Beranda > Keheningan > J. KRISHNAMURTI

J. KRISHNAMURTI

Dari sekian banyak orang yang membaca tulisan atau buku-buku J.Krishnamurti, sangatlah banyak yang tidak dapat memahami, mengerti makna apa yang terkandung dalam buku-buku itu. Apa yang disampaikan oleh J.Krishnamurti adalah hal yang amat sangat bersahaja yaitu Vedanta (berahirnya veda-veda, berakhirnya kata-kata, berakhirnya pikiran); Lontar Tanpetulis (Lontar kosong, Sunia/sunyi, Hening); Acintya (Yang tak Terpikirkan, Dimensi diluar Pikiran); Mokshatam (Kebebasan Batin dari Pikiran); dan yang lain-lain, yang kesemuanya adalah hal diluar konsep, diluar metode, diluar simbol-simbol, diluar label, diluar kata-kata, diluar pikiran. Dan hal ini menjadi sulit dipahami, karena kita pada umumnya menginginkan hal yang sebaliknya; yaitu suatu metode agar dapat kita latih; suatu pola untuk kita jadikan acuan dalam bertindak; suatu konsep agar dapat kita rumuskan; suatu simbol agar ada sesuatu yang kita puja; suatu label agar ada satu pegangan untuk dibanggakan; suatu kata-kata agar ada yang dipikirkan dan kita diperdebatkan.

Disinilah letak persoalan, kenapa buku-buku, tulisan J.Krishnamurti menjadi sulit dipahami. Banyak malah yang beranggapan ajaran J.Krishnamurti tidak jelas, acak-acakan, tidak ada pointnya, sangat membingungkan. Anggapan ini tidak salah; karena anggapan ini muncul dari batin yang telah terkondisi oleh segala konsep-konsep, simbol-simbol, metode, label, pola dan lain sebagainya; yang selalu punya kecendrungan, keingingnan yang sesuai dengan keterkondisian dirinya. Karena itu orang akan membuang tulisan atau buku-buku J.Krishnamurti dan menggantikan dengan buku-buku yang mengandung konsep-konsep, metode, disiplin, pola yang dapat dilatih dan dipraktekan. Inilah kondisi batin orang secara umum, yang telah terkondisi untuk siap menerima instruksi, patuh dengan segala petunjuk, siap percaya, siap menerima otoritas, selalu berharap dan membebek dan selalu dalam ketakutan. Kondisi batin seperti ini jelas tak’an siap untuk belajar yaitu mempertanyakan, menggali, menyelidik, menyimak segala sesuatu dalam kehidupan ini. Padalah inilah yang mutlak dibutuhkan untuk dapat memahami tulisan J.Krishnamurti. Krishnamurti meminta kita untuk menjadi Arjuna-Arjuna, siPahlawan perang untuk bertempur dengan spirit dan kemauan yang besar; namun kita maunya terjatuh dalam pelukan rembulan.

Batin orang pada umumnya hanyalah siap untuk menyerap dan mengumpulkan segala macam pengetahuan yang dapat memperkokoh kebanggaan dirinya. Hal inilah yang dicari oleh kebanyakan orang. Dengan semakin banyaknya pengetahuan yang dikumpulkan maka semakin kokoh kebanggaan dirinya, dan semakin kentallah siEgo. Batin seperti ini jelas tak’an pernah sampai pada Vedanta, Acintya atau pun Mokshatam. Dapatkah kita menyimak, mengamati hal yang sederhana ini? Janganlah kita menyimpulkan apapun; jangan berkata ini sangat sulit. Cobalah kita menyimak dan melangkah secara perlahan.

Cobalah kita diam sejenak…. amati! Pikiran dan tubuh ini sangat gelisah. Pikiran dengan segala keinginannya terus bergerak, setiap apapun yang disentuhnya, akan menyertakan penderitaan (dukha) bagi diri kita. Inilah hal pertama yang mesti kita pahami, yaitu keterkondisian batin kita dengan segala macam pikiran yang adalah sumber derita. Ini dipahami dalam Buddhis, bahwa hidup ini adalah dukkha (derita). Hal berikutnya adalah hukum alam yang pasti yaitu ketidak-kekalan, dalam Buddhis disebut anicca. Bila kita sungguh melihat, sungguh memahami ini, maka tak ada apapun yang mesti kita lekati. Inilah hal-hal yang mendasar yang mesti sungguh dipahami.

Untuk melihat, memahami hal ini, haruslah ada kebebasan. Kebebasan batin dari pikiran. Bila saya melihat sekuntum mawar, dengan kecendrungan batinku, maka saya tak’an dapat melihat bunga mawar itu seadanya. Kecendrungan batinku berkata dan menilai, “wah, mawar ini bagus, lebih indah dari mawar yang ada dirumah siB” atau “mawar ini warnanya jelek, jauh lebih indah mawarKU” dan seterusnya, dan seterusnya. Maka aku terjerat dalam dualitas suka dan tak-suka. Ini artinya aku melihat dari batinku yang terkondisi, sehingga aku tak dapat melihat mawar itu seadanya. Sama juga halnya, apabila kita mau melihat, memahami diri kita maupun seluruh kehidupan disekitar, mestilah ada kebebasan dari kecendrungan batin kita.

Kita mestilah cermat, dan mempertanyakan, kenapa ada kecendrungan dalam diri kita? Kecendrungan ini adalah salah satu dari keterkondisian batin kita dari pengalaman masa lalu. “Ketika saya melihat seseorang mengenakan baju merah dan sangat menawan hatiku; saya telah menanamkan kecendrungan ini dalam ingatanku; sehingga pada kesempatan tertentu saya akan memilih baju merah untuk anakku atau istriku yang belum tentu disukai oleh mereka. Maka, dari sini timbullah konflik dalam batinku maupun batin anakku atau istriku. Demikianlah tanpa disadari semakin hari aku telah mengembang-biakkan benih konflik ini menjadi permasalahan yang semakin besar dan meluas dalam diriku maupun pada kehidupan disekelilingku.

Dapatkah kita mengikuti uraian ini? Cobalah kita perlahan….. Manakala aku menyadari bahwa konflik ini telah membuat hidupku stress, maka akupun mencari bentuk-bentuk pelarian untuk mengurangi stress batinku. Bentuk pelarian ini adalah hiburan, pelipur lara; untuk melupakan atau pengalihan pikiran dari masalah. Ada banyak bentuk-bentuk hiburan, kita semua tahu itu. Dan bentuk hiburan yang dianggap baik dan luhur sudahlah tentu hiburan yang bersifat ketuhanan. Karena bentuk hiburan ketuhanan ini terasa paling komplit. Disamping memberi perasaan nikmat tertentu, hiburan ini juga memberi harapan dan kepercayaan yang dapat mengurangi atau menutupi rasa takut manusia. Kata pendeta, bahwa langit berjanji akan memberikan aku kehidupan yang abadi, kelak setelah kehidupan ini. Maka tekadku mantap, keyakinanku solid, apapun akan kulakukan, termasuk jadi teroris. Tidaklah sedikit orang terjerat disini. Tanpa sadar batinnya menjadi keras dan membatu, sehingga tak dapat mengikuti alur kehidupan yang terus bergerak, meliuk penuh irama keindahan.

Dapatkah kita melihat semua bentuk-bentuk hiburan ini, yang selama ini telah menjerat batin kita? Semestinya, bila kita mau menyimak kedalam diri dan mempertanyakan; apakah yang telah kita peroleh dengan menjerat diri kedalam bentuk-bentuk hiburan apapun, selama ini? Bila kita sungguh melihat, yaitu melihat dalam kebebasan, melihat dengan kejujuran, maka kita pun melihat, bahwa dalam diri kita masih ada kebingungan, keraguan dan ketakutan itu, bukan?

Krishnamurti hanyalah mengajak kita untuk melihat kedalam diri kita masing-masing. Apakah yang sedang terjadi? Dalam diri kita (medan kurusetra) adalah pertempuran (bharatayudha), antara yang baik dan buruk, yaitu dualitas ini…. amatilah! Bertempurlah!! Amati dalam kebebasan batin, bebas dari segala pikiran, artinya tanpa komentar, tanpa penilaian. Dalam pengamatan yang diam ini yang ada hanyalah perhatian. Semata PERHATIAN. Perhatian ini adalah wujud dari pikiran yang diam, pikiran yang tertib. Pernahkah kita sungguh diam dan tertib? Tatkala kata-kata ini dituangkan; bila ada perhatian menyeluruh, kita melihat kata-kata ini mengalir. Pada saat bersamaan kita mendengar suara kipas dari komputer, juga suara musik dari tetangga, suara air kran yang gemericik sedang mencuci piring didapur, juga suara kokok ayam jago dikejauhan, dan disela-sela itu ada keheningan yang bebas dari segala rasa cemas, yang bebas dari kepercayaan, bebas dari tradisi, bebas dari perjuangan, bebas dari pahit-getir kepedihan batin manusia.

Kemelekatan pada kenikmatan, menimbulkan harapan sekaligus kecemasan. Ketakutan kita pada Neraka, memperkuat kepercayaan dan harapan akan Sorga. Tindakkan dari batin yang terjerat pada kenikmatan dan harapan akan sorga, adalah reaksi dari keterkondisian segala pikiran. Maka apapun usaha dari pikiran, hanyalah berputar-putar dalam ruang pikiran yang terbatas. Lihatlah…! dengan cara apapun kita memupuk kepercayaan, akhirnya, jatuhnya tetap pada ketidak-tahuan (avidya), kegelapan, kebingungan, kecemasan, keraguan. Inilah yang mesti kita pahami. Bila aku meminum secangkir kopi; perlukah aku mempercayai bahwa aku sedang memegang cangkir? Atau mempercayai bahwa yang sedang kuminum ini adalah kopi?

Untuk sampai pada kebebasan (mokshatam) orang mesti mematahkan semua belenggu, semua jeratan, termasuk segala macam organisasi keagamaan, kepercayaan dengan segala dewa-dewa, tuhan-tuhan, konsep-konsep, metode, tradisi, ritual dan sebagainya, sehingga tak ada apapun lagi tempatnya berpegang. Dapatkah kita menghancur-leburkan, meluluh-lantakan diri kita secara total? Inilah satu-satunya Revolusi Batin yang dapat mengantar kita pada Kebebasan (mokshatam); pada Keheningan (lontar tanpetulis); pada Dimensi diluar Pikiran (acintya); pada Vedanta (berakhirnya pengetahuan). Inilah, barangkali seluruh inti-sari kata-kata Krishnamurti yaitu kebebasan batin dari segala konflik. Kebebasan ini adalah terbukanya jendela hati; bila Anda berjodoh maka anginpun bertiup masuk. Namun bila Anda dengan sengaja membuka jendela untuk mengundang angin, maka angin pun tak’an pernah datang.

Kategori:Keheningan
  1. teguh
    21 Maret 2011 pukul 12:55 pm

    terima kasih….sudah berbagi

    • windra
      22 Maret 2011 pukul 9:53 am

      Sama2 kawan, smg tulisan2 ini dpt menggugah dan meng-inspirasi kita untuk terus belajar.

  2. 22 Maret 2011 pukul 12:59 pm

    Lumayan bagus, ditambah terus mas… bikin yang sistematis berdasarkan kelompok2 topik bahasannya.

    • windra
      23 Maret 2011 pukul 9:43 am

      Terima kasih Mas Goldy telah mampir.

  3. 18 Juli 2012 pukul 10:57 pm

    Siapakah J.KRISHNAMURTI boss ,jujur saya tdak terlalu mngenal karyanya apakah beliau masih hidup ,apakah mnurut bapak dengan memplagiat karyanya tidak mncirikan kita terjebak dgn apa yg dikatakannya ,apakah ini tdak berarti kita mempercayai ,,,hidup hanya sebatas sandiwara semua sbenarnya berakhir sama ,,,BANYAK JALAN MENUJU ROMA ,,,,,,,,,,,smg damai selalu !!!

    • 19 Juli 2012 pukul 9:12 am

      Tulisan diatas sy buat krn banyak teman2 dlm kelompok diskusi K, dlm milis2 atau FB yg sulit memahami ajaran K. Pada intinya tulisan2 dlm Blog saya tdk bersifat plagiat, hanya mencoba mengurai inti ajaran K.
      Sy sendiri hanya mmbaca bbrp buku2 K, yg pd intinya sama. Krn bisic sy adlah Hindu maka ulasan2 sy mengandung istilah2 Hindu yg jg brtujuan menggugah teman2 Hindu Bali.
      Krishnamurti = intisari Buddha = modernisasi Hindu.
      Scr umum manusia gampang trobsesi oleh apa-pun, trmasuk tokoh K ini. Pada-hal K sendiri dgn tegas menolak otoritas, pengkultusan. Namun sy pikir orang2 yg sungguh paham ajaran K, tdk akan terjebak, justru bebas dari segalanya.
      Ajaran K sangat radikal, revolusioner, shg menggoncang tradisi India dan dunia. Dlm kurun waktu 50th terakhir ini banyak membawa pengaruh. Sayangnya di Indonesia terlambat, krn semasa rezim Soeharto buku2 K dilarang beredar di Indonesia. Praktis buku2 K baru ada sktar th 2000an…, inipun tak ada peminat, krn orang2 tak mampu memahami.
      Krishnamurti barangkali memang manusia beda. Spt sang Buddha, sejak dalam kandungan dia telah diramal akan menjadi Guru Dunia (jaghad guru). Miracles yg dia lakukan unbelievable. Namun dia bilang itu biasa. ‘siapa-pun dpt, katanya spt jk anda tlh berada ditempat yg tinggi (puncak) mk anda akan melihat pemandangan di-lembah. Ada ratusan buku K, yg ditranslate dlm 53 bhs.
      Sy sendiri menemukan pemahaman lewat K, dan sy MELIHAT… Semua ini bukan propaganda K, hanya berbagi….

  4. dedy muller
    12 Desember 2012 pukul 1:49 pm

    Tulisan yang bagus sekali !

    • windra
      12 Desember 2012 pukul 8:53 pm

      Hai Mas Dedy…, thanks sdh mampir, salam persaudaraan…

  5. anastasia hartini
    1 Maret 2015 pukul 1:41 pm

    Trimakasih mas Windra , aku sedang mempersiapkan bathinku agar mampu memahami karya karya J krishnamurti dng membaca tulisan anda aku mendapat bekal bagaimana aku hrs bersikap . Merupakan anugerah aku bisa menemukan karya 2 beliau dan barangkali karena aku sdh punya modal sedikit. Mohon bantuan anda pabila dikemudian hari aku mrnemukan kesulitan dlm mencerna kalimat kalimat beliau.
    Salam Semesta.

    • 6 Maret 2015 pukul 8:52 am

      Kita semua selamanya belajar mbak Hartini.
      Dan sharing adalah sesuatu yg menyenangkan dari proses belajar itu.
      Semoga anda berjodoh, salam…♡♡

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: