menaruh perhatian; tindakan kita bersifat mekanis yang adalah reaksi dari kecendrungan-kecendrungan, dari keterkondisian batin kita. Tindakkan yang mekanis ini mau tak mau mengantar kita pada rasa bosan. Dari sini kita mencari hiburan; dan kita lekat, terjerat disana. Namun hiburan ini hanyalah menghibur sesaat, dan kita kembali jatuh dalam kebosanan yang menggiris; selanjutannya kita mencari lebih banyak bentuk-bentuk hiburan. Disinilah kebanyakan orang berkubang dan berakhir.

Salah satu hiburan yang dianggap positif adalah membaca, menambah pengetahuan; disamping itu kita berharap dengan membaca buku-buku yang bermutu, buku-buku spiritual, kita akan dapat menghapus rasa jenuh, rasa tak menentu, rasa bimbang yang nolongso ini. Namun setelah sekian banyak buku terbaca, kondisi diri kita tak mengalami perubahan yang berarti. Ini terjadi hampir sepanjang hidup kita. Dari keputus-asaan akhirnya kita hanyalah bisa menerima; dengan kata-kata penghiburan, “ya…lakoni saja”, atau “biarkanlah hidup ini mengalir”, dan ungkapan-ungkapan yang lainnya, seolah-olah kita telah sampai pada suatu kebijaksanaan. Senyatanya, bukankah ungkapan yang filosofis ini adalah pertanda dari kebingungan batin kita yang resah, dan gelisah?

Perhatian adalah satu hal yang sangat sulit dilakukan. Bila kita membaca sebuah buku atau tulisan apapun; kita menginginkan sebuah buku yang mengandung tuntunan, petunjuk-petunjuk, konsep-konsep, metode……. dan kita tinggal mengikuti semua instruksi dalam buku dan mempercayai. Disini tak ada perhatian, hanyalah kepatuhan dan penerimaan. Maka dari itu kita menulis dan mencetak banyak buku-buku seperti ini, karena inilah minat kita pada umumnya; keinginan mau enaknya saja. Namun hal ini seperti yang kita lihat, tak membawa perubahan apapun pada diri kita. Kita tetap bosan, resah, hampa, dan cemas. Barangkali ini tak dapat kita sadari, karena kita telah terbiasa dengan kondisi ini. Atau barangkali ada juga yang merasa telah menemukan, merasa mantap, yakin; dengan berpegang pada suatu metode, konsep atau dogtrin tertentu. Dan tanpa sadar mereka telah menjerat dirinya dalam ruang sempit dan keras dari konsep, dogtrin, metode dan selebihnya.

Dapatkah kita melihat hal ini didalam diri dan disekitar kita? Untuk dapat melihat kita mestilah ada perhatian. Pernahkah Anda sungguh-sungguh memperhatikan? Di halaman rumah itu ada beraneka tanaman bunga. Bila orang sungguh memperhatikan; yaitu semata memperhatikan, tanpa deskripsi apapun, tanpa ikut-campur pikiran; “cobalah!” Dalam perhatian yang murni dan diam ini, ada keheningan, ada keluasan, ada energi. Andapun melihat apa adanya.

Selama ini orang melihat, apapun; tanpa disadari pikirannya langsung bergerak, memberi uraian; ‘bunga mawar merah, melati putih, anggerek bulan dan sebagainya’. Aku suka ini, aku tak suka itu; mawarKU lebih indah, lebih subur dan sebagainya.’ Inilah tindakan kita, yang luput dari perhatian. Tindakan seperti ini adalah reaksi dari batin kita yang terkondisi oleh ingatan masa lalu. Dan tindakkan dari reaksi batin yang terkondisi ini menimbulkan pembandingan, persaingan, kebanggaan, suka-tak suka, konflik, kekecewaan dan seterusnya. Bila kita sungguh memperhatikan, kitapun melihat hal ini ada didalam diri kita.

Hal ini sungguh-sungguh bersahaja. Bila ada perhatian dari saat ke saat, pikiran si-sumber masalah tak berkembang; maka semua tindakan kita akan bersifat baru. Dan tindakan dalam perhatian ini bersifat bebas, murni, original.

Kategori:Keheningan
  1. 12 November 2009 pukul 3:12 pm

    Masalahnya begini pak
    1.) klo saya berusaha memperhatikan pikiran, pikiran kadang berubah menjadi sesuatu yang lain tanpa saya sadari.
    2.) klo saya hanya menyadari / memperhatikan pikiran tanpa adanya usaha dalam diri,sering kali pikiran tidak ter-amati / pikiran ngelantur ke mana2, beberapa menit kemudian baru sadar kalau pikiran ngelantur. Mohon bimbingannya pak.

  2. wayanwindra
    13 November 2009 pukul 6:59 am

    Hal ini adalah biasa Pak, yaitu krn kita terbiasa ngelantur. Bila kita sungguh menyadari kebiasaan ngelantur ini hanyalah menghanyutkan kita pada khayalan yang sia-sia; maka kesadaran ini akan mendorong kita untuk memperhatikan. (disini mesti ada pemahami total dari kesia-siaan usaha pikiran)
    Barangkali ada baiknya sesekali kita diam mengamati sekuntum bunga umpama. Amati saja! Pada saat itu pikiran muncul; maka kita akan melihat munculnya pikiran itu lebih jelas. Kita mungkin akan melihat awal kemunculannya, sehingga kita mengenali motifnya. Dengan pengamatan yang lebih dekat ini, tentu kita melihat lebih detail. Ini akan meningkatkan kekuatan perhatian dan si-pikiran tak dapat berkembang.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: