Beranda > Keheningan > BE SIMPLE

BE SIMPLE

Ungkapan BE SIMPLE kedengarannya simple; namun untuk sungguh simple tidaklah simple.

Apakah itu kesederhanaan? Kesederhanaan bukanlah pola hidup sederhana; dengan mengenakan pakaian seadanya, atau makan makanan vegeterian seadanya, dan tinggal di rumah gubuk yang reot. Bukanlah semata kesederhanaan lahiriah; namun yang dimaksud adalah kesederhanaan batiniah. Hanyalah dengan kesederhanaan batin, yang barangkali akan mengantar kita pada kebebasan (moksatam).

Adalah sebuah ceritra, tentang seorang public speaker yang selalu tampil dengan pakaian sederhana. Barangkali dia adalah seorang yang memuja kesederhaan penampilan. Ketika ada orang yang sama sekali tidak tertarik dengan kotbahnya, diapun menyidir, “bila kamu tak cocok atau tak suka mendengar kotbah seorang Guru, kamu mesti keluar dari ruangan ini dan cari Guru yang lain!” Seorang public speaker dengan penampilan sederhana namun dengan batin yang jauh dari sederhana. Untuk menjadi sederhana tidaklah gampang. Dibutuhkan keseriusan, kesungguhan hati, kemauan dan ketulusan untuk menyimak seluruh isi dari bidang kesadaran kita. Ini adalah suatu kerja keras. Ini dapat menggoncang seluruh struktur dari batin kita yang telah mapan terkondisi dengan segala macam hal.

Cobalah amati kedalam diri dan sekeliling kita! Ambillah beberapa contoh dari fakta yang ada. Dari semua artikelku yang terdahulu; disana telah diungkap fakta-fakta, realita dari kehidupan pada umumnya. Dalam artikel SANATANA DHARMA; ada pelecehan, ada komplain yang bisa mengarah kepada konflik. Kenapa hal ini terjadi? Ini karena tidak adanya kesederhanaan batin; baik pada orang yang melecehkan maupun pada orang yang komplain, bukan?

Dalam cyberdharma.net, ada lagi komentar yang lainnya; tentang orang-orang Bali yang tidak lagi memakai nama Balinya. Dalam komentar-komentar ini banyak penonjolan dari rasa ke-daerahan; yaitu hal-hal yang berkaitan dengan Bali yang dianjur mesti dilestarikan. Kebanyakan dari komentar itu, menghimbau dan berbangga diri dengan kondisi “ke-Balian” mereka. Saya tak hendak menyalahkan bila Anda berbangga diri; namun demikian hendaklah Anda menyadari hal ini; yaitu pada saat Anda berbangga, disana sangDiri (siEgo) berkuasa penuh atas diri Anda dan ini menghalangi Anda untuk belajar yaitu melihat.

Ada lagi fakta yang lain yaitu tentang tingkatan kasta; tanpa disadari ini mendorong orang memperkuat citra “merasa diri”. Apakah mereka merasa diri lebih atau merasa diri kurang; perasaan yang “merasa” ini, adalah sangDiri (siEgo). Bagi kalangan kasta Brahmana umpamanya, akan merasa diri lebih tinggi, lebih hebat, lebih tahu, dan percaya bahwa kelahiran mereka sebagai brahmana adalah mulya, dan mereka percaya memiliki peluang yang lebih besar untuk mencapai sorga. Dan banyak lagi yang dapat ditulis sebagai contoh-contoh nyata dalam kehidupan kita; namun semuanya pada intinya sama, yaitu tiadanya kesederhanaan batin dalam diri kita.

Tanggal 14 Nopember, hari Sabtu yang lalu, kita ada diskusi kecil, dengan beberapa teman dari Thailand, India, Swiss dan Jerman. Dalam diskusi ini Mr.Vikhram, berbicara tentang “perasaan unik”, yaitu manusia merasa dirinya sebagai mahluk yang unik. Perasaan unik ini adalah sangDiri. Bila kita terjerat oleh sangDiri, maka dari sini akan muncul berbagai masalah. Teman yang dari Swiss Mr. Ralf menyambung bahwa manusia selalu berusaha; disadari ataupun tidak, meng-identifikasi dirinya pada sesuatu; apakah pada seseorang, pada suatu karakter yang dipanuti, atau pada suatu ide, dogtrin, pada suatu citra yang dia ciptakan sendiri, tentang sesuatu yang dimulyakan atau dipercaya dan lain sebagainya. Semua usaha pikiran (sangDiri) ini adalah dalam rangka untuk memperoleh rasa mantap, kemapanan dan rasa aman bagi dirinya. Maka dari itu dia terus membuat jaringan bagi dirinya untuk berkubang dan berpegang.

Mereka membaca banyak buku-buku untuk mengumpulkan sebanyak mungkin pengetahuan. Dalam tulisan-tulisanku yang terdahulu, tidak sedikit orang memuja pengetahuan (buku-buku), sehingga ada yang menggendong buku-buku itu kemanapun pergi. Karena dengan itu dia merasa berbangga ketika dianggap pintar, dianggap sebagai Guru Agung, public speaker, Master, Pembimbing dan sebagainya. Kubangan yang umum dilakukan adalah dengan melakukan ritual, puja atau melakukan latihan, mengikuti suatu disiplin tertentu untuk memupuk keyakinan dan kepercayaan mereka. Semua usaha dari pikiran (sangDiri) ini tak’an pernah menjadikan diri mereka sederhana, bukan? Justru sebaliknya malah!

Ibarat sebuah gudang yang telah terisi penuh dengan segala macam barang-barang, maka gudang itu tak’an berfungsi lagi. Hanyalah apabila gudang itu kosong barulah akan berfungsi. Disini barulah kemungkinan ada kesederhaan. Anda mesti mengosongkan gudang Anda. Membuang segala isinya, untuk itu Anda mesti mengambil dan mengamati satu per satu, pahami hal itu; setelah Anda sungguh paham Anda tak perlu menyimpannya lagi, buanglah! Dengan demikian Anda menyimak setiap pikiran dan perasaan; bila Anda telah memahaminya, buanglah! Dan Andapun melihat bahwa sumber permasalahan didalam kehidupan ini berawal dari sini. Dari batin yang tidak sederhana!

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. 18 Desember 2010 pukul 7:31 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: