Beranda > Keheningan > SANATANA DHARMA

SANATANA DHARMA

Tulisan ini ditulis gara-gara siPutu menulis komentar pada tulisan Sang Kafir. Aku tak sengaja melongok lewat jendela ke syberdharma.net, dan membaca beberapa komentar teman-teman tentang tayangan TransTV yang dianggap melecehkan umat Hindu. Aku sendiri tak melihat tayangan itu seperti apa.

Saya tak hendak menyalahkan siapa-siapa, namun pada setiap kesempatan alangkah baiknya jika kita dapat menyimak secara cermat sebelum bertindak. Semenjak adanya kemajuan dibidang tehnologi komunikasi dan informatika, entah sudah beberapa kali kita melakukan komplain, berkenaan dengan pelecehan simbol-simbol agama yang disakralkan. Pada era tahun 1960an dan sebelumnya tak pernah ada hal-hal seperti ini. Dapatkah kita secara perlahan mencermati, kenapa belakangan ini banyak timbul masalah pelecehan?

Hal ini terjadi tentu karena adanya kesempatan untuk berbuat demikian. Kesempatan ini terjadi karena adanya sentuhan yang lebih dekat dengan keterbukaan komunikasi global. Dan pelecehan terjadi karena adanya perasaan superior; adanya kepentingan tertentu, dan ajang keterbukaan ini menjadi kesempatan untuk meraih apapun. Meraih kebanggaan dengan pamer keunggulan, meraih kepuasan dengan berbuat pelecehan dan lain sebagainya. Hal-hal inilah yang kemungkinan mendorong terjadinya suatu pelecehan disamping hal yang paling mendasar adalah ketika kita belum sungguh memahami hakekat hidup ini yaitu cinta-kasih diantara umat manusia. Dan juga karena kita hanyalah berpegang pada simbol-simbol, pada permukaan yang dangkal, tanpa pernah menyelami intisari dari SANATANA DHARMA.

Diantara kita barangkali telah banyak yang berbicara tentang persaudara universal; atau beranggapan bahwa agama kita adalah agama universal. Bila kita benar-benar menghayati hal ini, tentu tak’an timbul sikap melecehkan, konflik, komplain apapun. Namun barangkali ini hanyalah sebatas wecana, tanpa ada penghayatan nyata dalam tindakkan hidup kita. Aku sendiri tidak tahu apapun tentang ajaran agama, namun pada hematku setiap agama mestinya mengajarkan kaidah-kaidah yang baik dan benar yang berlandaskan cinta-kasih, bukan?

Perbedaan juga merupakan faktor timbulnya pelecehan; beda kepercayaan, beda pandangan, beda prinsip, beda kebudayaan, dan beda yang lain-lain. Hal ini kadang dapat mengarah pada kondisi yang lebih parah yaitu konflik. Kenapa ada perbedaan? Perbedaan ada, karena kita belum memahami sumber konflik yang ada didalam diri kita sendiri. Pernahkah kita mencermati bagaimana konflik terjadi? Apabila Anda dan AKU ngotot, berpegang pada pendapat, pada prinsip atau pada kebenaran masing-masing maka timbulah konflik. Apakah hasil akhir dari konflik? Pernahkah kita secara cermat dan jernih mempertanyakan hal ini?

Diamlah sejenak, “tariklah nafas Anda!”— Anda akan melihat semua permasalahan, konflik itu bermula dari dalam diri kita sendiri. Hal ini terjadi karena kita belum sungguh memahami apa itu SANATANA DHARMA (eternal cosmic law). Bila Anda sungguh-sungguh menyelami sedalam-dalamnya hukum semesta yang kekal-abadi ini; bila betul-betul ada penghayatan DHARMA disetiap detak jantung, disetiap tarikan nafas, dalam segenap jiwa dan nurani Anda, maka anda tak’an ada komplain, konflik dan masalah apapun. Anda akan melihat segala sesuatu itu seperti apa adanya. Anda paham bahwa tak ada sesuatu apapun yang terjadi tanpa sebab.

Kenapa AKU melakukan pelecehan? Ada banyak alasan, dan kemungkinan kenapa AKU melecehkan? Dari unsur ketidak-sengajaan, ini barangkali karena ketidak-tahuan/kebodohanKU. Bila AKU dengan sengaja melecehkan; kemungkinan AKU ingin melihat Anda marah atau jengkel dengan penghinaanKU. Dari sini AKU merasa puas. Dan AKU akan merasa lebih puas lagi, manakala Anda mau terpancing, maka Andapun terkait mata kail, dan hati Anda tentulah terasa perih. Ini adalah kesalahan Anda sendiri, mengapa mau memakan mata kail yang tajam itu.

Namun apapun motif pelecehan itu, semestinya Anda tetap berdiri tegak tersenyum, tanpa kebencian, kemarahan apapun, karena Anda melihat dengan jelas motif dari pelecehan itu. Dan Anda dapat memahami, apabila SANATANA DHARMA telah sungguh-sungguh mewujud dalam diri Anda. Karena SANATANA DHARMA, sang hakekat, hukum semesta nan abadi ini, tak’an dapat tercemar, ternoda oleh penghinaan, pelecehan apapun. Hal ini mesti kita insyafi bagi diri kita semua umat Hindu khususnya maupun seluruh umat manusia. Karena Dharma ataupun Veda adalah bersifat universal yang diperuntukan bagi seluruh umat manusia.

Apabila kita seluruh umat manusia dapat menghayati DHARMA dalam tindakkan hidup, tentulah wajah kehidupan dimuka bumi ini penuh cinta-kasih, penuh damai dan sentosa. Hal ini mestilah dapat AKU cermati dan insyafi sedalam-dalamnya, sehingga dengan demikian AKU melihat, betapa menyedihkan bila AKU dengan sengaja telah melakukan pelecehan terhadap apapun, terhadap siapapun. Tahukah kalian, ketika AKU melakukan pelecehan? AKU telah merendahkan diriKU sendiri dengan membiarkan siEgo bercokol menguasai diriKU.

Siapapun yang melakukan pelecehan, ini adalah ibarat sebuah tamparan yang menampar dirinya sendiri. Bila kita sungguh menghayati kepedihan dari tamparan ini, menyadari sedalam-dalamnya semua akibat dari tindakkan pelecehan itu; betapa bodohnya semua itu, maka barangkali kita akan sampai pada Vedanta (berakhirnya veda-veda); berakhirnya semua pengetahuan; berakhirnya semua kata-kata; berakhirnya semua simbol-simbol; berakhirnya semua label; dan kita bukanlah siapa-siapa! Kita bukanlah lagi seorang Hindu, bukan seorang Muslim, bukan seorang Kristiani, bukan seorang Buddhis dan lain-lain; namun kita hanyalah seorang saudara dari persaudaraan umat manusia yang cinta damai!

Kategori:Keheningan
  1. 14 Desember 2009 pukul 3:02 pm

    artikel yang bagus Namaste

    • 15 Desember 2009 pukul 8:32 am

      Artikel ini hanyalah kata2 kawan. Kita mesti melampauinya untuk sampai pada Vedanta. Thanks!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: