Beranda > Keheningan > ACINTYA

ACINTYA

Kata Acintya ini adalah sebuah konsep atau simbol dalam Agama Hindu. Yang boleh jadi adalah merupakan inti dari seluruh ajaran kebenaran yang bersifat universal. Acintya artinya YANG TAK TERPIKIRKAN. Apakah hal yang tak terpikirkan ini? Hal yang tak terpikirkan ini sudah barang-tentu tak’an dapat dijawab oleh pikiran kita, bukan? Disinilah POINT itu! Namun kita tak pernah sungguh menyimak POINT ini. Kenapa? Cobalah amati, dan tanyakan hal ini kepada diri Anda dan temui jawabannya dalam diri Anda juga.

Kalau kita melihat kehidupan secara umum; masyarakat kebanyakan tiadalah berminat untuk belajar yaitu mempertanyakan. Mereka hanyalah mengikut, mengekor, apa kata orang yang mereka percaya. Masyarakat pada level yang lebih atas, dengan sedikit kecerdasan yang suka membaca buku-buku; tiadalah jauh berbeda, hanyalah mengikut apa yang dikatakan oleh buku-buku itu. Padahal buku-buku, tulisan ini, hanyalah kata-kata, hanyalah pikiran semata. Namun barangkali juga beberapa diantaranya mulai dengan sungguh-sungguh mempertanyakan, menyimak makna dibalik yang tersurat, sehingga mungkin mereka mulai dapat merangkak naik sedikit demi sedikit; atau barangkali juga sudah ada yang dapat melihat secara tersamar makna dari POINT itu; yaitu ACINTYA.

Para pemuka Agama, Pendeta, apalagi tokoh Masyarakat, tak pernah ada yang mengukap hal ini dengan gamblang dan lugas. Mereka justru membalikan realita ini dengan praktek-praktek yang sangat menyimpang seratus delapan puluh derajat dari POINT diatas. Bagaimana mungkin kita mengharapkan mereka dapat menyingkap POINT itu, apabila mereka sendiri tak ada pemahaman tentang POINT itu? Lihatlah, apa yang kita lakukan selama ini? Kita hanyalah berenang-renang dipermukaan yang dangkal, terjerat dalam konsep-konsep, simbol-simbol dan memulyakannya dengan segala bentuk upacara dan ritualnya.

Acintya yang tak terpikirkan itu, kita wujudkan dalam bentuk gambar, sebagai simbol. Dan simbol Acintya ini berkembang sesuai dengan kreativitas pikiran manusia untuk menggambarkannya. Apakah Acintya itu dibuat sebagai sebuah gambar, dalam bentuk sebuah patung, relief, arca atau wayang dan lain-lainnya, dan ditempatkan sesuai dengan kaedah dari kesepakatan pikiran manusia yang merasa dirinya tahu. Demikianlah Acintya ini berkembang menjadi barang seni, atau simbol-simbol yang disakralkan yang dipercaya akan dapat menuntun umat atau dirinya kepada YANG TAK TERPIKIR.

Bagiku hal ini sangatlah jelas, namun barangkali bagi Anda umat secara umum yang telah terjerat dalam simbol-simbol, konsep-konsep dan mempercayai, akan sukar melihat realita ini. Yaitu ACINTYA yang tak terpikirkan ini, tak’an pernah dapat Anda temui dengan pikiran Anda. Dan selama ini, apa yang kalian lakukan. Dari Pendeta, pemuka Agama dan seluruh umat, kalian telah mencari Acintya ini dengan pikiran Anda. Maka selamanya Anda hanya berkubang dalam ruang pikiran Anda yang sempit. Segala ritual, mantra dan doa Anda, semua itu adalah wujud dari pikiran Anda bukan? Semakin kuat kepercayaan Anda, semakin sering Anda berdoa, semakin sering Anda melakukan segala macam ritual, maka semakin kuatlah keberadaan pikiran Anda (orang bisa menyebutnya sebagai sangDiri, siEgo atau siAku). Apabila hal ini menguasai, bercokol dan menopoli diri Anda, maka Anda sudahlah pasti, tak’an pernah sampai pada ACINTYA itu.

Inilah hal mendasar yang Anda mesti pahami. Sudah terlalu sering aku memberi perumpamaan, didalam tulisan-tulisanku yang terdahulu. Setiap usaha pikiran sudahlah pasti akan menghasilkan pikiran. “Bila pikiran INGIN sampai pada ACINTYA; KEINGINAN Anda ini telah memperkuat si pikiran. Dengan demikian Anda hanya akan sampai pada pikiran. Jadi, segala bentuk usaha pikiran yang selama ini Anda lakukan; sembahyang, berdoa memohon, upacara, tradisi, dan sebagainya, tak’an pernah membawa Anda kedalam dimensi diluar pikiran atau ACINTYA ini. Sungguhkah Anda paham bahwa “ITU” adalah ACINTYA, yang tak terpikirkan? Bila Anda sungguh paham semestinya Anda berhenti menggunakan pikiran Anda, karena Anda sungguh melihat betapa sia-sianya semua usaha pikiran Anda itu. Apabila saya menapakan kaki pada SANG JALAN menuju Negara, sayapun tiba di Negara. Doa permohonan saya tak’an pernah membawa saya ke Negara bila saya melangkah menuju Karangasem. Ini adalah SANATANA DHARMA, hukum alam yang pasti. Bila kita belum memahami ini, maka kita ragu, bimbang dan takut.

Bila kita bimbang dan takut, kitapun berdoa memohon kepada Tuhan yaitu tuhan konsep dan khayalan pikiran kita yang menginginkan perlindungan, menginginkan berkah. Inilah realita kehidupan kita. Maka itu pahamilah diri Anda, ketakutan yang ada dalam diri Anda. Bila Anda betul-betul paham akan keseluruhan dari isi batin Anda yaitu segala kecemasan, kesedihan, kebanggaan, keserakan, dan kepercayaan Anda, maka Anda akan bebas dari semua itu. Hanyalah didalam batin yang bebas dari segala pikiran, ACINTYA ini mewujud.

Kategori:Keheningan
  1. anny
    9 April 2011 pukul 10:06 am

    Ulasan yang bagus bapak windra.Kenapa ya sulit sekalo bagi saya untuk menemukan acintya itu sendiri dalam pikiran saya..walau saya berusaha memperbaiki tingkah laku dan pikiran saya..

    • windra
      9 April 2011 pukul 11:03 am

      Apa yg kita sampaikan hanyalah realita sdri anny. Hal ini sangat sahaja, namun menjadi sulit krn diri kita terlanjur rumit. Diri kita yg telah terkondisi berat dgn sgl macam pikiran terjerat sampai kedasar batin tanpa disadari. Memahami permasalah batin kita yg komplek ini bukan pekerjaan ringan.
      Coba cermati pernyataan anda,… “walau sy berusaha memperbaiki tingkah laku dan pikiran saya….”
      Siapakah yg sedang “berusaha memperbaiki…?” bukankah dia “si-pikiran”…?
      Kenapa dia “menginginkan perbaikan”…? tentulah ada motifnya, bukan?
      Motifnya ber-macam2: untuk menjadi lebih baik; untuk menemukan acintya; untuk memperoleh kedamaian; memperoleh sorga; mendapat pahala; berkah dsbnya…..
      Dapatkah kita melihat semua itu adlh re-aksi dari pikiran…? dan semua gerak-pikiran ini hanyalah memperkuat eksistensi dirinya.
      Selama pikiran memenuhi ruang batin, maka acintya ini tak’an prnh hadir.

  2. Page Paradev
    8 Juni 2011 pukul 9:51 pm

    Om Swastyastu, maaf saya mohon izin berkomentar

    1. Definisi Acintya yang bapak kemukakan masih harus ditambah sedikit: tak terpikirkan “oleh pikiran material”. Tuhan (bhagavan) yang berwujud dan bernama Sri Krsna tidak akan mampu dipikirkan oleh pikiran material. Inilah Acintya.
    2. Anda tulis: ===Acintya yang tak terpikirkan itu, kita wujudkan dalam bentuk gambar, sebagai simbol. Dan simbol Acintya ini berkembang sesuai dengan kreativitas pikiran manusia untuk menggambarkannya. Apakah Acintya itu dibuat sebagai sebuah gambar, dalam bentuk sebuah patung, relief, arca atau wayang dan lain-lainnya, dan ditempatkan sesuai dengan kaedah dari kesepakatan pikiran manusia yang merasa dirinya tahu. Demikianlah Acintya ini berkembang menjadi barang seni, atau simbol-simbol yang disakralkan yang dipercaya akan dapat menuntun umat atau dirinya kepada YANG TAK TERPIKIR.=== dalam tradisi bhakti, gambar-gambar/arca/salagram adalah sungguh penting. Itu bukan hasil rekaan pikiran yang ngawur atau hasil imajinasi, bukan pula barang seni/kerajinan. Itu dibuat dengan tata cara yang tersurat dalam Veda. Membuatnya harus melalui pertapaan. Jadi bentuk itu sudah dideskripsikan dalam Veda. Bagi bhakta, antara Tuhan, namaNya, Arca/gambar, dan kegiatanNya (lilaNya) tidaklah berbeda.

    • vee
      9 Juni 2011 pukul 10:11 am

      “dalam tradisi bhakti, gambar-gambar/arca/salagram adalah sungguh penting.”
      Kenapa dlm TRADISI bhakti simbol2 ini memikili makna yg sangat penting…..? Tahukan anda apa itu tradisi….? Tradisi ini berawal dari budaya, budi dan daya manusia; dan bbrp tradisi yg disakralkan dijadikan ritual. Semua ini diciptakan oleh pikiran (budi-daya) termasuk kitab2 yg disucikan. Inilah yg anda puja2 dan percayai. Disinilah kebanyakan umat terjerat. Tanyakan diri sendiri, knp anda meyakini….? Jika anda memiliki cukup energi untuk menyimak kedalam diri…., barangkali anda akan menemukan jawaban bagi diri anda sendiri….
      salam…., rahayu.

  3. windra
    9 Juni 2011 pukul 10:53 am

    Tradisi, ritual, simbol2, kitab2 adalah satu kesatuan yg bersumber dari pikiran manusia yg resah dalam ketakutan. Inilah sumber avidya yg dibuat oleh diri-sendiri (sang-diri/pikiran).

  4. Page Paradev
    9 Juni 2011 pukul 6:27 pm

    Maaf definisi tradisi yang anda kemukakan mungkin berbeda dengan yang saya anut. Bahkan Tuhan pun melaksanakan tradisi. Apakah Anda tidak yakin bahwa Veda itu dari Tuhan? === menyimak ke dalam diri?== tampaknya kata-kata ini begitu sering diucapkan oleh mereka yang menolak Bhakti. Saya bertanya kepada Anda: apa yang ada di dalam diri? Mohon penjelasannya…

  5. windra
    9 Juni 2011 pukul 9:00 pm

    Kawan Page saya tidak menolak Bhakti atau menerima apa-pun. Karena saya sadar, melihat senyatanya. Apa yg menolak dan menerima ini kawan Page, tahukan anda….? Coba amati kedalam diri anda. Siapakah yg menerima, memuja, menganggap penting semua tradisi dan meyakinan Veda…? Siapakah dia…? Dialah yg berada didalam diri kita bukan….? Dialah sumber avidya, sumber kegelapan, sumber kepercayaan, sumber ketakutan, sumber ambisi anda dan melekati semua kesenangan2 baik yg bersifat duniawi atau kesenangan yg non-duniawi. Ketika anda melekati apa-pun itu fisik – non-fisik, sudahlah pasti anda tidak bebas bukan…? Dapatkah anda melihat siapa yg melekati, menginginkan tuhan, surga, berkah, penerangan batin, moksa itu. Anda sendiri mesti melihatnya senyatanya…, krn kata2 saya tiadalah gunanya.

  6. Page Paradev
    9 Juni 2011 pukul 9:52 pm

    Ada pikiran, di atas pikiran ada kecerdasan, dan di atas kecerdasan ada ego palsu. Ego ini membuat orang salah mengidentifikasi dirinya…Aku adalah badan! Oleh karena itu, aku menikmati, aku memiliki… dst. Padahal ego yang sesungguhnya adalah: aku adalah Roh yang kekal, aku adalah pelayan kekal dari Sri Krsna! Btw, ikatan ada dua, ikatan ke hal-hal material dan ikatan kepada Tuhan. Apa definisi bebas menurut Anda?

  7. windra
    9 Juni 2011 pukul 11:01 pm

    Sungguhkah anda tahu yg sesungguhnya; kenal Roh yg kekal ini….? Pernyataan anda…. “aku adalah pelayan kekal dari Sri Krsna! Btw, ikatan ada dua, ikatan ke hal-hal material dan ikatan kepada Tuhan.”….., siapakah yg mengarang ceritra ini dan mempercayai-nya…? Ini hanyalah konsep yg dikarang oleh pikiran. Sebanyak apapun anda mempercayai ceritra2, konsep2, kitab2, tak’an mendatangkan pemahaman kawan. Saya tak perlu mendefinisikan kebebasan, krn kebebasan itu saat itu adalah tindakanku. Aku tak terjerat lagi dalam konsep2 dalam kepercayaan, maka itu aku tak mencari tuhan, memohon perlindungan apa-pun dari siapa-pun termasuk tuhan2 konsep ciptaan pikiran.

  8. Page Paradev
    11 Juni 2011 pukul 9:59 pm

    Anda siapakah sesungguhnya? Apakah Anda Tuhan sehingga tidak perlu memohon kepada Tuhan?

    • windra
      17 Juni 2011 pukul 9:01 pm

      Siapa saya….?saya bukan siapa2 kawan. Anda boleh menganggap saya siapa saja atau apa saja, krn semua itu tak’an membawa pengaruh apa-pun bagi saya. Kita semua hanya kebetulan lewat dan saling bertemu. Saya kira saya tak punya kata2 lagi untuk menjelaskan sesuatu yg tak ter-katakan. Salam….

  9. 9 Oktober 2014 pukul 7:28 pm

    Dari yang tdk dikenal masuk kedalam yang tak di kenal, tiada terkondisi, akhiri pikiran.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: