Beranda > Keheningan > PANCASILA’IS

PANCASILA’IS

Pada era ORLA, yang berbau-bau “‘is dan ‘is” sangat kental dalam kehidupan berBangsa dan berNegara. Seperti, Nasional’is, Patriot’is, Pancasila’is, Soekarno’is, Sosial’is dan lain-lainnya. Waktu itu Bangsa kita ada rasa kebanggaan yang tulus, dimana Pancasila adalah dasar Negara, Pancasila sebagai THE WAY OF LIFE Bangsa, sebagai ideologi Negara yang diakui oleh masyarakat internasional. Apalagi ketika KAA (Konprensi Asia Afrika) diselenggara di Indonesia. Mungkin saat inilah kejayaan Bangsa Indonesia, dimana vibrasi Kebangsaan, Nasionalis, Pacasilais, Patriotis betul-betul membahana didalam hati setiap warga Indoneisa.

Ketika itu aku masih SR (sekolah rakyat), namun aku dapat merasakan suatu vibrasi kebersamaan, solideritas yang begitu kuat dalam segala lapisan kehidupan masyarakat. Pada setiap kesempatan atau pada acara-acara khusus, vibrasi solideritas, Nasionalis, Patriotis, Pancasila’is ini akan memenuhi atmosphere dengan berkumandangnya lagu-lagu Nasional, lagu-lagu perjuangan, atau lagu-lagu rakyat, yang dapat memupuk spirit masyarakat untuk terus belajar, berjuang dan bekerja keras. Salah satu lagu yang sering dinyanyikan oleh bibiku yang ikut dalam IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia) …..sangat menyentuh, BERJUANG, BELAJAR ITU TUGASMU, REVOLUSI MENAGIH JASAMU …. lirik ini sangat berkesan dan menggugah gairah hidup. Betapapun sulitnya kehidupan waktu itu, namun semangat juang tetap bergelora didalam dada. Kata-kata BERJUANG BELAJAR ini memberi motivasi, dimana sepanjang hayat, manusia mestilah belajar dengan kerja keras, pantang menyerah. Juga kata REVOLUSI dapat menumbuhkan semangat perhatian, rasa peduli untuk suatu perubahan yang radikal. Ini adalah tindakkan dari batin yang cerdas. Hanya dengan inilah kemungkinan Bangsa ini dapat jaya; yaitu dengan kerja keras, belajar sepanjang masa, dengan menyadari suatu perubahan yang radikal, sehingga setiap permasalah Bangsa ini tuntas seketika.

Apa yang terjadi pada era ORBA? Walaupun petinggi Negara saat itu menggalakkan tentang rasa Pancasilais, Nasionalis, dengan program P4, memperingati hari sakti Pancasila, dengan film LUBANG BUAYAnya yang penuh rekayasa; namun dari realita kehidupan, masyarakat mulai terkontaminasi oleh kepalsuan-kepalsuan, kebohongan, pembodohan dan kepentingan-kepentingan pribadi. Sehingga rasa kebersamaan, solideritas, Nasionalis, Patriotis, Pancasilais rakyat sangat menurun jauh. Apalagi dengan teror pembantaian pasca 65 terhadap orang-orang PKI yang tak terbukti bersalah, sungguh membuat rakyat apatis. Bentuk-bentuk rekayasa mulai diterapkan. Pembodohan ini menjerat rakyat secara umum, dan rakyat terjerat pada pola-pola hidup yang glamoor, mengejar kenikmatan dengan segala bentuk-bentuk hiburan yang hanya bersenang-senang. Ini tanpa disadari telah mempolakan mentalistas Bangsa menjadi lemah, hedonism. Secara ekonomi kita boleh melonjak naik, namun ini adalah bukan hasil dari kerja keras Bangsa, namun adalah hasil dari NGUTANG dan MENJUAL aset Bangsa yang kaya-raya ini. Dan effeknya sampai sekarang kita rasakan. Dengan bergantung pada negara-negara kapitalis, kedaulatan kita-pun telah tergadai.

Walaupun telah sepuluh tahun lebih reformasi itu berjalan, namun mentalistas yang lemah dari Bangsa ini belum bisa terkikis. Ini terbukti, dari mental generasi muda kita, yang gampang menyerah, yang mau enaknya saja. Dalam kegiatan-kegiatan sosial, yang berbasis pada gotong-royong umpamanya; kelihatan sekali betapa banyaknya dari mereka yang berpangku tangan, menunggu dan menghindar. Kemampuan SDM kita sangat jauh, ini karena basic mentalistas mereka rendah, yang terbiasa hidup enak, minum-minum, perokok, nyandu, pesta-pesta, pergi ke Diskotek, Kafe, Club Malam dan sebagainya. Dan para petinggi Bangsa ini sama sekali tak ada perhatian untuk menyikapi kondisi masyarakat ini. Barangkali mereka sedang sibuk dengan dirinya sendiri berpikir, “bagaimana caraku” untuk mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, mumpung aku masih menjabat?” Dan mereka tak pernah lagi berbicara tentang Pancasila, atau barangkali juga mereka telah melupakannya.

Namun, untuk apa juga kita berbicara soal Pancasila, jika kita tidak menghayati itu dalam kehidupan kita berBangsa dan berNegara? Panghayatan itulah yang terpenting, bukan? Terus, apa, bagaimana kreteria seorang warga yang Pancasilais itu? Pada hematku, yang manapun dari sila Pancasila itu diungkap, maka akan terkait dengan sila-sila yang lainnya. Ambil sila ke-lima: KEADILAN SOSIAL; keadilan ini bisa terwujud, bisa ditegakkan, mestilah dilandasi kejujuran. Bila tak ada kejujuran pastilah tak ada keadilan itu. Orang yang berkeadilan sudahlah tentu berKetuhanan. Orang yang berkeadilan sudahlah pasti memiliki Pri-Kemanusiaan. Orang yang berkeadilan merupakan komponen Persatuan Bangsa, dan yang dapat menjujung tinggi asas Kerakyatan. Inilah barangkali hal mendasar yang mesti dihayati oleh setiap warga Negara, khususnya bagi para petinggi, para penyelenggara Negara. Karena para penyelenggara ini adalah motor penggerak dari pemerintahan, dan kehidupan berBangsa yang akan otomatis diikuti oleh komponen dibawahnya.

Marilah kita bertanya pada diri masing-masing. Sudahkah kita PARA PETINGGI BANGSA ini menjadi orang-orang yang PANCASILAIS? Anda tak perlu menjawab PR ini dalam kata-kata; namun jawablah dalam tindakkan kalian. Bila kalian benar-benar menghayati Pancasila dalam hidup maka tak’an perlu ada masalah-masalah yang berlarut-larut, menjadi benang kusut seperti kasus si Gayus. Karena dasar dari tindakan yang Pancasilais adalah Keadilan, Kejujuran, Kemanusiaan, Kerakyatan, dan ini adalah tindakkan dari batin Anda yang cerdas dan pasti dapat menyelesai segala permasalahan Bangsa dengan cepat dan tuntas.

Nah selama ini banyak sekali masalah-masalah yang tak kunjung tuntas, menjadi kabur dan akhirnya dipeti-eskan; ada apakah? Bila ada kejujuran, kita mestilah tahu kenapa ada hal seperti itu? Rakyat sudah banyak yang pintar, kita tak bisa meminta rakyat selamanya menjadi bodoh, maka dari itu, sebaiknya Para Penyelenggara Negara ini mulailah meninggalkan pola-kerja lama, pola-pikir lama, yang penuh bias, penuh rekayasa, pengaburan masalah, demi untuk kepentingan pribadi atau kepentingan kelompok semata.

Bila kalian diam sejenak dan mengamati… “apakah yang diberikan oleh materi Anda? Hanyalah kesenangan sementara; dan ketika Anda terjerat disana, Anda tak’an pernah puas, tak’an pernah ada kedamaian dalam hati Anda. Anda bagaikan bara yang diberi minyak, sehingga ambisi Anda semakin berkobar dan berkobar, Andapun kepanasan dan salah-salah Anda bisa terbakar bara sendiri. Bila Anda hidup seperti ini, jelas dalam diri Anda tak ada apa itu cinta-kasih, kedamaian; maka Anda bukanlah seorang yang PANCASILAIS. Dan keimanan Anda pada TUHAN pun disangsikan.

Jikalau Anda terjerat dalam kenikmatan hidup, maka Anda akan terus membangun citra nikmat Anda dengan membuat ribuan villa-villa, bungalow, tempat-tempat peristirahatan, sehingga bukit-bukit, puncak-puncak penuh dengan bangunan. Apa akibatnya? Anda tentu telah melihat; banjir ada dimana-dimana yang telah merugikan Negara dan menyengsarakan banyak lapisan rakyat yang paling bawah. Bentuk-bentuk kesenangan yang Anda kejar mau tak mau akan menghacurkan alam dan kehidupan umat manusia. Hal ini mestilah Anda sadari. Bila Anda ada perhatian, Andapun melihat betapa banyaknya terjadi musibah disekitar kehidupan kita. Pencemaran lingkungan; dari limbah industri seperti kejadian di sekitar Pekalongan, Lumpur Lapindo dan lain-lain, Pencemaran udara; dari kebakaran hutan, kendaraan bermotor, pabrik-pabrik dan lain-lain yang memicu meningkatnya pemanasan global.

Semua masalah dan musibah Bangsa ini, dunia ini berawal dari keserakahan manusia yang terjerat dan selalu mengejar kenikmatan hidup semata. Bila tak ada kesadaran untuk berubah, maka PANCASILAIS hanyalah memorial Bangsa dan terlupakan.

Kategori:Keheningan
  1. badurakhman
    30 Januari 2011 pukul 4:02 pm

    Kalau PS sdh diyakini sedemikian bagus, mengapa tdk dipakai sebagai landasan bekerja dan mengambil keputusan ~ apakah mereka yg terlibat dlm pengelolaan negara tdk memahami PS itu ? Atau jangan2 para kapitalis melihat pejabaran PS ini dalam praktek akan merugikan para kapitalis itu. Atau pola pikir feodalis telah melihat PS itu merugikan dinasti mereka ?
    Mengapa partai non koalisi selalu terkesan mengintip celah untuk menjatuhkan pemerintah yg sdng berkuasa ,,, kl selamanya bermental cari2 celah utk menjatuhkan, maka sibuklah pemerintah melakukan program pencitraan dan pencitraan itu menjadi nomor satu dlm aktivitasnya sementara tugas pokok (memajukan bangsa, mensejahterakan rakyat) menjadi urusan sambilan saja.

    • windra
      30 Januari 2011 pukul 9:15 pm

      Mungkin penggagas yg merumuskan PS spt Bung Karno meyakini PS, shg dijadikan dasar Negara, falsafah hidup Bangsa sbg alat pemersatu kemajemukan Bangsa kita. Namun selanjutnya semasa orba, justru PS hanya dijadikan hiasan bibir dan dipolitisasi dgn fakta tidak pernah dirayakan HARI LAHIR PANCASILA, malah membuat perayaan baru yaitu HARI KESAKTIAN PANCASILA. Sejak Orba sampai kini tak ada pemimpin bangsa ini sungguh paham ataupun mengamalkan PS. Demikian jg dgn tokoh2 partai baik yg berkuasa maupun oposisi mrk tak pernah mau tahu dgn PS apalagi mengamalkan, krn faktanya tindakan2 mrk yg korupt jelas2 merongrong dan bertentangan dgn makna PS itu.

      Terima kasih komentnya, salam dan selamat berjuang.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: