Beranda > Keheningan > KETERSINGGUNGAN

KETERSINGGUNGAN

Apabila ada orang yang mengatakan aku siGendut akupun merasa tersinggung, walau nyatanya aku memang tambun. Apalagi bila orang mengatakan; “aduh, Anda sangat ramping ini hari”, maka rasa tersinggungku berlipat ganda. Demikian juga halnya bila aku membaca sebuah pernyataan ataupun tulisan yang bernada tajam yang menohok langsung kedalam hatiku, spontan aku tersinggung dan berlanjut dengan rasa marah. Aku mungkin akan membenci tulisan itu atau si-penulisnya. Aku barangkali akan menyumpah-nyumpah, dengan merobek-robeknya. Atau aku tak’an mau melanjutkan membaca tulisan itu. Inilah reaksi dari batinku yang dikuasai oleh sangDiri (siEgo). Apabila aku melihat ini dengan diam, maka akupun melihatnya dengan jelas, bahwa aku sedang tersinggung. Inilah adanya diriku, bila aku tersinggung…..ya aku tersinggung.

Adakah yang salah bila aku tersinggung? Bila aku menganalisa keadaan diriku yang tersinggung, dengan segala etika moral tentang berkelakuan baik, maka barangkali aku akan menyalahkan diriku yang gampang tersinggung. Atau aku mungkin akan mencari alasan sebagai pembenaran dari rasa ketersinggungan-ku. Dengan berbuat ini, maka aku tak dapat melihat secara utuh rasa ketersinggungan diriku. Aku hanya dapat melihat seutuhnya, apa adanya diriku, termasuk ketersinggungan diriku, apabila pikiranku tidak ikut campur; bila pikiranku tidak membenarkan ataupun menyalahkan. Maka, aku akan melihat ketersinggungan diriku seperti apa adanya. Bila aku sungguh-sungguh semata melihat dengan keseluruhan diriku, maka adakah ketersinggungan disana? Ketersinggungan itu pun selesai, berakhir dan sirna, bukan?

Kita tak pernah mengamati apapun dengan hanya semata mengamati, termasuk ketersinggungan itu; namun pikiran kita selalu ikut campur, sehingga ketersinggungan yang hanyalah tersingung itu berkembang, …. berbunga dan berbuah, menjadi kemarahan dan kebencian. Hal inilah yang pada umumnya terjadi pada diri kita, yang lepas dari pengamatan.

Aku pernah berkomentar pada salah satu tulisanku; yaitu semua tulisan ini hanyalah kata-kata semata, tak lebih. Namun kata-kata yang tak bermata ini bisa lebih tajam dari mata pedang. Seperti dalam tulisan PENDEKAR PEDANG, dimana pedangnya selalu bermata dua; satu mata pedang menghadap kedepan dan satunya lagi menghadap kedadaku. Dengan demikian setiap kata yang tak bermata ini terucapkan, dia bolehlah menusuk sedalam mungkin untuk membedah dan membabat putus semua jeratan rantai yang membelenggu diriku maupun belenggu Anda dari siEgo. Inilah landasan dari semua tulisanku yaitu berbagi, untuk membedah kedalam diri masing-masing agar kita sampai pada kebebasan  (mokshatam). Bila kita sungguh melihat ini maka ketersinggungan itu tentulah sia-sia, tiada manfaatnya.

Bila tulisan ini di-ibaratkan sebagai sebuah gempa dan jika boleh aku berharap; kuharap tulisan ini atau tulisan siapapun memiliki bobot dengan kekuatan 10 sclR keatas. Dengan demikian guncangan yang dihasilkan akan dapat meluluh-lantakan, seluruh rangkaian dari bangunan sangDiri, siEgo yang selama ini bercokol berkuasa; termasuk ketersinggungan dalam diriku. Namun bila bobot tulisan ini hanya 3 sclR, kita hanyalah diayun-ayun dan dibuai sehingga kita semakin lelap dalam mimpimimpi indah. Nah…., mungkinkah kita dapat membuat tulisan dengan bobot yang mengguncang hebat, sehingga si-diri hancur-lebur?

Bila aku seorang pedagang, seorang sales, aku tak’an mau menulis atau berkata yang menyentakan, yang mengguncangkan, karena hal ini akan membuat para pelangganku kabur dengan ketersinggungannya. Jadi disini ada rasa takut; takut akan ada yang tersinggung, takut kehilangan pelanggan. Maka itu sebaiknya aku jangan menuliskan kata-kata yang tajam, karena aku takut para pembaca akan tersinggung.” “Kenapa aku takut pembaca tersinggung?” “Karena aku ada KEPENTINGAN” Bila Anda tersinggung, maka tulisanku tak’an ada yang membaca, aku kehilangan fanku, penggemarku. Dan aku tak’an jadi orang terkenal. Demikianlah ada bemacam-macam alasanku yang lainnya. Inilah salah satu alasan kenapa tulisanku tidak memiliki bobot.

Alasan yang lainnya adalah, karena apa yang kutulis hanyalah semata teori yang sama sekali tidak pernah aku terapkan atau hayati bagi diriku sendiri. Sehingga tulisanku hanya semata teori yang kosong melompong. Berikut ini adalah pernyataan seseorang kepadaku. “Mengenai kejujuran dan keterbukaan, saya setuju sekali dengan apa yang Bapak sampaikan. Saat ini, sungguh teramat sulit bagi saya untuk dapat sepenuhnya jujur dan terbuka – tidak sekedar jujur-jujuran untuk menutupi kebejatan moral.. Untuk sementara – sampai saat ini, kejujuran dan keterbukaan itu masih saya cita-citakan Pak..” Pernyataan diatas ini adalah satu contoh; ketika kita tidak sungguh jujur, maka kita tak’an dapat menulis atau mengukap kejujuran itu secara gamblang. Sehingga bobot tulisan kita tak ada, mungkin hanyalah 2sclR.

Apalagi alasannya, kenapa tulisan kita tidak berbobot? Barangkali karena kita tidak menuliskan atau mengukap fakta apa adanya; namun kita cendrung menulis, tentang ide-ide, konsep dan berteori atau semata mengkopi, menyadur dari tulisan atau buku-buku, sehingga tulisan kita hanya berkwalitas teks-book. Inilah kendala pada umumnya, sehingga tulisan-tulisan yang telah demikian banyak ditulis, dipublikasikan tak ada yang mengguncang. Dengan demikian kita tak dapat menuntaskan segala permasalahan dalam kehidupan ini, termasuk rasa tersinggung yang selalu menghantui diri kita.

Seandainya kata-kata “kita” dalam tulisan ini aku ganti dengan “Anda”, maka tulisan ini akan terkesan “menggurui” dan menohok mengujam pada ulu-hati. Bila Anda diam mengamati, semata mengamati; barangkali tulisan yang sedikit tajam mengguncang ini, dapat menggugah Anda dari mimpi. Namun kita (Anda) keburu tersinggung berlanjut marah dan benci. Demikianlah siEgo amat sangat cepat bereaksi, mengembang-biakkan hal yang kecil menjadi berlipat-ganda, sehingga menjadi permasalahan yang besar. Bila rasa ketersinggunganku yang berurat, berakar pada siEgo ini tak dapat kupahami, maka berakhirlah sudah perjalananku. Aku tak’an dapat belajar apapun tentang diriku maupun tentang kehidupan ini. Karena aku tak bersedia menusukkan kata-kata yang setajam mata pedang ini kedalam dadaku untuk membedah siEgo. Dengan demikian mau tak mau aku selamanya berkubang dalam kebodohan diriku yang kerdil yang hanyalah memupuk, kemarahan dan kebencian semakin subur, menguasai diriku.

Kategori:Keheningan
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: